I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Kamu Datang Bukan Untukku



Di antara ribuan orang yang telah melayat, hanya satu orang yang masih Yara tunggu kehadirannya. Orang yang selalu ia harapkan datang dari kemarin malam. Orang yang selama ini selalu memenuhi pikirannya, meski ia tahu dirinya tak pernah diharapkan oleh orang itu. Ezio.


Cewek itu selalu berdoa supaya cowok itu datang di hadapannya, menenangkan dirinya. Namun kenyataannya, hingga jenazah mamanya dikubur, hingga semua orang yang melayat perlahan pergi, tak ada tanda-tanda kedatangan cowok itu.


Yara masih menatap batu nisan wanita yang jadi figur hidupnya selama ini, wanita kuat yang menguatkan dirinya sepanjang hidupnya. Di samping cewek itu tertinggal hanya bi Ami, papa, dan mama sambungnya sebelum akhirnya dua orang itu pergi hanya meninggalkan dirinya dan bi Ami. Bi Ami masih setia berjongkok, menunggu Yara yang terduduk dengan mata nanar. "Non, ayo kita pergi, ini udah satu jam kita di sini."


Sedang yang di ajak bicara hanya diam dengan wajah pucatnya tanpa berminat menjawab. Bi Ami hanya bisa menghela nafas sebelum suara Yara mengejutkan dirinya.


"Tinggalin aja gue sendiri," lemasnya lebih ke arah gumaman tanpa menatap lawan bicara. Wanita paruh baya itu menoleh kepada nonanya dengan tampang terkejut. Seumur-umur, baru kali ini anak itu berkata pelan padanya. Padahal biasanya kalau tidak berkata kasar, pasti tidak menjawab. Bi Ami sedikit tersenyum. Ia tidak ingin membuat Yara marah, maka ia pergi meninggalkan anak itu sendiri di makam ini.


Sendiri. Yara sudah terbiasa dengan keadaan itu. Ditinggal mamanya sakit, papanya yang menikah lagi dan kerja sepanjang hari, tanpa ada waktu sedikit pun untuk sekadar menyapa dirinya. Sedang Yara hanya seorang anak yang beranjak dewasa yang ingin merasakan kasih sayang seperti dulu ketika keluarganya belum terpecah belah.


Ingin rasanya Yara meneteskan air mata, tapi cewek itu sadar, ia tidak boleh membuat makam mamanya basah karena air matanya. Rasanya ia telah tenggelam, dan ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bangkit lagi. Sesuatu yang membuatnya ingin seseorang menariknya keluar.


Kini, dari sudut mata gadis itu terlihat sosok berbaju hitam berjongkok di sebelahnya.


Kepalanya mendongak dan mata bengkaknya langsung bertemu dengan mata elang milik seseorang yang selama ini ia harapkan. Senyuman terbit di bibirnya. Cewek itu langsung memeluk Ezio tanpa pikir panjang, menyalurkan segala energi negatif dalam dirinya dengan mata terpejam.


Entah kenapa kali ini Ezio hanya diam, membiarkan cewek yang masih menjabat sebagai pacarnya itu menumpahkan seluruh perasaan kepadanya. Padahal biasanya, Ezio akan protes dengan seluruh perilaku cewek itu yang menurutnya membuat risih.


"Ra ...," panggilnya halus. Mata Yara yang tadi terpejam, terbuka perlahan. Ia senang melihat Ezio di sini, sungguh senang. Namun, seluruh kesenangannya hancur ketika ia melihat seorang cewek yang berdiri di sebelah Ezio. Ternyata Ezio datang bersama cewek itu, cewek lemah lembut dan polos yang menatap dirinya duka. Sekar.


Ada kebencian tersendiri yang mengalir dalam tubuh Yara saat melihat Sekar, padahal Yara selalu meyakinkan dirinya bahwa Sekar bukan kesalahan.


Perlahan ia melepas pelukannya dari Ezio. Senyuman kecut terpapang di wajah Yara. Ezio tetaplah Ezio, tidak pernah berubah. Ia tidak akan pernah mau bersimpati padanya kalau itu bukan karena Sekar. Selalu ada Sekar dalam setiap hubungan mereka.


"Kata tante Angel, lo belum makan dari kemarin, lo udah ada di sini sejam lebih, dia khawatir sama lo," ucap Ezio. Yara tak sempat melihat ekspresi wajah cowok itu di saat ia melihat batu nisan mamanya. Yang jelas ia tahu, Ezio mengatakan itu hanya karena suruhan orang lain untuk membujuknya, bukan kemauan Ezio sendiri.


Perlahan, rintik hujan mulai turun, membasahi ketiga remaja yang saling diam di atas gundukan tanah. Seolah mendukung suasana hati Yara. Ezio terlihat melepas jaketnya, kemudian memasangkannya pada tubuh Sekar yang kedinginan. Bukan dirinya. Yara mengamati itu. Hal yang biasa terjadi.


***


Sudah tiga hari sejak hari itu, Yara lebih memilih mengurung dirinya di dalam kamar. Tidak ada minat untuk beranjak ke mana pun. Tiga hari itu tidak ada makanan yang mengisi perutnya. Hanya air putih yang terakhir ia minum, itupun kemarin, padahal bi Ami selalu mengetuk pintu cewek untuk makan, meletakkan makanan di luar yang tak pernah disentuh sekalipun hingga makanan itu berair.


Suatu keadaan yang membuat Yara harus jatuh sakit. Badannya demam. Kata dokter kurang makan. "Kamu harus makan, Ra. Kasihan mama kamu kalo lihat kamu kayak gini di sana," bujuk mama Angel, ibu sambungnya itu yang tak ditanggapi Yara.


Yara hanya menatap makanan itu tanpa minat. Sungguh, akhir-akhir ini semua makanan terlihat seperti mahoni yang mungkin jika ia makan akan pahit di lidahnya.


Bi Ami melihat semua itu dari ujung pintu merasa iba. Sebuah tangan menepuk pundaknya. Wanita itu menoleh dan mendapati putrinya yang sudah berdandan rapi dengan pakaian sederhana tengah tersenyum tipis. Bi Ami melotot. Dengan cepat, ia menggeret Sekar menjauh dari sana agar Yara tak melihatnya. "Kamu mau ke mana toh?"


"Mau ... itu, Buk, mau ... ke Ezio ...." Bi Ami dibuat kaget mendengarnya. Ia mencengkram lengan putrinya erat-erat, menatapnya tajam, membuat Sekar hanya menunduk.


"Ibuk udah bilangin ke kamu toh, Nduk. den Ezio itu pacarnya non Yara! Jangan kamu rebut dia! Kamu gak bisa ketemu sama dia!" peringatnya sambil berbisik. Sekar langsung gemetar ketakutan mendengar perkataan ibunya.


"A-aku ndak pernah ngrebut Ezio, Buk. Kak Ezio sendiri yang nyuruh aku. Ini juga mau ketemu mau bahas non Yara," katanya. Bi Ami hanya menghembuskan nafas setelah itu berfikir sejenak.


"Kamu tolong bujuk den Ezio supaya dia mau ke sini, kamu kasih tahu non Yara gak mau makan. Ibu yakin, setelah itu non Yara mau makan kalau ada den Ezio." Setelah itu ibunya meninggalkannya sendiri tanpa mau dibantah. Cewek itu terdiam di tempat. Ada rasa tidak suka di hatinya kalau ia harus memanggil Ezio untuk Yara.


Gadis lugu itu menghembuskan nafasnya. Andaikan ibunya itu mengerti bagaimana perasaannya pada Ezio. Andaikan ibunya lebih tahu dirinya dari pada Yara. Tanpa berpikir lagi, ia tak jadi pergi. Ia lebih memilih menghubungi Ezio untuk datang saja ke sini. Menuruti perkataan ibunya.


Selang dua puluh menit, sebuah mobil mercy mendatangi kediaman rumah itu. Sosok cowok tampan berpostur tinggi keluar dari mobil itu. Sekar menyambutnya di depan rumah dengan perasaan yang tak bisa ia artikan. Ezio tersenyum pada cewek itu kemudian melangkah dan mengacak-acak rambutnya gemas. Sekar yang diperlakukan seperti itu hanya menunduk tersipu malu.


"Ezio?" Hingga sebuah sapaan harus menghentikan keromantisan mereka berdua.


***