
...Happy Reading ...
...________________...
"Langsung balik kan?"
Jefri bertanya sambil menyerahkan helm pada Arwen, cewek itu hanya terdiam sambil berpikir kenapa dia harus mamakai helm padahal kos-kosannya sangat dekat dari sekolah.
"Keselamatan itu penting Wen," ujar Jefri yang lagi-lagi sepertinya bisa membaca isi pikiran Arwen.
"Kakak punya ilmu gaib ya?" sergah Arwen sambil menerima helm dan langsung memakainya.
Jefri tersenyum simpul. "Nggak perlu pake ilmu gaib, ekspresi kamu itu gampang banget ditebak. Yaudah naik!" Arwen mencebikkan bibirnya sesaat dan langsung naik ke motor ninja milik Jefri. Arwen menggerutu kenapa cowok sangat suka dengan motor model seperti ini. Karena dia yang menjadi penumpang rasanya tersiksa banget duduk di belakang.
Saat itu mereka masih di depan halte sekolah yang sudah sepi sejak tadi. Arwen masih sibuk marah-marah dengan motor ninja milik Jefri, dan cowok itu hanya diam sambil senyum-senyum mendengarkan segala ocehan Arwen. Sampai tiba-tiba ada sosok lain yang keluar dari gerbang dan itu membuat Arwen langsung menghentikan omelannya sesaat.
"Kok diem, udahan ngomelnya?" tanya Jefri.Tapi tidak ada sahutan apapun dari belakang yang membuat cowok itu langsung menoleh ke belakang. Arwen terlihat diam mematung sambil menatap lurus ke arah gerbang.
"Wen, kenapa sih?"
"Kak, ikutin motor itu dong."
"Hah, motor yang mana?"
"Ck...makanya liat ke depan dong." Arwen segera mendorong kepala Jefri agar melihat ke depan. Arwen lalu menunjuk seorang cewek yang baru saja naik ke atas motor seorang cowok di depan gerbang.
"Ngapain diikutin, emang itu siapa?"
"Itu Yuki temen aku, padahal tadi dia bilang udah pulang kok sekarang masih di sekolah. Aku nggak kenal sama cowok yang di depannya itu."
"Tukang ojek kali."
"Masak ganteng gitu tukang ojek."
"Ganteng? Tau dari mana kalau ganteng?"
"Ih.. Cerewet banget sih kak, buruan deh keburu mereka pergi." Arwen khawatir dan tidak sabar saat melihat motor itu sudah hampir meninggalkan sekolah.
"Nggak ah, ngapain sih kepo sama urusan orang."
"Bukan kepo kak, dia itu temen aku. Lagian kakak nggak lihat tadi dia kayak berantem gitu sama itu cowok."
"Ya cowoknya mungkin, trus mau ngapain?" tegas Jefri yang masih kekeh dengan pendiriannya. Arwen mendengus kasar.
"Yaudah lah, aku pergi sendiri aja," tukas Arwen dongkol lalu turun dari motor yang membuat Jefri buru-buru mencegahnya.
"Iya, iya, iya... Gitu aja ngambek sih."
"Lagian ngeselin, orang minta tolong doang."
Jefri menghembuskan nafasnya dengan kasar. Cowok itu akhirnya hanya tersenyum samar meskipun sebenarnya masih agak dongkol.
Motor yang diikuti melaju dengan kecepatan cukup kencang, tapi Jefri dengan sigap mengikuti sambil terus menjaga jarak. Arwen yang duduk di belakang sejak tadi berpikir keras, siapa cowok yang saat itu bersama Yuki?
Motor itu mulai memasuki area perkampungan yang bisa dikatakan cukup padat dan macet. Lebih tepatnya wilayah Jakarta Utara, dan jelas-jelas ini sangat berlawanan dengan arah rumah Yuki.
Kalian bisa membayangkan sendiri gang-gang sempit yang penuh dengan pemukiman penduduk itu seperti apa, dan Arwen semakin bingung untuk apa Yuki ke sini. Karena Arwen tau semua tentang Yuki dan temannya itu tidak punya kerabat yang rumahnya di daerah ini. Apa benar cowok itu adalah pacarnya Yuki?
Arwen masih terus melamun sampai akhirnya tiba-tiba Jefri menghentikan motornya di tepi jembatan kecil.
"Kok berhenti kak?"
"Tuh?" sahut Jefri sambil memberi isyarat dengan anggukan kepalanya. Arwen melihat ke arah depan dan melihat motor yang mereka buntuti masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah yang di depannya ada sebuah warung kecil.
Arwen bisa melihat Yuki yang turun dari motor itu dengan wajah yang bisa dikatakan kesal dan tidak bersahabat. Apalagi saat seorang wanita paruh baya yang menegurnya dari dalam rumah diabaikan begitu saja.
Yuki langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa. Sedangkan cowok itu hanya mengatakan sesuatu dengan gerakan malas pada wanita paruh baya dan menyusul Yuki masuk ke dalam rumah.
"Ini rumah temen kamu?" tanya Jefri. Sedangkan Arwen hanya terdiam dan berpikir keras. Ada banyak pertanyaan di dalam kepala Arwen saat itu. Mungkinkah selama ini Yuki berbohong tentang status hidupnya pada dirinya dan juga teman-temannya. Tapi untuk apa Yuki melakukan itu?
"Wen?"
"Aku nggak tau kak? Tapi setau aku rumah Yuki bukan di sini dan.."
"Emang kamu udah pernah main ke rumahnya?"
Pertanyaan Jefri langsung membuat Arwen tersentak. Dia dan temannya yang lain bahkan bisa dibilang tidak pernah bermain ke rumah Yuki. Bukannya tidak mau, tapi Yuki seolah tidak nyaman kalau kedatangan tamu di rumahnya. Mereka lebih sering bermain di luar atau berkumpul di rumah Nina dan Choa yang memang keduanya berasal dari keluarga kaya dan punya rumah yang nyaman.
Dan selama ini Yuki selalu minta untuk diturunkan di tepi jalan jika kami semua ingin mengantarnya pulang. Itupun yang dia tunjukkan jalan sebuah perumahan yang letaknya sangat jauh dari daerah sini.
Lalu kenapa Yuki harus berbohong? Apa dia malu dengan keadaan rumah yang sebenarnya? Mereka sudah berteman hampir tiga tahun, dan selama itu dia menutupi tentang jati dirinya. Lalu apalagi yang Yuki sembunyikan?
"Gimana Wen, kamu mau nyamperin nggak?" tanya Jefri saat melihat Arwen yang masih terpaku dan tak mengatakan apapun. Cewek itu menggeleng pelan dengan gerakan lesu.
"Nggak kak, biar nanti Yuki yang cerita sendiri. Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia harus bohong."
Jefri hanya manggut-manggut lalu menggenggam tangan Arwen dengan lembut.
"Nggak usah dipikirin, orang kadang punya masanya sendiri buat jujur. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti ada waktunya. Jadi jangan terlalu dipikirin."
Arwen tersenyum. "Makasih banyak ya kak."
"Yaudah mending kita pulang sekarang, udah mau hujan nih. Kakak kamu pasti udah nyariin," ujar Jefri sambil memandang langit yang terlihat semakin gelap dan angin juga mulai bertiup cukup kencang.
Arwen tampak mengerutkan dahinya. "Kakak siapa?"
"Kakak kamu, namanya Taki. Dia lagi di kos-an sekarang, katanya mulai hari ini dia ngekos di sana."
"Oh... WHAT?! Kak Taki?"
Arwen langsung menjambak rambutnya sendiri dengan wajah terkejut. Tidak mungkin kakaknya itu benar-benar akan ikut ngekos di Violet. Kalau benar, lalu apa yang akan di katakan teman satu kosnya nanti?
Sial!
To be continued...