
Genia masih di sana. Masih menatap keduanya yang sedang asyik bercanda entah karena hal apa. Sedari tadi, tanpa ada orang yang tahu, Genia bersembunyi di balik rak perpustakaan untuk mendengar interaksi keduanya. Genia kira awalnya mungkin tidak akan seakrab itu karena ia tahu bagaimana watak Yara yang sangat keras dan tak mudah bergaul dengan orang lain. Nyatanya, semua itu berbeda dari ekspetasinya. Mereka lebih akrab dari yang Genia tahu.
Suatu hal yang membuat dadanya sesak.
“Eh, udah bel deh kayaknya. Gue harus ke kelas soalnya hari ini bu Syirli.” Eliot mengangguk-angguk mendengarnya, memperhatikan Yara yang sedang mengemasi barang-barang miliknya. “Lo masih di sini?” tanya Yara yang menyadari jika Eliot terlihat diam, tak bergegas.
“Gue jamkos, jadi gue mau refleshing aja di sini, enak, dingin.” Eliot menyandarkan dirinya di kursi.
“Oke,” balas Yara tersenyum. Ia hendak pergi, tapi tangannya di tahan oleh Eliot. Eliot memberikan tangannya yang tergenggam pada Yara, ia tunjukkan ke atas. Yara tersenyum lalu membalas tangan Eliot dengan genggaman tangannya juga untuk tos.
“Belajar yang rajin tapi gak boleh terlalu maksain! Inget!” Eliot mengacak-acak rambut Yara yang diangguki oleh cewek itu. Yara ingin melangkah pergi, tapi lagi-lagi Eliot menahan tangannya.
“Masa gak bilang apa-apa sebelum pergi?”
“Ck, apaan sih! Pergi tinggal pergi!” sebal Yara.
“Gak bisa pergi kalo belom jawab!”
“Jawab apa?”
“Belajar yang rajin tapi gak boleh terlalu maksain!”
Yara mendengus kesal sebelum tersenyum terpaksa yang menurut Eliot sangat lucu. “Iya, Kapteenn! Puas?”
Eliot tersenyum mendengarnya. “Gitu dong!” Ia kembali mengacak-acak rambut Yara. Setelah itu Yara segera berlalu pergi dari perpustakaan. Eliot masih pintu keluar perpustakaan hingga punggung Yara hilang dari pandangannya. Senyuman masih saja terbit di wajahnya.
Setelah itu, suasana di perpustakaan jadi hening kembali. Sepi. Eliot kemudian mengarahpandangkan matanya pada rak buku bagian barat di mana tempat Genia bersembunyi. “Lo gak perlu sembunyi lagi. Lo pikir gue gak tahu lo ada di situ ngawasin kita dari tadi?”
Mendengar itu, dada Genia berdesir, jantungnya seperti ingin meledak. Genia keluar dari persembunyiannya, memampakkan diri di hadapan Eliot. Eliot hanya menatap cewek itu datar. Begitupun Genia yang terlihat menatap Eliot antara sakit dan muak.
“Jadi sekarang lo akrab banget ya sama Yara.”
Eliot mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lebih akrab dari yang lo pikirin sekarang, jadi jangan coba-coba gangguin dia kayak dulu.”
Genia mengangguk-angguk, menatap mata Eliot yang terlihat dingin itu sangat lekat. “Sampai hari ini gue masih gak ngerti, apa yang buat lo sampek tergila-gila sama cewek kaya dia.”
“Lo gak perlu tahu, yang pasti dia ‘jauh’ lebih baik dari lo,” balasnya menekan pada kata bertanda petik.
Genia tersenyum hambar setengah terkekeh. “Kalo dia jauh lebih baik dari gue yang jauh lebih baik dari cowok brengsek kayak lo, apa menurut lo, lo pantes dapetin Yara?”
Eliot kembali menatap Genia sengit, sungguh tidak terinterupsi dengan kata ‘brengsek’ yang Genia lontarkan. “Pantes. Gue lebih pantes dari Ezio yang bodoh itu.” Eliot sangat tahu semanipulatif apa Genia untuk mendapatkan sesuatu. Dengan yakin, Eliot mengatakan itu.
Senyuman miring mengalir di wajah Genia, menyaksikan Eliot yang terdiam di tempat. Saat Genia hendak pergi, Eliot segera menahan cewek itu, menghadapkan pada dirinya. Hal yang membuat jantung Genia seperti dilahab petir saat Eliot menatapnya tajam. “Jangan coba-coba ngomong aneh-aneh ke Yara apalagi sampek jadi kompor! Atau lo tahu apa yang bakal terjadi.”
Eliot terlihat mengancam. Sungguh ia tidak suka sikap Genia yang selama ini membenci Yara. Selama ini Eliot juga berusaha mempertahankan hubungannya yang sedang bekembang dan sangat sulit ia gapai. Eliot tidak akan membiarkan Genia menghancurkannya begitu saja.
“Kalo ada orang paling jahat dan nyakitin ke gue, itu lo, El. Lo gak pernah tahu gue selalu ngelakuin semuanya karena lo,” ucap Genia nanar yang kemudian meninggal Eliot sendiri di perpustakaan itu.
***
Ezio melangkahkan kakinya ke rumah. Belum sempat ia masuk, suara wanita paruh baya sudah menginterupsi dirinya. Berdiri di ruang tamu, menatapnya tak bersahabat. Ezio yang melihat mamanya melayangkan tatapan benci itu hanya menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya ke arah kamar.
“Kamu pikir Mama gak tahu kamu mutusin Yara?” Seketika Ezio berhenti, kini menatap Diana.
“Putusin Yara?” Ezio mengerutkan kening.
“Ya! Kamu pasti mutusin Yara buat jadian sama Sekar, ‘kan?”
“Ma, aku gak pernah mutusin Yara! Yara sendiri yang minta putus dari aku!” jawabnya.
Diana kini terkekeh, menghampiri tempat di mana Ezio berdiri. “Kenapa? Kenapa Yara putusin kamu?”
“Mama udah tahu kita putus, berarti Mama juga tahu ‘kan alasan kita putus?”
Mendengar itu, Diana terkekeh tidak suka. “Ternyata bener, kalian putus karena kamu belain Sekar, ‘kan? Yara putusin kamu karena dia kecelakaan! Cuma gara-gara kamu!” teriaknya penuh amarah. Ezio telah menyiapkan mental jika Mamanya akan memakinya karena putus dengan Yara. Ezio telah memprediksi semuanya. Diana pasti tahu semuanya karena ‘dia’.
“Mama kira selama ini hubungan kalian akur dan gak ada masalah, ternyata Mama salah!” kelakar Diana langsung merasuk ke kendang telinga Ezio, hal yang membuat Ezio terdiam. “Mama baru tahu kalau selama ini kamu sering nyakitin Yara! Kamu sering belain anak pembantu itu ketimbang Yara! Dan kalian berpura-pura seakan semuanya baik-baik aja di hadapan Mama!”
Amarah wanita itu tidak bisa dibendung. Wanita itu kini menampar anak laki-lakinya itu saking kesalnya. Ezio masih diam di tempat.
“Mama kecewa sama kamu, Ezio! Mama kecewa karena kamu yang seorang Pangeran malah milih budak yang gak jelas asal-usulnya ketimbang seorang Putri yang udah nunggu kamu dari dulu!” Mata itu, mata menyakitkan Mamanya yang telah lama ditujukan pada Ezio. Diana hendak pergi, tapi Ezio mencegahnya.
“Mama boleh kecewa, katain apapun soal Ezio. Tapi, Ma. Apa iya setiap aku mau pacaran sama orang, itu harus diatur sama Mama? Apa iya kalo aku putus sama Yara, itu juga diatur sama Mama?” tanya Ezio dengan nada rendah.
Diana berbalik badan, kembali menatap putra semata wayangnya yang sangat bodoh itu di matanya. “Karena Yara yang paling terbaik buat kamu! Dan Mama gak suka kamu putus dari Yara. Gimanapun caranya, kamu harus bisa balik sama Yara kayak dulu! Kamu bawa Yara ke sini lagi kayak dulu buat ketemu Mama!”
“Emang karena Yara terbaik buat aku atau karena Yara mirip sama Ezeta, Ma?!” tanya Ezio membuat wanita itu langsung menampar dirinya.
***