I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Aku Bukan Pembohong, Papa!



“Makasih, udah mau ke rumah gue.” Yara mendelik kaget, ini kali keduanya Ezio mengatakan terimakasih pada dirinya setelah tadi di rooftop, tapi sesegera mungkin ia mentralkan ekspresinya.


“Kalo bukan karena nyokap lo gue gak bakal mau kok ikut lo.” Entah kenapa Ezio sedikit tidak suka mendengar jawaban itu. Ia masih yakin perasaan Yara itu masih sama seperti dulu, hanya saja cewek itu berpura-pura jutek untuk mendapat perhatiannya.


“Bilang aja lo juga kangen gue manjain di depan nyokap gue kayak tadi.” Ezio menyerahkan helm pada Yara berniat akan mengantar cewek itu pulang.


“Gak usah repot-repot, gue bisa pulang dijemput pak supir kok, tenang!”


“Gak! Gue anter pulang! Gue yang bawa lo ke sini, jadi gue yang anter pulang!”


“Eh? Bukannya lo gak suka direpotin gue ya? Lo gak sudi nganter gue kalo bukan karena nyokap lo, lo inget?”


“Emang, dan gue gak mau sampek diomeli nyokap gue karena gak anter lo pulang! Ayo!”


“Gak mau, Zi! Gue gak mau lo turunin di tengah jalan karena Sekar lagi!” tangkas Yara membuat Ezio langsung terdiam dan tak berkutik lagi. Yara terlihat kesal sekarang. Ia segera menghubungi pak supir.


“Oke, gue bakal nungguin lo di sini sampai pak supir lo dateng.” Ezio akhirnya menyerah.


Yara menatap cowok itu tepat di matanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ezio saat ini. Sangat kontras dengan karakternya yang biasanya tidak peduli dan membencinya. Kadang menyebalkan dan kadang tiba-tiba bersikap tidak jelas. Hal yang entah mengapa membuat pertahanannya roboh dan kembali menaruh harapan pada cowok itu. Namun jika dipikir-pikir lagi, Yara sadar semua perlakuan Ezio itu hanya karena permintaan Diana.


Setelah bermenit-menit, mobil hitam akhirnya datang di hadapan mereka, memecah keheningan yang telah terjadi. Yara memasuki mobil itu, membuka kaca mobil agar bisa melihat wajah Ezio. “Duluan!” ucapnya kemudian mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Ezio.


***


Sudah terhitung dua jam Yara sibuk mengotak-atik buku paket di hadapannya, berusaha memahami satu per satu rumus matematika, tapi tidak ada satu pun yang masuk ke otaknya. Ia sudah berusaha mencarinya di internet, video youtube, tiktok, tetap saja rumit!


Ia mengacak-acak rambutnya. Takdirnya mungkin bukan untuk menjadi pintar seperti Sekar atau anak-anak yang sering naik turun podium hasil memenangkan olimpiade. Pantas saja Ezio menyebutnya seperti barbie. Cantik tapi kosong otaknya. Pada akhirnya, ia memilih memainkan piano yang ada di kamarnya karena hanya itu yang selama ini ia sukai meski tidak ada seorang pun yang tahu.


Jari-jari lentik cewek itu memainkannya dengan mahir sesuai nada yang ia lihat di kertas. Dengan bermain piano bisa membuat stresnya hilang perlahan. Cewek itu berhenti pada note tinggi dengan menggantung saat suara mobil mercy dari arah gerbang rumah mengisi pendengarannya.


“Papa?” gumamnaya. Yara segera berlari ke arah balkon kamarnya. Benar saja, papanya datang setelah satu minggu tidak pulang setelah Yara membuat masalah hingga panggilan orang tua minggu lalu.


“YARA!” pekik Gibran terdengar hingga ke seluruh penjuru ruangan. Seluruh pembantu langsung muncul di hadapan Gibran saat dirinya memanggil nonanya.


“YARA!” Mendengar namanya disebut dengan lantang, cewek itu langsung keluar dari kamarnya menuju ruang tengah, mendapati Gibran dengan wajah murkanya. Gibran yang mendapati Yara baru datang dengan wajah bingung seperti itu langsung saja menghampiri dan menampar pipi cewek itu hingga ia terpental ke lantai. “Anak kurang ajar!”


Seluruh pembantu menutup mulutnya, tidak berani melakukan apa-apa jika sudah seperti ini. Hal itu tidak luput dari Sekar yang mendelik kaget.


Yara memegang pipinya yang terasa panas, sudah biasa. “Kemana kamu sembunyiin surat obligasi Papa, huh?!” Gibran menyengkram lengan Yara secara kasar.


Sekar yang sedari tadi menunduk langsung mendelik sambil menatap tuannya, Gibran. Jantungnya berdetak kencang saat mendengar kata ‘obligasi’, namun ia hanya diam.


Plak! Satu tamparan melayang lagi di pipi sebelahnya, sekarang impas kanan kiri. “Papa nyari-nyari surat itu! Papa gak nyangka bisa ada di anak bodoh kayak kamuuu!” Gibran menjundu-jundu kepala anaknya yanga berada di lantai itu. Suaranya menggeram.


“Aku gak tahu apa-apa, Pah! Surat obligasi apa?! Aku aja gak tahu gitu-gituann!”


“Ya itu karena kamu bodoohhh!” Gibran kembali menampar anaknya, emosinya sudah di ujung tanduk. “KAMU TAHU?! GARA-GARA KAMU! SAHAM PAPA HILANG DUA RATUS MILIAR! ITU KARENA KAMU SEMBUNYIIN SURATNYA SETELAH KAMU TUANGIN MINUMAN KE MEJA PAPA!” Gibran menjambak rambut Yara hingga rontok di tangannya lalu mengoyak-ngoyak rambutnya dan menamparnya beberapa kali. Cewek itu bolak-balik meringis saking sakitnya.


Suasana semakin mencekam, semua orang yang ada di ruangan itu tercekat hampir kehilangan nafas setelah mendengar uang yang menurut mereka sebegitu banyaknya bisa hilang begitu saja. Uang yang bisa untuk membeli ginjal manusia puluhan kali lipat.


Yara yang dasarnya wataknya keras, dituduh seperti itu tidak terima. Ia tetap melawan dengan mencengkram tangan papanya yang sedang menyiksanya lalu menghempaskannya. Ia menatap Gibran tajam, tidak peduli lagi dengan sopan santun. “AKU GAK TAHU APA-APA! AKU GAK PERNAH AMBIL SURAT ITU! NUMPAHIN APANYA! AKU GAK PERNAH!”


Gibran langsung saja memukul anaknya, tidak terima jika ada anak yang pembangkang melawannya. Yara jelas kalah, kepalanya terasa pusing. Saat ini ia hanya bisa mengeluarkan air mata, dan Yara benci itu. “Kamu pikir papa bodoh, huh?! Kamu masuk ke ruang kerja papa dengan lancang! Kamu tumpahin minuman ke surat-surat penting papa! Setelah itu kamu sembunyiin suratnya! Kamu pikir papa gak lihat di cctv?! Sekarang mana suratnya?!”


Yara menggelengkan kepala keras, berusaha melepaskan cengkraman Gibran di tangannya dengan ringisannya yang semakin menjadi. “Aku gak tahu, Pa! Lepas, Pa! Sakitt!”


“Kemana suratnya, anak bodoh!”


“Oh? Mau jadi anak pembohong?! Mau jadi maling sekarang?! Siapa yang didik kamu jadi maling, huh?!”


“Aku bukan maling! Papa yang pembohong!” Mendengar itu, Gibran langsung menamparnya kembali dan menghempaskan anaknya ke lantai lagi hingga sikut Yara lecet.


“Adyaksa! Cepat bawa rekaman cctv-nya!” Adyaksa, sekretarisnya itu langsung saja memberikan sebuah handphone berisi remakan cctv yang ditunjukkan langsung pada Yara. Yara melototkan matanya saat melihat di cctv terdapat seorang cewek yang memakai jaket pink ber-hoodie memasuki ruangan papanya, menumpahkan minuman ke sebuah surat penting di meja. Cewek itu tampak kaget lalu membawa surat itu entah kemana agar tidak ketahuan. Sialnya, itu adalah jaket milik Yara yang hilang beberapa bulan yang lalu dan wajah cewek itu tidak terlihat.


“Itu jaket kamu, ‘kan?! Siapa lagi kalo bukan kamu, huh?!”


Yara menggelengkan kepalanya dengan air mata. Dadanya naik turun. “ITU BUKAN AKU!”


“Cepat geledah seluruh isi kamar Yara! Cari suratnya! Kita buktikan sekarang!” perintah Gibran kepada orang suruhannya, suaranya menggelegar. Gibran menyeret tubuh Yara secara kasar ke kamarnya. Beberapa orang berbaju hitam itu kini mengacak-acak seluruh kamar Yara hingga berantakan seperti kapal pecah.


Awalnya Yara sudah merasa menang kalau sampai mereka tidak menemukannya. Namun, “Tuan, su-suratnya ditemukan! A-ada di laci meja non Yara!”


***


A/N


Guys, inget ya Yara memang wataknya dari awal keras, jadi anak remaja yang wataknya keras dikerasin itu malah menjadi-jadi.


Jangan lupa komen and like!