
“Papa gak tahu apa-apa! Papa gak bisa nuduh aku ambil file Papa!”
Plak! Lagi-lagi Gibran menampar Yara. Anak itu hanya bisa menangis tersedu.
“Kemarin kamu buat Papa kehabisan uang dua ratus miliar! Sekarang kamu ambil file Papa lagi?!”
“Papa salah! Bukan aku yang nuangin minuman ke surat obligasi itu, Pa! Tapi Sekar! Sekar udah ambil jaket pink aku, dia masuk ke ruang papa trus nuangin minuman ke situ! Dia bawa kabur ke kamarnya! Dia taruh di kamar aku biar aku yang disalahin.
Sekarang Sekar yang ketar-ketir. Ia berdiri di tempat sambil menunduk, memegangi kukunya. Semua pembantu di ruangan ini menatap ke arah Sekar seolah tak percaya, termasuk ibunya.
Semua itu tak luput dari Ezio. Hatinya berdesir. Rasa bersalah langsung menggerogoti dirinya. Ia kembali teringat dengan kejadian kala Yara melabrak Sekar di kantin. Itu sebabnya?
Gibran melotot ke putri satu-satunya. “Bagus, bagus! Udah berani ngarang cerita kamu?! Sekarang setelah ngelakuin kesalahan, kamu nyalahin orang lain, huh?! Anak bodoh! Pembangkang!”
Sungguh, perkataan itu adalah kata yang sangat Yara benci. Yara meneteskan air mata. Tidak bisakah sekali saja papanya tidak memandang seperti itu?
“AKU GAK BOHONG, PAPA! PAPA HARUS PERCAYA!”
Gibran lagi-lagi menamparnya karena kesal. Namun, hal itu tidak membuat Yara goyah. Hatinya sakit. “Papa sekali aja gak nampar aku, gak mojokin aku seolah aku paling salah sedunia bisa, Pa? Papa sadar gak, Pa? Papa juga banyak salah ke mama!”
Lagi, Gibran menamparnya.
“Mama sakit ... tapi Papa milih nikahin orang lain. Papa biarin mama lihat suaminya sendiri mesrah-mesrahan di satu atap! Bukan cuma mama, tapi aku juga sakit ngerasain itu, Pa! Sakitt!” Yara memukul-mukul dadanya. Sedari dulu memang ini yang ingin ia ungkapkan pada papanya, tapi Yara tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.
Mendengar perkataan Yara, tanpa sadar setetes air hampir menetes dari mata Gibran, tapi hal itu juga semakin membuat Gibran tidak terima. Pria itu hendak menghantam Yara lagi dengan sebuah benda, tapi pergerakannya langsung terhenti kala Ezio berdiri di depan Yara yang sudah memejamkan mata dan siap untuk papanya hajar.
“Udah, Om. Saya mohon!”
Saat itu juga, Gibran terbelalak kaget. “Siapa kamu?”
Yara yang tadi menunduk, kini mendongak dan membuka mata lebar-lebar mendapati Ezio.
“Saya teman Yara, anak dari Arsel Gunawan.” Setelah perkataan itu, Gibran diam sesaat lalu mengangguk, ia memajukkan dagu.
“Saya pergi dulu.” Tak menunggu jawaban Ezio, Gibran pergi dari hadapannya. Ekspresi Gibran yang datar membuat Ezio tidak bisa menebak apa yang lelaki itu pikirkan. Seberpengaruh itukah nama papanya—Ezio—sampai Gibran bisa menghentikan emosinya pada Yara dengan sekejap?
Yara terlihat berantakan. Rambutnya awut-awutan usai dijambak oleh papanya. Matanya sayu setelah menangis.
Ezio mengulurkan tangannya agar Yara bangkit dari duduknya. Tetapi Yara lebih memilih untuk berdiri sendiri. Matanya ia alihkan ke arah lain, tidak ingin melihat Ezio. Ia malu, sangat malu menampakkan dirinya yang berantakan seperti ini.
“Lo gak papa?”
“Udah puas ‘kan lo nonton gue kayak gini? Lo pasti seneng, ‘kan?” Air mata Yara turun begitu saja meski dirinya tertawa hambar.
Ribuan pisau seolah telah menusuk jantung Ezio. Sakit saat mendengar itu, dan sakit melihat air mata Yara. Yara berlari dengan tangisannya keluar rumah. Ezio pun mengekor, takut terjadi apa-apa dengan cewek itu.
“Ra!” panggilnya.
Yara semakin berlari dan ia berhenti tepat di depan kolam renang sebelum mengambil nafas dan mengembuskannya. Ia berusaha memukul dadanya yang sesak karena tangisannya yang tak kunjung berhenti. “Ayo dong! Plis, Ra! Jangan nangis! Gue benci!” lirihnya tapi sudah tidak terisak
Hingga beberapa detik, Yara berhenti menangis. Ia mencelupkan kedua kakinya ke dasar kolam. Melihat itu, Ezio mendekat, takut-takur kalau Yara melakukan hal nekat. Nyatanya, Yara hanya mencelupkan kaki dan duduk di bibir kolam untuk menangkan diri.
Ezio merasa lega. Cowok itu ikut mendudukkan diri di sisi Yara, mencelupkan kakinya juga ke kolam yang rasanya dingin, tapi cukup menenangkan. Terjadi keheningan di antara keduanya.
“Maafin gue.” Hanya kalimat itu yang berhasil keluar dari bibirnya.
“Lo gak salah kok,” balas Yara.
“Lo ... sama Papa lo ...,” ucap Ezio hati-hati.
Mendengar itu, Yara hanya terkekeh. Ia menaggapi Ezio santai. “Kenapa? Lo baru tahu?”
Ezio diam sesaat mengamati wajah sendu itu.
“Dari dulu juga kayak gitu, dari kecil malah gue udah sering dipukulin kok, tenang aja, haha.”
“Kenapa lo gak pernah cerita? Kenapa lo pendem semuanya sendiri? Kenapa lo gak pernah bilang soal Mama lo, Ra?” tanya Ezio menghujani.
Yaa masih menatap ke arah kolam, tersenyum tipis. “Gue berusaha, tapi Sekar kayaknya lebih penting di hidup lo."
Crus! Rasanya seperti ada yang menusuk Ezio.
“Ra ....”
“Lo tahu gak, Zi? Meski Mama gue sering ngerasa sakit, dia diem, karena dia tahu pernikahannya sama papa itu cuma perjodohan karena dulu mama gue selalu maksa papa gue nikahin dia ketimbang cewek yang papa pilih,” jeda Yara sendu.
“Mama bilang ke gue, jangan pernah maksa orang lain buat cinta sama kita, itu cuma saling nyakitin, mereka bakal ninggalin kita demi orang yang dia cinta,” lanjutnya. “Bodohnya, gue lakuin itu.”
Jleb! Ezio langsug menoleh pada Yara, begitupun Yara yang menyambutnya dengan mata nanar.
Seluruh energi negatif kini berkumpul dalam tubuh Ezio menyatakan bahwa dirinya adalah cowok yang berengsek. Nyatanya Ezio hanyalah menorehkan trauma Yara selama ini dengan manjadikan Yara sebagai orang jahat dan pelakor seperti yang Gibran lakukan pada Yara.
“Gue cengeng ya? Gue lemah ya ...?” desisnya. “Lo tahu? Gue selalu nutupi itu semua sama kelakuan gue, supaya gak dikira lemah. Bodoh, gue nangis di depan lo berkali-kali.”
Sekian lama, ia mengira Yara hanyalah cewek jahat yang bersenang-senang dengan menindas orang lain, tanpa merasa menderita. Nyatanya, cewek itu hanyalah seekor kucing jalanan yang memelas kasih sayang, tapi malah ditendang.
Kini, Ezio tahu alasan kenapa cewek itu berwatak keras, karena telah terbiasa mendapat kekerasan dari papanya. Kini, Ezio tahu kenapa cewek itu selalu mengharapkan dirinya, karena ia tidak penah mendapatkan sosok lelaki yang menyayanginya seperti sosok ayah, bahkan tak ada seorang pun yang berperan di hidup Yara.
“Maafin gue, Ra. Gue salah. Lo boleh marah ke gua berapa ribu kali, maafin gue. Gue gak pernah tahu.”
“Gue udah maafin.”
“Mulai sekarang lo boleh kejar gue, apapun yang lo mau, gue turutin?”
“Sayangnya gue udah gak mau berharap ke lo lagi, Zi. Udah cukup gue sakitin gue sendiri dengan harapan gue." Yara menatap ke arah kolam. "Lebih baik lo tetep jahat sama gue, supaya gue gak berekspek sama lo lagi kayak dulu."
***