I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Kind of Eliot



“Bukan gue yang jahat, Eliot ... dia yang jahat ....” Tanpa sadar, Yara memeluk Eliot, air matanya tumpah begitu saja saat ingat Ezio membentaknya, membela Sekar di hadapan semua orang, membuat dirinya seolah adalah gadis terjahat di dunia. Ia teringat kala Sekar dengan senyuman miringnya yang disengaja, memancing emosi yang bodohnya tak bisa ia kontrol dan membuat dirinya menyiksa cewek itu.


Ia ingat ketika papanya yang kehilangan dua ratus miliar lalu mengklaimnya sabagai anak bodoh, pembangkang, dan pencuri hanya karena ulah Sekar. Yara membenci Sekar. Ia benci semua orang yang mengucilkan dan memperlakukan dirinya seperti monster hanya karena sikap antagonisnya.


Tadi setelah melarang Eliot pergi, cewek itu langsung menangis dan bergumam tak jelas yang membuat Eliot mengelus bahunya.


Kini Yara semakin memeluk Eliot erat meski Eliot hanya orang asing yang masih belum mengenal baik buruk dirinya. Yara merasa Eliot sudah mengenalnya sejak lama. Sedang Eliot juga memeluk cewek itu hangat, berusaha menenangkan. Hatinya sakit melihat cewek yang ia sayangi menangis.


“Eliot ...,” panggil Yara di sela-sela tangisnya. “Lo bakal anggep gue jahat juga?” Eliot langsung menatap wajah cewek itu yang terlihat suram. Ia menggelengkan kepala.


“Ssstt ... apapun lo di mata gue gak akan pernah jahat. Lo adalah cewek baik, Yara. Kalo semua orang anggap lo jahat, mulai sekarang akan ada gue. Gue adalah orang yang akan nglindungin lo.” Setelah kata itu, Yara tertegun. Ia menghentikan tangisnya, merenggangkan pelukannya dari Eliot, berusaha menenangkan diri saat tersadar sesuatu. Jujur ia merasa malu karena menangis di hadapan Eliot.


Ia menatap tepat ke arah manik mata Eliot.


“Kenapa lo harus lindungin gue?” Eliot tidak menjawab.


Karena gue suka sama lo dari dulu!


“Kita ‘kan hanya orang asing yang baru bertemu?” tanya Yara lagi. Eliot mengambil tangan Yara untuk ia genggam erat. Ia juga menatap cewek itu tepat di matanya. Rasanya sakit saat orang yang ia sukai tidak mengenalnya sama sekali, padahal ia sudah mengenalnya sejak dulu. Mungkin ini adalah sebagian kebodohan Eliot karena ia baru berani mendekati cewek itu sekarang.


“Gue udah kenal lo sejak dulu, Seiyara Zephyre.” Yara membolakan matanya. Tidak menyangka cowok di depannya menyebutkan nama lengkapnya. “Lo gak inget gue dulu?”


Yara langsung menarik tangannya dari genggaman Eliot dan Eliot melihat itu. Yara menggelengkan kepala. Ia memang sudah tahu sejak dulu bahwa Eliot adalah barista atau pelayan kafe Mars yang baru ia tahu namanya, dan ia tak mengerti maksud Eliot. Dengan jujur, cewek itu menggelengkan kepala.


Eliot tersenyum miris. “Kalo gak diinget berarti gak penting.”


Yara mengerutkan kening. “Maksudnya?”


“Lupain aja.” Kemudian Eliot kembali tersenyum pada Yara. “Yang penting apapun yang lo butuhin, gue siap ada buat lo. Gue gak akan anggap lo jahat kayak orang-orang, Ra.”


Senyuman itu kemudian dibalas senyum oleh Yara. Ketenangan mengalir di sekujur tubuhnya. “Makasih, Eliot.” Jantung Eliot kembali berdebar saat melihat senyum langka itu. Kata-kata terimakasih yang ia tahu tidak biasa Yara ucapkan pada orang lain, merasa kini dirinya mengambil sebagian orang penting di kehidupan Yara.


“Oh ya, beberapa hari yang lalu gue cariin lo di kafe, kata Ocong lo-nya gak ada.”


“Apa?” Eliot baru tahu soal itu. Meski begitu, hatinya sudah berbunga-bunga saat ia tahu Yara mencarinya.


“Kata Mas-mas di sana lo lagi ada urusan keluarga?”


“Ah, iya! Lo ... kenapa cari gue?” Eliot merasa penasaran.


Yara menghela napas dengan ekspresi kecewa. “Yah, gue gak bawa apa-apa sekarang. Waktu itu gue bawain lo kue buat ucapan makasih karena udah rela manjat dinding gue malem-malem buat nyemangatin gue. Makasih ya!”


Sekarang, Eliot yang dibuat bingung dengan ucapan Yara. “Semangatin lo? Malem-malem?”


“Iya, lo yang kasih gue kotak itu dan nyuruh gue buat cari lagunya Rihanna, ‘kan?” Yara tertawa. “Lo lucu tahu!”


“Lo gak perlu ngelak, pokoknya makasih!” potong Yara dengan senyum ceria yang jarang sekali ia keluarkan. Eliot mengangguk saja megetahui senyum itu meski tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Karena yang terpinting Yara tidak menangis seperti tadi.


***


Sebenarnya tak mudah bagi Yara untuk beradaptasi dengan orang baru, hanya saja sikap Eliot yang dirasa nyaman dan pengertian membuat dirinya tak enggan untuk mengeluarkan segala keluh kesah dan apa yang ia mau. Eliot memperlakukannya seperti seorang putri, apapun yang ia butuhkan selalu Eliot turuti, sebuah perlakukan yang tidak pernah Yara rasakan dari seorang pria.


Ini adalah hari kedua dirinya di rawat di rumah sakit. Dokter belum mengizinkannya pulang. Eliot masih setia menemani cewek itu untuk berjalan-jalan keliling rumah.


“Boleh temenin gue ke rooftop rumah sakit?”


“Asalkan gue gendong lo!” ucap Eliot membuat Yara menatapnya tak suka.


“Gue bisa jalan sendiri kali!” Ia ingin menaiki tangga, tapi tangannya langsung dicekal oleh Eliot.


“Gak boleh! Lo belum kuat naik tangga, Ra!” larangnya.


“Tapi gue mau ke rooftop! Gue mau cari udara! Rasanya sesak!” Yara mengotot ingin segera naik meski dengan tubuh yang sedikit lemah. Eliot langsung saja menggendong tubuh kurus cewek itu menaiki tangga rooftop. Yara melebarkan matanya, terdiam. Ini baru pertama kalinya ia digendong oleh cowok.


Lebih ekstrimnya lagi, ia dapat merasakan degub jantung Eliot saat kepalanya menempel di dada cowok itu. Saat sampai di roftoop, Eliot menurunkannya dengan hati-hati. Keduanya saling diam. Eliot berusaha meredakan degup jantungnya, sedang Yara melihatnya tanpa ekspresi.


Eliot benar-benar siap jika cewek itu akan marah, memakinya, atau membenci dirinya karena menggendongnya tanpa izin. Nyatanya ekspresi datar Yara kini menjadi tawa kecil. “Lo lucu deh.”


Hati Eliot menghangat mendengar itu. Ia terpaku di tempat dan tersenyum tipis. Kini ia melihat Yara yang berlari ke arah pembatas rooftop, menghirup udara serakus-rakusnya. Eliot mengikutinya, menatap wajah cantik yang tertepa angin itu.


“Gue suka rooftop,” celetuk Yara tiba-tiba. “Ezio juga suka rooftop.”


Mendengar nama itu, kuping Eliot rasanya panas.


“Saat Ezio down, dia bakal ajak gue ke rooftop. Rooftop tuh nyimpen banyak kenangan sama Ezio.” Namun, seketika raut wajahnya berubah menjadi sendu. “Kalo gue bisa, gue mau benci rooftop karena Ezio. Gue mau lupain Ezio dan buang jauh-jauh dari hidup gue. Tapi sedari dulu nyatanya cuma tempat ini yang bisa bikin gue tenang.”


Eliot diam saja mendengar itu. Ia ingin marah saat Yara kembali menyebut Ezio, tapi ia sadar ia belum menjadi siapa-siapanya Yara.


Yara kembali menghirup udara segar, menatap awan-awan yang dilihat-lihat memang bergerak. Ia tersenyum.


Sebuah notifikasi berbunyi dari saku celana Eliot. Eliot membuka pesan yang ada di handphone-nya. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Yara dapat menangkap itu. “Kenapa?”


Eliot hanya menggelengkan kepala lalu memasukkan ponselnya lagi ke saku. “Gak papa,” jawabnya masih diselingi senyum yang membuahkan tanda tanya di kepala Yara.


***


A/N


Lanjut? Ayoooo votee! Komen! Supaya aku tahu ada yang baca karya ini!