
...Happy Reading...
..._________________...
Arwen menenggak air putih yang baru saja dibeli Juna di depan Mini Market terdekat. Keduanya kini sedang duduk di halte bus yang ada di seberangnya. Juna sendiri masih terdiam sambil menatap gadis di sampingnya itu dengan ekspresi wajah khawatir dan penuh tanya. Tapi dia membiarkan Arwen memulihkan rasa kagetnya tanpa bertanya apapun.
"Makasih banyak ya kak," ucap Arwen akhirnya sambil melirik sesaat pada Juna.
Juna hanya mengangguk. "Kamu kenapa bisa sampai kayak gitu?"
Arwen hanya terdiam sambil menatap ke arah jalanan yang telrugat padat sejak tadi. Ia lalu menggeleng pelan.
"Nggak kak, lagi ada problem aja di sekolah."
"Kenapa? Kamu bisa cerita Wen kalau lagi ada masalah."
"Iya kak aku tau, tapi ruang lingkupnya udah beda. Jadi yang ini biar aku selesein sendiri sama temen-temen aku ya," ujar Arwen sambil tersenyum.
Juna menghela nafasnya sesaat. "Oke... Tapi inget jangan kayak gitu lagi, bikin orang jantungan nggak sih?" sahutnya dengan nada kesal. Arwen yang melihat itu mau tidak mau hanya bisa tertawa.
"Iya kak, aku juga kapok kali. Tapi kok kakak bisa liat aku, emang dari mana?"
"Kakak emang mau ke kos-an, ada janji sama Regan. Trus nggak sengaja kakak liat kamu. Kakak panggil-panggil tapi kamu nggak nengok."
Arwen mengangguk-anggukan kepalanya. "Untung aja kamu lewat kak, kalau nggak.."
"Mau ngomong apaan dah, nggak usah aneh-aneh," sahut Juna sambil menoyor kepala Arwen dengan wajah marah.
"Kok sekarang kasar sih!"
"Makanya jangan ngeselin. Yaudah yuk ke kos-an, udah sore nih," ujar Juna seraya bangkit dari duduknya. Arwen masih bergeming sambil menatap Juna yang sudah mulai beranjak menuju motornya.
"kakak jadian ya, sama kak Lira?"
Pertanyaan Arwen yang tiba-tiba membuat Juna tampak membeku sesaat dan langsung menghentikan langkahnya. Cowok itu tampak menelan ludah dengan ekspresi wajah diam, jelas Juna tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Ia masih berdiri tanpa menoleh ke arah Arwen yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"Kakak nggak perlu jagain perasaan aku lagi kak."
Mendengar itu Juna perlahan membalikkan badannya. Dia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan tidak mengerti.
"Aku denger obrolan kakak sama kak Taki waktu di rumah. Seharusnya aku nggak maksain perasaanku waktu itu dan malah terlalu bergantung sama kamu kak. Kakak pasti risih ya?"
"Ngomong apaan sih? Kamu tu udah kayak.."
"Adek?" potong Arwen. Juna menatap sesaat sampai akhirnya langsung menundukkan wajahnya.
"Sorry, Wen."
"Kenapa kakak yang minta maaf ? Seharusnya itu aku. Kenapa kakak takut aku sakit dan nggak mikirin perasaan kakak sendiri? Aku malah nggak pernah berpikir kalau ternyata kakak tau perasaanku dan aku justru terlalu egois minta Kak Juna buat terus tinggal tanpa mikirin perasaan kakak."
"Karena aku juga sayang banget sama kamu Wen. Kamu bener-bener udah kayak adik buat kakak. Kakak bener-bener nggak tau harus gimana waktu tau kalau kamu suka sama kakak. Sampai akhirnya aku mutusin buat ikut bokap ke Kalimantan sementara waktu."
Juna menggeleng." Nggak Wen. Itu aku sendiri yang mutusin. Kakak punya alasan lain kenapa kakak pergi waktu itu."
"Kakak mau cerita? "
Juna tersenyum. "Mungkin lain kali Wen, kamu akan tau sendiri kok."
Arwen tampak tersenyum samar. Seharusnya Arwen merasa kecewa mendengar alasan dan perkataan Juna. Tapi entah kenapa rasanya malah lega, seolah perasaan mengganjal yang ia tumpuk selama dua tahun ini terhapus seketika.
"Makasih ya kak. Kamu ngasih waktu buat aku lupain semuanya," ujar Arwen sambil menghela nafasnya. "Hmm...jadi gini ya rasanya ditolak hahaha... " lanjut Arwen sambil tertawa.
"Kakak emang bodoh Wen, tapi kamu pantes dapat yang jauh lebih baik dari kakak," tukas Juna sambil tersenyum. Jelas sekali dari raut wajahnya, cowok itu juga merasa lega.
"Tapi Wen, kok cepet banget berpalingnya? Kayaknya kamu masih naksir kakak deh waktu itu," tukasnya sambil meletakkan dua jari tangannya di bawah dagu.
Arwen mendelik dan langsung memukul lengan Juna. "Dih kapan? Jangan kepedean deh, sekarang kakak itu levelnya sama dengan kak Taki."
"Ngaku aja, benerkan? Sekarang ada Jefri aja jadinya kamu pindah haluan."
Mendengar itu Arwen langsung melotot. "Dih ngapain sih bawa-bawa itu orang, nggak penting."
"Dihh.. Lagi marahan ya?" goda Juna.
"Nggak! Ngapain aku marahan sama dia?"
"Kalo nggak, ngapain sewot?"
"Ck.. Yaudah sih nggak usah dibahas. Melenceng dari pembicaraan tau," Sahut Arwen dengan ketus. Juna hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Arwen dengan gemas, yang membuat gadis itu semakin menekuk wajahnya karena kesal.
"Iya, iya yaudah. Tapi kakak cuma mau kasih tau, dia cowok baik Wen."
Arwen mendengar itu dengan wajah yang masih ditekuk. Dia tidak pernah menyangkal kalau Jefri itu adalah cowok yang baik. Tapi kali ini Arwen hanya memilih terdiam, dia tidak mau terlalu percaya diri. Karena gadis itu ragu apakah kali ini perasaannya bisa berlabuh, atau akan kembali bertepuk sebelah tangan.
"Yaudah buruan!" teriak Juna yang sudah siap di atas motornya. Arwen menggerakkan dirinya dengan malas, tapi mau tak mau langsung menerima helm yang disodorkan Juna.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, kak?" Tanya Arwen lagi. Juna tampak mengerutkan keningnya.
"Yang mana?"
"Soal kak Lira?"
Juna Lagi-lagi menghela nafasnya kasar. "Nanti kamu juga tau sendiri Wen. Dan kamu nanti juga akan paham kalau keputusan kamu itu tepat."
Karena gue bukan cowok yang baik Wen, batin Juna.
Oke. Arwen benar-benar tidak paham sama sekali dengan bahasa Juna yang terdengar seperti sedang ber-pribahasa. Namun gadis itu hanya terdiam, karena Juna sepertinya belum siap menceritakan semuanya. Biarkan saja waktu yang akan membuka semua cerita itu padanya nanti.
To be continued...