I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Kamu Gak Tahu Apa-apa, Ezio!



“Hari ini lo gak sekolah?” tanya Yara yang heran pada Eliot yang sudah memarkirkan motor vespanya di depan gerbang rumahnya.


“Engga, gue lagi sekolah daring,” jawab Eliot sekenanya memberikan helm-nya pada Yara. Yara ber-oh ria saja tanpa ingin bertanya-tanya lagi. Sebenarnya ia tidak suka mengurusi masalah orang. Tidak ingin mengulik sesuatu tentang diri orang lain tanpa orang itu membeberkannya sendiri. Ia bertanya untuk tidak ingin membuat Eliot kerepotan hanya karena mengantarnya sekolah.


“Lo gak perlu repot-repot nyusul gue,” ucapnya menatap cowok itu datar.


“Anggap aja balas budi. Gue gak suka punya utang budi.” Helm itu kini ditangkap oleh Yara. “Ayo berangkat!” Eliot mengulum senyum saat Yara mau menaiki motor vespa miliknya kemudian kendaraan melaju dan memasuki area sekolah yang terasa panas untuk Yara.


Andaikan Yara bisa memilih, ia tidak suka pergi ke sekolah. Namun, ia masih ingat kata-kata mamanya. Kalau punya masalah lari aja, tapi bukan lari menghindar melainkan lari untuk menghadapi! Hal yang sampai kini membuat Yara kuat untuk mau bertahan di sekolah ini, tidak berpikir untuk pindah sekolah, dan tidak peduli dengan omongan orang lain.


“Makan yang teratur! Nanti pulang sekolah gue jemput!” tutur Eliot.


“Gak usah.” Yara menyerahkan helm-nya pada Eliot. Ia segera melangkah ke dalam, melewati berbagai macam tatapan sinis dan dengki.


“Ih, siapa tuh cowok, gue heran kok mau deket sama mak lampir!”


Yara langsung menatapnya tajam. Cewek itu langsung menunduk ketakutan dan berlari begitu saja. Ingin rasanya Yara mencabik-cabik mulut sialan itu kalau ia tidak ingat satu hal, kontrol emosi!


Ia kembali melajukan langkah dan kemudian tangannya di tarik kasar oleh seorang cowok. “Kemana aja lo selama tiga hari ini?! Udah jadi pengecut setelah perbuatan lo kemarin?!” tanyanya dengan nada emosi.


Yara dihadapkan dengan wajah Ezio. Wajah yang membuat hatinya terluka hingga tertabrak mobil tiga hari lalu. “Bukan urusan lo!” Yara menarik tangannya kasar.


“Urusan gue karena gara-gara lo Sekar harus pingsan kemarin!” Mendengar itu, hati Yara terasa memanas. Ia memilih untuk berjalan pergi dari hadapan Ezio. Sungguh, sayatan luka di hatinya yang Ezio ciptakan kemarin masih belum kering, dan Yara tidak ingin menciptakan luka baru dengan berinteraksi dengan Ezio. Ezio lagi-lagi menarik tangannya. “Mau ke mana lo?! Tanggung jawab, anjing!”


Yara kembali ditatapkan dengan mata Ezio. Melihat mata penuh amarah hanya karena Sekar, hatinya terasa diremas. Ezio tidak pernah tahu apa yang terjadi padanya hingga masuk rumah sakit setelah kejadian kemarin. “Gue gak mau!”


“Oh? Ternyata bukan cewek jahat aja ya lo, tapi pengecut!” Dada Yara kini terasa panas mendengarnya.


“Lo mau gue apa sih, huh?!” sentak Yara menggelegar.


“Minta maaf sama Sekar!”


“Gue gak mau! Gue gak salah!”


“Lo salah! Lo udah nyiksa dan ngefitnah dia!”


“Lo gak tahu apa-apa! Lo gak usah ikut campur!” Yara menarik kembali tangannya secara kasar. Namun lagi-lagi Ezio menahannya.


“Minta maaf ke Sekar sekarang!” tegasnya tak ingin ada penolakan. Perasaan Yara mulai campur aduk. Ia tidak suka dipaksa. Dulu, ia sudah sering meminta maaf pada Sekar meski dirinya tak salah hanya karena Ezio memintanya. Kini Yara tidak mau melakukan itu lagi. Yara tidak salah. Sekar adalah orang yang salah padanya, membuat papanya kehilangan dua ratus miliar, menuduhkannya pada dirinya, membuat dirinya dihukum papanya, membuat semua orang menganggapnya jahat, dan membuat dirinya masuk rumah sakit. Yara tidak mau meminta maaf pada orang yang harusnya minta maaf padanya. Itu menjijikkan.


“Minta maaf sekarang!” tekan Ezio sekali lagi.


Plak! Dengan dada yang bergemuruh yang dipenuhi amarah serta rasa sakit yang diterimanya, Yara menampar Ezio. Matanya mulai berkaca dan akan turun air mata jika saja cewek itu berkedip.


Ezio memegangi pipinya yang terasa panas. Ini kali pertama Yara menamparnya.


“Gue bego, Zi, mencintai orang yang selalu ngelukain gue! Bahkan sampai sekarang gue cinta sama lo! Kalo lo tanya kenapa gue cinta lo, gue gak tahu alasannya!”


“Lo tahu? Gue selalu berharap lo jadi orang yang bakal nganggap gue malaikat saat semua orang anggap gue iblis, nyatanya gue cuma berkhayal! Lo lebih mencintai orang yang gak jelas asal-usulnya! Lo gak pernah cari tahu apa yang sebenernya terjadi tentang gue, maupun tentang Sekar! Karena lo begitu yakin sama dia!”


“Gue juga gak tahu, Zi, kenapa lo selama ini benci gue! Semua alasan lo buat ngebenci gue juga gak masuk akal!”


Deg! Kenapa sekarang Ezio jadi menyesal membentak Yara? Paakah Ezio sekasar itu tadi?


Yara meneteskan air matanya. Entah ini yang ke berapa kali di depan Ezio. Semua urat malunya saat menangis sudah hilang. Biarlah Ezio mengira ini drama, Yara janji ini yang terakhir. “Dan lo bilang tadi apa? Sekar pingsan?” Yara tertawa miris. “Lo tahu gak apa yang terjadi sama gue kemarin sampai gue gak masuk sekolah?” tanyanya menatap Ezio lekat di matanya.


Ezio yang sedari tadi diam karena kehabisan kata, langsung menatapnya serius penuh tanda tanya.


“Bahkan lo sendiri yang katanya pacar gak tahu apa-apa.” Ezio bisa menangkap rasa sakit yang Yara luapkan. Entah mengapa hatinya juga terasa sakit mendengar setiap kata yang Yara lontarkan untuknya. Perkataan Yara membuat Ezio langsung menanyakan pada dirinya apa yang sebenarnya terjadi pada Yara.


“Mulai sekarang kita putus!” Sekarang jantung Ezio digempur ribuan tombak. Matanya ia tajamkan. “Mulai sekarang jangan pernah bilang kita belum putus. Jangan pernah berurusan sama gue. Jangan pernah ngasih harapan ke gue lagi kalo lo suka ke gue atau segala macamnya! Gue benci itu, Zi! Gue benci saat lo bikin jantung gue berdebar seolah lo juga suka ke gue! Tolong jangan beri harapan!”


“Ra ...,” lirih Ezio.


“Jangan panggil nama gue! Gue bakal berusaha hapus rasa gue buat lo!”


Saat itu, Ezio merasakan ada sesuatu yang remuk di salam dadanya. Ia merasakan dunianya akan hilang ketika cewek itu melontarkan kalimat itu. Rasa sepi akan datang berdesir mengiringi hatinya. Rasa salah mulai menggerogoti jiwanya. Sakit yang Yara rasa nyatanya bisa Ezio rasakan juga.


“Yara ... lo yakin?” tanyanya sebelum cewek itu pergi.


“Gue gak pernah seyakin ini.” Ia tersenyum miris.


“Lo boleh ngatain gue apapun itu, Ra. Gue emang selalu ngebela Sekar, tapi lo harus inget, gue gak pernah selingkuh ... lo selalu jadi pacar gue, satu-satunya.”


Deg! Yara langsung menatap cowok itu tajam. “Pembohong!”


***


A/N


Satu kata buat Ezio dong!


Satu kata buat Yara!


Satu kata buat Eliot dong!


Komen ya!