Housemates

Housemates
29. Sebuah Payung Lain



...Happy Reading...


..._________________...


Arwen mendongak, memicingkan mata, mencoba melihat disela mata sembab yang masih dipenuhi oleh air mata. Sosok jangkung itu berdiri di hadapannya, memayungi tempatnya yang semula panas kini menjadi lebih teduh dan dingin.


Regan menatap dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan pada gadis yang duduk memeluk lututnya dengan wajah pilu. Mungkin dia iba, karena Arwen saat itu memang terlihat menyedihkan.


Regan kemudian melangkah dan duduk tepat berada di samping Arwen. Menyelonjorkan kaki dan juga menyandarkan punggungnya pada tampungan air. Tangannya masih menggenggam erat payung agar mereka tidak kepanasan.


Melihat itu Arwen semakin memalingkan wajah. Merasa malu karena ada orang yang kembali melihat dirinya rapuh. Gadis itu terisak pelan, mencoba menahan air mata yang sepenuhnya belum tercurahkan.


"Nggak usah ditahan! Nggak ada salahnya kok nangis, kalau itu bisa bikin hati kamu lebih ringan." Suara Regan terdengar pelan di sampingnya membuat Arwen semakin tidak bisa menahan isak tangisnya.


Gadis itu kembali menangis tanpa henti selama lima belas menit. Dan Regan hanya duduk di sana tanpa mengatakan apapun, ia membiarkan Arwen menumpahkan semua rasa sakitnya. Ia hanya ingin menemaninya dalam keadaan diam, memayungi tempatnya agar tidak kepanasan.


Regan merasa bersalah pada gadis itu, karena hubungannya dengan Citra yang berakhir membuat Jefri kini menjauh dari Arwen. Lalu, ia juga merasa bersalah pada Arwen tentang Juna. Dirinya tahu bahwa Juna dan Mira sudah lama kembali berhubungan, tapi ia tidak pernah memberi tahu itu pada Arwen, karena merasa hal itu bukan urusannya.


Namun Regan tidak tahu bahwa mereka berdua memiliki masa lalu seperti ini yang akhirnya berujung menyakiti Arwen. Tidak hanya Arwen, Lira kini juga menjadi sosok paling tersakiti karena menjadi pelampiasan atas perasaan Juna yang hanya ia gunakan agar Mira kembali pada dirinya.


Regan menoleh pada gadis di sampingnya yang masih menelungkupkan kepala di atas lutut. Peralahan ia menggerakkan tangan kirinya untuk menepuk pelan rambut Arwen. Regan ragu, namun akhirnya ia memberanikan diri, mencoba memberikan dukungan bahwa ia tidak harus menanggung semuanya sendirian.


Lembut. Itulah yang ia rasakan ketika telapak tangannya menyentuh pelan rambut Arwen. Meskipun lembab dan sedikit basah karena keringat, namun rasa halus masih mengukir jelas di tangannya.


Merasakan sebuah belaian lembut mendarat di kepalanya membuat Arwen bereaksi. Gadis itu mendongak dan mengusap bekas-bekas air matanya. Seketika Regan menarik tangannya dengan canggung seraya matanya berkeliling menatap langit cerah yang tiba-tiba berubah menjadi mendung.


"Maaf ya kak," ucap Arwen akhirnya.


Regan menoleh heran. "Kenapa minta maaf?"


"Karena tangisan aku bikin kamu jadi ojek payung di siang bolong."


"Hahaha.. Lagi sedih masih aja bisa bercanda. Padahal seharusnya aku yang ngehibur, tapi ini kok malah kebalik."


Arwen tersenyum sedikit seraya mencoba menutupi wajah bengkaknya dari Regan. Keduanya duduk dalam jarak yang sangat dekat, membuat gadis itu malu karena sejak pagi dia belum mandi ditambah kini penampilannya kusut dan kacau.


"Nih!"


Arwen mendongak, menatap pada Regan yang baru saja menyodorkan Bucket Hat berwarna gelap padanya. Gadis itu menerima dengan senyum lega karena Regan sangat pengertian sekali.


"Makasih kak," ucapnya seraya menerima topi itu dan membenamkan pada kepalanya hingga wajah sembab dan bengkak itu tidak terlihat jelas.


"Sekarang kamu bisa cerita Wen, aku siap dengerin kok."


Arwen menoleh pelan dan kembali menunduk. "Apa yang mau aku ceritain kak? Aku rasa kamu udah tahu alasannya."


"Aku emang udah tahu, tapi bukan itu intinya. Kalau emang sedih luapin aja, kalau kecewa tunjukin jangan dipendam. Dan satu lagi, temen itu tempat paling tepat untuk meluapkan segalanya." Regan berucap seraya melirik pada Arwen yang juga membalas lirikannya. Gadis itu tiba-tiba malah tertawa.


"Jadi kemarin waktu patah hati, siapa temen curhat kamu kak?"


"Tadinya aku mau curhat sama Juna, tapi ternyata hidup dia lebih mengenaskan dariku. Trus aku mau curhat sama Erlan, tapi dia jomblo. Kan kasian, akhirnya aku curhat sama buku."


"Hah? Maksudnya buku diary?"


Regan mengangguk. "Temen paling ngerti dan bisa jaga rahasia."


"Serius kak? Hahahaha..."


"Loh kok malah ketawa?"


"Nggak nyangka aja ada cowok yang masih nulis di buku diary."


"Nggak ada yang salah kok. Bahkan para penulis sering mencurahkan semua perasaan, rasa sakit dan kejadian di sekitarnya dalam bentuk buku dan ebook. Karena tulisan adalah teman terbaik di saat kita kesepian dan sedih."


Banyak pria yang sulit menangis ketika sedang sedih dan putus asa. Mereka juga memiliki banyak cara untuk mencurahkan rasa sakitnya, entah pada hal positif ataupun negatif. Namun Arwen tidak menyangka, cowok seperti Regan memilih memindahkan rasa sakitnya pada sebuah buku dan tulisan yang sangat jarang dilakukan oleh cowok seusianya.


Tapi kenyataannya hal itu bekerja, karena Regan kini seperti tidak memiliki beban apapun dan menjadi sosok yang lebih dewasa. Daripada memikirkan mantannya yang kini semakin dekat dengan temannya sendiri, ia lebih memilih melakukan kegiatan positif dan juga banyak waktu luang dengan teman-temannya di kos.


"Itu sih saran yang aku kasih Wen kalau kamu nggak bisa ungkapin apa yang kamu rasain sekarang. Tapi mumpung aku disini, kamu bisa cerita apa aja. Aku cuma mau jadi pendengar aja kok, nggak akan menggurui ini itu."


Sekali lagi Arwen tersenyum, merasa berterima kasih karena Regan yang menemukan dirinya dalam keadaan rapuh seperti ini. Daripada mencecar dengan segala pertanyaan ia lebih memilih memberikan solusi dan membiarkan Arwen memilihnya sendiri.


"Makasih banyak ya kak, karena udah bikin aku lebih baik. Tapi... Cerita ini biar aku simpen sendiri aja untuk saat ini. Lagipula kamu pasti udah tahu intinya, yang jelas aku saat ini cuma kecewa, itu aja. Aku nggak akan sekecewa ini kalau aja mereka jujur sejak dulu. Dan aku kecewa karena mereka melakukan hal bodoh kayak gitu. Daripada mikirin perasaan aku yang udah jadi masa lalu, aku lebih mikirin kak Lira. Dia pasti sakit banget. "


"Aku juga nggak nyangka kalau Juna bisa sejahat itu."


"Apa anak kos yang lain udah tahu?"


"Jelas udah. Aku rasa sebentar lagi dia bakal datang ke sini."


"Trus kak Lira gimana?"


"Kayaknya dia belum tahu, karena kemarin dia nginep di rumah temennya. Jadi hari ini dia belum ada di kos."


Arwen menunduk. "Kasihan kak Lira."


"Itu jadi pelajaran buat Juna. Dia harus bisa hadapin masalah yang dia buat sendiri. Minta maaf aja itu nggak akan cukup. Dia selama ini cuma bikin Lira jadi pelampiasan doang."


"Jadi kamu udah tahu kak?"


Regan seketika terdiam, melirik sesaat pada Arwen yang kini menatap tanpa berkedip di balik topi yang ia berikan.


"Sorry Wen. Aku nggak tahu hubungan kamu selama ini sama Juna seperti apa, jadi.."


"Bukan itu kak, jadi kakak udah tahu kalau selama ini Kak Juna cuma jadiin kak Lira pelampiasan? Tapi kenapa kakak nggak cegah?"


Lagi-lagi Regan terdiam, merasa tertohok atas pernyataan Arwen barusan. Memang benar, dirinya bodoh karena membiarkan sahabatnya sendiri mengambil jalan itu. Dan sekarang ia malah ikut menyalahkan Juna padahal dirinya tidak mengingatkan bahwa sahabatnya telah mengambil jalan yang salah.


Regan mendongak dan menyandarkan kepalanya pada tempungan bak di belakangnya. Angin kini berhembus dingin dan cuaca berubah seketika menjadi gelap. Hawa panas tadi sudah menghilang, namun Regan masih belum menurunkan payungnya. Karena mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"Ternyata aku nggak jauh beda, sama-sama kejamnya. Karena udah biarin temen sendiri jatuh ke dalam masalah. Dan sekarang aku malah nyalahin dia. Tadinya aku mau nyadarin kamu, tapi ternyata aku sendiri juga butuh pencerahan."


Arwen tertawa. "Bener sih, kita berdua memang butuh pencerahan kak. Tapi kayaknya harus dipending dulu, kalau nggak kita bakalan bener-bener basah di sini."


"Eh.."


Benar juga, Regan sampai tidak sadar bahwa hujan kini sudah turun perlahan. Mula-mula hanya sebuah gerimis kecil, namun tiba-tiba saja menjadi deras dan semakin lebat.


"Seenggaknya payung ini bisa nyelametin kita dari panas dan hujan, kan?" seru Regan seraya tersenyum simpul, menampakan sederat gigi tak simetris namun manis sekali. Arwen hanya terdiam dan membiarkan cowok itu menarik tangannya dan membawanya berlari menuju tempat yang lebih teduh.


Hujan turun semakin lebat, namun keduanya masih bisa terlindung di bawah payung besar milik Regan. Rasa gelisah dan pedih yang dirasakan Arwen kini sedikit berkurang karena kedatangannya. Andai saja hatinya tidak terikat oleh hal yang lain, mungkin saja ia akan terpikat dengan pesona manis cowok ini.


Namun sosok lain yang berusaha ia tepis tidak memberinya ruang pada hati yang lain. Karena gadis itu kini terpaku dalam hujan, bersama dengan Regan yang berdiri di sampingnya.


Keduanya menatap pada sosok pria jangkung berkulit putih yang menatap mereka dengan tajam di bawah siraman hujan yang semakin lebat.


"Kak Jefri?" seru Arwen terkejut dan segera menarik tangannya yang masih digenggam erat oleh Regan.


Rasanya dejavu, seperti hari kemarin dengan adegan yang hampir saja. Hanya saja, mungkin kali ini akan lebih jelas bahwa pria yang tengah membiarkan dirinya basah ditimpa hujan sedang berusaha meredam rasa panas di ulu hatinya.


Jefri menyesali, karena akhir-akhir ini dirinya selalu datang terlambat. Dan membiarkan orang lain mengambil tempatnya.


To be continued..