I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Why are You Like This?



“Jadi ada yang bisa mengerjakan soal trigonometri di depan? Ayo ngacung, yang ngacung saya kasih ... emm ... apa ya? Pokoknya saya kasih!” ucap pak Nahil mengetuk-ngetukkan spidol di papan tulis. Sebagian siswa sibuk berpikir di tengah siang yang panas ini, ada yang hanya garuk-garuk kepala.


Yara mendengus. Ia mengacungkan tangan.


“Ya, Yara! Hebat sekali maju!” ucap pak Nahil bangga. Seluruh siswa di kelas langsung tercekat.


“Izin ke kamar mandi, boleh, Pak?” tanyanya membuat kelas hening beberapa saat sebelum akhirnya suara cekikikan dari para siswa menguar saat tahu wajah kecewa pak Nahil. Pak Nahil mengijinkannya dan Yara segera keluar dari kelas suram dan panas itu.


Udara segar langsung menyerbu dirinya saat ia keluar dari kelas. Rasanya seperti habis terbebas dari neraka. Yara berjalan tak tentu arah. Sebenarnya niatnya bukan ke kamar mandi, ia hanya ingin mefreskan pikirannya yang begitu keruh karena suasana kelas.


Ia berjalan gontai. Matanya melirik ke mana-mana. Bukan hanya dirinya yang keluar kelas untuk keliling, banyak sekali siswa yang merasa bosan. Bedanya, mereka berjalan beriringan dengan teman-temannya sambil melempar canda tawa tanpa merasa sepi. Yara hanya tersenyum segaris, ia menatap samping kanan dan kirinya, tidak ada orang yang mau menjadi temannya. Semua orang menganggapnya jahat.


Dari awal Yara masuk sekolah ini, tidak ada seorang pun yang ia ajak kenalan dan tidak ada yang mau juga berkenalan dengannya karena dari tampang cewek itu, terlihat judes dan sombong. Yara dulu juga tidak peduli dengan sekitarnya, asal ia memiliki ‘babu’ dan bisa mendapatkan Ezio.


Yara mengembuskan nafas. Takdirnya dari dulu memang tidak memiliki teman.


Tiba-tiba, suara guru legend yang sering ia dengar suaranya berteriak memenuhi koridor, membuat siswa yang berjalan di sana menoleh ke belakang. “Berhenti kalian!” ucapnya sambil membawa sebuah raket di tangannya.


Belum sempat Yara menoleh ke belakang, tangannya sudah ditarik oleh seseorang untuk berlari.


“Yara? Kamu juga ikut-ikutan?!” Pekikan itu kencang. Yara melotot, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya ditarik-tarik lalu menabrak mbak-mbak yang sedang membawa tumpukan kertas sampai kertasnya terbang ke sana ke mari.


“Maaf, Mbak!” ucap cowok yang sedang menariknya. Suara yang familiar di telinga Yara. Ezio.


Mereka sudah seperti tikus yang dikejar kucing. Terburu-buru. Tapi tunggu! Kenapa Yara jadi ikut-ikutan dikejar bu Sulis! Ezio sialan!


“Awas! Awas, Pak! Awas!” ucap Ezio pada bapak-bapak yang sedang membawa sekaleng cat untuk memperbaiki sekolah. Lalu mereka lanjut berlari dan hampir saja kesandung kucing hitam yang hanya bisa bekata ‘meong-meong’ sebagai arti bahwa kucing itu mengomel karena aksi mereka.


“Zi! Lo mau bawa gue ke mana sih, Zi?!”


“Lo diem aja kalo gak pingin kena!”


“Gue awalnya juga gak kena! Ini gue ikut-ikutan kena gara-gara lo, Gila!”


Ezio tidak menggubrisnya, ia tetap menarik Yara menaiki tangga. Setelah melalui beberapa tangga, langkah sepatu converse keduanya kini sampai di lantai paling atas. Ezio mengajaknya ke rooftop, tempat siswa biasanya bersembunyi. Ezio langsung menutup pintu rooftop. Nafas keduanya kini terengah-engah.


“Gilak!” ucap Yara meraup udara sebanyak-banyaknya. “Lo kenapa sampek bisa dikejar-kejar?”


“Bukan gue, tapi Brano ketawan pacaran, gue ditarik-tarik kabur jadi dikira gue ikut-ikutan,” jelas Ezio. Ia melangkahkan dirinya ke pembatas rooftop yang menampakkan aktivitas kota. Semilir angin menerpa wajah tampannya.


Yara mengerutkan dahi, tampangnya agak kesal. Ia melangkah mengikuti Ezio. “Trus? Kenapa lo ngajak gue?”


Beberapa detik, tak ada jawaban dari cowok itu. “Biar lo dikejar juga.” Ia menatap wajah Yara yang tertepa angin, mukanya terheran-heran cewek itu sepertinya ingin bertanya lagi. “Kenapa? Bukannya lo biasanya kalo punya masalah dikejar-kejar guru BK, lo juga ngajak-ngajak gue? Sekarang gantian!” ucapnya sebelum Yara berbicara lagi.


Yara diam saja, tak menyangka dengan apa yang Ezio ucapkan. “Bukannya lo gak suka kalo gue ajak ke roftoop, lo bilang najis. Sekarang lo malah ngajak gue ke roftoop.” Nada bicara Yara datar, tidak marah juga tidak senang, hanya heran.


“Yaudah, kalo gitu gue pergi.” Yara ingin beranjak, tapi tangan Ezio memeganginya. Hatinya ingin cewek itu tetap di sisinya.


“Temenin gue di sini! Gue lagi suntuk!” pintanya. Yara mengerutkan kening, merasa heran.


“Kenapa gak suruh Sekar aja yang nemenin lo?”


“Sekar lagi sibuk, mau ulangan.”


Ekspresi Yara kini berubah, hatinya sedikit tercubit. “Jadi gue cuma pelampiasan ya?” Yara tersenyum segaris. Ezio tak bisa menjawab apapun. Padahal ia tadi menjawab asal. Ia tidak tahu Sekar sibuk atau tidak, yang jelas ia tidak ingin orang lain yang menemaninya selain Yara.


Dari rautnya, Yara bisa menebak suasana hati cowok itu sedang kacau dan ada sesuatu yang cowok itu pikirkan tapi tidak ingin dibicarakan. Yara mengalah, ia hanya diam, memilih menemani Ezio yang entah memikirkan apa. Bodoh, lagi-lagi Yara luluh karena perasaannya pada Ezio.


Kini Mereka saling diam dan tak ada yang angkat bicara hingga bermenit-menit.


“Gue mau lo ke rumah gue pulang sekolah nanti, gue gak mau mama gue ngira kita putus,” ucap Ezio tiba-tiba.


“Kita ‘kan emang udah putus.”


“Kita belum putus!” tegas Ezio.


Yara terkekeh pelan. “Kenapa lo gak biarin kita putus?”


“Mama gue gak mau kita putus, kalo putus ntar gue yang disalahin, pokoknya lo nanti ikut ke rumah gue!” jawab Ezio tidak ingin dibantah. Perasaannya sedang kacau saat ini. Lagi-lagi Yara hanya bisa diam dan mengalah dengan cowok egois di sebelahnya. Ia menatap kosong ke arah depan. Ingin ia pergi dari sini, suasana kelas yang panas lebih baik daripada bersama Ezio yang tidak jelas, tapi ia sadar kalau ia turun dari sini pasti ia akan kena bu Sulis.


Suasana hening merambat kala Ezio sibuk melamun. Angin masih berembus menyejukkan suasana. Jari-jemari kiri Ezio tanpa sadar memegang jemari Yara. “Jangan tinggalin gue ya?”


Yara yang merasa ada sentuhan di jarinya dan mendengar kalimat lemah yang entah hanya bergumam hasil lamunan atau hanya mengigau langsung menegang. Jantungnya berpacu kencang. Yara menatap cowok itu yang ternyata menatapnya pula. Rautnya tampak sendu.


Ezio tersenyum kaku. “Thanks, Ra.” Mengucapkan kalimat sakral yang seumur-umur tidak pernah Yara dengarkan. Yara mendelik, tidak tahu apa yang barusan terjadi pada Ezio.


“T-thanks?” ulang Yara lagi.


Ezio yang seperti tersadar akan sesuatu langsung berdeham dan melepas tangannya dari Yara. “Lupain aja!” kata Ezio cepat. Jantung cowok itu kini juga berdegup kencang. Namun, Ezio terlalu sadar akan sesuatu.


Gak! Lo gak boleh suka sama Yara! Lo harus inget rahasia lo!


***


A/N


Jangan lupa like/vote, komen, follow, and share ya guyss! See u?!❤️