
...“Kalaupun gue jadi baik, lo juga bakal tetep anggep gue jahat, Zi. Semua orang juga. Jadi apa gunanya? Kalo udah dianggap jahat, ya udah sekalian. Daripada kelihatannya baik tapi munafik.” - Yara...
...***...
“KALAU GUE MASIH CEMBURU EMANG KENAPA?! EMANG LO PEDULI?!” Dada Yara kini kembang kempis. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini rasanya Ezio selalu ingin membuat masalah dengannya, mempersoalkan sesuatu yang tak penting dengan sengaja seolah mencari celah agar bisa berinteraksi.
Ezio terdiam. Ia tidak pernah melihat Yara berteriak keras mengekspresikan emosinya seperti ini. Yara menarik nafas lalu membuangnya. Ia harus bisa mengontrol emosinya agar tidak ada orang yang mendengar di rumah ini. Lagipula ini sudah malam. “Mending lo pulang, Zi! Sumpah, gue capek!” Yara segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa membiarkan Ezio berbicara lagi.
Ada yang aneh dari Yara. Menurut Ezio, cewek itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kak Ezio!” panggil seorang cewek yang tiba-tiba memeluk tubuh Ezio dari belakang kemudian ia berpindah memeluknya dari depan saat Ezio sudah sadar kehadirannya. “Kak Ezio tadi kemana? Kok gak sekolah? Bolos lagi ya?” tanyanya bergelayut manja sambil mengerucutkan bibir.
Ezio tak menjawab juga tak membalas pelukannya. Pikirannya masih dipenuhi Yara.
“Kak Ezio?” sapa Sekar lagi.
“Ibu lo nanti gak marah sama lo karena lo meluk gue?” Ezio tampak tak berekspresi saat ini, tapi pertanyaannya justru membuat Sekar memeluknya erat.
“Ibuk lagi ndak di rumah. Pembantu di sini lagi pada keluar. Jadi ndak papa!” katanya tersenyum ceria. Ezio hanya menghela nafas sebelum tangannya membalas pelukan Sekar.
Dari dalam, Yara yang masih belum sepenuhnya masuk ke rumah, masih bisa mendengar keduanya, bahkan keduanya juga terlihat dari jendela. Tak ingin membuang waktu, cewek itu segerah pergi menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
***
Setelah diskors tiga hari gara-gara pertengkarannya dengan Genia, Yara akhirnya masuk hari ini. Ia melangkahkan kakinya santai di koridor dan seperti biasa mendapat berbagai macam tatapan dari orang-orang di sekitarnya. Yara memutar bola matanya. Meski dirinya sudah tidak ada niatan menindas atau bertidak jahat, tetap saja dirinya dianggap jahat.
Sekarang Yara jadi percaya quotes yang ia lihat di tiktok beberapa bulan yang lalu; orang hanya melihat orang lain dari firts impression, jadi kalau first imprission-nya sudah buruk, pasti sampai seterusnya dianggap buruk. Gak peduli dia sudah berubah.
Sial! Ini pertama kalinya Yara percaya dengan quotes-quotes seperti itu.
Yara segera mempercepat gerakan kakinya. Namun, seseorang langsung menariknya. “Ikut gue!” kata Ezio dengan langkah kaki cepat. Semua cewek yang julid langsung berbisik-bisik. Yara yang masih loading hanya pasrah mengikuti cowok itu hingga langkahnya sampai di taman belakang.
“Kenapa lo putusin gue?” Lagi-lagi Ezio menanyakan hal yang sama.
Yara menatap cowok itu sebal. “Lo tanya lagi? Kemarin ‘kan udah—“
“Jawab aja! Lo punya rencana apa sama Azhar?!”
“Hah?! Rencana?”
“Beberapa hari yang lalu dia ke rumah lo, lo pasti punya rencana jahat ‘kan sama dia?”
“Lo tahu kalo Azhar ke rumah gue?! Lo nguntit—“
“Jawab aja!”
“Ya udah kalo lo udah tahu Azhar ke rumah gue, berarti lo juga tahu ‘kan rencananya apa.”
“Jawab kenapa lo putusin gue ...?” Ezio kini bertanya dengan sungguh-sungguh. Pertanyaan yang ia layangkan penuh penegasan dan kali ini lebih lirih pertanda ia ingin jawaban pasti. Melihat itu Yara menatap mata Ezio dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan saat Ezio menatapnya penuh keseriusan. Kalau ditanya Yara masih punya perasaan atau tidak, jelas ia masih mencintai Ezio, tapi ia sadar ia tidak pernah diharapkan.
“Gue yakin gak semudah itu lo putusin gue.”
“Mudah, kalo gue sadar gue emang gak diharapkan.” Ezio langsung terdiam. Tahu keterdiaman Ezio, Yara mengambil kesempatan berbicara lagi. “Udah, ‘kan? Sekarang lo bisa pacaran dengan tenang sama Sekar tanpa gangguan gue, dan gue juga bisa memperlakuin Sekar sesuka gue tanpa ada aturan dari lo!”
Ezio langsung menajamkan matanya. “Jadi lo putusin gue cuma supaya bisa ganggu Sekar lagi?”
“Gue gak tahu ya, Zi, kenapa lo selalu prasangka buruk ke gue! Padahal gue juga gak ngomong mau ganggu dia!”
“Karena lo selalu ngelakuin hal jahat.”
Yara menatap mata Ezio lekat. “Jadi gue harus berubah jadi baik supaya gak dianggap jahat?”
“Kalaupun gue jadi baik, lo juga bakal tetep anggep gue jahat, Zi. Semua orang juga. Jadi apa gunanya? Kalo udah dianggap jahat, ya udah sekalian. Daripada kelihatannya baik tapi munafik.” Yara menatap Ezio sengit seolah meremehkan. Tatapan yang sama sekali tidak pernah diberikannya pada Ezio selama ini. Perasaannya campur aduk, antara sakit karena masih memiliki rasa cinta, tapi ia juga teringat sebuah fakta yang dibeberkan Azhar beberapa hari yang lalu.
Kali ini, Ezio merasa kata ‘munafik’ itu tertuju untuknya. Alisnya berkerut bingung. Ia bertambah yakin bahwa ada sesuatu yang Yara sembunyikan hingga Yara bisa bersikap seperti itu padanya.
“Kita bisa putus baik-baik, Ra, tanpa nyakitin satu sama lain.”
Yara tertawa hambar. “Nyakitin? Lo ‘kan gak tersakiti, kalau gue yang tersakiti mah lo juga gak peduli.” Awalnya Yara juga ingin seperti itu, putus baik-baik. Namun, Ezio sendiri yang menimbulkan ia harus putus dengan tidak baik.
Yara ingin melangkahkan kakinya saat Ezio tak bersuara lagi. Beberapa langkah, Ezio kembali menyahut, “Terserah lo, Ra! Tapi lo harus inget, kita belum putus, karena putus itu disetujui dua belah pihak, sedang lo yang minta putus, belum gue setujui.” Ezio tersenyum miring mengucapkan kata-kata menyebalkan itu di sebelah telinganya, lalu cowok itu segera berlalu pergi membiarkan Yara yang terdiam di tempat sambil melotot.
“APA?!” pekiknya sedang Ezio sudah tidak berada di tempat saat ia berteriak.
Sialan! Ezio memang menyebalkan.
***
“Kak? Kakak kok diem aja sih?” tanya Sekar saat sedari tadi ia hanya dikacangi Ezio yang bermain game. Percayalah, kalau sudah seperti ini Ezio hanya ingin mengalihkan pemikirannya dari cewek yang bernama Yara.
Brano yang duduk di depannya melihat itu tertawa renyah setengah merasa geli dengan sikap Sekar. Dulu, Sekar itu adalah orang yang selalu meminta Ezio berpacaran dengan Yara, tapi saat Ezio sudah berpacaran dengan Yara, cewek itu masih saja menempel pada Ezio tanpa rasa salah meski Yara sudah beberapa kali memberi peringatan, seolah sengaja membuat Yara sebagai orang terjahat yang sudah merebut Ezio darinya.
“Udah gua bilang, gamon itu habis diputusin Yara!” Arion langsung duduk di sebelah Brano membawa dua mangkok seblak khas kantin. Sekar langsung menundukkan kepala. Ezio langsung menatapnya tajam.
“Gue belum putus! Putus itu ada di tangan cowok, kalo cowok setuju ya putus. Ini cuma emak lampir aja yang minta putus!” tegasnya membuat ketiga orang itu melongo.
“Jadi Kak Ezio gak setuju kalo non Yara minta putus?” tanya Sekar membuat Ezio langsung menatapnya.
***
A/N:
Hayoloh, Ezio mulai plin plan gaiss!
Huhu, jangan lupa vote dan komennya gaiss sangat butuh sekalii!❤️