
Netra hitam cewek itu yang tadi terpejam, kini terbuka perlahan kala ia merasakan kehadiran seseorang yang sangat familiar barusan tiba di tempatnya. Hanya dari aroma dan langkah kakinya, cewek itu tahu siapa dia. Wajah cowok itu datar dengan mata yang kini menatapnya. Yara langsung memejamkan mata lagi, sedang tidak ingin diganggu.
"Gue tahu lo cuma pura-pura tidur," bilangnya yang langsung membuat cewek itu membuka matanya. "Lo pasti marah perkara anniversary kemarin. Sori." Hanya kata menyebalkan itu yang berhasil keluar dari mulutnya dengan ekspresi tanpa penyesalan sekalipun. Ya, segampang itu.
Yara memalingkan wajahnya. Hari ini ia tampak kacau. Wajahnya pucat, tak sesegar dan tak seceria biasanya. Ezio dapat menangkap senyum kecut cewek itu yang kemudian tertawa hambar. "Gapapa kok, kan udah biasa, kamu pasti lagi seneng-senengan 'kan sama Sekar?" sindirnya muak lebih ke arah kecewa. Ezio mengerutkan keningnya, gak biasanya cewek itu berkata seperti ini. Padahal biasanya Yara akan protes, berceloteh sambil menuntut dirinya.
"Lo beneran marah ya?" Ezio tahu ia bodoh menanyakan itu. Sudah jelas Yara marah hanya saja dengan cara berbeda, tapi Ezio tidak pernah tahu Yara itu lelah. Yara lelah menjadi perempuan yang mengejar bukan yang dikejar laki-laki. Yara lelah menjadi orang ketiga di antara hubungan pacarnya sendiri dengan orang lain seolah-olah dirinya adalah pelakornya.
Yara menatap Ezio datar sedikit nanar, sedang Ezio tidak lagi mempedulikan tatapan cewek itu. Ia menggidikkan bahu tak peduli, lebih memilih mengambil nampan makanan yang ada di meja. "Sekarang lo makan," ucapnya sambil menyodorkan sesendok bubur.
"Enggak, gak minat." Yara menggelengkan kepalanya lemas. Lagipula ia tahu Ezio tidak benar-benar peduli padanya, Ezio di sini pasti hanya karena Sekar yang memintanya.
"Makan, Ra."
"Ngapain sih? Enggak! Aku nanti mual, Zi!"
"Lo udah tiga hari gak makan!"
"Kenapa gak kamu urusin Sekar aja, aku gak butuh kamu, Zi." Ezio terdiam mendengar penolakan Yara. Namun beberapa saat, ia tak peduli.
"Makan, Ra." Ezio kembali menyodorkan sesendok makanan padanya.
"Aku gak mau! Kalo aku bilang gak mau ya gak mau!" tolaknya sudah seperti anak kecil. Air matanya kini turun perlahan tanpa diperintah. Cewek yang dulu selalu terlihat kuat dengan menyiksa orang lain itu kini menangis. Dia secengeng itu. Dan Yara benci dirinya menangis, apalagi di depan Ezio.
Ezio tercenung kaget. Selama satu tahun ini, ia tidak pernah melihat cewek kejam itu menangis. Ia pikir Yara itu adalah cewek yang tidak berperasaan. Yara segera memalingkan wajah dan mengusap air matanya, tidak ingin terlihat lemah. Tapi, entah kenapa air matanya terus keluar dengan isakan yang tak pernah bisa ia tahan.
Ezio mendudukkan dirinya di sisi cewek yang masih berstatus pacarnya itu. Tanpa sadar, ia merengkuh kepala Yara di dadanya, ia dekap cewek itu lalu mengelus-elus kepala dan bahunya. Yara menurut sambil terisak. Ezio tidak tahu mengapa ia melakukan itu, yang pasti perasaannya kacau saat melihat Yara menangis, namun di sisi lain juga nyaman karena dapat mendekap Yara. Padahal ia tahu, ia sangat membenci Yara.
Padahal juga biasanya Ezio akan bersikap dingin dan berkata kasar.
Selang beberapa waktu, Yara melepaskan pelukan mereka. Mengusap air matanya. Ada perasaan canggung di antara keduanya. Degup jantung Yara masih sama kencangnya saat pertama kali ia bertemu Ezio dulu. Bodoh, meski ia sudah berkali-kali disakiti, tapi kenapa dirinya tetap masih suka juga?
"Sekarang makan dulu, Ra. Mama lo pasti seneng kalo liat lo sehat." Ezio tersenyum tulus, menyuapkan sesendok nasi. Yara yang luluh menerimanya tanpa penolakan.
Setelah berhasil membuat Yara makan dan meminum obat, Ezio menidurkannya. Ia melihat wajah yang tenang itu tertidur dan menyingkirkan beberapa helai rambut nakal yang menghalangi wajah Yara. Satu tahun berpacaran dengan cewek itu, ia baru sadar Yara itu cantik hanya saja tertutupi oleh sikap iblisnya.
Ezio menggelengkan kepala. Tidak, Yara tetaplah Yara yang di matanya masih tetap cewek berwatak iblis. Yara dan Sekar, di matanya lebih cantik Sekar. Yara itu hanya cewek bodoh yang jika dibandingkan Sekar yang pintar, tidak ada apa-apanya.
***
Sejak kecil, Yara sudah terbiasa hidup mewah, segala sesuatu bisa ia beli sekarang juga kalau ia mau. Sejak kecil juga, Yara sudah terbiasa mendapat perlakuan keras dari papanya yang membuat dirinya menjadi sosok iblis yang keras, suka menindas semua orang jika kemauannya tidak dituruti.
Dari sekian banyaknya kemauan, hanya kehangatan dan kebersamaan yang tidak pernah Yara dapatkan sejak mamanya sakit. Hal yang membuat dirinya harus mencari kasih sayang dari orang lain, seperti Ezio. Ia hanya ingin dicintai, bukan ditatap jijik oleh semua orang karena perilaku iblisnya.
Namun, semua itu kandas saat ia berpacaran dengan Ezio. Setahun berpacaran dengan Ezio, ia pikir akan menyenangkan, tapi ia sadar cinta tidak bisa dibeli dengan uang. Ia sadar sesuatu tidak bisa dipaksa.
"Huftt ...." Ia mengembuskan nafas, menatap langit malam. Sejak ia menangis di depan Ezio hari itu, Ezio tidak pernah datang lagi ke rumahnya. Hal yang membuat dirinya semakin yakin kalau Ezio datang waktu itu hanya karena kemauan Sekar. Atau mungkin Ezio tidak datang karena sudah jijik melihatnya menangis?
"Bodoh bangettt, Ra! Kenapa lo nangis!" Ia tertawa renyah sambil menggelengkan kepala. Yara itu tidak suka menangis, meski terkadang dirinya tiba-tiba menangis tanpa sebab dan tanpa ia kehendaki. Baginya menangis akan membuatnya terlihat lemah.
Angin malam mengelus kulit putih cewek itu. Yara menatap bintang. Sebuah rutinitas yang selalu ia lakukan bersama mamanya duku waktu kecil. Ia menatap kalung pemberian mamanya. Ia sudah berjanji, kalau mamanya sudah tidak ada, ia akan berubah. "Selamat tinggal, Ma."
Ting! Tiba-tiba sebuah notifikasi dari benda pipih mengacaukan lamunannya. Pesan dari seseorang berhasil membuatnya tertegun.
Pesan:
Lo masih ga percaya?
Klo lo mau tw sesuatu, dateng ke Kafe Litchi skrg, gw tunggu
06.35
Yara tertegun. Ia baru teringat rekaman audio yang diberi orang itu beberapa minggu yang lalu yang sempat tak ia percayai. Tanpa menunggu waktu lagi, cewek itu segera bergegas mengganti pakaiannya dan mencari pak supir untuk mengantarnya ke Kafe Litchi.
Tak butuh waktu lama, cewek itu sudah sampai di kafe yang dimaksud. Kafe dengan desain modern yang memiliki kaca transparan. Yara menengok ke kanan dan kiri, tak menemukan keberadaan orang yang tadi menghubunginya.
Hingga dari luar sini, netranya menemukan seseorang yang tak asing sedang bergurau dengan teman-temannya. Langkah kakinya tanpa sadar membawanya ke arah cowok itu. Hingga perkataan cowok itu yang tak sengaja ia dengar membuatnya menegang.
***
A/N
Gantung ya? Maap ehehe! Lanjut part berikutnya yuk, jangan lupa follow, like, komen!