Housemates

Housemates
36. Pilu



Tidak lama kemudian mereka sudah tiba di panti asuhan bernama Mutiara Kasih. Ternyata acara pengajian sudah dimulai. Arwen mendadak kaku di tempat karena datang tanpa mengenakan kerudung. Untung saja hari ini dia memakai setelan baju panjang yang sopan.


Arwen melihat anak-anak kos lain sudah ikut pengajian tersebut, terutama mereka yang satu kampus dengan Regan. Regan sendiri langsung menyambut kedatangan Tora, Latif dan Arwen. Regan tak menyangka Arwen akan datang karena sebelumnya ia telah menolak undangannya.


"Aku pikir kamu nggak bisa datang, Wen," kata Regan. Regan tampak berbeda dengan tampilannya hari ini. Ia mengenakan baju koko berwarna hitam. Terlihat bersih dan rapi. Ia bahkan memangkas rambutnya menjadi lebih pendek.


"Aku nggak tau kalau nggak ketemu Latif tadi. Kamu sendiri nggak bilang kak, kalau ajakan itu karena memang ada syukuran disini. Kirain.."


"Kirain ajakan ngedate ya?"


"Heh?"


Regan tertawa. "Sorry kalau bahasa yang kupakai ambigu, Wen. Ngomong-ngomong Jefri nggak ikut?"


"Kak Jefri lagi pulang ke Depok. Ayahnya masuk rumah sakit."


"Serius? Sakit apa? Jefri nggak ada ngabarin apa-apa di grup."


"Mendadak kak. Katanya sih jatuh di kamar mandi. Aku mau ikut kesana tapi Kak Jefri mungkin nginep."


Regan mengangguk-anggukan kepala. "Yaudah masuk, Wen. Jangan risih ya, adikku emang ada banyak."


Regan berucap sambil menunjuk ke arah anak-anak panti di dalam yang sedang bersholawat.


"Kenapa harus risih? Aku malah salut sama kak Regan. Bisa hidup mandiri."


"Ah, aku nggak semandiri itu kok."


Regan tersenyum. Ia lalu bergegas membantu Tora dan Latif menurunkan minuman kemasan dari dalam mobil. Mark dan Banu juga ikut membantu. Sedangkan Arwen segera bergabung dengan para gadis yang duduk di belakang anak-anak panti yang sedang mengaji.


Pengajian itu berlangsung selama satu jam. Arwen yang malu datang tanpa mengenakan kerudung akhirnya mendapat pinjaman dari Dinda. Ia bersama gadis-gadis lain membantu pengurus panti untuk menyiapkan makanan dan minuman.


Ternyata disana juga ada Citra yang dengan antusias membantu bersih-bersih. Bahkan tampak akrab dengan pemilik panti tersebut seolah mereka sudah sering bertemu. Citra juga tidak menyangkal ketika pemilik panti yang bernama Bunda Arin itu menggodanya sebagai pacar Regan. Regan sendiri cuek, dan memilih untuk ngobrol dengan adik-adiknya.


Arwen tidak mengerti dengan sikap yang diambil oleh Citra. Memang benar, tidak ada larangan untuk bersilaturahmi dengan mantan kekasih. Tapi agak aneh saja, dia telah mencampakkan Regan namun berlaku seolah-olah dia masih kekasihnya.


Arwen menggelengkan kepalanya. Untuk apa juga dia mengurusi dan ingin ikut campur hubungan orang lain? Lagipula tampaknya Regan tidak keberatan dengan keberadaan Citra. Tapi Arwen sempat mendengar sindiran dari beberapa cewek-cewek kos pada gadis itu. Namun tampaknya Citra tidak menggubris dan malah mencoba mengejar Regan terus menerus.


Lagipula Arwen harus sadar, bahkan dirinya sendiri sampai sekarang masih menggantung hubungannya dengan Jefri. Arwen bukan bermaksud ingin mempermainkannya, tapi ia ingin tau sampai tahap mana Jefri benar-benar serius menyukainya.


Bayangan Citra masih berada di sisi Jefri dalam waktu-waktu tertentu. Gadis itu masih terus menemui Jefri meskipun ia tau saat ini Jefri sedang dekat dengan Arwen. Itulah alasan kenapa Arwen memberikan pandangan buruk pada Citra. Ia tampak ingin mendapatkan perhatian Jefri, namun enggan melepaskan Regan yang jelas-jelas bukan pacarnya lagi. Dan yang membuat Arwen semakin kesal, Jefri sendiri tidak punya sikap tegas untuk menolak keberadaan Citra dengan alasan teman dekat sejak kecil.


"Dasar, nggak tau malu!"


Arwen yang sedang melamun menoleh, menatap Jihan yang baru saja mengumpat sambil memperhatikan Citra yang saat itu sedang mengobrol dengan anak-anak panti sambil membagikan bingkisan yang tampaknya ia siapkan sendiri.


"Kenapa kak?" tanya Arwen.


"Lo nggak lihat, Wen! Cewek itu nggak tau malu, ngejar-ngejar Regan lagi."


"Mungkin Kak Citra lagi mencoba memperbaiki hubungan, kak."


"Kalau gue jadi Regan sih, ogah. Tapi sayang, Regannya bucin! Lo harus hati-hati, Wen. Jaga itu si Jefri!"


Setelah memberi petuah singkat dan agak menusuk itu Jihan berlalu, kembali bergabung dengan yang lain sambil menjauhi Citra yang sekarang juga ikut bergabung dengan rombongan para gadis.


Arwen melihat ke arah Latif yang melambai-lambai padanya. Gadis itu mendekat dan memilih untuk bergabung dengan Latif dan Mark yang sedang memakan menu penutup mulut, buah semangka. Baru kali ini Arwen melihat ada orang yang sangat suka buah semangka seperti Mark. Ia bahkan sudah menghabiskan delapan potong sendirian.


"Semangka, Wen!" tawar Latif.


"Oke, makasih. Ngomong-ngomong Hafiz nggak kelihatan?"


"Nggak tau. Kayaknya lagi main sama temen-temennya."


Arwen mengangguk-anggukan kepala sambil menggigit sepotong semangka. Rasanya manis dan segar. Sangat cocok sebagai makan penutup setelah mereka kepedasan karena habis makan ayam geprek sambal setan.


"Wen!"


"Hmmm..."


"Gue mau ngomong sesuatu."


"Apaan?"


Arwen menoleh pada Latif. Tiba-tiba saja cowok itu mendadak serius. Arwen baru ingat bahwa ada sesuatu yang seharusnya ia tanyakan pada Latif. Yaitu tentang Dian.


"Gue sebenernya udah tanya sama Dian. Soal masalah lo. Gue udah tanya dari sebelum ujian, Wen."


"Terus?"


"Tapi, gue agak bingung gimana caranya kasih tau."


Arwen paham maksud ucapan Mark yang merujuk pada pertengkaran Arwen dan Hafiz beberapa waktu yang lalu.


"Gue nggak marah. Lagipula gue udah tau garis besarnya, kok."


"Hah... Gimana, gimana, Wen?" tanya Latif.


"Sebelum gue tanya ke Mark hari itu, gue nggak sengaja dengar obrolan Dian dan Yohana di kamar mandi."


"Apa yang mereka omongin?" tanya Latif dan Mark bersamaan.


"Sebelum itu gue pengen tau dulu, apa yang udah lo ketahui, Tif? Sampai lo nggak bisa bilang langsung ke gue."


Latif berdehem. "Dian itu cuma orang suruhan. Dia terpaksa ngelakuin karena ada alasan lain. Ya, walaupun alasan yang dia pakai tetap nggak bisa dibenerin. Dan masalahnya, orang yang nyuruh Dian lakuin itu orang terdekat lo sendiri, Wen. Tapi Dian kekeh nggak bisa ngasih tau siapa orangnya. Gue harap lo nggak kaget dengan ini. Mungkin ini alasan juga kenapa Hafiz belum bisa kasih tau karena apa yang dia ketahui mungkin bakal nyakitin hati lo."


"Gue tau. Gue terima kasih sama kalian berdua dan juga Hafiz karena udah berusaha bantuin nemuin siapa orang yang udah fitnah gue. Mulai dari sini, biar gue sendiri yang urusan masalah ini. Lagipula ini juga problem gue."


"Lo udah nebak siapa orangnya Wen?" tanya Mark.


Arwen mengangkat bahu. "Entahlah. Gue memang punya gambaran, tapi gue masih mencari alasan kenapa dia melakukan ini dan juga hubungan dia dengan beberapa orang yang mungkin ikut terlibat sama masalah ini."


Latif dan Mark mengangguk-anggukan kepala.


"Sorry ya Wen, mungkin gue cuma bisa bantu ini karena lingkungan kita udah beda. Gue cuma bisa negur Dian soal kesalahan dia. Katanya Dian akan minta maaf ke lo, tapi dia masih butuh waktu. Mungkin sampai lo sendiri tau siapa musuh dalam selimut yang udah fitnah lo, Wen. "


"Oke, gue akan tunggu."


Saat itu Regan datang mendekat, meminta bantuan pada Mark dan Latif untuk melakukan sesuatu. Arwen bergegas bergabung dengan para gadis yang sudah mulai beres- beres karena acara telah selesai.


Waktu sudah lewat pukul sembilan malam. Para anak-anak panti dengan disiplin menyudahi acara tersebut. Mereka terlihat bahagia dan sangat disiplin dengan waktu. Regan juga akrab dengan adik-adiknya, terlihat mengayomi dan menyayangi satu sama lain.


Saat itu, Arwen yang sedang membersihkan tikar dikejutkan oleh kehadiran Jefri yang tanpa menjelaskan apa-apa langsung mengambil tikar yang baru ia gulung dari tangannya.


"Loh, kak, kok tiba-tiba disini?" tanya Arwen bingung sekaligus kaget.


"Iya, Wen. Ayahku udah nggak apa-apa, sekarang sudah pulang ke rumah dan nggak perlu dirawat lagi. Aku langsung balik karena besok aku harus ke kampus pagi-pagi. Aku mampir kesini karena anak-anak kos chat di grup kalau ada acara di tempat Regan. Dan aku pikir kamu juga pasti ada disini. "


"Syukurlah kalau udah baik-baik aja. Kamu udah makan, kak?"


"Udah sih, tadi di rumah. Lumayan pulang bisa makan masakan mama."


"Pasti kangen, ya?"


"Jelas. Kamu mau coba masakan mamakku?"


"Emang boleh?"


"Bolehlah. Sekali ketemu calon mertua."


"Kak! Jangan mulai!"


"Kenapa? Emang nggak mau?"


Arwen menatap Jefri yang sedang mengangkat gulungan tikar lainnya. Cowok itu melirik sambil menaikan kedua alis, kembali menggoda Arwen yang membuat gadis itu tersenyum senang untuk yang kesekian kali.


Yah, hubungannya dengan Jefri masih dalam tahap pendekatan dan menggantung. Arwen hanya ingin memantapkan hatinya agar lebih yakin. Sudah cukup lama juga mereka saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Meskipun ada hal yang membuat Arwen ragu, tapi Arwen juga tau ia tak mungkin akan menggantung hubungan mereka lebih lama lagi.


"Kak?"


"Hmmm..."


"Soal pertanyaan kamu waktu itu...


PRANG!


Arwen belum sempat menyelesaikan kalimat yang ia susun dalam kepala ketika terdengar suara benda jatuh disusul jeritan lantang semua orang. Ia menoleh dan melihat panci berisi soto ayam yang masih panas jatuh terguling di tanah.


Citra yang saat itu sedang mengaduk kuah soto rupanya tak sengaja menjatuhkan panci itu dan kini kuah panasnya mengenai kakinya sendiri. Gadis itu menjerit lantang, semua orang yang melihat lantas panik karena melihat kaki kiri Citra terguyur kuah panas.


"Citra!"


Jefri yang juga melihat berseru kaget. Arwen menoleh pada pria itu, menatap wajahnya yang terlihat terkejut sekaligus khawatir. Seperti tidak memikirkan apapun lagi kecuali keadaan Citra saat ini, Jefri segera menjatuhkan karpet yang baru ia gulung dan langsung berlari ke arah Citra yang sudah ditolong oleh anak kos lain.


Arwen hanya mundur saat karpet itu menimpa kakinya. Ia menatap punggung pria yang baru saja berdiri di hadapannya kini sedang membungkuk memeriksa kaki kiri Citra yang saat itu menangis kesakitan.


Seharusnya Arwen bersimpati untuk keadaan itu. Tapi, yang muncul saat ini hanya perasaan kecewa sekaligus cemburu. Arwen tidak akan melarang jika Jefri ingin membantu Citra. Tapi apa yang ia lihat di depan matanya saat ini, sungguh membuat hati dan pemandangannya mendadak pilu.


Itu menyesakkan dan menyakitkan.


To be continued...