
...“Kalo emang aku kenapa? Kasihan deh gara-gara aku kamu dipukulin bokap. Kamu pantes sih dipukulin.”...
...***...
Kafe Mars adalah kafe yang Yara kunjungi minggu ini. Cewek itu turun dari mobilnya, matanya mengerling ke sekitar. Udara sejuk serta pemandangan asri langsung menyerbu matanya. Ia berjalan memasuki kafe. Masih tetap tenang meski banyak pengunjung.
Kali ini cewek itu ke sini bukan untuk mencari ketenangan, melainkan mencari seseorang. Namun nyatanya orang yang ia cari tidak muncul di pandangannya. Ia mendekati kasir untuk bertanya.
“Mbak, Eliotnya ada?”
“Eliot?” ulang cewek yang memakai celemek putih, ia mengerutkan dahi.
“Iya, barista di sini. Ada gak?”
“Mas Eliot? Barista?” tanya cewek itu tertawa membuahkan kerutan di dahi Yara. “Mbak, Mas Eliot tuh di sini bukan barista! Dia tuh—aduduh!”
Belum sempat kalimatnya selesai, seorang pria agak gemuk yang baru datang langsung menginjak kakinya, lalu tersenyum sopan pada Yara.
“Eh! Saketlah!” Cewek itu memukul bahu sang pria. Pria itu langsung mendelik pada sang cewek, berbicara dengan bahasa wajah untuk mengisyaratkan sesuatu, kemudian mengubah ekspresinya tersenyum lagi pada Yara.
“Mbak Yara ya?” tanyanya yang hanya mendapat anggukan, Yara tahu pria itu mengenal dirinya karena Yara sering ke sini. “Cari mas Eliot?”
Yara mengangguk lagi.
“Mas Eliot yang barista itu lagi libur beberapa bulan, izin ada urusan keluarga dia.”
“Oh, tadi katanya dia bukan barista?”
“Ah! Mas Eliot itu emang barista di sini, cuma anak sebelah saya ini anak baru, jadi belum tahu mas Eliot, hehe!” tawanya tertekan sebelum kembali melotot pada cewek di sebelahnya yang merasa sebal pada dirinya.
Yara terdiam sejenak. “Jadi dia gak masuk ya?”
“Iya. Mbak Yara kenapa nyari? Barang kali bisa saya sampaikan ke mas Eliot?”
Yara terlihat cemberut. Ia menggelengkan kepala. “Punya nomornya gak?”
Beberapa saat, pria itu tersenyum jahil, menatapnya curiga. “Hmm, mau apa nih minta-minta nomornya mas Eliot? Mau pedekate ya?”
Yara memutar bola matanya. “Apaan sih. Ada gak?”
“Nomornya mas Eliot, gak punya saya. Saya adanya nomot togel, nomor remi, nomor plat motor, mau yang mana, Mbak?”
“Gue gak lagi bercanda,” ucap Yara dengan wajah kesalnya.
“Oke, ada sih tapi beberapa minggu ini gak dibales pesannya, kayaknya lagi sibuk, atau kalau gak nomornya udah gak aktif, soalnya sering ganti nomor gitu.” Pria bercelemek itu—yang biasa orang juluki Ocong—mencari-cari nomor di ponselnya lalu menunjukkanya pada Yara. “Tuh ‘kan, pesan saya belum di balas. Kayaknya ganti nomor.”
Yara menghela nafasnya pasrah. “Ya udah deh kalo gitu. Makasih.” Kemudian ia berlalu dari sana.
“Yoi, Mbak! Sama-sama!” teriak Ocong sambil tersenyum. “Cantek kali loh anak itu,” decaknya kagum. Ia mengarahpandangkan matanya pada cewek yang tadi ia injak kakinya.
“Heh, inget! Mas Eliot sendiri yang minta, kalo ada cewek namanya Yara ke sini, dia suruh bilang kalo Mas Eliot itu barista di sini! Dahlah lanjot kerja!”
***
Bruk! Ini sudah kesekian kalinya bahu Yara disenggol dengan sengaja oleh cewek-cewek dari gengnya Genia, tapi Yara hanya berusaha diam saja. Genia memang tidak pernah membuatnya beradu mulut lagi, tidak pernah mengoloknya lagi, tapi sekarang ia terus saja mencari masalah dengan melirik sinis atau menyenggol bahunya dengan kasar saat melewatinya.
“Jalan lebar! Gak bisa lewat sana?!” teriak Yara pada Reana yang habis menyenggol bahunya. Reana hanya acuh saja. Kemudian sekarang giliran Syefa yang melewatinya dan kembali mendorong bahu Yara dengan bahunya. Yara menatapnya tajam. “Lo lesbi, huh?! Suka sama gue sampek-sampek ada jalan lebar lo nempel ke gue?!”
Semua orang langsung meliriknya. Syefa merengut. “Dih najong!”
“Apalagi gue!” pekik Yara emosi. Ia melangkahkan kakinya cepat agar tidak disenggol-senggol penuh drama oleh nyai dan curut-curutnya itu. Mood-nya sudah tidak tertolong lagi.
Yara berjalan ke arah kantin yang tumben sepi. Ia menemukan wajah familiar seorang cewek yang sedang duduk di sana. Cewek sok polos yang selalu dibangga-banggakan semua orang. Sekar. Ia tidak sadar dengan keberadaan Yara. Dahi Yara berkerut saat mengetahui ekspresi tidak wajar cewek itu. Seperti penuh kekawatiran dengan keringat yang menetes di dahinya.
Awalnya Yara tidak peduli, hingga pada satu titik ketika Sekar membuka tas hitamnya yang rada kumal, dan ketara isinya dengan masih tidak menyadari keberadaan Yara yang mengamatinya dari jauh.
Beberapa saat, seorang cewek datang tersenyum padanya. “Lo yang jual jaket second itu ya?” Sekar terlihat mengangguk. “Ori gak yang digambar?”
“Emm, ori kok.” Cewek yang tadi mendatanginya memberikan uang merah. Sekar mengeluarkan sebuah jaket berwarna pink. Yara menatap jaket itu lekat dan melebarkan matanya tidak percaya. Jantungnya seperti digempar cambuk. Jaket itu, jaket pink milik Yara yang hilang beberapa bulan yang lalu, jaket yang membuat dirinya dipukuli oleh papanya.
Rasa bencinya pada Sekar kini semakin memuncak dengan dada yang naik turun. Entah mengapa instingnya yakin jika Sekar adalah pelaku yang menyembunyikan surat milik papanya dengan mamakai jaket itu. Pun dipikir dengan logika, tidak ada gadis lagi di rumah itu selain dirinya dan Sekar, ditambah ekspresi cewek itu yang gelisah. Ia mengepalkan tangannya.
Sekar memasukkannya jaket itu ke dalam kresek hitam itu dengan cepat memberikannya pada sang pembeli, takut ada yang melihat, padahal Sekar tak sadar Yara sudah melihatnya. “Cepetan ya!” ucap Sekar.
Tanpa rasa curiga, sang pembeli itu mengangguk dan berterimakasih. Saat itulah Yara berdiri dari duduknya. Ia langsung mendatangi kedua cewek itu. Menyahut sekantung plastik berisi jaket pink yang membuat si pembeli terkejut.
Yara mengeluarkan isinya dari plastik, mengecek kebenaran jaket pink itu. Matanya memanas kala ia melihat jaket itu benar miliknya terbukti dari coretan spidol yang ada di kerahnya. Iya, ada coretan di situ dan masih terdapat parfum khasnya dulu. Yara yakin itu miliknya.
Mengetahui itu, jantung Sekar seperti digempur ribuan ombak.
“DARI MANA LO DAPET JAKET INI?!” Entah mengapa kali ini ia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Memorinya kembali ketika papanya murka padanya, menuduh dirinya seolah dirinya adalah anak paling buruk di dunia, seolah dirinya adalah monster, teringat tatapan kejam papanya. Dia bukan anak seperti itu.
Cewek yang tadi membeli jaket hanya diam, takut. Hal itu bertepatan dengan beberapa orang yang mulai memasuki kantin. Sekar merasa takut, tidak bisa menjawab, dan berusaha memutar otak supaya nantinya orang-orang tidak mengiranya bersalah.
“LO! LO PASTI YANG NYURI INI, ‘KAN!” Yara sudah mencengkram erat tangan Sekar. Semua orang kini menatapnya. Sebuah ide terselib di otak Sekar. Ia berpura-pura meringis kesakitan.
Sekar menatap Yara takut-takut. Saat tidak ada yang memperhatikan, bibirnya berbisik supaya tidak ada yang mendengar kecuali Yara. “Kalo emang aku kenapa? Kasihan deh gara-gara aku kamu dipukulin bokap. Kamu pantes sih dipukulin,” ejeknya lirih yang semua orang kira itu lirihan memohon ampun pada Yara.
Sekar menangis, dan Yara yang mendengar itu terbakar emosinya. Dadanya naik turun, menatap Sekar berkaca-kaca. Plak! “KURANG AJAR!” kelekarnya menjambak Sekar.
***
A/N
Heyow, gimana part ini? Jangan lupa komen ya, atau minimal vote tinggal pencet aja gess! Gratis ga bayar🤧