I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Do You Still Care to Me?



Hujan. Sudah sedari sore hingga malam ini Jakarta dilanda hujan yang begitu deras yang memberi suara bising pada seng-seng besi atap. Dingin telah melanda seorang gadis yang terduduk sendiri di atas meja kafe dengan sebuah kue tart bertuliskan 'Happy Anniversary' serta lilin di pinggiran meja yang ikut menghiasi.


Cewek itu menggosok-gosok lengannya yang tak terbalut apapun, lalu meniup telapak tangan. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Sepi. Tak ada seorang pun yang datang ke cafe ini. Ia menatap jam yang sudah menunjukkan jam 8 malam. Itu berarti ia sudah menunggu kisaran 2 jam di sini.


Ia kembali mengotak-atik handphone-nya, mengabari seseorang yang ia tunggu, tapi nihil, tidak ada balasan sama sekali. Hanya ada notifikasi dari mamanya yang menyuruhnya pulang. Ia menghela nafas sebelum berdiri dan meninggalkan cafe dengan perasaan campur aduk.


"Dia gak datang lagi?" tanya petugas cafe yang biasa melihat Yara di sini. Yara hanya tersenyum pahit dan menggeleng. "Kuenya gimana?"


"Makan aja, Mas, gapapa buat kalian." Kemudian ia segera berlari keluar. Ia lupa, ia tidak membawa payung, ia lupa tidak bawa kendaraan apapun. Ia menatap ponsel dan baterainya lowbat. Bodoh lo, Ra!


Tanpa berpikir lagi, ia kembali berlari menerobos air hujan. Persetan dengan dress mahal atau make up yang ia susun dengan susah payah. Ia berlari tak tentu arah, ingin segera mencari taksi. Namun, ada satu pemandangan yang membuat hatinya mencelos saat ia sedang menunggu taksi.


Seorang cowok yang tengah makan bersama dengan cewek yang sangat ia benci di sebuah warung sambil tertawa menikmati jatuhnya air hujan. Dia cowok yang ia tunggu sedari tadi. Dia cowok yang Yara impikan akan datang sekali ini saja hanya untuk anniversary mereka yang pertama, tapi semua impian itu nyatanya surut. Yara tersenyum hambar. Ingin rasanya ia melabrak kedua manusia itu, tapi ia ingat satu hal tentang perjanjiannya dengan cowok itu.


Ia tidak boleh melabrak Sekar--anak dari pembantunya, ia tidak boleh menganggu apapun yang cowok itu lakukan jika masih ingin berpacaran. Ia perlahan mundur. Meratapi kebodohannya yaitu selalu memaksa seorang Ezio yang jelas-jelas menginginkan orang lain.


Yara tahu, ini bukan pertama kalinya hatinya sakit hanya karena melihat pacarnya tertawa dengan orang lain. Namun, kali ini entah mengapa rasa sakitnya lebih terdefinisi saat hujan ini mengalir di sekujur tubuhnya. Dengan cepat, cewek itu berlari menjauh. Sejauh mungkin agar Ezio tak pernah melihatnya.


***


Yara melangkahkan kakinya ke rumah dengan keadaan basah kuyup membuahkan sebuah tetesan di lantai. Pandangan cewek itu hanya datar sedikit pucat. Hatinya masih remuk karena kejadian tadi, tapi ada yang lebih remuk lagi kala mendengar kedua orang tengah berdebat di ruang tengah dengan nada tinggi.


Itu papa dan mama tirinya. Dengan langkah cepat, Yara segera berlari menuju kamar, menutup telinga dan menutup pintu rapat-rapat agar perkataan kasar yang keluar dari para bedebah itu tak masuk ke indra pendengarannya.


"Goblok! Punya istri gak bermutu! Lebih mending dulu aku gak nikah sama kamu!"


"Kamu yang goblok! Ngatur perusahaan harus aku! Kamu pemabuk, kasar! Makanya anak kamu itu ikut kasar jadinya!"


"Dia anak aku! Kamu gak perlu ngatur-ngatur!"


"Kamu pikir siapa yang peduli sama anak kamu selain aku di rumah ini?! Yang kasih makan setiap hari aku! Kamu? Kamu cuma bisa ngasih pelajaran ke Yara kalo dia nakal!"


Meski sudah menutup telinga, tapi samar-samar suara itu masih terdengar di malam hari seperti ini. Yara lelah benar-benar lelah hari ini hingga suara petir kembali menyambar. Baru setelah itu suara keduanya lenyap.


Seseorang mengetuk-ngetuk pintu kamar Yara dengan panik. "Non, non Yara!" Tapi Yara hanya menatap datar pintu itu. Ia tahu itu suara orang yang juga tidak ia senangi. Suara wanita yang sudah menjabat lima tahun sebagai pembantunya. Ibunya Sekar.


Hingga sebuah nama yang disebut oleh pembantu itu membuatnya tercengang. "Non, harus Non Yara ikhlas ya sama mamanya."


Deg! Seolah digempur oleh jutaan belati, hati Yara hancur ketika mendengarnya. Mama yang dimaksud pasti adalah mama kandungnya yang terbaring di rumah sakit. Ia menggeleng pelan. Bertepatan selesai mengganti baju, cewek itu segera melangkah ke arah pintu dengan amarah yang tak main-main lalu membukanya. "KALO NGOMONG JANGAN SEMBARANGAN YA LO!"


"KURANG AJAR BANGET LO! LO TUH CUMA PEMBANTU! BISA-BISA KENA PECAT LO!" teriaknya dengan tubuh gemetar, dan tanpa sadar air matanya menetes. Wanita paruh baya yang sudah biasa dibentak olehnya itu hanya tersenyum hambar. Ia tidak marah dikatai seperti itu.


"Saya ... hanya pembantu ... ndak berani bohong." Yara menggeleng pelan. Ia menoleh ke arah samping, menemukan papa dan mama tirinya yang berwajah panik. Gibran menatap putrinya lalu menggeleng pelan.


Yara menatap papanya, ada raut sendu di sana. Yara menggeleng pelan, ia segera berlari keluar rumah yang diikuti semua orang menuju rumah sakit.


***


Dia mamanya. Mama yang selalu merawatnya dari kecil. Penderita leukimia yang membuat papanya meninggalkan mamanya lalu menikahi orang lain dengan alasan untuk jadi ibu pengganti.


Yara benci itu. Karena papanya menikah lagi, mamanya jadi semakin drop. Lucunya setelah bercerai, mama Yara masih mau tinggal bersamanya di rumah itu. Satu rumah dengan mantan suami, menyaksikan orang yang dicintainya telah menikahi orang lain. Sungguh konyol.


Hingga saat ini, rumah sakit adalah tempat tinggal keduanya. Yara sangat ingat saat mamanya terus mengatakan penyesalan. "Jangan pernah memaksa orang yang gak pernah mencintai kamu, kamu hanya perlu melepaskan."


Wanita itu tidak ingin anaknya mengalami patah hati yang ia rasakan. Bodoh, Yara malah melakukan itu pada Ezio. Ia memaksa Ezio memacarinya dulu.


Anak malang sebatang kara yang ditinggal sakit-sakitan dan selalu mendapat kekerasan dari papanya, serta mendengar pertengkaran papanya dengan mama asingnya, lalu ditinggal untuk selamanya oleh ibunya. Itu deskripsi yang tepat untuk Yara.


"Mama gak boleh pergi! Mama janji mau nemenin aku kalo udah sembuh!" Cewek itu menangis hebat di atas ranjang sang mama hingga sebuah tangan menyentuh bahunya. Tangan pembantunya.


"Nduk, hidup setiap orang itu punya Tuhan, bukan punya kita. Ikhlasin ya!" Entah kenapa kali ini Yara membiarkan saja tangan pembantunya itu menyentuh dirinya. Ia masih saja menangis hingga seorang petugas mengambil jenazah mamanya untuk segera dimandikan.


Yara menggeleng keras. Ia masih mau bersama mamanya. "Ingat kata mamanya toh? Mama kamu bilang harus ikhlasin dengan senyuman?"


Kemudian ia membiarkan petugas mengambil alih. Yara menangis tersedu. Kala seperti ini, perasaan bodohnya masih saja teringat satu orang. Ezio.


Ia ingin menghubungi Ezio. Memastikan cowok itu masih benar-benar peduli padanya.


***