I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Pasar Malam



“Eliot Gealdo Hastene! Ada E-nya setelah N!”


Seakan menemukan sebongkah harta karun yang langka, binar cahaya menerangi mata Yara terbukti dari senyuman indah yang terukir di wajahnya. Yara membalikkan badan menghadap Eliot. Eliot pun terkaget saat menemui ekspresi itu. Seberharga itukah namanya untuk Yara sampai membuatnya tersenyum?


Tanpa Eliot duga, tiba-tiba saja cewek itu memeluk dirinya dan kali ini jantung Eliot berdebar kencang hingga dapat didengar oleh Yara, lagi. Cowok itu membalas dengan mengelus rambut Yara.


“Makasih, Eliot!” ucap Yara. Iya, selama ini Yara selalu mencari orang yang memberinya bunga di tanggal tigapuluh, dan kini ia yakin orang itu adalah Eliot.


“Makasih udah kasih aku bunga setiap tanggal tiga puluh.” Yara masih asyik memeluknya. Eliot terkejut mendengar itu, tidak mengerti apa maksud Yara. Namun, cowok itu tidak menggubris, mungkin maksud Yara tanggal tiga puluh hari ini.


Eliot tersenyum. “Sama-sama.”


Pelukan mereka terlepas. Yara sibuk mengamati bunga mawar di hadapannya, menciumnya dengan penuh senyuman. Eliot menggelengkan kepala lalu mengacak-acak rambut Yara secara gemas.


“Oh ya, gue mau ajak lo ke pasar malem, mau gak?” tawar Eliot.


“Boleh.”


***


“Gue penasaran alasan lo pindah ke sekolah gue padahal lo udah kelas dua belas. Nanggung padal!”


Eliot tersenyum mendengar pertanyaan yang sudah ia nanti-nantikan dari mulut Yara. Ia sudah menyiapkan jawaban yang pas. “Sekolah gue yang dulu sistemnya daring jadi jaring komunikasi dan interaksi minim banget. Karena gue suka komunikasi, gue mau sekolah yang beneran sekolah yang bisa berinteraksi!”


“Kenapa gak dari dulu aja daftar di sekolah biasa yang bukan daring?”


“Gue pindahan dari luar negeri, jadi gue cari sekolah sementara, setelah itu pas mau lulus cari sekolah yang akreditasinya tinggi kayak HHS, supaya jadi lulusan terbaik.”


“Kamu anak beasiswa atau biayain sendiri?”


Eliot tahu maksud pertanyaan Yara, karena hanya anak-anak kalangan atas serta anak pintar yang dapat masuk ke Homeland High School, dan Yara pasti masih mengiranya sebagai seorang barista. “Beasiswa,” jawabnya singkat.


Belum ada tanggapan dari Yara, mobil itu sudah sampai di sebuah tempat yang tak asing di netra cewek itu. Pasar malam. Tempat yang selalu ia kunjungi bersama Ezio dulu di setiap malam minggu. Dulu, meski Ezio tidak menyukai dirinya tapi cowok itu tetap mau menemaninya ke pasar malam, kecuali jika ada urusan dengan Sekar.


“Ayo!” Eliot sudah turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Menyediakan tangannya yang siap digandeng Yara.


Cewek berkulit putih bersih itu mengangguk, menggandeng tangan Eliot. Kerlap-kerlip malam menerbitkan senyum di wajah cantiknya. Cewek itu berlari menuju ke sebuah gerobak kecil penjual gula kapas yang disusul Eliot. Mereka memesan gula kapas dengan porsi besar.


“Lo suka gula kapas?” Yara mengangguk dengan tersenyum saat Eliot bertanya. Saat Yara akan mengeluarkan uangnya, Eliot sudah terlebih dahulu membayarnya.


“Biar gue aja yang bayar!” Yara menoleh pada Eliot di sampingnya. Dulu, saat ia pertama kali ke pasar malam, Ezio juga mengatakan itu. Yara menggelengkan kepala, melupakan Ezio.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Yara berlari pada seorang pedagang makanan kesukaannya. Yup, bisa kalian tebak makanan itu adalah dimsum. Eliot menyaksikan Yara memakan dimsumnya dengan lahap. Pipi yang menggembung itu terlihat lucu di matanya. Cowok itu tertawa dan tanpa seizin Yara memotrernya.


Yara melotot saat sebuah flash mengarah padanya. “Ngwapwain lwo?” tanyanya tak jelas, masih mengunyah dimsum.


Ia sadar, ia sedang di potret. Yara ingin merebut handphone yang Eliot gunakan untuk memotret dirinya, tapi Eliot langsung menghindar. “Elwiot! Hapows gak?!”


Eliot masih saja tertawa. Yara kini berdiri, mengambil ancang-ancang untuk mengejarnya. Eliot pun berlari yang di kejar oleh Yara. “Eliot! Hih!”


Eliot kembali duduk di sebelah Yara. Mengamati cewek itu makan. Tidak seperti cewek biasanya yang akan menjaga image saat makan, Yara makan dengan sekenanya, apa adanya. Meski sedang makan seperti ini, Yara masih saja terlihat cantik. Kulit putih mulus, rambut hitam lebat, mata hitam kecoklatan yang tajam, serta bibir pink yang terihat manis. Eliot tersenyum, tatapannya sangat lekat.


“Lo cantik, Ra,” katanya tanpa sadar sambil menelan saliva yang terasa sulit.


“Gue emang cantik dari dulu.” Yara masih asyik dengan dimsumnya, tidak melihat mata serius Eliot sama sekali.


Keduanya kini menyusuri setiap pedagang dan permainan yang ada di pasar malam itu. Setelah puas memanangkan berbagai macam permainan, Yara mendapatkan boneka tedy besar. Mereka juga mengantungi berbagai jenis makanan pasar.


“Ini namanya papeda, lo tahu?” tanya Yara tanpa menatap lawan bicara, sibuk memakan papeda. Eliot tidak menjawab, fokusnya hanya pada kecantikan Yara.


“Eh? Ada mainan itu?” Netra terang itu berbinar saat menemui pedagang mainan lucu yang dipencet dapat mengeluarkan suara ‘ngikngok’. Yara berlari mendekati penjual itu, meninggalkan Eliot yang tadi masih terlarut dengan kecantikannya.


“Itu mainan anak kecil, Ra!” peringat Eliot.


“Gue tahu.”


Yara mengambil satu mainan itu dari pedagangnya. “Saya mau satu, Pak!” Ia memencet-mencet mainan karet berbentuk hewan itu lalu tertawa terbahak-bahak.


“Ini lucu, ahaha!”


Eliot membayar semua mainan yang Yara sentuh sambil menggelengkan kepala. Sesederhana itu ternyata membuat cewek berbibir pink di sebelahnya tertawa.


Tanpa mereka sadari, seorang lelaki berhoodie hitam mengamati mereka berdua sedari awal mereka masuk ke pasar malam ini. Tersenyum tipis menyaksikan tawa yang terbit di bibir Yara.


***


Pasar malam, salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan dengan Yara. Ezio masih ingat, cewek itu sering tertawa dengannya. Ia masih ingat ketika cewek itu pertama kali ia ajak ke pasar malam, mukanya terlihat risih karena keramaian. Ezio saat itu sengaja membuat cewek itu agar tidak nyaman dengannya, nyatanya cewek itu lama-kelamaan terbiasa dan merasa senang.


“Ih, hujan!” kata Yara saat duduk di kursi yang disediakan pedagang papeda. Posisinya mereka sedang makan papeda. Tiba-tiba saja deras. Melihat Yara yang kebasahan, Ezio menjadikan jaketnya sebagai payung. Kemudian Yara tertawa.


Yara berlari menikmati hujan padahal Ezio kesulitan memberinya jaket agar tak kebasahan. Yara malah menertawakan cowok itu yang kebasahan. “Sialan lo, cewek anjing!”


Dan Ezio masih ingat tawa itu hingga kini.


Malam ini Ezio memutuskan untuk ke pasar malam. Niatnya hanya ingin menikmati kerlap-kerlip malam, tapi ia malah menemukan mantannya denan cowok barunya di sini.


Dari jauh ia masih bisa melihat wajah cantik cewek itu. Tertawa membuatnya ikut tertawa, meski hatinya terasa panas melihat tawa itu bukan untuknya. Ezio sadar, ia kini menyukai cewek itu. Sedari dulu ia hanya berusaha menyangkal perasannya.


Dan, ia baru sadar ketika cewek itu telah pergi dari hidupnya. Sial.


Sebuah notif berbunyi di ponsel yang sedang ia pegang. Cowok itu mengernyit.


Pergi dari pasar malam ini! Berhenti ngeliatin cewek yang bukan milik lo lagi! Atau lo tahu akibatnya!


Ezio menghempaskan nafas, kembali melihat Yara untuk yang terakhir dari sini. “Andai lo tahu yang sebenernya, Ra.”


***