
Cowok tampan berbadan tegap itu melangkahkan kaki di koridor dengan langkah lebar. Dari sorot matanya yang merah, tanpa meramal pun orang tahu kalau cowok itu sedang marah. Seluruh siswa di koridor memberi jalan, takut-takut cowok itu akan tambah kalap. Diikuti beberapa orang di belakangnya yang agak kelimpungan, cowok itu mengarahkan kaki masuk ke dalam sebuah kelas yang membuat orang di sekitarnya langsung diam.
Sorot mata kebencian langsung tertuju tepat pada seorang gadis yang berdiri dari duduknya, menyambut dirinya dengan senyum gembira meski ia tahu cowok itu sedang marah. “Ezio? Lo ke sini?”
“Keluar semuanya!” paraunya menggema di seluruh ruangan, membangkitkan semua orang yang duduk untuk berdiri dan cepat-cepat meninggalkan kelas, memilih untuk menonton apa yang sedang terjadi dari luar kelas. “Kecuali lo!” tunjuknya pada Yara yang menegok kanan-kiri, melihat orang-orang yang sudah keluar dari ruangan.
Ezio membanting meja yang ada di depan Yara hingga terbalik dan membuahkan suara yang menggelegar, membuat Yara tersentak hingga jantungnya seolah digampar cambuk. Dada Ezio sudah kembang kempis dengan rahang mengeras. Ia mendekatkan diri menghampiri Yara. “Lo apain lagi Sekar sampek tangannya melepuh dan pingsan?” tanyanya dingin.
Semua siswa yang menonton di luar kelas langsung berbisik-bisik, sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
“Anak pembantu itu? Kenapa kamu nanyain—“
“Gue tanya lo apain Sekar sampek dia pingsan dengan tangan melepuh?!” teriak cowok itu keras membuat Yara langsung memejamkan matanya.
“Aku cuma kasih pelajaran ke dia karena dia udah ngerebut orang yang aku suka.” Jawaban itu langsung menuai gebrakan meja dari sang penanya. Wajah Ezio sekarang kesal bukan main, ia menatap Yara tajam.
“Dengan nyiram Sekar pake air panas?! Udah gak waras lo?!”
“Aku lakuin itu karena aku suka sama kamu, Ezio!”
“Tapi gue gak pernah suka sama lo!”
Yara terdiam sejenak. Ada sedikit sengatan di hatinya. Meski ia tahu ini bukan ke sekian kalinya kata itu meluncur dari mulut Ezio, tapi tetap saja hatinya terasa nyeri. Ia menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokkannya yang kering. “Kenapa? Kamu gak suka sama aku karena cewek murahan itu? Kamu tahu gak kalo dia ... dia cuma anak pembantu, dan dia gak pantes sama kamu, Zi.”
Mata Ezio masih tetap sama memancarkan amarah yang menyorot pada Yara. Ia mencekal lengan Yara, mendekatkan cewek itu ke hadapannya suapaya cewek itu tahu seberapa marahnya ia. “Denger, gue muak sama lo, dan lo harusnya sadar, manusia iblis kayak lo ... yang gak pantes dicintai!”
“Ka-Kak E-Ezio ...” Pandangan semua orang yang sedang menyaksikan kejadian di luar kelas langsung tersedot pada seorang gadis berpenampilan kacau dengan seragam basah dan tangan melepuh, jangan lupa tangisan dengan tubuh bergetar, berlari mendekati Ezio. “Ki-kita pergi aja ... non Yara gak salah ... aku mohon jangan sakitin non Yara ...”
“Ini semua gara-gara lo!” Dengan tangan mengepal dan emosi yang sudah tak terbendung, Yara mendekatinya ingin menampar wajah cewek sok polos itu, tapi lagi-lagi Ezio menghalanginya. Cowok itu menghempas tangan Yara kasar. Yara menatap Ezio dengan tatapan mencelos, selalu saja begini.
“Gue masih ngehormatin lo karena papa gue punya relasi sama papa lo dan karena lo masih cewek. Kalo bukan cewek, udah habis lo di tangan gue!” Ezio menggandeng tangan Sekar penuh kasih sayang, berbanding terbalik dengan yang ia lakukan pada Yara. Hati Yara mencelos melihat tangan yang telah tergandeng itu, tapi cewek itu selalu berusaha baik-baik saja. “Ini peringatan terakhir buat lo, kalo lo masih ganggu Sekar, gue gak bakal tinggal diem.”
Cowok itu menggandeng tangan Sekar yang masih menangis ingin pergi dari kelas itu, tapi Yara malah mencegahnya. Segala emosinya sudah tak bisa ia tahan. Sekali lagi, dengan cepat, Yara meraih Sekar dari pelukan Ezio, menjabaknya dengan kasar.
Plak! Yara menampar cewek itu. Ia muak, muak dengan tampang munafik itu. “Cewek bajingan! Kurang ajar! Gue benci cewek miskin kayak lo, Sekar! Gue benci!” ucapnya menggebu-gebu terus memukuli cewek yang hanya terisak tangis sambil memohon ampun.
Ezio melototkan matanya. Ia segera memeluk Sekar yang terduduk di lantai mengakibatkan pukulan Yara mengenai dirinya. Brano dan Arion yang ada di belakang Ezio berusaha menghentikan cewek kalap itu. Sayang Yara masih kumat. Penonton di luar kelas terlihat melongo.
Brano dan Arion langsung membawa Sekar pergi. Membiarkan Ezio berbicara dengan Yara. “Lo!” peringatnya.
“Aku juga gak akan nyerah dapetin kamu, Ezio! Aku tahu kamu juga suka sama aku!”
“Lo pingin jadi pacar gue, ‘kan?!” tanya Ezio keras. “Hari ini gue bakal jadi pacar lo!” Seketika Yara menutup mulutnya. Matanya yang tadi penuh emosi kini mulai berbinar senang. Secepat itu perubahan emosi Yara.
“Dengan syarat, jangan pernah nyentuh Sekar dan jangan larang apapun yang gue lakuin!“
“Aku bakal lakuin syarat apapun itu, Zi! Kamu tahu, ‘kan?” Ezio menganggukkan kepala. Terdapat amat sangat kebencian di matanya.
“Oke,” kata Ezio. Hari itu Yara tidak pernah sadar, berpacaran dengan Ezio adalah awal bencana bagianya, berpacaran dengan Ezio hanya akan menyakiti dirinya.
Karena Ezio hanya mempermainkan dirinya.
***