Housemates

Housemates
26. Dejavu



...Happy Reading ...


..._________________...


Pulang sekolah Arwen memutuskan untuk pulang terlambat, namun dia bilang padang teman-temannya bahwa ia mau pulang awal, padahal saat ini Arwen sedang bersembunyi di salah satu kamar mandi anak kelas satu.


Setelah dirasa mulai sepi gadis itu keluar seraya matanya mengawasi koridor lantai bawah yang mulai lengang. Hanya beberapa anak saja yang masih tinggal. Senin depan ujian akhir akan dimulai, namun Arwen bukannya langsung pulang dan belajar kini dirinya malah mencoba menjadi mata-mata karena ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri siapa orang yang telah menulis sumpah serapah yang ada di mejanya. Apakah benar itu Yuki?


Arwen segera menaiki anak tangga menuju kelasnya yang berada di bangunan lantai tiga. Ia sempat berpapasan dengan beberapa anak kelas dua, dia segera menyembunyikan dirinya saat melihat Hafiz dan gengnya baru saja turun. Kali ini mereka tidak latihan basket karena minggu depan ujian.


Setelah Hafiz dan gengnya pergi, gadis itu keluar dan segera kembali menaiki anak tangga. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang, dan matanya terus tertuju pada pintu kelasnya yang tertutup. Hatinya sangat berharap bahwa bukan Yuki yang akan dia temui nantinya.


Namun tepat saat itu, Arwen menangkap bayangan sosok lain yang sedang berjalan menuju kamar mandi. Mereka adalah Dian dan juga Yohana. Seketika ingatannya kembali pada kejadian penculikan singkat dimana Jefri menjadi orang pertama yang menyelamatkannya. Gadis itu mendesah karena lagi-lagi kembali mengingat wajah Jefri.


Sejenak Arwen bingung, kemana tujuan yang akan dia ambil. Arwen ingin tahu apakah hari ini ada orang yang akan kembali menulis sumpah serapah di mejanya. Namun dirinya juga penasaran dan ingin bertanya langsung dengan Dian tentang kejadian hari itu. Karena bisa menemui Dian yang sering membolos adalah sebuah keajaiban.


Akhirnya Arwen memutuskan untuk mengikuti Dian dan juga Yohana. Ia mengendap-endap perlahan di depan pintu toilet utama. Di dalam sana ada empat kamar mandi khusus murid perempuan. Sedangkan kamar mandi anak cowok berada di ruangan yang lain.


Koridor lantai tiga benar-benar sepi. Mungkin kini hanya tinggal Arwen dan dua gadis itu yang masih berkeliaran di sana. Arwen melongok ke dalam dan melihat dua pintu kamar mandi sedang tertutup yang menandakan bawah Dian dan Yohana sedang berada di dalamnya.


Arwen segera berjingkat pelan dan masuk ke dalam kamar mandi yang masih kosong. Namun ia memutuskan untuk masuk dengan cara biasa, karena bisa saja mereka berdua curiga jika melihat pintu kamar mandi tertutup tapi mereka tidak mendengar ada orang yang masuk.


Arwen berdiri mematung di dalam seraya menunggu dua gadis itu menyelesaikan urusannya. Kenapa Arwen melakukan ini dan bukannya bertanya secara gamblang pada Dian? Alasannya, karena mungkin saja Dian tidak akan mengaku jika dirinya bertanya. Bahkan mungkin akan kembali melakukan perundungan pada dirinya. Dan biasanya cewek-cewek selalu ngerumpi sebelum mereka benar-benar keluar dari toilet.


Benar saja dugaan Arwen, dua cewek itu masih terlihat bercakap-cakap di luar. Yohana menanyakan pada Dian kemana saja selama ini karena sudah beberapa hari tidak masuk. Namun Dian hanya menjawab sekedarnya. Keduanya kemudian kembali membahas tentang ujian dan juga pesta porm yang akan datang. Sampai akhirnya mereka membicarakan sesuatu yang sangat ingin Arwen dengar.


"Dian, itu orang masih berhubungan sama lo?" tanya Yohana.


"Siapa?"


"Ck, nggak usah pura-pura."


"Emang kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?"


"Ya soalnya kemarin Latif tiba-tiba aja hubungin gue dan nanya kenal sama Arwen nggak? Trus katanya dia hubungin lo tapi nggak bisa-bisa. Gue kaget, kenapa Latif bisa kenal sama Arwen. Tapi pas gue tanya dia nggak ngaku. Menurut lo gimana Di?"


Sejenak suasana hening. Sepertinya Dian sedang berpikir atau berusaha menemukan kata-kata yang tepat.


"Dia juga hubungin gue."


"Trus?"


"Dia bilang kalo dia tau masalah gue sama Arwen hari itu."


"Lah kok bisa? Darimana Latif kenal Arwen?"


"Gue juga nggak tau, dia nggak mau ngaku. Yang jelas dia langsung nanya gue ini itu, bahkan tau secara detail tentang penyekapan yang gue lakuin. Jelas gue nggak bisa apa-apa.


"Trus lo jawab apa?"


"Ya gue jawab jujur."


"Hah serius? Kalau dia bilang sama Arwen gimana?"


"Ya udahlah biarin aja. Lagian gue capek jadi babu muluk. Kalo gue kena, jangan harap tu orang bakal lolos juga."


"Lo yakin Di, taruhannya sekolah lo bakalan dicabut loh."


"Terserahlah, lagian gue juga nggak yakin lulus karena udah banyak punya kartu merah."


Sejenak suasana kembali hening.


"Gue juga kasian sama Yuki."


Deg.


Seketika jantung Arwen mendadak berdetak semakin tak karuan ketika mendengar nama Yuki disebut.


"Ngapain kasian? Dia sendiri yang milih buat ninggalin kita cuma buat temenan sama anak-anak orang kaya itukan."


"Ya mungkin itu juga salahnya dia, dan sekarang dia lagi kena batunya."


"Makanya gue juga males bantuin sampe gue juga diganggu sama anak gila itu. Tapi dia nggak ada rasa terima kasih sama sekali. Untung aja duit gue udah dibalikin." Dian berseru dengan nada ketus.


"Sebenarnya gue juga kasihan sama Arwen, mana gue dulu sempet marah-marah sama dia soal uang kas. Ternyata dalangnya orang lain. Dan gue ngga nyangka aja, kalo ternyata Nana sendiri yang narok dompet kasnya di dalam tas Arwen."


Bagaikan disambar petir di siang hari, Arwen seketika lemas mendengar kenyataan itu. Nana, sosok gadis pendiam dan kalem yang Arwen yakini sebagai sosok yang paling tidak mungkin melakukan hal seperti ini justru adalah dalang dibalik kasus uang kas.


Dirinya tidak percaya sama sekali, namun Yohana menjelaskan dengan begitu yakin. Bahkan dia juga tidak menyangka sosok Nana yang hari itu membela Arwen malah menjadi sosok dibalik semua itu. Arwen meremas roknya dengan kasar, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya menendang pintu ini dan melabrak dua gadis itu secara langsung. Namun Arwen berusaha menahan diri demi mendapatkan informasi yang dia inginkan.


"Dia nurutin cewek gila itu hanya karena selama ini dia suka sama Jinu. Sedangkan Jinu suka sama Arwen."


"Dan tuh cewek bener-bener pinter gimana caranya memanfaatkan orang lain. Dan jujur aja, kenapa dia bisa benci sama Arwen padahal mereka temenan dan satu geng. Aneh."


Jujur saja Arwen bingung dengan semua percakapan itu. Entah kenapa Arwen menyimpulkan bahwa mereka membicarakan sosok lain yang Arwen tidak ketahui, tapi terlibat dalam masalah ini. Bahkan dari cara mereka berdua menjelaskan, sosok inilah yang memegang kendali akan kasus-kasus yang menimpa Arwen akhir-akhir ini. Dan sosok itu memanfaatkan orang di sekitarnya untuk membuat hidup Arwen menderita secara perlahan.


Tentu saja Arwen bingung, kenapa ada orang yang sebenci ini padanya. Bahkan berusaha membuat orang-orang di sekitar Arwen menjauh dan memanfaatkan mereka.


*****


Malamnya Arwen sedang belajar mempersiapkan ujian untuk hari senin depan. Hari itu malam minggu, beberapa anak kos ada yang pulang ke rumah masing-masing. Bahkan Tora dan Sulis yang bergelar anak perantauan juga sedang mudik setelah beberapa bulan tidak pulang ke kampung halaman.


Kejombloan yang menyelimuti beberapa penghuni kos membuat mereka gabut dan menghabiskan waktu dengan bermain game dan juga konser di atap rumah.


Arwen sudah sangat lama tidak bercengkerama dengan mereka semua dan memutuskan untuk melongok ke atap sebentar. Namun dirinya langsung mengurungkan niat saat melihat kamar Mira sedikit terbuka. Mesteri lain yang masih mengusik rasa penasaran Arwen membuat dirinya akhirnya mencoba melihat sebentar ke kamar saudara sepupunya itu.


Tampak Mira sedang duduk sembari makan rujak malam-malam sendirian. Tangan kirinya menscroll layar ponsel seraya sesekali bibirnya menyunggingkan senyum.


"Arwen.."


Seketika Arwen tersentak saat sebuah tangan hangat menyentuh kulit lengannya. Gadis itu menoleh dan mendapati Regan berdiri dengan wajah bertanya padanya. Cowok itu hampir membuka mulut namun dengan sigap Arwen segera membekapnya dengan tangan dan mendorong cowok itu mundur.


"Awas kak nanti kak Mira tau."


Regan dengan segera menyingkirkan tangan Arwen. "Emang kenapa?" bisiknya heran.


"Nggak papa, takut kak Mira tau kalo gue ngintipin dia."


"Lagian ngapain sih ngintip-ngintip?"


"Ya nggak papa, cuma pengen."


"Dihh..."


"Kakak baru balik?"


"Iya nih. Capek. Yaudah gue mau masuk kamar dulu, mandi. Mau ikut nggak?"


"NGGAK!"


"Hahahah.."


Setelah Regan masuk ke kamarnya, Arwen masih termenung sesaat di depan pintu kamar. Pikirannya masih melayang pada Mira yang menurutnya akhir-akhir ini agak sedikit aneh, atau mungkin hanya perasaannya saja. Namun Mira menjadi lebih pucat dari sebelum-sebelumnya, dan dia juga sering sakit-sakitan. Dan sekarang Arwen melihat dia makan rujak malam-malam.


Gadis itu segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba membuang pikirkan negatif yang sempat melintas di otaknya. Akhirnya Arwen turun ke bawah untuk membuat segelas kopi es untuk menemani waktu belajarnya.


Kali ini ruang tamu dan ruang keluarga juga sepi. Biasanya ada geng Latif dan Mark yang menghuni markas itu, tapi seharian ini Arwen malah belum melihat mereka sama sekali. Padahal Arwen sangat ingin menanyakan apa yang dia dengar hari ini pada Latif.


Di taman belakang terdengar sayup-sayup suara beberapa orang yang sedang mengobrol. Dari suaranya sih itu seperti suara Rosa, Lira, Jais dan Banu.


Arwen segera menuju dapur yang juga lengang karena tidak ada siapapun. Di sana ada beberapa tumpukan piring kotor yang belum dicuci, membuat Arwen gatal dan akhirnya memutuskan untuk mencuci piring lebih dulu.


Entah kenapa hal yang dia lakukan saat ini kembali mengingatkannya pada Jefri. Bahkan dirinya tak bisa menghentikan hati dan pikirannya untuk terus menerus memikirkan cowok itu. Jujur saja Arwen cukup rindu dengan kehadirannya.


"Nggak usah mikirin gue terus Wen."


Dan sekarang, bahkan suara cowok itu juga terus terngiang dalam pikirannya.


"Wen, awas piringnya jatoh!"


"Eh..."


Gadis itu menoleh dan seketika terkejut bukan main saat melihat cowok berkulit putih itu sudah berdiri di belakangnya. Menangkap tubuhnya yang hampir saja oleng karena kaget. Ternyata suara tadi bukan dari pikirannya, tapi dari Jefri yang asli, yang menatap dengan raut wajah menggoda seperti biasanya.


Degup jantung yang tak menentu kembali terasa, begitu juga pipi yang memerah karena hawa panas. Arwen segera menjauhkan tubuhnya dari dada bidang Jefri, mencoba untuk tidak mengingat bahwa ia sempat merasakan bagaimana detak jantung Jefri yang mungkin juga sama dengan miliknya sendiri.


"Kakak ngapain sih dateng-dateng kayak hantu, ngagetin tau!"


"Lagian malem-malem cuci piring."


Seketika keduanya saling berpandangan saat merasakan hawa dejavu kembali menyelimuti rasa canggung itu. Selama beberapa detik hingga akhirnya mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena mengingat merka dulu pernah memiliki adegan yang sama persis seperti ini.


Jefri menatap lembut pada sosok gadis cantik yang masih tertawa di hadapannya. Sampai akhirnya ia menjamah rambut panjang Arwen yang tergerai indah dibalik bahunya.


"Kakak ngapain?" tukas Arwen dengan nada kaget.


Jefri menatap gadis itu lamat-lamat. "Boleh nggak Wen, kakak iketin rambut kamu sekali lagi?"


Arwen hanya bisa menatap nanar pada mata legam yang mencoba kembali menariknya. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa, baru saja kemarin ia menangis karena rasa sakitnya. Dan sekarang hatinya kembali berbunga hanya karena adegan kecil ini.


Entahlah apa yang terjadi, yang jelas sekarang Arwen hanya membiarkan Jefri membelai dan menggelung rambutnya dengan pelan. Mengikat dan menelisipkan sebatang sumpit di antaranya. Sampai akhirnya ia mengatakan sebuah kalimat yang kembali membuat hati Arwen bergejolak.


"Cantik!"


To be continued..