
...Nyatanya, aku hanya berpura-pura membencimu untuk menutupi rasa sukaku padamu....
...***...
Harusnya Ezio senang saat Yara mengatakan ingin menjauhi dan membencinya. Harusnya Ezio puas jika cewek itu tersakiti. Harusnya Ezio tidak memiliki perasaan pada Yara ataupun menyesal karena melakukan ini.
Nyatanya, yang Ezio lakukan selama ini sia-sia.
Kenyataannya, Ezio tidak pernah membenci Yara. Ia hanya menutupi rasa sukanya dengan rasa benci itu. Rasa benci karena Yara yang selalu menekannya, rasa benci karena Yara yang selalu menyiksa Sekar. Nyatanya, ia telah menyukai Yara dari pandangan pertama sejak SMP, dan Ezio selalu mengelak itu.
Ezio sadar, dulu Ezio terlalu gengsi untuk menyatakan perasaan, tapi di lain sisi ia juga memberi harapan pada cewek itu yang akhirnya mengakibatkan Yara ketergantungan padanya.
Semuanya dimulai saat dirinya bertemu Sekar, gadis pintar yang ramah, polos, dan lugu. Satu-satunya cewek yang berhasil menenangkan dirinya kala ia tertekan, gadis yang mengubah wataknya yang berandal menjadi seperti saat ini. Ezio mulai jatuh hati pada Sekar, ia ingin memulai sesuatu yang baru. Namun, Yara mengacaukannya.
Yara mengaku telah mencintainya sejak lama. Yara mulai menyakiti Sekar karena tidak terima Ezio lebih memilih anak pembantunya itu. Mulai dari menampar Sekar, memojokkanya di kamar mandi dengan gengnya, hingga menyiram Sekar dengan air panas.
Ezio tidak suka perlakuan Yara, ia benci! Ditambah mamanya yang selalu membela Yara, lebih percaya Yara, lebih menyayangi Yara ketimbang dirinya. Yara selalu saja memanipulasi mamanya untuk selalu mengatur kehidupan Ezio, termasuk menjauhi Sekar. Ezio lebih muak lagi ketika setiap kegitan yang Ezio lakukan dilaporkan pada mamanya. Semenjak ada Yara, hidupnya jadi kacau.
Hingga rencana di otaknya berjalan. Ia memutuskan untuk mempacarinya dengan dua syarat; tidak menyiksa Sekar, dan tidak melarang semua yang ia mau tanpa melaporkannya pada mamanya.
Awalnya seua berjalan lancar, hingga ‘dia’ kembali. ‘Dia’ menagih permintannya.
Ezio mengepulkan asap rokoknya di balkon kamarnya. Setelah setahun, baru kali ini ia kembali merokok hanya untuk pikirannya yang dipenuhi Yara.
Sekar:
Aku lagi renggang kok, kalo kakak mau main ke sini, ke sini aja.
Setelah sebatang rokok itu habis, Ezio segera mengambil jaket dan kunci motornya, melangkah keluar dari rumahnya.
***
“Eh? Kak Ezio udah nunggu dari tadi? Masuk yuk!” ajak Sekar saat mendapati Ezio yang tengah berdiri di pintu belakang rumah—pintu khusus ruang pembantu.
Ezio mengangguk saja dan mengekori Sekar. “Lo lagi ngapain?”
“Emm, tadi aslinya lagi kerjain tugas fisika, tapi udah selesai. Kakak mau minum apa? Biar aku buatin.”
“Gak usah repot-repot.”
“Bentar ya, Kak! Aku buatin sesuatu!” Sekar mempersilahkan Ezio duduk di sebuah taman milik keluarga Yara yang terlhat asri dan terawat dengan sebuah kolam renang yang terpajang di sana. Beberapa saat kemudian, Sekar membawa nampan berisi dua cangkir teh. “Ini buat Kakak, ini buat aku.”
Sekar memisah-misahkan dua gelas itu, lalu menyeruput tehnya.
“Gue mau tanya sesuatu sama lo,” ucap Ezio tampak serius.
“Tanya apa, Kak?”
“Lo pernah lihat Azhar ke sini nemuin Yara gak?”
Sekar tampak mengerutkan kening. “Azhar siapa?”
Ezio terdiam sejenak, mengambil ponsel di saku, lalu menunjukkan sesuatu pada Sekar. “Lo gak kenal dia?”
“Gak papa, lupain aja.” Ezio memasukkan handphone ke sakunya.
“Emmm, tapi kalo cowok lain ada sih, Kak. Dia malahan peluk-pelukan sama non Yara. Kayak akrab banget. Bukannya non Yara itu masih pacarnya kak Ezio?”
“Kita udah putus.” Sekar membelalakkan matanya. “Gara-gara Azhar.”
Ezio kembali teringat saat-saat bagaimana Yara memutuskannya hanya karena foto-foto tidak jelas itu.
“Kakak putus beneran atau masih—“
“Lo pikir gue putus mainan?” jawab Ezio membuat hati Sekar berbunga-bunga.
Ezio mengerutkan kening, menatap Sekar. Ia teringat sesuatu dan menunjukkan sebuah foto yang Yara berikan dulu. “Lo liat ini! Ini ulah Azhar! Dan gue gak bisa nemuin dia sampek sekarang!”
Seketika Sekar terdiam di tempatnya. “Kita gak pernah ciuman, ‘kan?” lanjut Ezio yang membuat Sekar seperti sedang berpikir.
“Gini aja, gue mau lo ngomong ke Yara, kalo kita emang gak pernah lakuin apa yang ada di foto-foto ini!” Ezio meng-ide, memegang tangan Sekar.
Sekar menggigit bibir bawahnya. Masih saja berpikir. Jika ia mengaku pada Yara bahwa di foto itu tidak benar, maka Yara akan percaya dan kembali lagi dengan Ezio. Tidak! Sekar tidak akan membiarkan itu terjadi! Sekar ingin Ezio menjadi miliknya!
“Ta-tapi, Kak. Kita emang pernah lakuin yang di foto itu. Kita pernah kiss. Kakak lupa?”
Deg! Seketika itu juga jantung Ezio berpacu cepat. Ia terkekeh. “Gak mungkin! Gue ngerasa gak pernah ciuman sama siapa pun!”
“Tapi ... waktu itu Kakak mabuk ... Kakak gak sadar setelah ngeclub sama temen-temen Kakak ....”
“Gue udah gak pernah minum alkohol udah setahun, jadi gak mungkin!”
Sekar hanya menundukkan kepalanya takut. Tidak berani menatap mata Ezio, atau kebohongannya akan terungkap.
Ezio menghempaskan nafasnya sambil mengacak-acak rambut. Ia tampak frustasi. Sejauh ia mengenal Sekar, cewek lugu itu di matanya adalah cewek yang jujur, tidak mungkin ia berbohong. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa meragukan kepercayaan pada dirinya.
Ia yakin seratus persen, meski ia dugem waktu itu, tapi ia tidak mabuk karena pesan Yara dan mamanya yang melarangnya.
“Kalo gitu gue bakal cari Azhar aja besok,” kata Ezio pasrah. “Oh ya, soal cowok yang peluk-pelukan sama Yara yang lo maksud itu ... lo kenal?”
Sekar kembali mengangkat wajah. Melihat mata Ezio dan terletak kecemburuan di sana. Sekar lagi-lagi menggeleng. “Tapi kayaknya dia cowok baru yang famous itu. Dia bawain bunga buat non Yara trus dipeluk sama non Yara, setelah itu gak tahu pergi ke mana.”
Hati cowok itu memanas. Ia sangat tahu siapa yang Sekar maksud. Orang baru yang bisa lebih membuat Yara bahagia ketimbang dirinya.
“Ampun, Papa!” Suara seorang cewek dari dalam rumah langsung saja menngiterupsi keheningan yang sempat terjadi di antara keduanya. Ezio berdiri dari duduknya kala mendengar suara cewek yang sangat ia kenal berteriak. Begitu juga Sekar.
Mereka bertatap-tatapan sejenak sebelum bergegas ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Seketika, jantung Ezio berpacu cepat kala melihat pemandangan tak mengenakkan di depannya. Cewek yang merupakan mantannya, cewek yang ia sayangi tengah digeret secara paksa oleh pria paruh baya.
Ia melihat seluruh manusia yang berada di ruangan ini ihanya bisa diam.
“Sini kamu!” teriak Gibran dengan emosinya, tidak sadar akan keberadaan Ezio. Gibran menampar Yara keras di tempat.
Ezio masih menegang.
***