Housemates

Housemates
28. Kenyataan Yang Pahit



Arwen bisa melihat dengan jelas, raut wajah gugup dan enggan dari Mira. Ia terlihat sekali berusaha menghindar dan membuat Arwen berhenti membahas tentang Juna.


"Kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu sih Wen? Lagian Juna udah balik kan? Kamu bisa tanya banyak sama dia. Udahlah ngapain bahas..."


"Tapi aku pengen tanya sama kakak? Gimana hubungan kakak sama kak Juna dulu waktu kita masih bareng-bareng. Waktu kakak tau kalau aku suka Kak Juna."


"Wen Stop! Aku nggak ada hubungan apa-apa.."


"Kakak juga mungkin tau kak, kenapa Kak Taki sebenci itu sama kak Juna. Padahal dulu mereka temen baik. Bahkan aku liat, kakak sama kak Taki juga seolah saling menjauh satu sama lain. Kakak nggak mungkin lupa sedeket apa kita dulu."


Entah kenapa, melihat respon Mira yang kebingungan membuat Arwen kalap dan terus mencecar gadis itu tanpa ampun. Arwen tahu bahwa kini perasaannya pada Juna telah selesai, hubungan mereka juga telah kembali membaik. Tapi, perasaan menahun yang pernah ia bangun dulu tidak sepenuhnya sirna.


Ia masih mencoba mencari jawaban atas hal yang ingin diketahuinya, dan saat Arwen mulai paham tentang sebuah kenyataan, rasa sakit itu kembali muncul menyeruak pada hati yang sudah semakin terkoyak. Apalagi saat dirinya melihat Mira seolah tidak bisa menyangkal semua pertanyaannya, membuat Arwen semakin yakin pada hal yang ia duga. Namun Arwen ingin memastikan langsung dan mendengar itu dari mulut Mira sendiri.


Gadis cantik itu hanya bisa menunduk tanpa berani menatap mata Arwen yang terus menelisiknya tanpa henti. Isak tangis pelan mulai terdengar, membuat Arwen yang duduk di sampingnya hanya bisa mencelos lemas.


"Maafin gue Wen. Tolong maafin gue!" rintih Mira dalam tangsinya. Gadis itu membenamkan wajahnya pada kedua lutut. Masih dengan isak tangis ia berusaha berbicara tanpa berani menatap ke arah Arwen.


Arwen kecewa, hatinya sakit. Bukan karena Mira dan Juna yang mungkin memiliki hubungan spesial. Tapi, hatinya sakit kenapa Mira tidak pernah jujur dan seolah membuat dirinya menjadi perempuan bodoh. Karena Mira tahu bagaimana Arwen menyukai Juna selama ini, Arwen selalu menceritakan semuanya dan menganggap Mira adalah tempat berbagi yang paling ia sukai saat itu.


Tapi, kenyataannya Mira-lah yang secara tidak langsung membuat Arwen berdiri dalam kebodohan itu dan mungkin saja menertawakan dirinya. Karena, Juna memang tidak akan pernah membalas perasaannya meski ia tahu. Karena dia sudah dimiliki Mira lebih dulu. Namun, dengan alasan demi kebaikan, mereka melakukan kebohongan bodoh yang tentu akan semakin menyakiti hati Arwen.


"Kalian pemain yang handal ya kak. Jujur, aku mungkin akan lebih memilih nggak tahu kalau hasilnya sesakit ini. Tapi, sayangnya aku nggak bisa menahan diri."


"Wen, tolong maafin aku Wen!"


Seketika Mira berbalik dan meraih lengan Arwen yang juga sedang kembali mengumpulkan otot-ototnya. Kenyataan yang ia dengar dan harus ia terima membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Hatinya yang sakit, namun tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan.


"Aku tau aku salah Wen, aku cuma nggak pengen kamu sakit hati waktu itu. Juna itu sayang banget sama kamu."


"Saking sayangnya ya kak, sampai aku nggak ada harganya sama sekali."


"Bukan gitu Wen.."


"Udahlah Kak. Kenyataan memang sepahit itu, aku tau perasaanku nggak pernah terbalas sejak dulu. Menyedihkan. Dan kamu bikin aku jadi cewek yang semakin menyedihkan dengan kebodohan yang menahun. Makasih kak akhirnya kamu masih mau jujur, setidaknya sekarang aku tahu dan bisa menyesali perasaan bodoh yang menahun ini."


Arwen menyentakkan lengan kirinya yang ditarik-tarik oleh Mira dengan keras. Adegan mereka kini tengah ditonton oleh beberapa pengunjung taman yang lewat. Jadi lebih baik ia pergi dan menangisi semuanya sendirian. Tapi Mira malah terus menahannya.


Mendengar jawaban itu membuat Arwen hanya bisa tertawa miris, karena merasa dirinya semakin dikasihani. Saat itu dirinya memang masih anak-anak, belum berpikir dewasa. Tapi bukan berarti dirinya tidak bisa menerima kekecewaan dan penolakan. Dan sekarang bagi Arwen, nasi telah menjadi bubur. Kebohongan tetaplah kebohongan, dan Arwen tidak ingin menerima rasa kasihan itu.


Arwen mengusap pelupuk matanya yang sudah mulai basah. Ia memilih untuk pergi secepat mungkin dari hadapan Mira. Ia butuh waktu sendiri saat ini, dia ingin merenungi rasa sakitnya dan kebodohan ini seorang diri saja.


BRUK!


Suara benda berat yang menubruk sesuatu membuat Arwen menghentikan langkahnya, apalagi saat melihat beberapa orang berteriak panik. Arwen menoleh dan mendapati beberapa orang berkerumun di sekitar tubuh Mira yang sudah tergolek lemas di atas rerumputan.


*****


Beberapa jam kemudian setelah Mira pingsan.


Hari itu masih siang dan matahari bersinar begitu teriknya. Arwen berjalan gontai menuju atap bangunan kos yang terlihat begitu panas. Beberapa selimut dan kain sprei yang sedang dijemur terlihat berkibar diterpa oleh angin yang cukup kencang.


Arwen berjalan perlahan dengan tubuh malasnya menuju sisi tembok lain di dekat bak besar penampungan air. Di dekat tempat itu terdapat celah kecil yang terlindung dari pintu masuk kos, namun matahari menyinari tempat itu karena tidak ada atap di atasnya. Namun Arwen nekat dan menjatuhkan tubuhnya di tempat itu, menyandarkan tubuhnya yang masih memakai baju olahraga pada bak penampungan.


Matanya yang kosong menerawang pemandangan yang panas di hadapannya. Ia terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya rasa sesak yang ia tahan sejak tadi tidak mampu lagi ia bendung. Isak tangis perlahan terdengar semakin keras dan menjadi-jadi. Bahkan gadis itu berusaha membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar kemana-mana. Namun sayangnya, sakit dan kecewa yang menumpuk sudah terlalu banyak. Dan kini ia tidak bisa menahannya lagi.


Kenyataan yang harus ia terima terasa begitu menyakitkan, kenapa dirinya harus sebodoh ini, percaya pada orang yang telah membohonginya selama bertahun-tahun. Termasuk kakaknya sendiri.


Dan sekarang sebuah kenyataan lain kembali terungkap, kebohongan itu masih akan terus berlanjut jika Arwen tidak mengetahui dengan sendirinya. Tidak akan terbongkar jika kenyataan lain sedang tidak berjalan saat ini.


Arwen masih ingat ucapan Jihan beberapa saat yang lalu.


"Wen... Mira hamil. Dan gue nggak perlu ngasih tahu siapa, karena lo pasti udah tahu orangnya. Tolong maafin Mira ya Wen!"


Ya. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Hati Arwen yang separuhnya sudah terkoyak seakan belum siap, namun dirinya harus menerima kenyataan itu. Juna memang bukanlah yang ia pikirkan lagi saat ini, tapi ia pernah berjuang selama itu untuknya dan kenyataannya semua hanya berakhir dengan kebohongan dan kebodohan. Hanya itu yang tersisa.


Arwen terisak sejadi-jadinya, kini ia hanya ingin menangis agar hatinya bisa lega dan ringan. Tidak ada yang akan menolongnya ketika ia sedih dan terpuruk lagi, bahkan kakaknya ataupun Jefri. Mereka telah menjadi orang yang berbeda dan tak ada bedanya dengan mereka. Arwen tidak bisa berharap banyak, karena semua orang kini telah berubah.


Tapi, sepertinya tidak semua, karena masih ada seseorang yang mungkin akan memayunginya ketika hujan tiba, atau bisa dikatakan ia baru membeli payung baru agar gadis kecil yang bersedih itu tidak lagi kehujanan. Setidaknya untuk saat ini.


Arwen mendongak saat merasakan tempat yang ia duduki mulai teduh sesaat. Mata sembabnya menangkap bayangan benda bulat berwarna biru dengan motif kotak di atasnya. Melindunginya dari terik matahari yang begitu menyengat. Namun Arwen masih belum bisa melihat siapa sosok yang berdiri membawa payung itu untuknya.


To be continued...