Housemates

Housemates
32. Konsekuensi



Hari itu masih akan menjadi hari yang panjang dan juga menyedihkan. Mira segera dilarikan ke rumah sakit karena tangan dan kakinya mengalami luka dan pendarahan yang cukup serius. Jihan, Banu dan juga Sharon ikut menemani ke rumah sakit.


Sedangkan Tania memilih tinggal untuk menemani Lira yang saat ini tengah terpuruk luar biasa. Rosa yang juga menjadi teman dekatnya sedang pulang ke rumahnya, namun ia tahu tentang masalah ini melalui grup whats up penghuni kos. Penghuni kos lainnya jelas juga sudah mengetahuinya dan benar-benar terkejut bukan main dengan berita ini.


Juna datang sekitar satu jam kemudian dan segera disidang oleh para penghuni kos tersebut. Terutama Erlan dan Regan, selaku teman dekatnya yang merasa begitu kecewa dengan perilakunya.


Juna yang telah mengetahui bahwa Mira hamil hanya bisa mencelos. Cowok itu duduk lemas di atas sofa dengan mata nanar dan ekspresi wajah pucat. Namun Juna tidak menyangkal, karena ia memang telah melakukan kesalahan besar yang jelas suatu saat akan menimbulkan konsekuensi pada dirinya. Juna hampir pergi untuk menemui Mira, namun dengan segera Regan menghadang.


"Gan, tolong, gue mau ketemu Mira," seru Juna dengan wajah memelas.


"Lo bisa ketemu Mira kapan aja Jun, tapi selesain masalah lo dulu sama Lira. Dia yang berhak kecewa atas semua masalah yang udah lo buat. Karena belum tentu lo punya kesempatan lagi ketemu sama dia."


Mendengar nama Lira seketika raut wajah Juna kembali muram. Kenapa dirinya bisa melupakan Lira yang selama ini hanya ia manfaatkan sebagai pelarian. Kenapa dirinya harus sebodoh dan sejahat ini?


Juna akhirnya terduduk di lantai dengan wajah frusatsi, ia menjambak rambutnya sendiri seraya memikirkan semua hal bodoh yang telah ia perbuat. Akankah dirinya bisa mendapatkan maaf atas semua hal yang telah ia lakukan? Terutama pada Lira, orang yang paling tersakiti dalam peristiwa ini.


Arwen yang saat itu tengah membawa semangkuk bubur untuk Jefri berhenti sejenak di pintu dapur. Ia melihat laki-laki yang begitu dikenalnya dulu kini terlihat hancur dan frustrasi. Laki-laki yang begitu ia sayang dan juga ia tunggu cukup lama, namun entah kenapa semua perasaan itu kini sirna. Dan Arwen hanya bisa mematung tanpa berniat untuk memberinya dukungan.


Bukan Arwen membencinya, tapi sekarang keadaan telah sepenuhnya berubah. Arwen merasa kasihan pada Juna, tapi dirinya tidak berhak untuk menghakimi ataupun ikut campur dalam urusan ini. Arwen akan mengesampingkan perasaannya yang sempat kecewa dan marah, karena masalah mereka kini jauh lebih besar. Mungkin Arwen akan berbicara dengan Juna suatu saat nanti, ketika keadaan sudah cukup baik.


Juna kemudian bangkit dari duduknya dan berlari menaiki tangga tanpa menggubris pandangan mata yang lain. Ia bahkan tak menoleh meski Arwen berdiri tepat berada di samping anak tangga.


Pikirannya jelas saja kalut, dan dia berniat menemui Lira saat ini juga.


"Biarin aja, biar dia selesaikan sendiri!" tukas Jais saat melihat Erlan hampir menyusulnya. Cowok itu akhirnya kembali duduk, begitu juga dengan yang lain. Mereka lebih baik menunggu sampai Juna dan Lira benar-benar telah saling menjelaskan. Walaupun mereka tidak yakin apakah Lira mau menemuinya.


Arwen bergegas naik ke lantai atas, bukan karena ingin tahu pertemuan keduanya. Tapi Jefri pasti sudah menunggu bubur yang ia janjikan, dan sudah hampir satu jam Arwen berkutat di dalam dapur sendirian.


Namun saat sampai di lorong, pertengkaran dan juga teriakan terdengar begitu jelas. Kamar Lira tepat berada di samping kamar Mira. Dengan jelas Arwen melihat bagaimana Juna sedang menghindari berbagai macam barang yang dilemparkan padanya. Suara teriakan frustasi Lira terdengar jelas, dengan isak tangis yang semakin membuat Juna enggan mundur. Tania yang berada di dalam kamar mencoba mencegah Lira, namun akhirnya ia kalah dan memilih duduk di ranjang sembari menangis sedih.


"Lira, dengerin gue. Gue tau gue salah, gue minta maaf!" teriak Juna.


"Semuanya udah jelas Jun, mending lo pergi dari sini. Jangan pernah temui gue lagi!"


"Tapi Lir.."


"Gue bilang PERGI!"


"Tolong Lira, jangan benci gue!" pinta Juna memohon. Tapi Lira benar-benar sudah muak dan enggan.


"Gue bilang pergi, PERGIIIII!"


Lira melemparkan sebuah parfume kaca dengan kuat ke arah Juna, untung saja ia cepat menghindar. Jika tidak, mungkin benda itu akan melukai kepalanya.


Arwen yang masih termangu di lorong tidak sadar bahwa parfum kaca itu memantul dan mengarah ke padanya. Karena letak kamar Jefri tidak terlalu jauh dari kamar Lira.


Pintu kamar Jefri terbuka, cowok berkulit putih itu dengan segera menarik Arwen yang masih termenung agar masuk ke dalam dan langsung menutup pintunya. Bunyi geledak keras mengenai pintu kamar Jefri, dan Arwen hanya membelalak tidak mengatakan apapun karena begitu terkejut. Bahkan bubur yang ia bawa kini tumpah sebagian dan mengenai kausnya.


"Kalau ada orang yang lagi emosi kayak gitu, sebisa mungkin menghindar. Lira lagi kalap dan nggak bisa mengontrol emosinya, apalagi Juna lagi ada di sana." Jefri berusaha menyadarkan Arwen yang masih terkejut dengan kejadian barusan. Jika saja Jefri tidak segera menariknya, mungkin parfume kaca itu kini sudah melukainya.


"Makasih kak," ucap Arwen pelan. Jefri tersenyum samar, wajahnya masih pucat, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia kemudian mengambil mangkuk bubur dari tangan Arwen dan meletakkan di atas meja.


Arwen yang baru menyadari bahwa bajunya terkena tumpahan bubur mencoba membersihkan dngan tisu, namun malah membuat tisunya menempel.


"Kak, kayaknya aku harus balik kamar dulu, ganti baju."


"Nggak usah. Nih!"


"Eh..."


Arwen mendongak dan mendapati Jefri kini menyodorkan selembar kaus hitam berlengan panjang padanya.


"Pakai baju aku dulu aja, diluar masih panas,"ucapnya. Arwen kemudian berusaha menajamkan pendengarannya, memang benar, teriakkan dan juga gedoran pintu masih terdengar diluar. Rupanya suara debaman keras tadi akibat Lira yang membanting pintu dengan keras. Dan Juna masih berusaha agar Lira mau mendengarkan penjelasannya.


Arwen kemudian mengambil kausnya dan bergegas menuju kamar mandi. Tidak lama kemudian ia sudah kembali dan mengenakan baju Jefri yang tampak sedikit kebesaran untuknya. Ia kemudian duduk lesehan di bawah, menghadap Jefri yang sedang menyiapkan bubur yang dibawa Arwen tadi di atas meja lipat kecil.


"Kenapa dijadiin dua mangkuk kak?" tanya Arwen saat melihat Jefri memindahkan separuh bubur ke mangkuk yang kosong.


"Buat kamu."


"Loh, yang sakit kan kakak, aku bikin kan buat kamu kak."


"Iya tau, tapi masa aku makan sendirian? Lagian kita udah lama nggak makan bareng kan? Apa salahnya makan berdua walaupun cuma bubur menunya."


Jefri kemudian menyodorkan satu mangkuk bubur pada Arwen. Ia bahkan juga mengambilkan sendok dan menuangkan segelas air putih untuknya. Arwen hanya mengernyit tidak paham, kenapa justru malah dirinya yang diperlakukan seperti orang sedang sakit. Namun gadis itu akhirnya hanya menurut dan mulai menyendok bubur ayam buatannya yang rasanya tidak buruk-buruk amat.


"Kamu udah lebih baik?" tanya Arwen seraya menatap Jefri yang makan dengan lahap. Gadis itu tersenyum senang karena cowok ini tahu bagaimana menghargai makanan yang ia buat.


"Bisa lihat sendirikan, kalau sekarang aku udah baik-baik aja."


Arwen melirik kesal dan segera menjulurkan tangannya untuk memeriksa kening Jefri. Masih sedikit hangat, namun keadaannya sudah jauh lebih baik.


"Masih anget dikit, jadi tetep harus minum obat kak, biar panasnya cepat turun. Dan jangan mandi dulu, besok aja kalau demamnya udah bener-bener hilang. Tapi kakak nggak pilek kan?"


"Nggak."


"Tenggorokan sakit?"


"Enggak."


"Badan ngilu? Hidung tersumbat?"


"Enggak Wen, aku baik-baik aja. Cuma demam biasa, jadi nggak perlu khawatir," Jefri menyahut lembut Karena merasa Arwen masih terus memikirkan keadaannya. Tapi jujur saja dalam hatinya merasa senang melihat gadis itu memikirkan dirinya.


"Kenapa Wen, kamu takut aku sakit?"


"Jelas. Soalnya kejadian tadi itukan aku ada di sana, nanti aku lagi yang dituduh udah bikin kakak sakit."


"Iya. Memangnya ada alasan lain?"


"Oh..."


Arwen bisa menangkap ada guratan rasa kecewa di wajah Jefri. Cowok itu menunduk seraya mengaduk buburnya yang tinggal sedikit lagi.


"Tapi, kamu jangan gitu lagi! Aku nggak suka kalau kamu nekat gitu kak, karena jujur aja, aku nggak suka liat kakak kayak tadi. Apalagi sampai jatuh sakit."


Arwen memalingkan wajahnya, enggan menatap ekspresi wajah Jefri. Dirinya kesal sekaligus malu mengatakan hal itu, namun hatinya sudah tidak bisa menahan lagi.


Arwen tidak melihat bahwa Jefri kini tengah senyum-senyum sendiri, namun ia tidak memperlihatkan dengan jelas dan kembali melahap buburnya hingga habis.


"Mudah-mudahan masih anget sampai besok, biar ada yang bikinin bubur dan nemenin makan tiap hari."


"Dihh.. Orang mah doanya minta cepet sembuh, ini malah minta sakitnya diperpanjang."


"Nggak ada salahnya, karena kalau aku nggak sakit, mungkin kita masih diem-dieman."


Arwen hanya terdiam mendengar penuturan Jefri. Mungkin memang benar, karena akhir-akhir ini hubungan mereka memang tidak bagus. Tapi, bukan sepenuhnya dengan kejadian ini membuat Arwen berubah pikiran dengan cepat. Tapi setidaknya, kini dirinya juga merasa senang karena bisa kembali melihat lesung pipi manis itu dari dekat.


"Kenapa liatin kayak gitu?" sergah Arwen pada Jefri yang tidak berhenti menatapnya sejak tadi. Ditambah cowok itu malah senyum-senyum tanpa dosa yang membuat jantung Arwen sangat tidak aman saat ini.


"Kangen, udah lama nggak liat muka jutek tapi cantik!"


"Gombal! Bukannya tiap hari sering liat muka mulus yang innocent?"


"Muka siapa?"


"Nggak tahu, Citra mungkin."


"Ngapain sih bahas Citra? Nggak usah disebut namanya, entar makin panas loh," goda Jefri.


"Kompor kali panas!" sahut Arwen ketus.


Jefri kembali tersenyum. "Sendirinya yang nyebut, tapi kesel. Apalagi kalau bukan namanya cemburu?"


"Berisik! Nih minum!" Arwen menyahut semakin ketus seraya menyodorkan sebutir obat penurun panas pada Jefri.


Tapi Jefri bukan cepat mengambil obatnya, malah menarik dan membelai lembut tangan Arwen. Sebuah kecupan manis mendarat di punggung tangan gadis itu yang membuat wajah Arwen seketika memerah karena malu.


"Aku harap, kamu masih kasih kesempatan sekali lagi buat aku, Wen. Biar aku bisa nunjukin kalau aku memang tulus sayang sama kamu."


Tidak perlu ungkapan yang lain lagi, hati Arwen merasa begitu lega mendengar pernyataan itu. Sesuatu yang terasa mengganjal dan membuat hatinya sedih akhir-akhir ini mulai terkikis oleh rasa senang yang membuncah. Apalagi saat Arwen melihat wajah dan tatapan itu, yang sejatinya memang tidak berubah dan masih sama seperti kemarin.


Jefri lalu mengambil obat dari tangan Arwen dan segera menenggaknya. Tapi, tangan kirinya masih enggan melepaskan tangan Arwen dan malah menautkan pada jarinya, menariknya menuju dada bidangnya yang hangat.


Arwen cukup terkejut saat merasakan ada sesuatu yang berdetak begitu kencang, bahkan jauh lebih kencang dari detak jantungnya sendiri. Jefri terlihat membuatnya begitu jelas agar Arwen mengerti bahwa dirinya tidak berbohong dan main-main.


Arwen tidak menolak dan membalas genggaman tangan Jefri. Ia akan menunggu sampai dirinya yakin, semoga saja tidak akan ada rasa kecewa lagi yang menyelimuti hatinya.


*****


Keputusan dari masalah yang menimpa Juna dan Mira kini tengah dipikirkan oleh tante Rani yang sudah mengetahui masalah itu. Karena Mira adalah keponakannya sendiri, Tante Rani tetap tidak akan pilih kasih.


Ia akhirnya memutuskan untuk memulangkan Mira pada orang tuanya saat ini juga. Bahkan ia sendiri yang memutuskan untuk mengantar Mira. Gadis itu semakin banyak terdiam setelah pulang dari rumah sakit. Untung saja, Tante Rani cukup pengertian dan tidak langsung mencecar Mira dengan segala pertanyaan.


Ia juga telah bertemu Juna dan memintanya untuk menunjukkan itikat baik dengan menemui orang tua Mira secepat mungkin. Juna sendiri mengerti dan paham, ia juga tidak akan melarikan diri dari tanggung jawabnya.


Hanya saja, perasaannya masih kacau karena hingga saat ini Ia belum mendapat maaf dari Lira. Bahkan gadis itu kini memutuskan untuk pulang ke Bogor dan mungkin saja ia tidak akan kembali lagi ke kos ini. Karena tempat ini memiliki kenangan yang begitu pahit untuknya.


Tidak ada yang menahan keputusan Lira karena mereka juga mengerti bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Akan lebih baik ia berada di lingkungan keluarganya agar bisa meredam rasa frustrasi dan juga amarahnya.


Arwen yang saat itu tengah bersiap untuk berangkat sekolah, menyempatkan diri untuk menengok dan berpamitan dengan Lira.


Pintu kamarnya terbuka, Tania dan Rosa ada di sana, membantunya berkemas.


Tok, tok, tok..


Tiga gadis itu melihat dan mendapati Arwen berdiri di ambang pintu dengan seragam sekolah yang rapi.


"Eh Arwen, udah mau berangkat?" tanya Tania.


"Iya kak. Kak Lira beneran mau pergi?"


"Iya Wen. Untuk saat ini gue perlu pergi dari sini," jawab Lira.


"Tapi barangnya di bawa semua. Apa kakak nggak bakal balik lagi kesini?"


"Belum tau Wen. Mungkin untuk beberapa bulan ke depan nggak dulu. Kakak pamit ya, kamu sekolah yang rajin."


"Iya kak. Kakak juga, jangan terlalu banyak dipikirkan apa yang udah terjadi. Kakak masih punya masa depan yang panjang dan kebahagiaan sedang menanti kakak diluar sana. Jadi jangan patah semangat ya."


Lira tersenyum dan kembali berkaca-kaca mendengar ungkapan yang begitu tulus. Ia kemudian memeluk Arwen dan berusaha untuk menahan tangisnya, namun gagal.


"Jangan ditahan kak, biar hati dan perasaan kakak lega."


"Makasih banyak, Wen."


Arwen menepuk lembut punggung Lira. Dirinya sangat paham bagiamana perasaan gadis itu saat ini. Bahkan Rosa dan Tania hanya terdiam berusaha menahan tangis, mereka juga merasa sakit karena temannya diperlakukan seperti ini.


Banyak hal yang bisa diambil jadi pelajaran dalam kejadian ini. Kesalahan Juna dan Mira adalah contoh agar mereka semua bisa menjaga diri dan juga perasaan. Sikap Juna yang hanya memanfaatkan Lira agar tidak kehilangan Mira adalah sesuatu yag sangat buruk. Lira adalah orang yang paling tersakiti di sini, namun ia masih menganggapi dengan rasa sabar yang luar biasa.


Sedangkan Juna dan Mira, mereka harus menyiapkan diri dengan segala konsekuensi yang harus mereka terima kedepannya.


To be continued..