Housemates

Housemates
17. Ajakan Prom



...Happy Reading...


..._________________...


Arwen mengamati madding sekolah di depannya yang penuh dengan pengumuman, puisi, karikatur dan juga karya para siswa lainnya. Dia baru ingat kalau acara Prom akan diadakan satu minggu lagi jika tidak melihat pengumuman itu.


Walaupun sebenarnya dia sudah mendapat banyak ajakan dari cowok-cowok, tapi Arwen sama sekali tak menggubris karena sibuk memikirkan masalahnya sendiri. Ditambah sekarang dia bukan lagi anggota osis, jadi Arwen tidak bisa ikut sibuk menjadi panitia acara seperti tahun lalu.


Dan sekarang Arwen hanya bisa mendesah karena belum mendapat pasangan, sayang sekali tidak bisa mengajak orang dari luar sekolah. Kalau bisa, Arwen berniat ingin mengajak Jefri untuk menemaninya.


"Kak Jefri? Kenapa coba aku kepikiran ngajak dia?" ujarnya pada diri sendiri sambil tertawa.


"Wen, belom balik?"


Arwen menoleh dan melihat Hafiz yang berdiri di belakangnya lengkap dengan seragam basket. Dia ikut-ikutan melihat ke arah madding sambil tangannya memainkan bola basket.


"Gue nunggu kak Jefri."


"Ohh.. Pacar."


Arwen menoleh sewot. "Ngomong apa lo barusan?"


"Siapa yang ngomong, orang gue batuk," sahut Hafiz pura-pura.


"Lo akhir- akhir ini rajin banget latihan, emang mau ada lomba?" tanya Arwen.


Hafiz langsung mengangguk." Bentar lagi turnamen Nasional Wen, dukung tim kita ya, biar bisa juara."


Arwen tertawa hambar." Ya jelas gue dukunglah, masa gue dukung sekolah lain."


"Ya siapa tau ntar lo malah dukung Mark sama Latif."


"Emang mereka ikut?"


"Pastilah, kita udah lama jadi rival," jawab Hafiz yang membuat Arwen manggut-manggut.


"Lo pergi sama siapa ntar?" tanya Hafiz tiba-tiba sambil menunjuk pengumuman di madding. Tapi Arwen hanya menggeleng.


"Lo sendiri?"


"Lo tau Mikha nggak, anak kelas 1B?"


"Yang lagi populer itu? Gila juga selera lo."


"Haruslah, guekan Pangeran, nah dia putrinya," ujarnya dengan percaya diri.


"Emang dia mau sama lo? Cewek cakep kayak dia pasti banyak yang ngembat kali."


"Hei.. Lo jangan pernah ngremehin gue. Nggak ada yang bisa nolak ketampanan seorang Hafiz."


"Siapa yang bilang gitu?"


"Gue sendiri hahahaha...,"


"Dihh.. Najis!" seru Arwen sambil mengelus perutnya karena mual. Tapi akhirnya mereka malah ketawa - ketawa sendiri, terutama Hafiz yang lama-lama jijik sendiri dengan kenarsisannya.


Arwen masih tertawa terbahak-bahak saat menoleh pada suara seseorang yang baru menyapa. Jinu tampak berdiri dengan canggung. Cowok itu menatap Arwen dan Hafiz secara bergantian. Arwen dan Hafiz langsung berhenti tertawa.


"Apa kabar, Wen?" tanya Jinu lagi.


"Baik Nu, lo gimana? Osis lagi sibuk ya, kayaknya akhir-akhir ini sering balik telat?" tanya Arwen.


Rasanya sudah cukup lama mereka tidak saling mengobrol, bahkan sejak Arwen sudah tidak menjabat menjadi wakil osis lagi bisa dikatakan mereka jarang bertemu. Dan sekarang keduanya bertemu dengan perasaan canggung dan terlihat seperti orang baru lagi.


"Iya Wen, Prom sebentar lagi soalnya, banyak yang harus dikerjain. Kok lo belom balik?" tanyanya lalu melirik sebentar ke arah Hafiz yang sejak tadi masih berdiri di tempat. "Nungguin Hafiz?"


Arwen langsung menggeleng. "Nggak kok, gue lagi nunggu jemputan, Nu."


Jinu terlihat mengangguk. "Kalian akhir-akhir ini kayaknya sering bareng ya, gue baru tau kalau kalian saling kenal."


"Kebetulan kita satu kos-an bang," sahut Hafiz yang membuat Jinu langsung mengerutkan dahinya dengan wajah bingung.


"Satu kos?"


"Iya Nu, kebetulan tempat kos kita sama. Makanya gue sering bareng dia, kan searah," jelas Arwen yang membuat Jinu akhirnya menggangguk tanda mengerti.


Suasana tiba-tiba menjadi hening sesaat. Hafiz sendiri malah sibuk bersiul-siul sambil melirik-lirik ke arah Jinu dan Arwen secara bergantian. Dia sadar sebenarnya saat itu dia menjadi obat nyamuk di antara mereka berdua, tapi entah kenapa Hafiz malah enggan pergi dan ingin tau tujuan Jinu menghampiri Arwen. Hafiz bisa melihat si ketua osis yang sejak tadi ingin mengatakan sesuatu pada Arwen.


"Wen, lo udah ada pasangan buat ke Prom?" tanya Jinu akhirnya. Pernyataan yang sebenarnya sudah ditebak oleh Hafiz sejak tadi. Arwen sendiri masih belum tau, dia masih bingung karena memang belum mendapat pasangan. Dan sepertinya pergi dengan Jinu juga bukan hal yang buruk, Lagipula mereka sudah lama tidak mengobrol seperti dulu lagi.


Arwen hampir membuka mulutnya untuk menerima ajakan dari Jinu, tapi Hafiz tiba-tiba langsung mendahului dan mengatakan sesuatu yang membuat Arwen melongo.


"Dia pergi sama gue, Bang."


Jelas Arwen langsung melotot ke arah cowok bermata sipit itu, tapi Hafiz malah terlihat cuek. Mendengar itu Jinu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Dia tidak langsung menanggapi perkataan Hafiz, Jinu berusaha untuk terlihat biasa aja.


"Bener Wen lo pergi sama Hafiz?"


Arwen jelas merasa tidak enak dan ingin rasanya menjambak-jambak rambut Hafiz saat itu juga. Tapi akhirnya gadis itu hanya tersenyum canggung sambil mengangguk.


"Sorry ya Nu, gue udah janji duluan sama Hafiz."


Jinu mencoba tersenyum. "Its okay kok Wen, santai aja. Mungkin guenya yang telat. Yaudah kalo gitu gue cabut duluan ya?" ujarnya seraya melambaikan tangannya dengan gerakan malas. Cowok itu lalu pergi dengan langkah cepat meninggalkan dua orang yang masih berdiri canggung di depan madding.


"Lo apaan si Fiz, sejak kapan kita pergi ke prom bareng?" sergah Arwen pada Hafiz setelah Jinu pergi.


"Lah kan sejak barusan, lo budek apa gimana?"


"Bukannya baru aja lo bilang mau pergi sama Mikha, lo jangan mainin anak orang dong. Lagian emang kenapa kalau gue mau pergi sama Jinu?"


"Gue bohong kali soal Mikha, orang gue ditolak." Hafiz tertunduk lesu."Lagian kayaknya Bang Jefri juga lebih suka kalau lo pergi sama gue daripada sama cowok lain."


"Hah? Maksudnya gimana?"


Tapi cowok itu hanya tersenyum nakal dan berlari menuju lapangan tanpa menghiraukan pertanyaan dari Arwen.


To be continued..