I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
L - Hal



“Ini mobil siapa?” tanya Yara saat sudah berada di dalam, menoleh pada Eliot yang menyetir.


“Ini—mobil atasan gue.” Yara mengangguk saja. Setelah dua hari dirawat, Yara akhirnya keluar dari rumah sakit dan dapat menghirup udara bebas lagi.


“Oh ya, alamat rumah lo?” Saat ini Eliot akan mengantar cewek itu pulang, jadi ia butuh alamat Yara. Namun, ekspresi Yara kini datar dengan sorot mata teduh.


“Boleh gak kalo gak pulang dulu ke rumah?” tanyanya pelan. Ia yakin di rumah besarnya itu pasti hanya terisi pembantu. Tidak ada papa maupun mama sambungnya. Mereka sibuk, dan bahkan tidak tahu kalau Yara habis masuk rumah sakit. Yara tidak ingin kesepian.


“Orang tua lo pasti khawatir, Ra. Kemarin lo belum hubungin mereka.”


Yara tertawa hambar lalu menggelengkan kepala. “Mereka gak peduli. Mereka sibuk. Gue gak mau kesepian.” Tatapan cewek itu menerawang ke jalanan dan Eliot bisa melihat raut sedih itu dari samping. “Mereka gak mungkin khawatir ....”


“Ra ....”


“Tolong bawa gue ke mana aja asal jangan ke rumah dulu.” Yara mengembuskan nafas. Terbayang rasa sepi yang menghinggapi dirinya saat di rumah. Rumah yang selalu meninggalkan kenangan buruk. Entah amarah papanya atau entah saat mamanya diselingkuhi oleh papanya dulu.


“Oke.” Eliot mengangguk. Justru ia senang karena ia bisa menghabiskan hari-harinya bersama Yara lagi. Mobil itu kini berhenti di depan sebuah studio musik. Eliot turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Yara.


Yara menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Kita mau ke mana?” Ia memandang pada studio di depannya.


Eliot lagi-lagi tersenyum. “Ayok! Ikut aja!” Ia menyodorkan tangannya layaknya seorang pangeran yang menyambut putri. Yara tersenyum dan menyambut tangan itu kemudian berjalan ke arah studio dengan tangan yang saling terpaut.


Eliot membuka pintu studio musik yang menampakkan berbagai macam alat musik. Yara terperangah. Setelah sekian tahun, ini baru pertama kali ia mengunjungi studio musik lagi. Kembali dihadapkan dengan berbagai alat musik yang terlihat bersinar di matanya. Di antara semua alat musik itu, hanya satu yang menurutnya paling mencolok. Piano.


Sedari kecil, Yara menyukai alat musik itu. Mamanya yang mengajarkannya. Dulu ia juga terlibat dalam berbagai macam lomba piano hingga papanya melarangnya untuk bermain hanya karena berisik atau papanya akan menyita semua akses alat musik yang ia miliki. Hingga kini tidak ada yang tahu bahwa Yara mahir bermain piano.


Yang orang tahu, Yara adalah cewek bodoh yang tak bisa melakukan apapun, manja, sekaligus suka menindas orang lain.


“Lo duduk di sini!” Eliot menarik sebuah kursi untuk Yara. Sungguh perlakuan sederhana yang membuat Yara senang. Kemudian Eliot terlihat mencolokkan kabel gitar elektrik dan sound microfon. Ia mendukkan diri di sana sambil menatap Yara. “Gue mau nyanyiin lo sebuah lagu. Ini pertama kalinya gue coba chord asli gitar lagu ini, dan gue mau lo jadi orang pertama yang dengerin ini.”


“Ekhem!” dehamnya mulai menggenjreng gitar sesuai irama. Dari situ, wajah Yara jadi pucat pasi kala tiba-tiba wajah cowok di hadapannya berubah menjadi wajah Ezio. Ia mulai membayangkan Eziolah yang di sana memainkan sebuah gitar bersama senyuman untuk dirinya.


Jantung Yara mulai berdebar kencang. Ezio benar-benar tampan saat memainkan gitar itu. Ia jadi teringat Ezio saat sedang manggung bersama band-nya di SMP. Ezio juga orang yang mahir bermain gitar. Lamunan Yara menguar saat Eliot menghentikan genjrengan gitar dan menanyakannya sesuatu. Wajah Ezio berubah kembali menjadi wajah Eliot. “Lo tahu lagu itu?”


Yara yang tadi tak fokus dan tak sempat mendengar apa yang suara Eliot keluarkan hanya menggeleng. Eliot tersenyum saja, menyanyikan sesuatu.


“Selalu aku lihat belakang punggungmu di saat kau lihat belakang punggung pria lain. Menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku. Dan memelukku seerat-eratnya.” Eliot menyanyikannya dengan ekspresi yang tak bisa diartikan. Antara sendu dan penuh harapan pada Yara seolah ia tengah meluapkan isi perasaannya, seolah lirik itu sangat relate dengan kehidupannya.


“Sudah aku coba untuk menghapusmu, naif ku hanya jelaga. Di rindu pada siapa. Kamu masih penyebabnya.”


“Selalu aku lihat belakang punggungmu di saat kau lihat belakang punggung pria lain. Menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku. Dan memelukku seerat-eratnya.” Kali ini cowok itu berhenti sejenak, sengaja menjeda lagunya agar benar-benar tahu apa reaksi Yara.


“Selalu aku lihat belakang punggungmu di saat kau lihat belakang punggung wanita lain. Menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku. Dan memelukku seerat-eratnya.” Itu bukan suara Eliot, melainkan suara Yara yang terdengar merdu. Mustahil jika cewek pecinta lagu seperti Yara tidak mengetahui lagu yang dinyanyikan Eliot. Yara juga sudah sering bernyanyi saat ia bermain piano.


Eliot tidak menampilkan ekspresi apapun seolah ia sudah tahu lama kalau Yara memiliki bakat terpendam itu. Ia melanjutkan bermain gitarnya dan bernyanyi bersama Yara alias duet. “Mencoba berdamai dengan diriku. Tapu kau s’lalu tahu itu, bagaimana mungkin? Ketika kau masih jadi satu-satunya alasanku menunggu di lini waktuku.”


Mereka saling melempar senyum.


“Sungguh tak terasa sudah tujuh tahun habiskan masa mudaku.”


“Sungguh tak terasa sudah dua tahun habiskan masa mudaku.”


Perbedaan lirik keduanya hanya terletak pada kata ‘tujuh dan dua’. Hal yang membuat senyum mereka hilang tapi masih tetap melanjutkan bernyanyi.


“Hanya untuk membuatmu terkesan kepadaku. Begitu bodohnya aku.” Senyuman hilang itu kemudian menjadi tawa satu sama lain saat lagu itu berakhir. Eliot cukup terkagum saat mendengar suara Yara, sebuah obat yang candu untuk ia dengarkan. Ia suka nyanyian Yara dari dulu.


Sejak saat itu, hubungan keduanya menjadi akrab layaknya sahabat yang sudah kenal sejak lama. Hal yang tidak pernah Yara sangka dirinya bisa cepat beradaptasi dengan orang baru, dirinya bisa berbagi kontak dengan cowok dan saling mengirim kabar setiap saat bersama Eliot. Alasan cowok itu satu, ia hanya ingin menjaga Yara dan katanya sebagai penebus rasa bersalah karena membuat Yara pingsan hingga masuk rumah sakit.


Cowok itu juga rela mengantar Yara ke sekolah seperti pagi ini setelah Yara tidak masuk beberapa hari kemarin. Awalnya Yara menolak, tapi Eliot tiba-tiba saja ada di depan rumah dengan motornya, ditambah supir rumahnya yang pulang kampung. Mau tidak mau, Yara berangkat dengan Eliot dengan motor vespa.


Hal yang membuat geger satu sekolah bukan hanya karena kemunculan Yara setelah perbuatannya pada Sekar, tapi kemunculan Yara dengan sorang cowok.


***


A/N


Guys, kalo kalian suka cerita ini bisa share ke temen-temen juga! Yuk, rameiin supaya author makin smeangat nulis!