
Sekar melangkahkan kakinya di koridor tempat orang-orang sakit di rawat. Dinding dominan warna putih serta bau obat-obatan langsung membara pada hidungnya. Dengan bermodalkan uang berwarna merah yang diam-diam ia ambil dari dompet ibunya, ia bisa berada di sini membawa sekantung kue produk mahal. Karena ia tahu yang ia jenguk tidak mungkin mau menerima kue murahan.
Sekar sudah terlalu sering menjadi bahan olokan dan menerima penolakan dari teman-teman kelasnya yang notabenya adalah anak dari konglomerat, pengusaha, maupun penjabat karena memberi kue atau buah kualitas rendah ketika menjenguk mereka, dan kali ini ia tidak ingin mengalami itu lagi, apalagi yang ia jenguk Genia.
Genia terlalu kejam jika sudah tidak menyukai sesuatu.
Ia meneliti satu per satu nomor pintu yang disebutkan oleh mbak-mbak resepsionis tadi. Ruang nomor 315. Di depannya ia menemukan seorang wanita paruh baya berpakaian necis dan cewek yang ia kenali—Reana—sedang berbincang. “Saya percaya sama kamu, kamu jaga Genia baik-baik! Saya mau pergi!” katanya pada Reana.
“Iya, Tante.”
Dengan perlahan, Sekar langsung mendekati kedua perempuan itu. Wajah wanita dengan penampilan sosialitanya itu terlihat judes. Wanita itu terlihat mengerut memandang penampilan Sekar dari atas hingga bawah membuat Sekar langsung menunduk untuk melihat apakah ada yang salah dengan penampilannya.
“Siapa kamu?” tanyanya dingin. Mendapat pertanyaan dengan nada yang tidak enak seperti itu, Sekar langsung tergagap.
“E-sa-saya te-temennya kak Genia, Buk.”
“Kamu panggil saya apa? Buk?”
Sekar menelan ludahnya kasar. Jujur ia tidak terbiasa berinteraksi dengan kalangan sosialita yang sinis sepertinya. “Ma-maaf saya ... maksud saya Tante.”
Wanita itu terlihat mendengus. “Mau apa kamu ke sini?”
“Sa-saya mau jenguk kak Genia.”
“Mau jenguk? Kamu beneran temennya Genia?” Wanita itu kembali melirik pakaian Sekar dari atas sampai bawah kemudian menoleh ke arah Reana. “Masak sih Genia punya temen modelan kayak gini?”
Hati Sekar seperti fihantam batu saat mendengarnya. Sekar juga merasakan ucapan wanita itu seperti hendak mengusirnya, dan Sekar tidak ingin itu terjadi. Sudah mahal-mahal ia membeli kue untuk Genia, tidak ingin ia sampai diusir. Satu-satunya harapannya saat ini adalah Reana, untuk mengiyakan pernyataannya. Sialnya cewek itu malah menggeleng sambil menggidikkan bahu seperti tidak tahu.
“Sa-saya bener temennya kak Genia kok, Bu—Tante! Sa-saya beneran mau jenguk dia! I-ini saya bawa kue buat dia." Sedangkan Reana menengok ke arah dalam ruangan yang terdapat Genia.
“Bentar, Tante. Aku dipanggil sama Genia.” Reana dengan kurang ajarnya pamit masuk ke dalam, tak mempedulikan Sekar yang sednag ditatap penuh curiga oleh wanita di depannya.
Wanita itu mengintip apa yang Sekar bawa di tangannya sejenak sebelum suara dering ponsel di sakunya menginterupsi dirinya. Ia mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan orang di seberang sana. Hal yang membuat Sekar harus menunggu bermenit-menit hanya untuk mendapat izin menemui Genia darinya.
Setelah mengakhiri panggilan, ia kembali dihadapkan dengan Sekar yang sudah memasang tampang takut. “Ya sudah sana masuk! Tapi ingat, jagan macem-macem! Saya lagi menyaring anak saya berteman dengan siapa!” tegurnya sebelum akhirnya pergi dengan terburu-buru karena keperluan.
***
“Ada siapa sih? Mama katanya mau pergi kok lama banget?” tanya Genia yang terduduk di atas ranjang rumah sakit pada Reana yang barusan masuk. Ia menyipitkan mata, mengintip dari sela-sela kaca rumah sakit yang menampakkan mamanya seperti sedang berbicara dengan seorang cewek.
“Hah? Ngapain tuh cewek ke sini?” heran Genia.
“Lo tahu gak? Tadi pas dia dateng bawa kue kesukaan lo!”
“Wait! Wait! Wait! Kue kesukaannya Genia itu yang kue Naltadina, produk keluarga lo ‘kan, Ta? Itu ‘kan kue mahal! Kok dia bisa beli?” tanya Syefa pada Nalta yang digelengi kepala oleh Nalta.
Pintu rumah sakit terbuka, menampakkan Sekar dengan penampilan rok panjangnya serta kaus putih selengan membawa sekantung kue yang dimaksud Reana. Sekar melangkah ragu-ragu menuju brankar Genia. “Ka-kak Genia udah baik-baik aja?” Sekar bertanya bosa-basi.
Genia memutar bola mata. “Lo buta ya? Gak liat gue masih duduk di sini sama infus gara-gara majikan sialan lo itu?” sensi Genia. Sebenarnya sedari awal Genia baik-baik saja, tidak ada luka di tubuhnya, hanya pingsan biasa karena dorongan Yara tadi. Hanya saja, dirinya yang terlalu lebay begitu juga mamanya yang langsung memasukkannya ke rumah sakit padahal tak separah itu.
Meski begitu, Genia tetap tidak terima saat ia terlihat kalah dari Yara hingga pingsan di hadapan semua orang. Ia tidak suka kalau Yara lebih unggul darinya. Gara-gara Yara, suasana hatinya jadi sangat buruk.
“Maaf, Kak. Emm, ini ada sesuatu dari aku.” Sekar menaruh sekantung kue itu di nakas meja. Genia melirik apa yang cewek itu bawa, ternyata benar kata Reana.
“Kali ini lo gue maafin karena kue itu.” Genia hendak mengambil kue yang Sekar bawakan, niatnya ingin menyantapnya, tapi langsung dicegah oleh Reana dan kawan-kawannya.
“Lo masih belum boleh makan manis-manis dulu, ntar mama lo marah!” Ia langsung menyahut kue itu dari tangan Genia. Mengetahui ekspresi Genia yang sepertinya hendak murka, cewek itu langsung membujuk. “Maybe besok bisa, hehe.”
Reana diam-diam melirik sinis pada Sekar yang hanya diam. Cewek itu benar-benar membuat masalah dengan membawa kue itu.
Mood Genia kali ini semakin jelek. Ia memalingkan wajahnya, teringat kala Yara mendorongnya dan ia pingsan. “Ini semua tuh gara-gara cewek setan itu!” ucap Genia penuh kebencian. Tangannya sudah mengepal erat-erat. Ingin rasanya kali ini mencakar wajah Yara.
“Emang kurang ajar sih tuh cewek, gara-gara dia Lamia musti di rawat di UKS sampek sekarang!” kompor Syefa membuat Genia semakin ingin meledak. Kalau saja dirinya tidak pingsan dan masih di sekolah, mungkin ia menggerus Yara sampai jadi sambal pecel.
Genia menggeram. “Lihat aja, gue bakal bales dia lebih dari yang dia lakuin.”
Semua orang hanya diam, membiarkan Genia terbang dalam pikirannya. Sekar menatap Genia ragu-ragu, ingin sekali tahu langkah apa yang akan cewek itu ambil selanjutnya. “Emangnya ... kak Genia mau lakuin apa?”
Genia langsung menoleh pada Sekar, menemukan sebuah dendam terpendam di mata Sekar yang sama sepertinya. Ia kembali berpikir sambil menyipitkan matanya hingga bermenit-menit. Syefa dan Nalta saling lirik-melirik, masih menunggu.
Genia melirik Sekar lagi, mengerutkan kening, baru menyadari sesuatu. “Lo ngapain ke sini? Lo pasti punya tujuan, ‘kan?” Seketika Sekar menelan ludah. Tidak tahu mau menjawab apa.
“Se-sebenernya gini, Kak.” Ia melirik Reana, Syefa, dan Nalta yang juga menatapnya penuh curiga. Tanpa ragu, ia mendekati Genia, membisikkan sesuatu ke telinganya yang menyebabkan Genia melototkan mata membuat Sekar takut.
“Eureka ....” Genia tersenyum licik ketika tahu sesuatu dari Sekar. “Gue punya rencana bagus buat ngerjain tuh cewek.”
***