
...You have no right to judge me, even though i'm a cruel in everyone's eyes...
...***...
Angel menempelkan tangannya di dahi gadis yang hanya berbaring dengan mata terpejam, dahinya masih cukup panas. Ia menaikkan selimut yang sempat tersingkap karena ulah gadis itu. Ia tersenyum tipis mendapati wajah nyenyak Yara yang sedang tertidur pulas. Seperti anak kecil yang baru menangis dan tertidur.
Meskipun bukan anak yang terlahir dari rahimnya, ia sudah menganggap Yara seperti belahan jiwanya sendiri mengingat dirinya hanyalah wanita mandul yang beruntung mendapat gadis yang dapat ia asuh dari suaminya. Ia selalu mengkhawatirkan gadis itu kapan pun dia berada walau terkadang ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak peduli kalaupun nanti suaminya tidak mencintainya. Ia hanya ingin menyayangi Yara dan menggantikan posisi ibu bagi gadis itu.
Merasakan ada elusan di dahinya, Yara membuka matanya perlahan. Menemukan sosok wanita yang terkaget akan keterbangunannya. Yara ingin mendudukkan diri dan dengan sigap Angel langsung membantunya, tapi tangannya langsung ditepis oleh Yara.
Ia baru ingat, gadis di depannya adalah gadis yang tidak tersentuh. Gadis yang tidak pernah mau mengajaknya bicara dan selalu menatapnya dingin.
“Kamu mau makan lagi? Atau mau minum?” tawar Angel. Sejak hari di mana papanya murka, Yara jatuh sakit dan selama itu Angel yang merawat dirinya. Wanita itu rela membolos kerja hanya karena Yara sakit.
Yara tidak menjawab. Artinya tidak.
“Papa kemana?” tanya Yara tiba-tiba. Angel tidak tahu harus senang karena ini pertama kalinya Yara mau mengeluarkan suara atau hatinya harus mencelos karena pertanyaan itu. Walau Gibran sekejam itu, Yara masih mau mencarinya? Padahal sejak hari itu pula, Gibran tidak pernah lagi pulang ke rumah hanya untuk mengecek kondisi anaknya.
“Dia masih nyelesain pekerjaannya di kantor,” jawab Angel seadanya.
“Aku cuma mau bilang, itu bukan aku. Aku gak tahu apa-apa.” Mata Yara memandang ke depannya kosong. Suaranya lemas.
“Mama percaya,” ucap Angel menenangkan. Wanita itu mencoba untuk memeluk Yara, tapi lagi-lagi ditepis olehnya. Alhasil Angel memilih untuk diam saja, setidaknya ia menemani gadis itu agar tak sendiri.
Angel masih mengingat memori lima tahun yang lalu di mana ia menikahi Gibran, pengusaha kaya beranak satu, di mana Yara menolak mentah-mentah dirinya sebagai ibu penggantinya. Saat itu yang ia lihat hanya Gibran, orang yang mau menerima wanita yang tak bisa memiliki anak seperti dirinya. Namun, saat itu ia juga melihat sebetapa rapuhnya gadis kecil yang tak diurus orang tuanya bagaikan sebatang kara.
“Maafin Mama, Yara ..., tolong terima Mama sepenuhnya sebagai mama kamu, Yara ....” Angel mengembuskan nafas lemah. Ia menunduk, pasrah dengan sikap Yara yang terlalu dingin padanya.
Yara menoleh ke arahnya, ekspresinya masih datar. “Gimana bisa ...,” ucapnya nanar. “Gimana bisa aku nerima orang yang jadi orang ketiga di antara rumah tangga papa sama mama aku? Gimana bisa aku nerima orang yang udah nyakitin mama aku yang sakit-sakitan? Parahnya mama tetep bertahan ngelihat suaminya mesra-mesraan sama orang itu dalam satu rumah.”
“Inget nggak? Anda nikahin papa yang udah beristri karena istrinya sakit dengan alasan gak ada yang urus aku? Anda sama papa yakin ... kalau Anda bisa gantiin Mama karena mama bakalnya gak ada. Sekarang mama aku udah gak ada, dan Anda udah gantiin.” Tidak ada nada emosi dari suaranya, tidak ada amarah, tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya, hanya tatapan yang kosong.
“Maaf.” Angel tidak tahu dengan kata apa lagi ia harus menjelaskan, semua kata-katanya sudah habis. Ia ingin mengatakan lagi bahwa semua yang ia lakukan demi Yara, dan demi menolong perusahaan papanya yang anjlok saat itu. Namun, tetap saja menikahi suami yang beristri tanpa persetujuan istrinya tetaplah salah.
“Kamu boleh marah sama Mama, Yara. Maafin Mama.”
Yara menatap Angel yang tampak kacau, terlihat banyak sekali rasa penyesalan di matanya. Tanpa diduga, Yara tersenyum simpul. “Aku udah maafin kok dari dulu.”
“Semua udah berlalu, semua udah dulu, penyesalan percuma karena udah terjadi.” Cewek itu tersenyum tipis membuat Angel menatapnya takjub. Yara terlihat sedikit dewasa mengatakan itu.
“Tapi aku belum bisa nerima Anda sebagai mama aku sepenuhnya, aku butuh waktu.” Angel mengangguk mengerti. Ada sedikit kehangatan di hatinya dan tentunya haru. Ia tidak menyangka gadis keras itu telah memaafkannya dan telah tersenyum padanya kali ini.
“Makasih, Ra. Mama janji meski Mama bukan mama kandung kamu, Mama bakal jadi mama yang baik buat kamu supaya kamu mau nerima Mama.” Ia tersenyum senang, ingin memeluk Yara rasanya tapi ia urungkan saat ingat Yara tidak suka ia peluk. Tak ada reaksi lagi dari gadis itu. Wanita itu ingin pergi meninggalkan Yara untuk beristirahat.
***
Sakit membuat Yara harus absen selama dua hari. Hari ini tepatnya Senin, cewek itu akhirnya bisa melangkahkan kakinya di sekolah. Lagi-lagi semua orang langsung terdiam dan menatapnya saat merasakan kehadirannya. Seperti biasanya, cewek itu akan tetap berjalan percaya diri tanpa memusingkan orang di sekitarnya. Melalui tatapan takut alias tatapan benci dari orang-orang.
“Sumpah gue takut banget loh sama dia, serem!”
“Makanya jangan deket-deket!”
“Bisa diem gak lo? Kalo dia sampek denger, bisa habis kita!”
Samar-samar, ia masih mendengar bisikan orang di sekitarnya yang tak ia pedulikan. Tatapannya kini berpusat pada kelima orang cewek yang sedang tertawa di tengah koridor. Sialnya arah kelasnya mau tak mau harus melewati gerombolan itu.
“I think, beberapa hari ini dia agak budeg deh pura-pura gak denger! Pengin jadi sok baik dia!” celetuk salah seorang cewek yang sangat Yara kenali suaranya, satu-satunya cewek yang berani di sekolah ini padanya. Yara masih berusaha berjalan melewatinya dan tak mempedulikan ucapan cewek itu walaupun tangannya sudah terkepal.
“Ih, tapi lo lihat gak sih, Gen? Mukanya kayak ada bekas tamparan?”
“Iya, palingan sih habis ditampar orang karena udah berbuat jahat uhh, trus palingan ngadu ke papanya, trus papanya marah! Uhh, anak manja cepu yang playing victim, ya gak sih?” kata Genia dengan ekspresi yang dibuat-buat menatap Yara jijik.
“Kalau gak tahu apa-apa gak usah bacot lo!” pekiknya langsung mematikan bisikan-bisikan di koridor, dan mereka semua langsung menatap Yara tidak suka.
“Kenapa? gak terima? Nindas orang itu ‘kan emang ulah lo!” Genia menghempaskan ramburnya ke belakang, lalu tertawa dengan kawan-kawannya yang dulu sempat menjadi teman fake Yara.
“Iya, atau kalo gak dia habis nyiksa orang nih ya, trus bokapnya marah malu punya anak kaya dia, eh dia dieksekusi jadi brekedel, uhh kasihann!”
“Eh tapi ‘kan bokapnya yang selingkuh itu ‘kan?” tanya Lamia semakin memanas-manasi yang langsung ditertawakan oleh Genia dan Reana. Mendengar kata-kata yang telah menyinggung masalah pribadi nan sensitif, jantung Yara berpacu cepat dengan tekannan darahnya yang terasa meningkat. Rasa sakit dan amarah menghantam dirinya.
Yara yang sedari tadi diam, sekarang langsung saja menampar pipi Lamia hingga Lamia terjungkal karena saking kuatnya tenaga Yara. Semua orang mengenal fisik Lamia yang rapuh dan sekarang Yara menamparnya membuat Yara semakin terlihat seperti gadis jahat.
“Anak dajjal lo! Atas dasar apa lo ngehina bokap gue?! Apa hak lo ngehina gue, huh?! Lo gak punya hak!” Yara terus menampar dan menjambak Lamia. Emosinya terbakar apalagi ketika mengingat bagaimana papanya menamparnya tiga hari yang lalu.
Genia yang tidak terima Lamia yang rapuh di tampar seperti itu langsung menjambak Yara. Yara langsung mendorong Genia hingga tubuhnya terbentur tembok. Ia menamparnya setelah menampar Lamia. “Lo gak tahu apa-apa! Lo gak tahu apa-apa! Lo gak tahu apa-apa! Lo lancang!” ucap Yara seperti orang kesurupan, memorinya kembali pada hari ia dituduh dan diberi tatapan kebencian oleh papanya. Ia ingin melampiaskannya.
Semua orang yang ada di koridor menutup mulutnya takut. Genia yang biasanya saja kuat, kini dikalahkan Yara.
Syefa dan Nalta itu langsung melindungi Genia dan Lamia, namun usahanya sia-sia karena Yara benar-benar mengamuk kali ini.
“Itu, Bu! Yara gila, Bu!” lapor seorang siswa yang datang bersama guru BK.
***