I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Kamu Tidak Pernah Benar-benar Mencintaiku



Dari sini, mata Yara kini menemukan Ezio yang sedang bergurau dengan teman-temannya yang ternyata di sana juga ada Azhar, orang yang tadi menghubunginya dan menyuruhnya kemari. Ia tersenyum, ingin menemui Ezio untuk memberikan sesuatu atas tanda terimakasih karena sudah mengunjunginya saat sakit minggu lalu.


Ia melangkah semakin dekat dan semakin mengetahui wajah-wajah yang ia kenali. Ezio, Azhar, Zerdan, Kemas, Brano, Arion, dan Agas. Namun, belum sempat ia melangkah lagi, ia dapat mendengar pembicaraan mereka.


"Mana? Katanya lo mau putusin si Yara-Yara itu dalam tiga bulan, nyatanya sampek setahun lo belum putusin dia?" tanya Brano menertawakan Ezio.


Ezio menghela nafas, ia menatap cowok itu malas. "Sabar, dia lagi berduka."


"Lagi berduka, atau jangan-jangan lo suka beneran sama tuh cewek?" Agas kini mengajukan pertanyaan sambil mengangkat kedua alisnya, ikut tertawa.


Sedangkan Ezio hanya tertawa. Ia memegang bahu Agas yang belum tahu tujuannya selama ini. "Bro, gue udah bilang gue gak akan pernah suka sama cewek jahat kayak dia. Gue cuma suka sama Sekar. Gue pacaran sama Yara karena gue mau balas dendam aja udah nyakitin Sekar. Setelah gue pacarin dia, gue mainin dia sekalianlah buat perhitungan supaya dia tahu rasanya jadi Sekar yang udah sabar jadi pembantunya."


Ezio menyesap kopinya. Dengan santai, lagi-lagi ia berkata, "Setelah selesai, gue bakal putusin dia sepihak."


Yara yang masih setia mendengar itu di balik punggung Ezio menegang. Meski dari jauh, tapi ia masih bisa mendengar perkataan Ezio yang meremas hatinya. Ia mundur beberapa langkah dengan perasaan hancurnya sebelum akhirnya lari agar Ezio dan lainnya tak melihat keberadaannya. Hanya satu cowok yang melihat Yara berlari menjauh, Azhar. Dan cowok itu hanya pura-pura diam dan tak peduli, memilih melanjutkan perbincangan dengan teman-temannya.


***


Yara terus berlari hingga langkahnya berhenti pada sebuah gedung besar bercat putih. Tempat yang membuat papanya selalu sibuk sebagai direktur dan tak pernah mempedulikannya. Yara menaiki lift untuk menempuh lantai paling atas lalu berlari menaiki tangga hingga mencapai rooftop.


Nafasnya tersengal dengan degup jantung yang cepat. Ia terduduk dengan air mata yang tiba-tiba keluar. Yara benci menangis, maka ia segera menghapus air matanya. "Gak! Lo gak boleh nangis! Gitu aja masak nangis sih!" Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak, masih berusaha agar tak menangis.


Namun, sehebat apapun ia mencegah tangis itu, pada akhirnya air matanya keluar juga dengan perasaan anehnya. "Kenapa sih, kenapa gue cengeng bangett!"


Ia kembali menghapus air matanya. Hal-hal di masa lalu kembali terngiang. Saat Ezio selalu berkata pedas padanya. "Apa sih untungnya Sekar? Dia tuh cewek kampungan, Zi! Coba aku, aku lebih cantik dari dia!"


Kemudian Ezio yang jalan mendahuluinya berbalik. "Lo itu cantik, tapi bodoh kayak boneka cantik yang dapat dimainin. Kalo Sekar itu pintar dan dia cewek yang berharga!" Seketika Yara terdiam saat itu.


Memorinya lalu berputar pada saat Ezio yang sedang mengantarkannya pulang menurunkan dirinya di tengah jalan saat ia melihat Sekar berjalan sendirian di jalan. "Lo turun deh!"


"Hah?! Kenapa?!"


"Udah turun aja!" Yara kira ia disuruh turun karena ada masalah dengan motor Ezio, tapi ternyata cowok itu meninggalkannya sendiri dan lebih memilih membonceng Sekar.


"Kok gitu sih?!"


"Lo masih ingat 'kan perjanjiannya? Jangan pernah larang apapun yang gue mau," peringatnya dengan santai dan wajah menyebalkan. "Ya kalo lo gak terima kita put--"


"Iya-iya!" Setelah itu, Ezio meninggalkannya sendirian di tengah sunyi.


Yara juga masih ingat saat dirinya terjatuh lalu mimisan parah, tapi Ezio malah memilih untuk menolong Sekar yang hampir tertimpuk bola basket jika Ezio tidak dengan sigap menangkap bola itu. Ezio juga sempat marah-marah pada cowok-cowok yang tak hati-hati main bola basket sedang dirinya hanya dapat menonton pacarnya yang membela orang lain dengan keadaan bercucuran darah di hidung.


Yara juga masih ingat jelas peringatan Ezio saat cowok itu ngamuk parah yang membuat semua orang terdiam dan yang menurut Yara menyeramkan, lebih menyeramkan dari papanya yang memarahi mamanya saat sedang sakit dulu. "Anjing lo! Gue udah peringatin lo jangan berani nyentuh Sekar!"


Sedang Sekar yang dibela hanya diam, menunduk dengan muka polosnya. "Udah, Kak. Non Yara gak salah!"


"Lo gak usah manggil dia non lagi, ini sekolah bukan rumah!"


Setelah itu peringatan terakhir Ezio membuatnya terdiam. "Untung lo cewek. Kalo cowok, habis lo, Ra!"


Kemudian saat Yara meminta Ezio menemaninya nge-date tapi Ezio hanya sibuk bermain handphone dan Yara pun bertanya, "Kamu tuh sebenernya anggep aku apa sih?"


"Pacar." Ezio menjawab singkat sambil menatap layar handphone-nya. "Pacar yang gak gue anggep sih."


"Se-gak berharganya itu ya aku di mata kamu?"


Ezio tak menjawab sampai Yara yang menunggu jawaban itu, kembali bertanya. "Zi! Se-gak berharga itukah gue di mata lo?"


"Kenapa?"


"Karena gue pacaran sama lo terpaksa."


"Tapi kamu yang ajak aku pacaran!"


"Biar lo gak nyakitin Sekar."


Menelaah memori, cewek itu meneteskan air mata dalam diam tanpa isakan. Ia menghela nafas. Tujuan Ezio hanya balas dendam, Ezio tidak pernah menyukainya, Ezio membencinya, semuanya hanya demi Sekar. Sedari dulu Yara tak percaya, Yara menganggap Ezio mungkin menyukainya dan ia juga menganggap Ezio berpura-pura menyukai Sekar supaya Yara tak menyukainya lagi.


Dan satu lagi yang membuat Yara masih menginginkan Ezio. Meski terkadang Ezio berkata pedas, tapi cowok itu terkadang baik padanya. Ezio yang terkadang melindunginya, juga Ezio yang ada untuknya saat dirinya kesepian. Hal yang tanpa Ezio sadari memberi harapan pada Yara.


Kini Yara sadar, ia tidak bisa memaksa Ezio terus bisa bersamanya. Ezio hanya menyukai Sekar.


"Ezio gak pernah suka sama lo, Yara! Sadar!" ucapnya mengusap air mata.


***


Ezio melangkahkan kakinya cepat. Perasaannya gusar, ada yang aneh dengan dirinya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur. Mengusap wajahnya kasar. Setelah membeberkan fakta tentang hal itu tadi di kafe, rasanya sungguh berbeda ketika ia berbicara pada teman-temannya tentang rencananya itu satu tahun lalu. Seolah perasaannya menolak bahwa ia hanya sekadar balas dendam.


"Aghhh!" Ezio mengacak-acak rambutnya. Saat mendengar atau menyebut kata 'Yara', di pikirannya langsung tertuju pada wajah cewek itu ketika tersenyum bersama dirinya di atas rooftop menikmati pemandangan malam atau saat Yara tertawa usai mereka berdua dikejar-kejar guru BK karena telat.


Tidak! Ezio itu hanya suka dengan Sekar, ia menyayangi cewek itu lebih dari mantan-mantannya. Sekar adalah cewek pertama yang bisa memperbaiki perilaku berandalnya dulu. Sekar itu pintar, sabar, dan sederhana. Tidak seperti Yara, cewek jahat yang suka menindas, membuat kekacauan di sekolah, atau malah membuat dirinya disidang di ruang BK.


Yara tidak ada apa-apanya dibanding dengan Sekar. Ezio akan selalu ingat, kalau saja bukan Sekar yang meminta dirinya sampai berlutut, Ezio tidak akan sudi memacari nenek lampir itu.


Ezio mengambil handphone-nya. Bibirnya tersenyum tipis kala melihat notifikasi dari cewek yang selalu mengisi hatinya.


Orang istimewa


Lagi belajar, Kak. Besok ulangan


Kak Ezio sendiri?


Ezio


Selamat belajar dan selamat malam cantik


Jarum jam menunjuk ke arah dua belas lebih. Cewek itu pasti sudah tidur. Ia sangat kenal, seorang Sekar tidak akan bergadang hingga jam segini. Mungkin pesannya dibalas pagi nanti. Ia menghela nafas. Menggeletakkan ponsel di kasur. Belum genap semenit, notifikasi membangunkan dirinya.


Orang istrimewa


Mulai hari ini jangan hubungi gue lagi!


Gue benci sama lo!


Cowok itu langsung terduduk dari tidurnya. “Anjing!” Ini pasti pekerjaan Yara.


***


A/N


Jangan lupa like and komen ya gaiss buat dukung author ehehe!