I Am Not Cruel Girl

I Am Not Cruel Girl
Anak Baru



Semua orang menatap Ezio dengan air muka ngeri. Bukan karena wajah tampannya yang ternodai oleh berbagai macam lebam, tapi karena ekspresi cowok itu.


Perspektif mereka ketika melihat wajah Ezio yang seperti ini berarti Ezio usai bertengkar dan suasana hati cowok itu pasti sedang tidak ingin dikacaukan lagi. Kali ini mereka minggir, tidak ingin membuat masalah dengannya.


Namun, semua itu di luar nalar. Ezio kali ini malah mendatangi Yara, memberikan muka melas. “Gue mau bicara.” Berkata dengan nada rendah.


Yara menoleh pada Ezio. Terkejut saat mendapati wajah penuh lebam itu, tapi sebisa mungkin ia menetralkan ekspresinya. “Gue gak mau.” Yara memandang sejenak mata Ezio sebelum beranjak pergi yang ditahan oleh Ezio.


“Ra, kali ini aja, kasih gue sempatan ngomong! Gue tahu selama ini gue salah!”


Mimik Yara hanya datar menanggapi itu. “Bagus. Kalo gitu lo harusnya lo tahu apa yang harus lo lakuin. Jauhin gue!”


“Gue cuma mau minta maaf!” ujar Ezio bermaksud menahan cewek itu, dan itu berhasil membuat Yara berhenti untuk pergi dari hadapannya. “Gue gak tahu kalo lo masuk rumah sakit gara-gara gue! Maafin gue! Gue nyesel, gue bodoh ... gue bakal lakuin apapun supaya lo maafin gue!"


"Telat, gue udah maafin lo sebelum lo minta maaf." Yara hanya menatapnya datar. Ezio tidak percaya dengan yang cewek itu katakan. "Tapi sekarang lo jauhin gue!" Cewek itu ingin pergi lagi, tapi Ezio menahannya lagi.


"Gue mau ngomong sesuatu, Ra." Yara kemudian menjauh, cewek itu benar-benar sedang muak dengan Ezio sekarang.


"Ra, lo boleh anggap gue apa aja, anggap gue berengsek karena foto itu, tapi gue gak pernah lakuin itu! Sumpah! Tapi izinin gue ngomong ke lo kali ini aja, Ra!”


Ezio melangkah mendekati Yara kembali karena jarak keduanya yang jauh. Ezio menatap nanar cewek itu. Tatapan datar yang Yara berikan sangat kontras dengan tatapan yang dulu seolah memuja Ezio, semua itu seolah hilang. Ezio ingin menggapai tangan Yara, menyentuhnya untuk yang terakhir sebelum ia benar-benar menjauh.


Akan tetapi tangan Ezio malah ditepis entah sengaja atau tidak. Bukan, bukan Yara yang menepisnya, melainkan tangan seorang cowok yang kini menggandeng tangan Yara dengan bangganya. Cowok yang sedang menjadi sorotan semua orang karena seragamnya yang berbeda. Ezio menaikkan bola mata dari tangan hingga wajah cowok yang sedang tersenyum padanya.


Yara yang merasakan kehadiaran seseorang di dekatnya menoleh ke atas, menjumpai wajah familiar tersenyum manis menyapa. “Hi, Seiyara!”


Tadinya Yara tergemap, tapi seketika wajahnya menjadi tersenyum berseri. “Eliot? Lo udah mulai masuk hari ini?”


Eliot tersenyum menyenangkan dan mengangguk. Ia kembali menoleh pada Ezio yang menatap Yara dan dirinya secara bergantian seolah tidak percaya.


“Dia yang namanya Ezio?” tanyanya pada Yara yang hanya mendapat anggukan. Eliot mengamati Ezio sengit dari atas sampai bawah kemudian tersenyum. “Gue Eliot.” Ia menyodorkan tangannya pada Ezio.


Ezio hanya menatap tangan itu. Ia mengalihkan matanya pada Yara yang membuang muka. Matanya semakin sendu seblum ia tersenyum hambar kemudian menyambut tangan Eliot. “Ezio.”


“Calon pacarnya Yara,” tambah Eliot umpung masih berjabat tangan dengan Ezio, membungkam mulut semua orang yang tadi ramai. Yara melebarkan matanya kaget, mengamati Eliot dari samping yang masih menampilkan senyum santai. “Jadi kalo ada yang lukain dia ... heq!” Eliot menaruh tangannya di leher memperagakan seperti ingin membunuh.


Eliot tertawa saat suasana menjadi serius. “Bercanda!” Tangannya kemudian menepuk bahu Ezio. Sedangkan yang ditepuk tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa atau mungkin tidak bisa terbaca, sibuk menatap Eliot tepat di matanya.


Ezio mengangguk untuk menunduk kemudian memundurkan langkah perlahan. Pergerakan itu tak luput dari netra Yara. Ezio tersenyum tipis padanya. “Gue pergi, Ra. Atas kemauan lo ... setelah ini gue gak akan ganggu lo lagi. Maaf udah lukain lo, makasih udah jadi pacar gue. Sekarang gue selesai.” Ezio terlihat meneteskan air matanya dengan senyum. Hal yang sangat langkah yang terjadi.


Hatinya kali ini terasa seperti diperas. Mungkin itu yang Yara rasakan selama ini. “Lo jagain dia ya!” ucapnya pada Eliot sebelum kemudian melangkah pergi yang tanpa sadar membuahkan berbagai macam pertanyaan di kepala Yara. Cowok itu tiba-tiba saja pergi saat cowok lain hadir, cowok itu seperti menyembunyikan sesuatu dengan kata-kata yang ingin ia sampaikan tapi tidak jadi karena kehadiran cowok lain.


Sama seperti Ezio, tak munafik nyatanya ada sesuatu yang hilang dalam diri Yara saat Ezio mengatakan kalimat perpisahan.


“Anterin gue ke ruang kepsek yuk!” ajak Eliot membuyarkan lamunan Yara. Lagi, Yara hanya mengangguk yang mendapat senyuman dari Eliot.


***


“Sekolah ini tuh emang tempatnya cowok-cowok ganteng! Kalo ada anak baru pasti ganteng kayak dia!” tunjuknya pada Eliot yang sedang melangkah bersama kepala sekolah.


“Wah! Saingan si Ganteng Ezio ini mah!”


“Ezio gak kalah ganteng, dia juga ganteng, semuanya ganteng! Gue suka semuaa!”


"Aih, Ezio masih lebih ganteng kali, nih ya Ezio itu ganteng banget tapi juga manis, dia cuma ganteng aja."


“Gue bayangin, gimana ya kalo gue diperebutkan sama mereka? Oh kedua manusia ber-damage!”


“Eh? Namanya Eliot ‘kan ya?” tanya cewek lainnya. Dengan berani, ia menyapa Eliot dengan namanya, tak peduli jika nanti tak digubris. Tak disangka Eliot membalas sapaan itu dengan senyuman yang menebar aura positif, membuat mereka histeris dan meleleh.


Eliot hanya tertawa melihat perilaku aneh mereka.


“Minggir! Minggir! Minggir!” Seorang cewek yang diikuti keempat dayanya membelah kerumununan orang-orang yang sedang mengagumi keindahan Eliot itu. Suara dari salah satu dayangnya menyuruh mereka untuk minggir, memberi jalan pada Genia untuk melihat di barisan paling depan.


Kelima cewek itu kini dapat menyaksikan apa yang sedari tadi membuat mereka penasaran hingga karena orang-orang berkerumun. Genia melihat cowok yang sedang berjalan dengan kepala sekolah. Cowok yang sangat familiar di matanya.


“Eliot?” gumam Genia dengan kening mengerut dan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Saat menatap sosok itu, jantungnya berdebar kencang bagai disambar petir mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


Matanya tak berhenti menatap Eliot. Hingga cowok itu menoleh ke arahnya, Genia masih tetap menatap seperti mengisyaratkan sesuatu. Berbeda dengan Eliot, cowok itu tak meliriknya sama sekali meski sempat menoleh. Menganggapnya seolah tak kenal.


Entah sengaja atau tidak.


Sampai Eliot pun berlalu dan melewatinya begitu saja, mata Genia masih tetap menatapnya. Tak menghiraukan Reana yang sedang mengajaknya bicara. Cowok itu hilang dari pandangannya. Ia memundurkan langkah perlahan lalu berlalu cepat, meninggalkan keempat cewek yang sedang melongo.


“Eh?! Queen?!” panggil Nalta. Keempat cewek itu kini berlari mengikuti Genia. Genia terus melangkah dengan tangan yang mengepal serta gigi yang menggertak.


Bruk! Genia memukul meja saat sampai di kelasnya yang sepi. Rasa kesal, marah, sedih, kecewa menggerogoti dirinya. Dadanya naik turun. Keempat cewek itu tersengal-sengal.


“Queen! Kenapa sihh! Jalannya cepet bangett!” celetuk Lamia yang terduduk di lantai diikuti Reana, Syefa, dan Nalta.


“Tinggalin gue sendirian!” perintah Genia.


“Tapi—“


“Gue bilang tinggalin gue!” Genia menatap keempat cewek itu tajam. Mengetahui mata elang yang siap melahap umpan itu, mau tak mau mereka berempat hanya bisa menurut meninggalkan Genia sendiri di kelas dengan mata yang mulai memanas.


***