I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
A Song for the Old Me



...“Lo tahu gak? Yang barusan gue mainin itu buat gue yang dulu. Yang nggak dianggep, yang sulit dapetin orang yang gue suka, yang selalu ditinggal ngilang demi cewek lain.” ...


...***...


“Kak Ezio pulang sekolah nanti ada acara?” Setelah beberapa waktu saling diam, Sekar bertanya dengan ragu-ragu pada Ezio yang sedang berjalan di sampingnya. Ia takut kalau pertanyaannya mengganggu suasana hati cowok itu. Ezio menatapnya sejenak sebelum menggelengkan kepala.


Sekar tersenyum senang. Tanpa seizin Ezio, Sekar memeluk lengannya. Hal yang biasa terjadi sedari dulu. Padahal Yara yang menjadi pacarnya dulu saja tidak berani menyentuhnya dan masih menjaga image dan harga dirinya di hadapan lelaki.


Di saat itu juga, mereka berpapasan dengan Yara. Sekar yang mengetahui kehadiaran Yara semakin mengeratkan pegangannya di lengan Ezio. “Nanti sore temenin aku yuk, Kak, jalan kemana gitu, kayak kemarin-kemarin! Ngomong-ngomong, makasih ya kue se-box dari kakak kemarin enak!”


Pembicaraan Sekar yang amat jelas itu terdengar di telinga Yara. Yara melirik keduanya sekilas dan melanjutkan jalannya tak peduli. Sedang Ezio masih menatap cewek itu hingga menghilang dari pandangannya. Tatapan sendu yang tidak semua orang tahu.


Yara berjalan ke arah ruang musik. Membuka pintu dengan kunci yang ia dapat dari ekskul musiknya. Ya, setelah putus dengan Ezio, ia memutuskan untuk bangkit memperbaiki diri dengan mengembangkan bakatnya, bermain piano. Ia masih baru beberapa hari bergabung di ekskul musik dan mendapat kunci cadangan ruang musik yang sempat ia minta dari pembinanya jaga-jaga jika ia ingin bermain musik setiap saat.


Ia mulai menyalakan kabel piano elektrik. Membuka lembaran kertas berisi note yang memang sudah ia susun dan ingin ia nyanyikan. Saat semuanya sudah siap, Yara tersenyum sambil menghela nafas. Ia mulai memencet-mencetkan jari lentiknya di piano, menghasilkan suara instrumen musik yang indah.


Instrumen piano lagu Secret Love Song yang menenangkan langsung menguar di seluruh penjuru ruang musik. Tidak ada orang yang mendengarnya kecuali Yara sendiri. Andaikan ada, mungkin orang itu akan terhanyut dengan nada yang ia suarakan dari jarinya. Mungkin juga orang itu akan terkagum dengan kemahiran Yara.


“Why can’t i say that i’m in love? I wanna shout it from the rooftops ....”


“I wish that it could be like that. Why can’t it be like that? Cauce i’m yoouurss ....” Tanpa kehendaknya, Yara bernyanyi dengan merdu, lirik yang sangat mendesirkan hati.


“Why can’t we be like that? Wish we could be like that ....”


Yara mengakhiri instrumen pianonya dengan nada yang pas dan indah. Ia tersenyum senang saat mendapati dirinya dapat menyelesaikan lagu yang selama ini ia impikan untuk bisa dimainkan dengan piano.


Brak! Suara benda terjatuh di belakang cewek berkulit putih itu membuatnya menoleh ke belakang. Betapa kagetnya Yara saat ia mendapati Ezio yang sedang meletakkan benda yang jatuh itu kembali ke tempatnya. Ezio langsung saja menatap Yara dengan rasa bersalahnya.


“Sorry, gue gak bermaksud ....”


Yara mengangguk saja, memberi kewajaran. Ia kembali fokus pada alat musik di depannya. “Lo pasti mau main alat musik ‘kan?” tanyanya tanpa menatap lawan bicara.


Ezio mengangguk meski ia tahu anggukan itu tak dilihat oleh Yara. Ia mendekati Yara, mengambil salah satu alat musik di sana yang Yara tebak pasti gitar. Ezio mendudukkan diri di samping Yara. “Tadinya, trus denger suara piano. Ternyata lo bisa main piano.”


Yara terkekeh. “Iya, supaya gak dibilang cewek jahat kayak boneka yang bodoh dan gak bisa ngapa-ngapain,” sindirnya menirukan gaya bicara Ezio dulu saat meremehkannya.


“Lo dulu gak pernah main piano pas sama gue.”


“Sering. Lo aja yang gak tahu. Lo ‘kan selalu gak peduli apa pun yang gue lakuin. Dan lo gak pernah anggap gue ada sebagai pacar lo.” Yara menoleh, menatap tepat di mata Ezio dengan tatapan nanarnya. Ia tertawa hambar dan kembali memandang pada piano di hadapannya.


Ezio menatap mata yang penuh rasa sakit itu dari samping semakin menambah rasa penyesalan cowok itu. Keterdiaman langsung merajalela di antara keduanya. Hanya suara note piano yang terdengar lirih. Fokus netra hitam kecoklatan itu memang pada note, tapi pikirannya selalu dipenuhi Ezio entah saat dulu atau saat Ezio duduk di sampingnya saat ini.


Yara kemudian menekan pianonya, menghasilkan sebuah nada. Ezio sibuk menatap kecantikan cewek itu dari samping yang sedang melihat piano.


“Saat hatimu terluka. Akulah yang menemanimu. Membasuk Air matamu ....”


“Namun, mengapa ketika hatimu t’lah tersenyum lagi aku yang kau lupa?”


“Tak sadarkah selama ini ku juga s’lalu menginginkanmu?”


Di mata Ezio, Yara bukan hanya bisa, tapi ia telah mahir memainkan piano dengan indah. Ezio juga sempat terkagum dengan suara Yara yang nyaman di pendengarannya.


Suara piano itu berhenti sejenak. Yara menatapnya nanar. “Mengapa suliiitt ... untuk kubisa miliki hatimu? Bahkan selama ini hadirku tak berharga untukmu?”


Lirik itu seperti memang sudah ditujukan padanya. Ia tahu saat mata Yara tak berhenti menatapnya di lirik itu. Yara sedang menggambarkan perasaannya yang telah terjadi dulu.


“Yang terjadiii kini kuhanya tempat persinggahanmu di saat kau terluka, dan disaat semuanya reda kau menghilang begitu saja.”


“Mengapa suuliitt! Untuk kubisa miliki hatimu! Bahkan selama iniii! Hadirku tak berharga untukmu!” Yara langsung meloncati pada lirik lagu itu, nadanya semakin ia tinggikan.


“Yang terjadiii kini kuhanya tempat persinggahanmu di saat kau terluka, dan disaat semuanya reda kau menghilang begitu saja ....”


“Dan disaat semuanya reda, kau menghilang begitu ... saja ....”


Berakhir, lagu itu telah berakhir. Ezio menatap cewek itu penuh sakit dan penyesalan. Yara mengembuskan nafas, memberi Ezio tatapan datar.


“Lo tahu gak? Yang barusan gue mainin itu buat gue yang dulu. Yang nggak dianggep, yang sulit dapetin orang yang gue suka, yang selalu ditinggal ngilang demi cewek lain.”


“Tapi sekarang nggak lagi. Gue gak akan berharap sama cowok yang gak pernah ngeharapin gue. Gue tahu, gue yang salah karena terlalu maksa lo dulu yang pada akhirnya cuma nyakitin gue doang. Bahkan sampek sekarang, mungkin lo juga gak akan pernah jatuh cinta sama cewek jahat kayak gue. Lo selalu benci gue.”


Yara tersenyum segaris, melanjutkan permainan pianonya. Ting! Ting!


Sedangkan Ezio tak berhanti mengalihkan padangannya pada cewek itu. Menyesal, kecewa, sedih, ingin menyangkal. Semua rasa itu teraduk menjadi satu dalam diri Ezio. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lo boleh benci gue juga, Ra.”


“Gue gak pernah benci lo, gue bahkan udah maafin lo sebelum lo minta maaf, gue gak mau ngebusukin hati gue lagi.”


Ezio menganggukkan kepalanya. Yara kali ini sangat berbeda dengan Yara yang ia temui satu tahun yang lalu. Yara yang sekarang lebih mau menerima hal yang terjadi dengan lapang. Mungkin rasa sakit yang cewek itu terima selama ini membuatnya berubah.


“Makasih pianonya.” Setelah kata itu, Ezio berdiri dari duduknya. Meletakkan gitar yang sempat ia pegang tapi tak jadi ia mainkan. Cowok itu kemudian pergi dari ruangan itu. Berpikir apa yang akan terjadi jika Yara tahu apa yang ia sembunyikan selama ini. Tapi tidak, cowok itu tidak boleh membiarkan Yara tahu yang sebenarnya.


***