
...Happy Reading...
..._________________...
Seharian itu Arwen mengurung dirinya di kamar. Dia tidak melakukan kegiatan apapun, bahkan saat kakaknya menggedor-gedor pintu kamarnya dia tetap cuek dan bilang kalau sedang tidak enak badan. Sudah dua hari ini Arwen sering berdiam diri di kamar, entah kenapa dia tidak mood melakukan apapun.
Bahkan dia juga menghindari Jefri yang terus-terusan mengetuk pintu kamarnya. Puluhan chat dan telepon juga ia abaikan begitu saja. Arwen tidak tahu kenapa dia marah dan kesal, tapi pikirannya selalu di penuhi dengan kejadian dua hari yang lalu.
Gadis itu mendengus kasar sambil membanting ponselnya di kasur. Ia memejamkan matanya sesaat. Sejak tadi bahkan dia tidak beranjak dari kasurnya padahal ini sudah pukul sebelas siang.
Kling.
Sebuah pesan masuk berdenting di ponselnya, tapi gadis itu masih tidak bergerak.
Kling.
Kling.
Arwen kembali mendengus lalu meraih ponselnya. Dia akan membanting itu jika Taki yang mengirimnya. Karena sejak tadi kakaknya itu terus mengirim pesan yang benar-benar tidak penting. Tapi kali ini matanya tampak membulat dan langsung membuat tubuhnya yang malas bangkit dari tidurnya saat melihat nama seseorang di layar ponselnya.
"Harry!"
Harry mengajaknya bertemu di Cafe Mural. Tempat biasanya mereka selalu menongkrong. Jujur Arwen sangat senang akhirnya Harry mau menghubunginya
Arwen langsung meloncat dari tempat tidurnya. Setidaknya hari ini ada yang membuat hatinya merasa lega.
*****
Sekitar pukul setengah satu siang Arwen sudah sampai di depan kafe Mural di dekat swalayan. Gadis itu langsung mengembalikan helm abang gojek setelah membayarnya. Padahal tadi dia ingin meminta tolong pada Taki untuk mengantarnya, tapi saat dibutuhkan kakaknya itu malah menghilang entah kemana.
Arwen melongok ke dalam kafe. Saat itu suasana cukup ramai karena sekarang adalah Weekend dan kafe ini adalah tempat nongkrong anak muda yang cukup terkenal. Tapi jujur saja Arwen dan teman-temannya jarang berkumpul di sini karena harga makanannya yang cukup mahal.
Belum ada tanda-tanda Harry ada di sana. Jadi Arwen langsung masuk saja dan duduk di meja nomor tujuh yang terletak di pojok ruangan. Gadis itu hanya memesan secangkir kopi sambil matanya sibuk mengamati situasi kafe yang cukup ramai.
Arwen menatap sepasang anak kecil yang terlihat saling berebut makanan di atas meja. Arwen tersenyum. Lucu sekali, rasanya ingin kembali menjadi anak-anak lugu dan polos yang seolah menjalani hidup bebas dan tanpa masalah.
Arwen lalu kembali mengingat tentang masa kecilnya dengan Taki yang bisa dibilang tidak pernah akur, bahkan sampai sekarang. Mereka sering meributkan hal-hal kecil yang membuat ayah dan ibunya pernah mengurung mereka seharian di gudang. Arwen tertawa sendiri mengingat kejadian itu sambil mengamati kedua anak itu.
Mereka masih berebutan makanan yang membuat ibunya tampak kewalahan karena anaknya yang perempuan terus menangis keras. Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki menyodorkan satu piring kentang goreng di hadapan gadis itu.
Pria itu tampak tersenyun ramah dan langsung membuat gadis kecil itu menghentikan tangisnya. Arwen menatap cowok itu yang sedang berdiri membelakanginya. Perlakuan manis pegawai kafe itu membuat Arwen tersentuh sekaligus terpesona, orang baik memang selalu datang di mana saja.
"Hai, Wen."
Arwen menoleh saat mendengar suara familiar itu menyapa telinganya. Ia melihat Harry yang langsung duduk di depannya dengan senyum jahilnya seperti biasa.
"Hai juga, Har."
"Lo udah lama? Sorry ya tadi sempet macet."
"Selow aja kali. Kan lo emang tukang ngaret," sahut Arwen yang langsung disambut tawa dari cowok di hadapannya.
"Lo udah pesen?" tanya Harry sambil mengamati meja kosong di hadapannya. Arwen langsung mengangkat gelas kopinya.
"Itu doang?"
"Akhir bulan Har, gue lagi bokek."
Harry tertawa. "Pesen aja, gue yang traktir."
"Serius? Nggak sia-sia emang punya temen tajir."
Keduanya lalu kembali memesan makanan. Arwen memilih menu makanan Jepang yang selalu menjadi favoritnya, sedangkan Harry? Mau di manapun dan semewah apapun tempatnya yang dia cari selalu Capcay goreng. Jelas Arwen tidak lupa dengan kebiasaan temannya itu.
Mereka berdua langsung ngobrol santai seperti dulu, seolah melupakan pertengkaran dan permasalahan mereka baru-baru ini. Dan terus terang Arwen merasa senang, rasanya semua kembali seperti dulu.
"Har, kayaknya kita mesti panggil anak-anak deh ke sini, biar seru sambil ngerayain kalo kita udah baik-baik aja," usul Arwen sambil menekan ponsel dan mencari nomor teman-temannya.
"Jangan Wen!"
Sejenak Arwen langsung terdiam sambil menatap Harry yang menggeleng dengan ekspresi wajah tegas.
"Kenapa Har?"
"Gue ngajak lo ketemu di luar karena ada yang mau gue omongin ke lo. Dan gue harap lo nggak keberatan kalau kita nggak melibatkan siapapun termasuk temen-temen."
Arwen menegakkan badannya sesaat. "Emang hal apa yang mau lo omongin Har, seserius itu sampai temen-temen nggak boleh tau?"
Mendengar itu Arwen tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia menatap Harry yang terlihat serius dan percaya diri di hadapannya.
"Maksud lo apa Har? Memangnya ada apa sama Yuki? Kenapa tiba-tiba lo mau bahas soal Yuki?"
"Karena gue tau, Wen. Gue tau kalau selama ini dia nggak pernah jujur ke kita."
Arwen langsung membelalakan matanya terkejut. "Jadi... Lo udah tau semuanya?"
Harry terdiam sesaat sampai akhirnya dia mengangguk dengan yakin.
*****
Di sepanjang perjalanan Arwen terlihat melamun, bahkan terlihat seperti orang yang linglung. Arwen memutuskan untuk pulang sendiri setelah pertemuannya dengan Harry. Cowok itu sempat menawarkan mengantarnya pulang, tapi Arwen menolak dan bilang jika dia butuh waktu untuk sendiri.
Arwen seperti itu bukan tanpa alasan. Semua hal yang dia dengar baru saja dari Harry membuatnya syok dan kaget. Dia masih terus berperang dengan batinnya saat ini, haruskah dia percaya dengan semua cerita Harry?
Satu jam yang lalu.
Arwen hanya membeku di tempat tanpa bisa mengatakan apapun setelah Harry menyelesaikan kalimatnya. Dia menatap nanar dengan perasaan campur aduk yang tak bisa dijelaskan.
"Itu alesannya Wen kenapa kemarin gue sama Yuki berantem. Gue tahu belum lama kalau ternyata selama ini dia nutupin soal keluarganya. Dan cowok yang lo liat kemarin itu kakaknya, namanya Yoga. Dia selalu bilang kalau dia anak tunggal, itu karena dia malu kalo kakaknya pernah masuk penjara karena mukulin orang."
"Dan pas gue tanya langsung ke Yuki, dia marah. Gue pengen kasih tau ke kalian, tapi Yuki malah ngancem nggak bakal maafin gue kalo sampe gue nekat. Makanya kemarin dia kelihatan banget pengen ngejahuin gue dari kalian dan bikin suasana makin rumit. Gue nggak tau kenapa, tapi dia kayak takut kalau temen - temennya bakal ninggalin dia kalau tau hidup dia yang sebenernya."
Arwen masih tidak percaya dengan semua pendengarannya. Dia menatap Harry seolah semuanya itu hanya kebohongan.
"Tapi kenapa Har? Kita temenan udah dari awal masuk SMA, trus kenapa dia masih mikir kalo kita bakal ninggalin cuma karena masalah keluarganya. Emang dia nganggep kita ini temen macem apa?"
Harry tampak menggeleng. "Gue nggak tahu Wen, gue nggak bisa nyimpulin juga. Karena nggak ngerasain diposisi dia."
"Sejak kapan lo tau Har?"
"Belum lama, gue nggak sengaja denger pembicaraan Yuki sama Dian dan Yohana. Kayaknya soal pinjeman uang. Yuki minjem duit dengan jumlah yang lumayan ke mereka berdua."
Arwen benar-benar membelalakan matanya tidak percaya. "Har, lo jangan ngada-ada? Kenapa Yuki harus minjem ke dua cewek badung itu. Bahkan kita juga nggak punya hubungan apapun sama dua cewek itu. Kenapa Yuki harus minjem uang ke mereka? Kalau ada masalah dia kan bisa bilang ke kita?"
"Itu yang bener. Tapi masalahnya, bisa dibilang kita selama ini nggak tau apa-apa soal hidup Yuki, Wen. Dan jujur gue nyesel dan marah kenapa baru tau ini. Dan satu lagi, lo pasti bakal kaget denger ini. Yuki, Yohana sama Dian... Dulu mereka temenan dan bahkan satu SMP bareng."
"A.. Apa?"
"Intinya Wen, selama ini Yuki udah berbohong tentang semuanya. Dia udah ngebohongin kita tentang jati dirinya. Gue nggak yakin kalo alesannya hanya karena latar belakang keluarganya. Gue ngerasa dia punya alasan lain kenapa Yuki harus bohong seperti itu."
Arwen menatap Harry dengan pandangan sedih. "Maksud lo apa Har? lo jangan nuduh Yuki yang enggak-enggak."
"Gue nggak nuduh Wen, karena gue liat sendiri. Lo bisa tanya itu ke Hafiz," ucapan Harry kembali membuat mata Arwen melebar seketika.
"Hafiz? Kenapa lo bawa-bawa Hafiz? Seberapa banyak yang lo tau Har?"
Harry menghela nafasnya kasar. "Gue tau Wen sejak pertama Hafiz tiba-tiba interogasi anak-anak osis secara diam-diam. Dan setelah tau alesannya, gue ikut gabung sama mereka. Mungkin cara gue salah, tapi gue juga pengen nama lo bersih. Dan lo semua percaya kalo bukan gue yang fitnah lo nyuri uang kas. Dan ini cara gue nebus kesalahan gue Wen, gue terlalu pengecut untuk minta maaf langsung sama lo."
Keduanya tampak terdiam sesaat. Arwen meremas ujung rambutnya dengan perasaan frustasi.
"Tapi ini bohong kan Har... Soal Yuki?" tanyanya dengan suara lirih. Arwen masih berharap bahwa semua yang ia dengar baru saja hanya sebuah omong kosong belaka.
Tidak mungkin sahabat yang sudah ia percaya hampir tiga tahun ini berbohong dan menutupi tentang hidupnya. Tapi Harry malah menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Kalau lo nggak percaya, lo bisa mastiin sendiri. Rumah yang lo liat kemarin itu rumah aslinya Yuki. Tapi jujur kita masih belum bisa pastiin Wen kenapa Yuki ngelakuin itu, gue rasa ada orang yang ancam dia. Karna gue liat dia nangis sambil coret-coret meja lo."
Arwen mendongak." Maksud lo? "
"Wen... Orang yang udah nulis makian di meja dan papan tulis buat lo ... Itu Yuki."
Tiiinnnnnnnn!
Suara klakson mobil yang di tekan membuyarkan lamunan Arwen. Gadis itu hanya mematung dan membeku dengan bodohnya sambil menatap sebuah mobil hitam yang melaju kencang ke arahnya. Dia hampir terpental jauh jika seseorang tidak menarik lengannya saat itu juga.
"Arwen, Lo mau mati?!"
Arwen mendengar nada kasar seorang cowok yang berteriak tepat di telinganya. Tapi gadis itu masih belum sadar sepenuhnya dan terduduk lemas di pinggir trotoar dengan tubuh bergetar. Hampir saja nyawanya melayang saat itu.
"Wen, lo denger gue nggak sih?" sergah cowok itu lagi yang membuat Arwen mulai sadar dan mengangkat wajahnya. Tatapan matanya bertubrukan dengan wajah panik cowok yang begitu dikenalnya.
"Kak Juna?"
To be continued...