Housemates

Housemates
33. Sulit



Ujian kelulusan sudah berlangsung selama hampir lima hari. Arwen dan para siswa lainnya sibuk belajar dan mempersiapkan diri agar bisa lulus dengan nilai yang setidaknya memuaskan. Bahkan Latif dan Mark yang satu angkatan dengan Arwen mendadak rajin dan sering terlihat belajar, walaupun belajarnya hanya sepuluh menit sisanya digunakan untuk tidur.


Hubungan Arwen dengan Jefri sudah mulai membaik kembali meskipun belum ada kejelasan tentang status keduanya. Jefri tidak ingin terlalu mendesak Arwen dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja.


Jefri hampir setiap hari mengantar dan menjemput Arwen ke sekolah. Ia juga kadang menemani gadis itu belajar jika sedang senggang. Tak lupa ia juga selalu mengirim pesan semangat yang tentu membuat hari Arwen semakin berbunga-bunga.


Saat ini Arwen sedang janjian dengan Taki di sebuah pusat perbelanjaan di dekat kos-kosan. Hari ini adalah hari terakhir Arwen melaksanakan ujian, jadi beban yang ia pikul selama lima hari ini perlahan mulai menghilang. Meskipun begitu ia masih harus menyiapkan hati untuk hasilnya nanti.


Saat itu Arwen sedang melihat-lihat aksesoris di sebuah toko di dalam Mall. Namun ia langsung keluar saat melihat si mbak-mbak penjaga terus mengekori seolah dirinya akan mengutil.


Arwen lalu memutuskan menunggu Taki di food court sambil memesan beberapa camilan. Tidak biasanya kakaknya itu datang terlambat, karena Taki itu adalah sosok paling disiplin yang pernah Arwen temui.


Sekitar 10 menit, akhirnya sosok yang ditunggu datang juga. Taki tersenyum manis melihat adiknya itu memasang bibir manyun.


"Udah dari tadi?"


"Nggak lihat udah hampir lumutan ini," sahut Arwen sewot.


"Uluh-uluh ngambek. Maaf deh, abang soalnya habis dari rumah, kan lumayan jauh."


"Jadi kemarin-kemarin abang pulang ke rumah?"


"Ya iyalah...emang kemana lagi? Habisnya kamu diemin abang terus, kan mending pulang daripada dijudesin."


Arwen kembali melengos sambil menyeruput Ice Bubble yang sudah nyaris habis. Ia menyodorkan Ice Bubble rasa Taro kesukaan kakaknya.


"Thanks," sahut Taki sambil tersenyum. Taki lalu duduk di samping adiknya, melirik secara diam-diam. Setelah peristiwa mengejutkan yang terjadi di kosan hari itu, baru hari ini Arwen mau bertemu dengan Taki lagi.


Arwen kecewa, karena selama ini kakaknya tahu hubungan antara Juna dan Mira yang sebenarnya. Tapi ia juga tak mengatakan apa-apa. Taki menutupi hubungan mereka berdua agar sang adik tidak merasa kecewa dan sakit hati. Namun pada akhirnya, perasaan kecewa itu tetap datang pada waktu yang berbeda.


"Lo masih marah?" tanya Taki. Tentu saja, ada guratan rasa bersalah yang terbaca jelas dari wajah Taki. Ia melirik adiknya terus menerus. Sedangkan Arwen masih duduk termenung tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya.


"Gue nggak marah. Gue cuma kecewa."


"Sorry, Wen. Gue pikir keputusan yang gue ambil waktu itu udah tepat. Tapi kenyataannya gue salah."


Taki menunduk sambil menghela nafas. Menatap minuman rasa Taro kesukaannya yang tumben sekali belum ia cicipi.


"Apa karena ini juga yang bikin hubungan kalian bertiga tiba-tiba nggak bagus?" tanya Arwen.


Taki mengangguk. "Gue yang saat itu tahu hubungan mereka untuk pertama kali merasa dibohongi dan kecewa. Kalau gue sendiri bisa sekecewa itu, lalu gimana sama perasaan lo? Itu yang gue pikirin waktu itu." Taki lalu tertawa lirih, terdengar miris. "Padahal gue hampir menitipkan adik kesayangan gue satu-satunya."


Arwen menoleh, menatap kakaknya. Arwen tahu, Taki sangat menyayanginya. Mungkin jika saat itu posisinya yang dibalik, ia juga akan melakukan hal yang sama untuk melindungi Taki.


"Lalu apa waktu itu lo juga yang nyuruh kak Juna pergi?"


"Nggak. Gue memang nyuruh dia menjauh, tapi dia memilih pergi sendiri. Hubungan mereka berdua juga tiba-tiba berakhir, itu yang gue dengar. Mungkin karena merasa bersalah. Gue hanya minta mereka untuk nggak membahas hubungan mereka berdua dimasa lalu ketika kalian ketemu lagi. Tapi kenyataannya nggak semudah itu untuk ditutupi dan dihapus. Gue tau lo nggak akan nyerah kalau nggak mendapat jawaban atas kepergian Juna hari itu. Dan pada akhirnya semua akan terbongkar."


Arwen merenung. Semua pertanyaan selama dua tahun itu terjawab sepenuhnya. Secara gamblang dan sedikit menyakitkan. Tapi sekarang Arwen lega, karena ia tidak perlu menunggu sesuatu yang tidak pasti.


Lagipula tampaknya Juna dan Mira memang ditakdirkan berjodoh. Mereka tetap bersatu meskipun terpisah sama seperti Juna dan Arwen. Bahkan meskipun Juna menjalin hubungan dengan Lira saat itu. Pada akhirnya Juna juga akan kembali pada Mira. Hanya saja cara yang mereka gunakan cukup kejam. Menyakiti dan memanfaatkan orang lain yang seharusnya tidak perlu masuk ke dalam hubungan keduanya.


Arwen menatap Taki. Menggenggam tangannya tiba-tiba yang membuat Taki segera mendongak.


"Makasih ya, Bang. Lo selalu ada buat gue."


Taki membalas genggaman tangan Arwen. Menatap wajah cantik yang kembali tersenyum lagi setelah beberapa hari terus mendung karena perasaan sedih.


"Kalau bukan gue yang ada di sisi lo, emang siapa lagi? Nasib gue sama lo itu nggak jauh beda. Meskipun kita pasangan kakak adik yang katanya sempurna, tapi kenyataannya kisah percintaan kita selalu mengenaskan. Pada akhirnya kita berdua juga sama-sama jomblo!"


Mendengar itu Arwen langsung menghempaskan tangan kakaknya.


"Bang, jangan-jangan selama ini lo ngasih kutukan ke gue ya?"


"Heh... Kutukan apaan sih?" seru Taki yang kaget dengan pertanyaan random Arwen.


"Iya. Lo itukan nggak pernah berhasil punya pacar. Dan karena kegagalan lo itu makanya lo ngasih kutukan ke gue biar bernasib sama kayak lo, gitu kan?"


"Dih... Gue nggak perlu ngasih kutukan emang pada dasarnya nggak ada yang mau sama lo. Buktinya Juna aja pilih Mira!"


"Bang Taki!"


"Apa? Ngajak ribut?!"


"Emangnya cowok cuma Juna doang?"


"Trus siapa? Jefri? Bukannya dia balikan sama mantan pacar temennya?!"


Mendengar itu Arwen melotot. Matanya nyaris keluar karena kesal dan mendongkol akibat ucapan kejam kakaknya. Taki sendiri langsung tertawa keras saat melihat wajah Arwen yang merah padam dan hampir meledak. Ia memilih kabur sebelum Arwen benar-benar akan melempar sendal ke wajahnya. Yah, pada akhirnya mereka berdua memang jarang sekali akur.


Saat itu sudah pukul tujuh malam ketika Taki dan Arwen tiba di kos. Taki segera masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju dan mandi. Ia mengumpat sepanjang jalan karena Arwen sengaja menyemprot minyak wangi berbau melati ke sekujur tubuhnya.


Taki tak bisa menangkis karena sedang mengemudi motor. Sedangkan Arwen yang duduk di boncengan sedang tertawa jahat karena berhasil membalas dendam. Soalnya Taki itu benci dengan bau melati. Dia alergi dan akan muntah-muntah jika mencium bau melati secara berlebihan.


Arwen yang masih tertawa-tawa sendiri memilih mampir ke dapur untuk mengambil minum. Ia mencium harum bau masakan, penasaran siapa yang masak malam-malam begini.


Arwen melihat Regan dan Tania sedang berkutat di dapur sambil asyik mengobrol. Rupanya mereka berdua sedang berkolaborasi. Arwen agak terkejut melihat penampilan Regan yang mengenakan apron. Ia sedang memotong sayur-sayuran dengan gerakan lihai layaknya koki sungguhan.


"Wah, lagi masak apa kak?" sapa Arwen langsung menghampiri keduanya.


"Eh, Arwen. Baru pulang?" tanya Tania seraya tersenyum. Regan juga segera menyapanya dengan senyum manis seperti biasa.


"Iya, kak."


"Habis merayakan ujian udah selesai, Wen?" tanya Regan.


"Nggak sih. Belum waktunya. Nanti kalau bener-bener udah keluar hasil ujiannya, baru deh, pesta-pesta."


"Nah bener tuh. Ntar udah makan-makan nggak taunya tinggal kelas."


"Dih, jangan sampai kak," sahut Arwen. Sedangkan Tania hanya tertawa.


"Masak apa kak? Kok tumben sih. Soalnya aku jarang lihat ada yang masak kalau memang nggak ada acara."


"Memang nggak ada acara. Tapi ini Regan yang minta bantuan, katanya besok mau ada yang dijenguk. Jadi dia mau bawa beberapa buah tangan."


"Oh gitu. Kenapa nggak beli aja kak, lebih praktis daipada bikin sendiri."


"Tapi gue bukan tipe orang yang praktis, Wen. Menjunjung moto kalau ada yang susah kenapa pilih yang gampang. Biar ada kenangan dan juga gregetnya gitu."


"Iya juga sih. Tapi biasanya kalau dibuat sepenuh hati artinya ini buat orang yang spesial."


"Yup. Kamu nggak salah." Regan lalu mengambil satu buah kue yang telah disiapkan rapi di dalam wadah. Ia menyerahkan itu pada Arwen.


"Ini aku buat sendiri."


"Buat aku kak?" tanya Arwen sambil menerima kue coklat dengan topping strawberry.


"Iya. Kamu orang pertama yang nyobain."


"Wah, makasih kak."


Tania yang mendengar itu senyum-senyum sendiri sambil mencibir.


"Jangan termakan gombalan, Wen. Orang pertama apanya, lha wong aku udah nyobain duluan!"


"Ya nggak usah dibocorin kak. Nggak jadi romantis nih," seru Regan.


Arwen hanya tertawa sambil mencoba kue buatan Regan. Ternyata enak sekali. Dalam hatinya ia sedang memuji cowok itu yang jauh lebih pandai soal urusan dapur daripada dirinya yang seorang perempuan.


Setelah cukup lama mengobrol Arwen memutuskan untuk naik ke atas. Ia perlu mandi dan beristirahat. Walaupun sebenarnya besok kegiatan sekolah sudah tidak ada karena tinggal menunggu pengumuman hasil ujian.


Arwen keluar dari dapur. Ruang tamu masih sepi. Mark, Latif dan Hafiz rupanya sedang sibuk. Karena biasanya mereka bertiga akan berceloteh di tempat itu sambil bermain playstation. Namun sekarang terasa sepi. Suasana kos juga terasa agak aneh dan kurang seru. Mungkin karena peristiwa beberapa hari lalu yang membuat teman mereka terpaksa harus meninggalkan rumah yang memberi banyak kenangan ini.


Saat Arwen sedang melamun, ia menatap ke arah tangga dan melihat seseorang turun dari sana. Seorang gadis cantik berkulit putih bersih tersenyum dan langsung menyapa Arwen yang berdiri canggung melihat kedatangannya.


Citra menghampiri Arwen dengan senyum cerah ceria seperti biasa. Ia membawa rantang makanan yang langsung dengan mudah ditebak untuk siapa makanan itu. Arwen sebisa mungkin membalas senyumnya yang tampak begitu bahagia.


"Hai Arwen. Kamu baru pulang?"


"Eh.. Iya kak. Jenguk Kak Jefri?"


Citra mengangguk. "Iya. Aku dengar katanya kemarin dia sakit. Tapi sekarang udah baikan. Berkat kamu."


"Aku?"


"Iya. Kamu yang ngerawat Jefri kan?"


"Oh.. Aku cuma bantu kok, kak."


Arwen tertegun, tidak tahu bagaimana ia mengatasi sikap gadis ini. Citra tiba-tiba saja menggenggam tangan Arwen. Menatap dengan matanya yang tampak cantik dan bercahaya. Bahkan bagi seorang perempuan, Citra terlihat begitu manis dan mempesona.


"Arwen, kamu suka Jefri ya?"


To be continued...