Housemates

Housemates
8. Rencana Mencari Pelaku



Akhir pekan biasanya adalah kesempatan untuk anak-anak muda nongkrong, jalan-jalan atau sekedar mencari angin segar. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk anak-anak muda yang tinggal di Kos Violet. Pasalnya saat ini mereka yang tidak pulang ke rumah masing-masing sedang bekerja bakti membersihkan rumah.


Hal itu memang sudah biasa dilakukan sejak dulu, dan itu membuat mereka terlatih mandiri dan juga sudah tahu tugas masing-masing. Begitu juga dengan Arwen yang saat ini asik mengobrol dengan Hafiz, Latif, Dinda dan Mark sambil menjemur gorden di atap rumah.


Mereka bisa saja memakai jasa laundry yang memang sudah disiapkan oleh pihak kos, tapi selama ini ternyata mereka jarang menggunakannya selagi masih bisa dikerjakan sendiri. Biasanya hanya anak-anak cowok yang memakai jasa laundry, karena terkadang mereka sibuk atau sedang malas mencuci baju sendiri.


"Serius Wen lo di fitnah?" teriak Latif sambil membanting seprei ke lantai. Dinda yang melihat itu jelas saja langsung melempar ember ke arah cowok jangkung tersebut.


"Latif! Sekali lagi lo banting ni cucian, gue lempar lo ke bawah nih!" seru Dinda dongkol. Masalahnya ini sudah ketiga kalinya Latif membanting cucian yang sudah bersih karena emosi, jelas saja Dinda kesal setengah mati karena harus membilas lagi dan lagi.


"Maaf kak habis gue kesel, emosi gue."


"Bodo amat, sekarang pokoknya lo bilas ampe bersih!"


"Tapi ceritanya belom kelar."


"Bodoooooo!"


Dinda segera mendorong Latif menuju tangga. Saat ini keran air yang ada di atap sedang rusak, jadi mau tidak mau Latif harus membilasnya di bawah.


Arwen tidak ada niatan sama sekali untuk menceritakan masalahnya di sekolah pada teman kos-nya. Tapi Hafiz yang tahu masalah Arwen merasa ada yang janggal dan tidak terima dengan keputusan pihak sekolah yang mencabut jabatan Arwen dari wakil Osis begitu saja.


"Wen lo harusnya jangan terima-terima aja," tukas Hafiz.


"Fiz, lo pikir gue harus gimana? Lo nggak liat semua buktinya ada di gue? Lo pikir cuma pake omongan doang mereka bakal ngerti?"


"Ya gue tau, cuma lo itu terlalu pasrah nggak ada pembelaan. Mereka jadinya berpikir kalo emang lo pelakunya."


"Lo percaya kalo bukan gue pelakunya Fiz?"


Hafiz menghela nafas kasar. "Gue emang nggak deket sama lo. Tapi kinerja lo di Osis semua orang udah tau. Lagian kalo lo pelakunya nggak mungkin kali lo balikin tu duit, sama aja itu bunuh diri," jelas Hafiz dengan nada kesal.


Entah kenapa Arwen yang mendengar kalimat Hafiz merasa lega sekaligus terharu. Mereka berdua tidak dekat sama sekali, bahkan baru kali ini mereka saling mengobrol satu sama lain.


Tapi ternyata cowok itu bisa melihat dan percaya kalau bukan Arwen pelakunya. Hal itu membuat Arwen tersenyum miris mengingat bahwa sahabatnya sendiri yang sudah saling mengenal lebih dari dua tahun meragukannya dan menghindarinya.


"Eh tapi Wen. Lo ngerasa nggak kalo orang ini pasti deket banget sama lo?" timpal Mark yang sejak tadi juga ikut mendengarkan.


Arwen hanya mengangkat bahu. "Bisa iya bisa nggak. Gue belum bisa menyimpulkan apa-apa sih."


"Orang itu pasti udah tahu sifat sama karakter lo sih kayaknya. Dia udah yakin kalo lo nemuin duit ini pasti lo bakal balikin. Gampang banget nggak sih kalo dia temen deket lo yang masukin dompet itu ke tas?" Ucapan Mark itu di amini Hafiz dan juga Dinda. Tapi Arwen langsung menggeleng.


"Kalian nggak nuduh kalo itu Harry kan? Soalnya di kelas gue yang jadi anggota osis cuma gue sama Harry."


"Dan lo pikir aja sih, siapa yang sekarang jadi wakil Osis setelah jabatan lo dicabut?" timpal Hafiz sambil menatap Arwen yang terlihat merenung.


Arwen tahu, bahkan dia sempat berpikir seperti itu. Tapi dia tetap yakin Harry tidak mungkin melakukan itu hanya demi sebuah jabatan. Kalau Harry mau, dia pasti sudah melakukannya sejak dulu.


"Gue kenal Harry, dia nggak mungkin kayak gitu," ucapnya pelan. Dinda dan Mark saling berpandangan, sedangkan Hafiz langsung mendengus kasar.


"Itu terserah lo sih Wen. Kita juga nggak mau nuduh, tapi yang jelas orang ini deket sama lo. Lo nggak mau apa cari bukti buat ngebersihin nama lo? Jangan pasrah-pasrah gitu aja sih. Nggak mungkin dia bakalan nongol gitu aja trus ngaku kalo lo nggak nyari."


"Iya gue tahu, tapi gue nggak tau harus mulai darimana? Lo mau bantuin gue Fiz?" tanya Arwen sambil memandang cowok berambut gondrong itu.


Arwen diam bukannya pasrah, tapi Arwen takut kalau sampai dia tahu kenyataan tentang siapa pelakunya. Arwen takut kalau apa yang mereka pikirkan tentang pelakunya itu benar dan akan membuatnya sakit hati.


"Serius lo minta bantuan gue?" tegas Hafiz seolah meminta jawaban yang pasti dan Arwen menggangguk.


"Gue tetep akan nyari juga sama temen-temen gue. Cuma karena lo orang luar, gue yakin sih akan lebih gampang. Kalo pelakunya emang deket sama gue dia pasti akan berhati-hati, tapi kalo sama lo-kan dia nggak kenal."


Hafiz menepuk tangannya dengan keras. "Oke. Gue paling suka kalo dapet job kayak gini, dan udah saatnya pasukan gue kembali bangkit menjadi pahlawan. Ntar gue suruh si Burhan jadi mata-mata, dia kan anak osis juga."


"Tapi lo jangan kentara juga Fiz. Belum mulai udah kebongkar lagi," cletuk Mark.


"Nggak lah bang, pasukan gue udah terlatih semuanya. Apalagi kalo ada bayarannya,"


"Jadi lo nggak ikhlas nolongin gue?" seru Arwen sewot.


"Nggak Wen bercanda, tapi tergantung nanti akhir kasusnya aja sih. Kalo sukses bisalah traktir di pak Saman."


Arwen manyun. "Iya, iya bawel."


"Eh, lo jangan ngobrol mulu, kelarin tu jemuran!" teriak Dinda sambil melempar selembar sprei basah ke arah muka Hafiz. Cowok itu cuma misuh-misuh.


"Latif mana sih! Masa bilas sprei aja lama banget," seru Dinda lantang. "Latif lo ngapain woi?"


"Dia bilasnya ke Hongkong makanya nggak balik-balik. "


"Samperin deh kak, udah capek ni, mana mulai panas. Ntar kita jemur sekalian sama si Latif juga biar makin item," tukas Arwen sambil menyeka keringat di dahinya.


"Bahahahaha. .. Suka bener lo kalo ngomong Wen," timpal Mark yang tertawa terbahak-bahak sendiri sambil membayangkan Latif yang bakal dijepit-jepit jemuran.


Tidak lama kemudian Latif kembali dengan seember sprei yang sudah dibilas. Setelah beradu argumen dan membela diri dari ocehan Dinda, akhirnya sprei itu berhasil dijemur juga. Sedangkan Latif langsung kabur sebelum mereka benar-benar ingin menjemur dirinya bersama gorden dan sprei tersebut.


To be continued...