
“Eh? Itu si Yara ga sih?” Seorang siswi yang baru memasuki kantin berbisik pada temannya.
“Anjrit! Setelah sekian lama gak nyiksa Sekar, sekarang nyiksa lagi!”
“Cewek gila!” balasnya melihat Yara yang menampar Sekar berkali-kali.
Sekar hanya mengucapkan permohonan ampun pada Yara, menangis layaknya gadis polos. “A-aku gak tahu, Non-non! Am-ampun!”
“Lo yang bikin gue dimarahin bokap gue! Harusnya yang pantes ditampar, dihajar itu elo! ELO! SIALAN!” pekiknya penuh emosi. “Lo sok polos! Gue jijik! Anak pembantu!”
“A-ampun, non! Hiks! Hiks! Ampun!” Sekar kini bersujud di kaki Yara, membuat semua orang mendelik dan semakin menatap benci ke arah Yara. Yara tidak peduli, sifatnya yang keras dan gampang emosian itu terus berlanjut dengan menjabak rambut cewek itu.
“Gak usah sok polos di hadapan semua orang! Ih!” Ia mendorong tubuh Sekar sebelum meludahi cewek itu. Air mata Yara yang ingin turun ia tahan. Yara mengusapnya secara kasar.
Sekar yang terduduk di lantai tersenyum miring yang ditujukan pada Yara yang tidak diketahui siapa pun, seperti memancing cewek itu agar menjambaknya lagi, seperti sedang memanipulasi semua orang agar membelanya.
“GUE BENCI! BENCI SAMA LO, SEKAR! GUE BENCI!” Sekali lagi, Yara menampar Sekar saat memorinya kembali pada papanya yang menampar dan memukulnya brutal.
“YARAA!” Suasana kantin kini menegang saat seorang cowok tampan berperawakan tinggi datang dengan raut murka pada Yara. Yara menoleh, menemukan Ezio di sana. Ezio segera menghempas tangan Yara setelah menampar Sekar. Hati Yara kembali mencelos saat Ezio menatapnya tajam seperti itu, sejujurnya ia masih menaruh perasaan pada Ezio.
Rasanya seperti de javu.
Ezio langsung memeluk Sekar yang menangis, jujur ia tidak suka melihat Sekar yang diperlakukan seperti ini. “LO GILA, HUH?!” geram Ezio.
“Lo mau bela dia?! Lo tahu gak?! Dia udah nyuri jaket gue! Dia yang bikin gue dimarahin papa! Dia tadi udah ngaku! Dia, dia bilang kalo emang gara-gara dia gue dimarahin bokap! Dia cuma pura—“
“Udah!” sergah Ezio. "Cukup dramanya!”
“Gue gak drama, anjing!” sentak Yara. Nafasnya tersengal.
“A-aku ga-gak tahu apa-apa kak, hiks! A-aku dapet ja-jaketnya di jalan—hiks!” Sekar terisak di dada Ezio sekarang. Kondisinya sangat berantakan.
“Bohong!” ucap Yara ingin menyerang Sekar lagi yang segera dicegah Ezio.
“Lo gak malu ya bikin rusuh terus?!” marah Ezio. “Lo lihat semua orang gak bisa makan tenang gara-gara lo!” Perkataan Ezio itu membuat Yara berhenti, ia menatap sekelilingnya. Siswa dan siswi di kantin itu menatapnya aneh setengah takut. Mereka semua terdiam dan saling berbisik.
“Lo bilang apa? Jaket? Cuma perkara jaket lo nyiksa orang lain? Gue gak habis pikir ....”
“Lo gak tahu—“
“Gue tahu lo, Ra! Dan lo bilang tadi papa lo? Kalaupun papa lo marah sama lo, itu salah lo! Jangan coba nyalahin orang lain atas kesalahan lo! Jangan selalu nuduh orang sembarangan!” Dada Ezio kini sama naik turunnya.
“Kenapa ... lo selalu gak mau dengerin gue, Zi?!” tanya Yara, matanya sudah tak bisa membendung air mata lagi.
“Karena lo jahat! Lo pembohong!” Kata itu menusuk jantung Yara hingga ke akar-akarnya. Sekarang bukan hanya papanya yang menganggapnya pembohong sebagai pria yang ia cintai, tapi juga Ezio. “Gue kira lo emang bener udah berubah, ternyata lo sama aja!”
Seluruh air mata Yara luruh tanpa diperintah, ini pertama kalinya ia menurunkan air mata di hadapan semua orang. Hancur sudah dirinya. Iya, memang sudah hancur. Dirinya sudah dianggap jahat oleh semua orang bahkan dianggap tidak memiliki akal sehat, dan kini semua orang juga akan menganggapnya cengeng dan lemah.
Langkahnya membawanya hingga ke arah keluar gerbang yang tidak dijaga oleh satpam. Ia merogoh sakunya menelepon seseorang.
“Maaf, nyonya Angel lagi sibuk.” Itu adalah kata orang di seberang telepon yang membuat Yara berhenti berharap pada ibu sambungnya yang berjanji akan menemaninya agar tidak kesepian lagi. Ia berusaha berlari kembali entah ke mana. Kakinya mengarah pada jalan raya, dan untungnya jalan itu sepi.
Ia terus berlari, hingga ... Tin! Tin!
Suara klakson mobil baru ia dengar saat sudah dekat. Sebuah mobil yang melaju pesat menabrak dirinya hingga terjatuh dan terduduk di aspal. Yara masih setengah sadar saat sebuah suara yang ia kenal menyebut namanya. “Yara!”
Seorang cowok tampan keluar dari mobil itu, langsung saja memegang tubuh Yara yang akan terbaring.
“El—Eliot ...?” beo Yara sebelum kemudian ia tak sadarkan diri.
***
“Gimana, Dok?” Eliot tampak khawatir saat seorang pria berjas putih keluar dari ruangan Yara.
“Tenang saja, dia hanya pingsan bukan karena tertabrak mobil, tapi karena shok. Tidak ada yang lecet di tubuhnya.” Eliot menghela nafas lega. “Tapi, sebelum tertabrak pasien sepertinya mengalami stres dan kelelahan. Pasien diharuskan istrirahat yang cukup. Saya permisi dulu!” ucap dokter itu yang diangguki olehnya.
Eliot membuka pintu ruangan rumah sakit yang di sana terdapat seorang cewek yang sedang terbaring. Eliot mengambil tempat duduk, menempatkannya di samping brankar Yara. Ia melihat wajah cantik yang sedang tenang tertidur itu. Ia tersenyum melihatnya. Eliot sudah memendam lama perasaan pada Yara sejak dulu, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya.
Ia tahu bagaimana watak Yara yang menolak orang lain secara mentah hanya karena cewek itu menyukai satu cowok, Ezio.
Senyumnya diganti dengan alis yang menyatu heran saat sadar wajah Yara terlihat berantakan, seolah habis menangis. Ternyata benar yang dikatakan dokter, cewek itu sedang stres. Ia mengusap air mata yang Yara keluarkan meski matanya tertutup. Entah mengapa, instingnya mengatakan bahwa Ezio yang telah membuat cewek itu menangis.
Giginya menggertak. Ia mengambil ponsel, mengetikkan sesuatu di sana. Setelah beberapa saat, ia meletakkan ponselnya di nakas. Kembali mengamati wajah cewek itu sambil mengelus surai rambutnya. Kening cewek itu berkerut. Perlahan matanya terbuka.
“Eliot?” ucap Yara kemudian memandang sekeliling.
“Hay, lo butuh sesuatu?” Yara kembali menggelengkan kepala pelan lalu mendudukkan diri yang dibantu Eliot. “Gimana keadaan lo?”
“Gue gak papa.” Akan tetapi cewek itu memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Gue panggilin dokter—“ Eliot sudah ingin beranjak, tapi tangannya langsung dicegah oleh Yara.
“Di sini aja, Eliot.” Eliot melihat tangannya sendiri dan jantungnya berdebar kala tangan putih Yara menyentuhnya.
Cowok itu tersenyum tipis lalu menggenggam tangan cewek itu yang tak ada penolakan sama sekali dari empunya. “Oke.”
***
A/N
cuma mau ingetin gess, minimal pencet tombol like!😭