I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Pemaksa!



Bel pulang sekolah berbunyi. Yara segera memakai tasnya. Dengan langkah cepat ia langsung meninggalkan kelas. Sebisa mungkin ia harus menghindari Ezio. Ia melihat Ezio yang sudah menunggunya di parkiran, maka ia melangkah mundur dan segerah berjalan ke arah berlawanan secara hati-hati agar Ezio tidak melihatnya.


“Heh! Cewek anjing!” teriak Ezio yang kini menghampirinya. Yara mengumpat. “Lo ngehindarin gue ya?”


Yara langsung berbalik, mendelik sebal pada Ezio. “Harus gue ingetin berapa kali! Nama gue Yara! Ortu gue namain gue baik-baik!” Namun, Ezio tidak menggubrisnya, ia langsung saja menarik tangan cewek itu.


“Gue udah bilang tadi buat ikut ke rumah gue!”


“Supaya lo gak dimarahin sama mama lo kalo gue gak ikut? Gue gak mau!” putus Yara menarik tangannya kembali. Di tengah perdebatan itu, tanpa diundang datanglah Sekar dengan muka cerahnya. Yara menyipitkan mata tak suka. Ia merasa cewek itu akhir-akhir ini semakin berani padanya.


“Kak Ezio!” panggil Sekar yang langsung memeluk lengan Ezio di depan Yara. Ezio pun hanya tersenyum lembut. “Kak Ezio jadi anterin aku ke toko buku gak?” tanyanya pelan dengan muka polos, tak memedulikan Yara yang ada di depan Ezio.


Yara yang sudah seperti obat nyamuk, langsung saja mencari kesempatan untuk pergi. Namun, Ezio langsung meraih tangan cewek itu. “Yara,” panggilnya dengan namanya yang sudah jelas. Ia melepas tangan Sekar yang ada di lengannya lalu menatapnya.


“Sorry ya, gue gak bilang bisa nemenin hari ini, lain hari maybe bisa,” balasnya lembut sambil tersenyum.


Wajah Sekar tampak kecewa, namun sebisa mungkin ia berpura-pura tersenyum lugu. “Ya udah deh gak papa.”


“Beneran gak papa? Gue ada kereperluan. Gue pesenin taksi gimana?”


“Emm ... gak usah, Kak, aku masih ada ekskul sebenernya, Kakak duluan aja.” Bagaimanapun Sekar tidak boleh menampakkan wajah tidak sukanya, ia harus tetap bisa membuat Ezio kagum karena kemurahan hatinya, malahan kalau bisa membuat Ezio menyesal karena meninggalkannya hanya untuk Yara.


“Oke, semangat ya!” Ezio mengacak-acak rambut Sekar, sedang Yara masih berdiri di sana merasa geli. Ada ekspresi kesal di wajah Sekar yang hanya bisa Yara tangkap saat Ezio menarik tangannya. Yara sedikit tersenyum miring, mengerjai Sekar sedikit tanpa ketahuan sepertinya seru. Saat dirinya sudah jauh berjalan dengan Ezio, ia menoleh ke belakang, menjulurkan lidah pada Sekar.


Sekar mengepalkan tangannya. Rasa benci dan kesal menggerogoti dirinya. Ia menendang kaleng bekas minuman di lantai dengan kasar disertai amarah. Untungnya koridor sudah sepi jadi ia bisa mengekspresikan emosinya. Namun tanpa ia sadari, pergerakannya itu telah diamati oleh beberapa cewek.


“Girls? Did you see it?” ucap Genia yang diangguki empat cewek lainnya.


“Itu Sekar yang terkenal baik itu, ‘kan? Wah, bisa gitu juga ya!” ucap Reana.


Genia tersenyum miring. Rencana jahat langsung masuk ke otaknya. Ia melirik anggota gengnya yang lain. “Kalian tahu ‘kan apa yang harus dilakuin?”


Satu alis Lamia terangkat, ia ikut tersenyum misterius. Kelima cewek itu kini mendatangi Sekar. Sekar kaget, menatap mereka takut sambil menunduk. Ada apa ini? Sekar merasa kali ini tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak mempunyai masalah dengan Genia juga empat cewek yang dulu selalu membulinya karena perintah Yara.


Genia melirik kanan dan kiri, sudah sepi. Ia melihat Yara dan Ezio yang baru saja menaiki motor meninggalkan parkiran. “Kasihan banget, ditingalin Ezio karena Yara ya?”


Cewek itu mengangkat dagu Sekar yang menunduk. “Lo gak perlu pura-pura polos gitu, selama ini gue udah tahu kok tampang lo,” katanya menepuk bahu Sekar, “yah ... lo pasti sebel ‘kan sama Yara?”


Tak dapat jawaban, Genia melanjutkan. “Gue juga, kok! Gue musuh bebuyutannya dari dulu.” Kali ini Sekar sedikit berani menatap cewek itu. “Kalo lo mau, kita bisa kerja sama loh buat kasih pelajaran si Yara itu.”


Sekar hanya menatap cewek itu ragu. Genia yang tahu maksud tatapan Sekar tersenyum santai. “Tenang aja, gue gak lagi kibulin lo. Yah, kita kerja sama tanpa ketahuan siapa pun, dan gue juga gak akan kasih tahu soal tampang asli lo ini.”


“Dengan tampang lo yang polos itu, kita lebih bisa buat Yara jadi cewek paling jahat, tanpa harus gue yang jadi objek kesalahannya. Lagian lo juga gak akan bisa ngelawat Yara sendirian, ‘kan? Gimana?” Genia menyodorkan tangannya.


Tak disangka, Sekar tersenyum dengan kemenangan. Ternyata ada juga orang yang berada di pihaknya. Ia menyalami tangan Genia sebagai tanda deal. Rencana jahat di otaknya siap terjun.


***


Tatapan kesal sedari ia tujukan pada Ezio setelah turun dari motornya. Ia sudah bilang ia tidak mau ke rumahnya, tapi cowok itu memaksa dengan embel-embel mamanya sudah masak. Lagi, Ezio barusan mengendarai motornya kalang kabut, seolah sengaja membuat dirinya agar berteriak-teriak mengucapkan banyak kata taubat sepanjang jalan.


Ezio tidak memedulikan tampang Yara dengan rambutnya yang acak-acakan, ia berjalan meninggalkan cewek itu yang kini berlari membututinya di belakang hingga langkahnya memasuki rumah yang sering ia kunjungi dulu. Baru masuk, ia sudah disambut wanita paruh baya yang memeluknya.


“Hallo, sayang! Lama gak main ke sini? Kalian baik-baik aja, ‘kan?”


Yara hanya tersenyum kikuk. Ia menatap Ezio yang malah mengalihkan wajahnya.


“Ezio itu emang kurang ajar anaknya, masa cewek secantik kamu digantiin sama anak pembantu yang gak ada apa-apanya.” Ezio hanya diam mendengarnya, tidak berani menjawab.


“Pokoknya nanti kalo Ezio nyakitin kamu, bilang ke Mama ya, biar Mama smekdon dia!” cerocos Diana menatap sinis ke Ezio membuat Yara tertawa. Ia mengelus-elus rambut halus Yara mengajaknya ke ruang makan. “Kamu makan dulu yuk, pasti laper! Mama udah siapin makan malam buat kamu loh!”


Ia mendudukkan Yara di kursi makan diikuti Ezio juga yang ingin makan bersama. Diana menyediakan makanannya untuk Yara sedang Yara hanya memandangi dengan senyuman senang. Diana itu sudah seperti mamanya sendiri, ia merasakan kembali hal yang selama ini tidak pernah ia rasakan dari seorang ibu. Kalau bukan karena Diana juga, Yara tidak akan mau ikut Ezio ke rumahnya.


“Makasih, Tante. Jadi ngrepotin!” Yara memanyunkan bibir terharu. Seakrab itu ia dengan mama Ezio. Ezio hanya menggelengkan kepala. Mamanya itu terlalu baik untuk Yara, tapi kalau ke dirinya, wanita itu pasti hanya mengomelinya dan mudah marah.


Jika sudah marah, Ezio terlalu takut untuk melawan mamanya. Hanya Yara yang selama ini bisa meluluhkan wanita itu.


“Kamu tuh harus bisa jaga Yara, kalau bisa sih nanti lulus SMA, langsung tunangan ya,” omel Diana di tengah-tengah makannya sedangkan Ezio tersedak makanannya sendiri.


Yara tersenyum kikuk. “Kayaknya gak bisa deh, Te, soalnya kita udah—aww!” Yara memekik saat kakinya terasa diinjak dengan sengaja. Ezio mendelik padanya.


“Kenapa, Ra?” tanya Diana panik.


“Gapapa itu, Ma! Kita cuma habis berantem kaya pasangan pada umumnya! Ya ‘kan, sayang?” Ezio tersenyum manis, memberi isyarat melalui wajah, sambil memegang tangan Yara lembut. Yara terdiam. Jantungnya berdetak kencang. Sial! Kenapa harus sekarang!


“Diem kamu! Yang Mama tanya Yara, bukan kamu!” Diana mencubit perut Ezio.


“Ehehe, Ezio bener kok, Tante,” balas Yara tertawa garing.


***