Housemates

Housemates
27. Kembali ke Masa Itu



...Happy Reading ...


..._________________...


Hari minggu pagi, Arwen tidak pulang ke rumah orang tuanya karena besok ujian sekolah akan berlangsung. Akhirnya Taki pulang sendiri karena di rumah sedang ada acara syukuran karena keberhasilan usaha Ayah mereka yang sudah memiliki beberapa cabang usaha di beberapa tempat.


Pagi ini masih pukul setengah enam, namun Arwen sudah bersiap dengan sepasang jumpsuit olahraga berwarna hitam yang tidak terlalu ketat. Ia juga mengenakan sepatu larinya yang sudah teronggok ribuan purnama karena jarang disentuh.


Entah angin apa yang merasuki gadis itu hingga akhirnya memutuskan akan berlari pagi hari ini. Apakah ada seseorang yang membuatnya begitu bersemangat? Tapi jawabannya adalah tidak. Arwen hanya ingin mencoba mendisiplinkan dirinya, setidaknya ia bisa mengurangi rasa stresnya sesaat akibat banyaknya pikiran yang menumpuk akhir-akhir ini. Ditambah ia terus belajar tanpa henti menjelang ujian akhir sekolah.


Arwen masih memikirkan percakapan Dian dan juga Yohana hari itu. Ia ingin bertanya pada Latif mengenai hal yang mereka bicarakan dan juga yang Latif ketahui. Namun sayangnya cowok itu sedang pulang sejak kemarin malam karena ayahnya tiba-tiba jatuh sakit. Jadi tidak mungkin Arwen akan bertanya di saat seperti ini. Terlebih Mark ternyata juga tidak tahu apapun bahwa Latif sudah mengintrogasi Dian tanpa sepengetahuannya.


Arwen akhirnya hanya bisa pasrah dan memutuskan untuk menunggu ujian akhir selesai. Mereka kini sedang pusing dan fokus, Arwen juga tidak ingin menganggu waktu belajarnya sendiri yang mungkin nanti akan memengaruhi nilai dan juga kelulusannya.


Bahkan dirinya harus mengesampingkan perasaan tak menentu mengenai sosok pria bernama Jefri yang entah kenapa tak mau pergi dari pikirannya. Setidaknya kini ia merasa lega karena hubungannya dengan Jefri tak secanggung sebelumnya karena percakapan singkat semalam. Meskipun itu tidak membuktikan apapun, tapi Arwen senang dan mencoba melupakan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


Gadis itu kembali melihat pantulan dirinya di cermin. Rambut ikat kuda yang cantik dan juga polesan make up tipis yang manis. Arwen sempurna untuk segalanya. Bahkan ketika gadis itu tak memberikan banyak ekspresi pada wajahnya.


Ia kemudian segera keluar kamar dan turun ke bawah. Ternyata Mira, Dinda dan juga Jihan sudah menunggunya sejak tadi.


"Maaf kak lama ya?"


"Nggak kok, kita juga baru turun. Yaudah yuk sekarang aja, keburu siang," ucap Jihan.


"Tapi jangan cepet-cepet larinya."


"Ini kan lari santai Mir, ya nggak bakalan kayak lari marthon," tukas Dinda.


"Atau lo nggak usah ikutan aja Mir."


"Dih kok gitu Ji? Lo ngusir?"


"Ya enggak, cuma akhir-akhir ini badan lo kan sering nggak fit."


Arwen bisa melihat raut wajah Jihan yang khawatir. Memang benar, akhir-akhir ini keadaan Mira sering mengkhawatirkan. Karena Jihan yang paling dekat dengan Mira, sudah pasti Jihan yang lebih tahu tentang keadaan Mira saat ini. Apalagi sudah hampir dua minggu lebih Mira tidak pulang ke rumah orang tuanya yang berada tak jauh dari rumah orang tua Arwen.


Tidak lama kemudian empat gadis itu kini berlari kecil menyusuri komplek perumahan dan menuju taman cagar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kos-kosan mereka. Butuh waktu sekitar dua puluh menit dengan berlari kecil, mereka juga melewati sekolah Arwen lebih dulu yang terlihat gelap dan juga sepi karena matahari belum menyembul.


Akhirnya setelah kurang dari dua puluh menit mereka tiba di sekitar taman yang sudah ramai dengan para pejalan kaki yang juga tengah meregangkan otot-otot tubuh mereka. Hari kini sudah terlihat terang karena waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat.


Empat gadis itu akhirnya memutuskan duduk di sekitar taman yang diberi pagar di setiap bagian petak-petak berisi tumbuhan bunga dan tanaman agar terlindung dari kerusakan tangan-tangan jahil.


Empat gadis itu masih ngos-ngosan mencoba mengatur nafas, mereka menenggak botol minuman masing-masing yang baru saja dibeli di penjual asongan.


"Mir lo masih kuat?" tanya Jihan seraya menatap wajah Mira yang terlihat begitu kelelahan.


"Jangan maksa deh, muka lo udah pucet gitu."


"Mending istarahat dulu aja kak, biar gue temenin. Kak Jihan sama kak Dinda lanjut dulu aja, nanti kita nyusul." Arwen akhirnya menawarkan diri karena dirinya pun juga sudah payah dan kelelahan.


"Nggak apa-apa nih Wen?"


"Iya. Gue juga capek kak, maklum jarang olahraga hehe.."


"Yaudah, nanti kalo ada apa-apa kabarin ya? Bawa Hp kan?"


"Iya bawa kok."


"Nggak usah sekhawatir itu kali Ji, lo ngomong gitu seakan gue mau pingsan aja," sahut Mira kesal.


"Bukannya gitu, masalahnya kan elo.." seketika Jihan terdiam dan tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Dia sendiri terlihat tertegun sembari menatap tiga orang di hadapannya yang menunggu kelanjutan kata-katanya. Namun Jihan segera tertawa canggung dan menarik lengan Dinda.


"Yaudah ya, kita cabut dulu!"


Sepeninggal Jihan dan Dinda, dua gadis yang duduk di bangku taman itu hanya saling mengobrol ala kadarnya tentang kegiatan sekolah dan kampus, sampai akhirnya tiba-tiba mereka seperti terjebak dalam kisah masa lalu.


"Kak, boleh tanya sesuatu?" tanya Arwen.


"Tanya aja sih Wen? Kaku amat," sahut Mira tertawa.


"Sejak kak Juna pindah ke Kalimantan, kenapa kakak nggak pernah main ke rumahku lagi kak? Apa karena Kak Juna udah nggak ada di sana lagi?"


Pertanyaan itu seketika membuat senyum cantik di wajah Mira menghilang perlahan. Arwen bisa merasakan gurat kesedihan dan juga kecewa yang tergambar di wajah Mira.


"Mungkin Wen, karena dulu kita emang deket banget kan?"


"Tapi, sedeket apa kakak sama kak Juna sebenernya? Apa lebih dari temenan?"


Mira menatap wajah Arwen yang memberi tatapan tegas seolah meminta penjelasan.


"Wen, aku sama Juna itu satu sekolah sejak SD sampai sebelum dia pindah ke Kalimantan. Bahkan kamu sama Taki juga, aku juga ngerasa sedih waktu Juna tiba-tiba pindah gitu aja. Sama kayak kamu, aku juga merasa kehilangan, dan mungkin dengan cara itu aku bisa lupain dia. "


"Kenapa kakak harus sulit lupain dia kak? Bukannya sulit itu hanya untuk orang yang sangat spesial? Kayak aku, yang sampai dua tahun melakukan hal bodoh cuma demi meringankan rasa sakit dan kecewa. Karena orang yang spesial dan kusayang tiba-tiba pergi gitu aja sebelum aku bilang apapun ke dia. Apa kakak juga gitu? "


Pertanyaan yang terdengar sederhana itu jelas mengetuk dan membuat Mira yang semula masih tenang tiba-tiba tertunduk kaku. Pertanyaan itu akan menjadi sederhana jika dilontarkan pada orang yang tidak memiliki rasa apapun. Namun, sepertinya Mira tidak begitu.


To be continue...