
Atma Sekar seperti telah dihantam ribuan batu berapi, jantungnya seolah akan keluar dari tubuhnya kala ia mendengar Gibran mengatakan ‘Surat Obligasi’. Darahnya berdesir saat ia menyaksikan betapa kejamnya Gibran menyiksa anaknya sendiri seperti itu. Ia sibuk mengira-ngira pada dirinya sendiri apa yang akan terjadi jika Gibran tahu bukan Yara yang membuat surat obligasi itu basah serta menyembunyikannya, melainkan dirinya.
Sekujur tubuhnya panas dingin dengan rasa tremor yang menghadiri dirinya. Namun, ia berusaha diam saja agar tidak ada orang yang menaruh curiga padanya. Ia masih ingat beberapa minggu yang lalu ia memasuki ruangan kantor Gibran di rumah itu secara diam-diam untuk melihat sebetapa mewahnya ruangan itu. Saat itu ia berpura-pura membawa sebuah minuman agar tidak ada yang curiga padanya.
Matanya berbinar saat tahu ruangan itu sangat mewah. Ia juga ingat saat itu ia menggunakan hoodie hasil curiannya di kamar Yara beberapa bulan yang lalu agar orang yang melihatnya mengira itu Yara. Sekar tidak tahu kalau di ruangan itu ada cctv. Saking kagumnya, ia tidak sadar ada orang yang berlalu lalang. Saat suara teriakan nyonya Angel yang memanggil pembantu, ia terkaget dan tak sengaja menumpahkan minuman yang ia bawa ke atas meja terdapat surat penting.
Sekar melihat surat itu, surat obligasi yang tak tahu apa itu. Sekar melotot kaget, jantungnya seperti habis digempur ribuan palu. “Gimana ini?” paniknya saat itu. Karena terburu-buru, ia akhirnya memilih menyembunyikan surat obligasi yang basah itu di kamarnya agar tidak ada yang tahu.
Sudah ia keringkan tapi sayangnya kertas tersebut luntur tidak bisa terbaca. Hari ini ketika ia tahu Gibran menghajar Yara seperti itu, Sekar langsung mundur menuju kamarnya tanpa diketahui ibunya. Ia menutup pintu mencari-cari surat yang ia sembunyikan di laci takut-takut ada penggeledahan di seluruh kamar pembantu. “Mana ya?!”
Beberapa menit, akhirnya ia menemukan surat itu. Tubuhnya bergetar saat mendengar suara Yara yang sibuk dipukuli papanya. Dengan cepat dan licik, cewek itu secara diam-diam membawa surat itu menuju kamar Yara melewati tangga belakang. Tidak ada yang tahu karena semua orang di ruang tengah. Ia memandangi kanan kiri.
Terlihat aman, ia segera menaruh surat obligasi yang tak berbentuk itu di laci kamar Yara dan segera pergi dari situ. Sekujur tubunya masih merinding. Ia kemudian menuruni tangga dan segera kembali ke tempat ia tadi berdiri, kembali menyaksikan Yara yang berdebat dengan papanya.
“Kamu dari mana? Kok keringetan gitu?” tanya Bi Runi dengan suara kecilnya, menatap Sekar curiga. Sekar langsung terkaget dan menelan ludah.
“E—Endak! Ndak habis ngapa-ngapain!” jawab Sekar langsung.
***
“Tuan, su-suratnya ditemukan! A-ada di laci meja nona Yara!” Adyaksa dengan ragu-ragu mengangkat surat itu untuk diberikan pada Gibran. Sebenarnya Adyaksa tidak berharap surat itu ditemukan di kamar Yara mengetahui betapa kerasnya seorang Gibran yang menghajar anak malang itu gara-gara satu surat. Di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya hanya untuk melindungi Yara.
Yara mendelik tidak percaya. Lututnya terasa lemas untuk berdiri. Ia ambruk di lantai dengan jantung yang berdebar kencang. Habis sudah dia di tangan papanya hari ini. Matanya mengeluarkan air mata. Seluruh orang yang menyaksikan itu hanya bisa menatap ngeri pada Gibran yang amarahnya di puncak setelah melihat kondisi surat yang sudah lecek. Ia akan kehilangan saham yang telah ia investasikan ke perusahaan lain karena surat itu.
Ia menatap Yara dengan mata merah dan tangan yang terkepal. Ia menyahut surat itu dari tangan Adyaksa lalu melemparnya secara kasar pada Yara.
“Bu-bukan a-aku, Pa ....” Air mata cewek itu luruh di pipinya dengan suaranya yang bergetar. “Su-sumpah ... Pa ....” Ia masih berharap Gibran percaya padanya.
Tanpa menunggu apapun, Gibran langsung melayangkan tamparannya yang entah sudah kebarapa kali. Bedanya kali ini lebih keras hingga Yara terpental. “ANAK KURANG AJAR! TIDAK TAHU DIUNTUNG! ANAK PEMBANGKANG! PEMBOHONG!”
“Keluar kalian semua!” Semua orang menuruti perintah majikannya untuk keluar dari kamar Yara menyisakan hanya Gibran dan Yara. Gibran langsung saja mengambil hanger dan memukuli anak tidak bersalah itu berkali-kali.
“A-aku ga-gak tahu, Pa! Aku gak tahu! Aku gak ambil suratnya! Papa percaya dong sama aku!” ucap Yara keras di tengah isak tangisnya. Ia berusaha memberontak. Gibran yang semakin terbakar amarah, akhirnya menggeret putri kandungnya itu secara kasar entah kemana. Layaknya menggeret seekor binatang.
Semua orang hanya bisa menunduk, menahan ringisan seolah merasakan mereka di posisi Yara. Langkah Gibran berhenti di kamar mandi tamu di lantai atas. Ia menghempas tubuh Yara ke sana lalu tanpa kasihan menyirami anaknya dengan gayung berisi air dengan tak terhitung tak lupa memukulkan gayung itu pada tubuh Yara yang memohon ampun.
Dari bawah, seorang wania paruh baya yang baru pulang dari kantor merasa aneh mendapati suasana tegang di rumah ini saat terdapat pembantu dan orang suruhan Gibran berkumpul di ruang tengah. Samar-samar ia mendengar suara tangisan Yara. Tanpa bertanya pada siapapun, ia segera berlari ke atas ke arah kamar mandi.
“Ya ampun! Yara!” pekik Angel, melototkan mata melihat kondisi Yara saat ini, ia segera menghalangi Gibran untuk bertindak kekerasan lagi. “Cukup, Mas! Mas! Sadar dia anak kamu!” Ia menarik tangan Gibran yang masih penuh amarah.
“Justru dia anak aku, kamu gak perlu ikut-ikut! Aku harus didik dia supaya gak jadi anak pembangkang!” katanya masih sambil menyiram Yara dengan air.
“Kamu berlebihan, Mas! Kamu udah lakuin kekerasan sama Yara!”
“Oh ya? Kamu sendiri?! Kamu gak pernah didik dia dengan baik sebagai ibu sambung sampek dia jadi anak pembohong dan pencuri kayak gitu!” Ucapan itu terasa sesak di dada Angel. Iya, ia sadar ia terlalu sibuk mengurusi perusahaan sampai tidak sempat mengurus Yara.
“Yara bukan pencuri, Mas!”
“Kamu gak tahu apa yang dia lakuin sampai saham perusahaan hilang dua ratus miliar?!”
“Aku tahu aku bukan ibu sambung yang baik! Aku tahu saham perusahaan hilang! Tapi uang bisa dikembalikan, enggak dengan Yara!” tegasnya dengan nafas tersengal. Gibran langsung membanting gayung yang ada di tangannya begitu saja kemudian meninggalkan mereka berdua di kamar mandi dengan perasaan kesal.
Angel langsung memeluk Yara yang masih terisak memeluk lututnya dengan tubuhnya yang basah. Air mata Angel mengalir begitu saja mendapati kondisi Yara yang memprihatinkan. “Ya ampun, Yara, sayanggg!” Ia mengelus-elus pundak dan rambut gadis itu, tidak memedulikan seragam kantor mahal yang masih ia pakai kini basah karena memeluk gadis itu. “Maafin mama Angel yang sibuk ya!”
Yara hanya memeluk lututnya dengan tubuhnya yang bergetar dan kedinginan, tidak ada minatan membalas pelukan ibu tirinya itu. Perasaannya sudah hancur, hancur ketika tahu di dunia ini tidak ada orang yang percaya padanya.
Semua orang hanya percaya bahwa dirinya buruk.
***
A/N
I hope sekarang kalian ngerti 'kan kenapa anak remaja seperti Yara berwatak keras? Yup guys, watak seseorang itu menurutku tergantung sama lingkungan. Karna lingkungan dia keras, jadinya dia keras😭
Yang dari dulu teamnya Sekar, mau bilang apa ke Sekar?