
...Happy Reading...
..._________________...
Arwen mengedarkan pandangannya ke bawah menatap jalanan di depan kos yang lumayan lengang. Pemandangan dari atas memang indah dan sangat luas, bahkan mereka sering nongkrong di sini kalau cuaca sedang sejuk. Terutama saat malam hari, banyak anak kos cowok yang nongkrong sambil bermain gitar.
Saat Arwen sedang asyik melamun, dia melihat seorang pengendara motor yang tiba-tiba berhenti di depan pagar kos-kosan. Arwen menyipitkan matanya dan langsung merasa familiar ketika melihat postur tubuh terbalut jaket hoodie putih yang terlihat tidak asing. Kak Juna!
Bukannya janjiannya masih besok ya? Pikir Arwen.
"Eh gue ke bawah sebentar ya," teriak Arwen pada Mark dan Hafiz. Gadis itu langsung menuruni tangga dengan cepat. Ya, bunga di hatinya kembali bermekaran saat melihat sosok tampan yang kembali memenuhi pikirannya akhir-akhir. Arwen ingat kalau Juna ada janji dengan Regan, tapi tidak ada salahnya bertemu sebentar.
"Arwen, Arwen!"
Arwen yang sedang menuruni tangga menuju lantai satu menoleh dan melihat Lira yang berada di ujung tangga atas berlari-lari sambil membawa kotak yang entah isinya apa.
"Kenapa kak? Buru-buru kayaknya, mau pergi ya?" tanya Arwen yang melihat Lira berdandan rapi dan membawa tas. Lira sampai di tempat Arwen dengan nafas tersengal-sengal, gadis berponi itu langsung menyodorkan kotak yang dibawanya pada Arwen.
"Arwen, minta tolong ya kasihin ke Banu di kolam. Gue buru-buru banget udah telat ada acara. Makasih banget ya cantik!" ujar Lira sambil mengecup pipi Arwen dan langsung berlari tanpa menunggu jawaban dari Arwen. Cewek itu masih bengong, lalu melongok kotak yang berisi batu kerikil warna-warni dan juga hiasan batu karang yang biasanya ada di akuarium.
Arwen hanya mengangkat bahunya pelan sambil mendesah, ia lalu berjalan menuju halaman belakang yang terdengar ramai sekali. Arwen pasrah dan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Juna hari ini.
"Kak ini batu hiasannya," ucap Arwen sambil meletakkan kotak di pinggir kolam. Tora yang sedang berdiri di pinggir kolam tersenyum.
"Kok Arwen yang nganterin. Si Lira mana?"
"Tadi sih bilangnya mau pergi ada acara, buru-buru sih kayaknya. Trus dia nitipin ini ke Arwen."
"Kebiasaan banget tuh anak kalau pergi nggak pamit-pamit!" tukas Banu kesal.
"Emang lu siapanya sih Ban? Kakak bukan, pacar bukan, sodara bukan," celetuk Sulis.
"Kan gue temen Bang, udah dari orok malahan."
"Ya tapi nggak usah melebihi pacar posesifnya. Gue bilangin Mira lu," timpal Tora. Mendengar itu Banu hanya meringis dan segera kembali membersihkan kolam ikan yang bocor.
Arwen hanya senyum-senyum melihat tingkah laku mereka sambil melihat ikan-ikan kecil yang masih dibungkus plastik di dalam ember.
"Emang kolamnya kemarin nggak di pakai kak?" tanyanya.
"Nggak Wen, bocor soalnya. Makanya ini mau dibenerin," jawab Sulis sambil mencabuti lumut kering di pinggir kolam.
"Arwen nggak balik ke rumah?"
Arwen menoleh pada Tora yang kini ikut berjongkok di dekatnya.
"Besok kak. Ini semuanya pada nggak balik juga?"
"Yang nggak pulang semua rata-rata perantauan jauh Wen. Nggak mungkin dong gue balik tiap minggu ke Semarang."
"Iya juga ya. Kecuali ada pintu Doraemon hehe.."
Tora langsung menggeleng-gelengan kepalanya. "Bang sulis, gila lo, masa iya mau lo kasih ikan aduan di kolam. Yang ada mati semua ni ikan," seru Tora setelah memeriksa dan menemukan ada lima ikan aduan yang ikut dibeli.
"Itu titipannya si Jefri. Katanya mau dipiara di kamarnya," sahut Sulis. Arwen yang mendengar nama Jefri langsung teringat kalau seharian ini dia sama sekali belum melihat cowok itu.
"Trus yang di kolam ikannya ini doang Koi tujuh ekor?"
"Harganya mahal Tor, kalo ada yang nyumbang mah gue beliin arwana," Sulis menyahut ketus yang langsung disambut cengiran dari Tora.
Tiga cowok itu masih meributkan soal ikan-ikan yang akan dipelihara di kolam. Arwen kemudian menghampiri Tania dan Jihan yang sedangĀ membersihkan taman belakang, sambil menanyakan apa ada yang bisa dibantu. Tapi dua cewek itu malah menyuruhnya pergi karena sudah hampir selesai. Arwen akhirnya memutuskan untuk kembali ke atap.
"Arwen, mau ke ataskan?"
Arwen yang saat itu sudah mau menaiki tangga kembali menoleh dan melihat Tora yang datang sambil menyodorkan kotak yang sebelumnya berisi batu hiasan. Cewek itu lalu mengerutkan dahinya.
"Kenapa kak, itukan kotak yang tadi."
"Iya. Isinya udah kakak pindah ke ember. Nih tolong kasih ikannya Jefri ya, sekalian kan kamu lewat depan kamarnya." Tora menyodorkan kotak yang berisi lima ikan aduan di dalamnya pada Arwen.
Gadis itu bengong sesaat, lalu menggelengkan kepalanya dengan keras. " Ah, Nggak kak. Kak Tora aja yang ngasih, " sahutnya sambil menyodorkan kembali kotaknya. Tapi Tora langsung mundur.
"Kenapa sih, orang sekalian lewat."
"Udahlah kak Tora aja. Orangnya lagi galak soalnya."
"Tenang aja, nggak bakalan di makan. Jefri mah lemah lembut orangnya."
"Pokoknya kakak aja!"
"Nggak!"
"Kak pliss!"
"Nggak!"
Dan hasilnya dua orang itu malah saling lempar-lemparan kardus. Sebenarnya Arwen bukannya tidak mau mengantar, tapi setelah kejadian dua hari yang lalu di mall sikap Jefri mendadak berubah, bahkan pada Arwen. Jefri itu tipe orang yang santai dan sangat jahil. Tapi sudah dua hari ini bahkan Jefri tidak menyapanya sama sekali meski mereka berpapasan. Sikapnya berubah cuek dan itu membuat Arwen merasa tidak enak.
Dan sekarang gadis itu kini berdiri di depan pintu kamar Jefri dengan wajah pucat karena lelah habis berdebat dengan Tora. Arwen ragu sesaat, dia mengatur nafasnya pelan dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Jefri yang ternyata selama ini bersebelahan dengan kamarnya. Dan Arwen baru tau itu.
Tok, tok, tok!
Selama beberapa saat tidak ada sahutan apapun dari dalam. Arwen sedikit ragu, mungkin Jefri tidak ada di Kos karena sejak tadi pagi bahkan kemarin sore Arwen tidak bertemu sama sekali dengannya. Arwen hampir mengetuk pintu sekali lagi, tapi suara kenop pintu yang terbuka membuat cewek itu terlonjak dan langsung menarik tangannya.
Bau harum khas cowok menyeruak ke dalam hidung Arwen saat pintu kamar Jefri terbuka lebar. Cowok itu menatap Arwen yang mematung di depannya dengan raut wajah kusut. Selama beberapa detik keduanya hanya saling menatap, sampai akhirnya Jefri melemparkan senyum manis yang membuat hati Arwen merasa lega.
"Hai kak Jefri..."
Arwen berbasa-basi sesaat. Rasanya canggung padahal tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka. Namun kejadian kemarin membuat Arwen mengerti bahwa cowok ini juga tidak terlihat baik-baik saja.
To be continued...