
Sekar melangkahkan kakinya cepat menuju sebuah kamar yang memang sudah dikhususkan untuk pembantu lalu menutupnya. Ia mencopot segala atribut yang menempel di tubuhnya dengan kasar. Dadanya kali ini kembang kempis karena kesal dengan tangan yang sudah terkepal erat.
Matanya menatap ruangan yang sudah ia tempati selama lima tahun ini dengan jengkel. Selama lima tahun ini ia menjabat sebagai anak pembantu yang juga melayani keluarga ini. “Kenapa? Kenapa aku cuma anak pembantu!” ia menatap dasi di tangannya yang sempat ia copot. Dasi berlogo sekolah elite yang kini ia tempati, sekolah yang dibiayai oleh majikannya. “Kenapa aku selalu nerima sumbangan!” Ia membanting dasi itu. Air matanya luruh.
Ia berjalan ke arah cermin yang terpapang di sisi ranjangnya. Menatap dirinya sendiri. Seragamnya sudah menguning, tidak seperti seragam Yara yang selalu putih bersih. Kulitnya memang terang, tapi tak secantik Yara. Rambutnya bergelombang dan kasar, tidak seperti rambut Yara hitam dan berkilau. “Kenapa aku gak bisa lebih cantik dari Yara!”
Ia menatap foto ibunya yang berprofesi sebagai pembantu di rumah ini. “Ibuk juga selalu belain Yara bodoh itu! Gak pernah milih aku!” Ia membanting foto ibunya.
“Jadi Kak Ezio gak setuju kalo non Yara minta putus?”
Ia teringat akan pertanyaan yang ia ajukan pada Ezio, tapi yang ditanya tidak menjawab dan malah pergi begitu saja yang membuat Sekar merasa Ezio memang tidak terima jika putus dengan Yara. Apa Ezio mulai menyukai Yara ?
Awalnya Sekar sempat senang karena mereka sudah putus dengan sendirinya, tapi saat Ezio mengatakan bahwa ia belum putus dari Yara, hatinya jadi remuk dan emosinya membara.
Mati-matian selama ini Sekar bertingkah polos dan penyabar, berpura-pura menjadi orang yang ditindas supaya Yara menjadi objek yang disalahkan semua orang, lalu menyuruh Ezio berpacaran dengan Yara yang selalu memaksanya, agar Ezio bisa membenci Yara dan hanya menyukainya. Akan tetapi, apa-apaan ini? Kenapa Ezio bertingkah kalau ia tidak mau melepaskan Yara?
“Bajingan kamu, Yara!” geramnya.
Nafas Sekar memburu. Bola matanya yang sedari tadi mengerling menemukan foto ibunya yang sempat ia banting. Ibunya itu selalu menyuruhnya menjauhi Ezio, tidak pernah tahu bahwa ia sangat mencintai Ezio sejak dulu. Awalnya, Sekar tidak pernah berharap bahwa cowok setampan dan sekaya Ezio akan meliriknya. Namun, sikap cowok itu selalu menunjukkan ketertarikan padanya yang membuat dirinya merasa bisa mendapatkan Ezio.
Lalu, Sekar tahu bahwa si Jahat Yara juga menyukai Ezio. Dari awal bertemu, Sekar sangat tidak menyukai Yara yang ketus dan sombong. Mengatakan bahwa dirinya kampungan. Yara bisa mendapatkan yang ia mau seperti kekayaan, kekuasaan, dan kecantikan. Tidak seperti dirinya yang kumal, tidak secantik Yara, dan miskin.
Saat ia tahu Ezio menyukainya, Sekar merasa senang, dan tidak akan membiarkan Yara merebut Ezio darinya. Sialnya, Yara malah mempermalukannya di depan umum dan menyiksanya. “Cukup! Kak Ezio gak boleh sampek suka sama Yara! Kak Ezio harus tetep suka sama aku!” Ia mengacak-acak rambutnya. Matanya terlihat penuh amarah.
“Aku harus lakuin sesuatu!” katanya berbicara sendiri pada cermin. “Aku harus buat kak Ezio belain aku kayak dulu lagi!”
“Hufftt ... tenang, Sekar! Tenang! Kamu harus tetep bisa jadi gadis polos dan baik!” Ia tersenyum tenang di depan kaca memasang tampang polos dan menggemaskan yang biasa ia pasang di depan Ezio.
“Kita lihat aja nanti,” ucapnya sambil memegang handphone-nya yang berisi chat-nya dengan Ezio. Pesan terakhirnya ketika ia meminta untuk menjauhi dirinya di jam dua belas malam yang membuat Ezio mengira itu Yara. Kalau kalian ingat, itu adalah pekerjaan Sekar.
Ia tersenyum miring, ada sebuah rencana yang lebih bagus di otaknya.
***
Sekar ingin, benar-benar ingin seperti teman-temannya yang lain yang jika berkumpul bahasannya skincare. Sekar ingin menjadi siswi yang pandai merawat diri agar ia tidak dibilang cupu. Sayangnya, uang cewek itu tidak memumpuni.
Cewek itu terlihat berpikir sejenak saat melihat nyonya rumahnya baru saja pergi dari kamarnya, nyonya Angel. Ia menggigit bibirnya ragu. Apa ia harus melakukan ini lagi?
Masih berpikir, tanpa sadar ia berjalan ke arah pintu kamar nyonya Angel dan kini dirinya sudah di depan pintu. “Gak papa, Sekar, demi bedak!” ucapnya, sebenarnya ia juga takut.
Ia memandangi ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang. Ia memutar ganggang pintu itu yang ternyata tak dikunci. Dengan cepat, ia segera masuk dan menemukan sebuah meja rias dengan berbagai macam skincare serta make up brand ternama. Sekar terperangah, matanya berbinar seakan menemukan harta karun.
Sekar mengambil satu buah tube bertuliskan ‘sunscreen’ yang ia sendiri tak tahu digunakan untuk apa. Lalu ia mengambil pots bertuliskan ‘moisturizer’ dengan packaging mewah. Menatap sekeliling, tidak ada orang. Sekar mencium bau skincare yang wangi di hidungnya. Tak ingin berlama-lama, ia segera mengambil bedak untuk ditepukkan ke mukanya, juga lipstik untuk bibirnya yang akhir-akhir ini kering.
Namun sebelum itu terjadi, seseorang langsung menyahut bedak dan lipstik itu dari tangannya secara kasar, meletakkannya kembali di meja rias. Sekar menoleh ke arah orang yang sudah menginterupsinya dan menemukan wajah ibunya yang murka. “I-ibuk?”
Bi Ami langsung menarik kasar cewek itu cepat sebelum ada orang lain yang tahu, membawa Sekar kembali ke dalam kamarnya. “Sudah Ibu peringatkan! Jangan kamu mencuri atau pake barangnya Bu Angel! Kamu ngeyel!” Bi Ami melotot.
Sekar tersentak. “A-aku ndak nyuri, Bu! Aku minta!”
Plak! Bi Ami langsung menampar anak gadisnya tanpa segan. Ini sudah berkali-kali ia memperingatkan anaknya itu untuk tidak menyentuh barang-barang milik nyonya mereka, tapi Sekar selalu melanggar itu secara diam-diam. “Kamu yo mbok sadar toh, Nduk! Harusnya kamu bersyukur kita boleh kerja di sini. Kalo gak ada keluarga ini siapa yang mau kasih kita makan? Nanti kalau kamu ketahuan, trus dipecat, ibu kerja di mana, Nduk? Mau kasih kamu makam apa?”
Sekar memegang pipinya yang terasa panas. Air matanya luruh begitu saja. Ia menatap ibunya kecewa. Jujur, ia tidak suka saat ibunya berkata seperti itu yang artinya merendahkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin dianggap sebagai anak pembantu. “Aku ndak pernah berharap Ibuk jadi pembantu! Kalau ndak bisa diterima di tempat lain, ya itu salah Ibuk yang dapat catatan polisian dan akhirnya cuma bisa kerja di sini!”
Sekar menangis, ia berlari meninggalkan ibunya yang terdiam di tempat.
***
A/N
Jangan lupa vote and komen ya guys sebelum lanjut! ❤️