Housemates

Housemates
19. Untuk Siapa Rasa Sakit Itu?



...Happy Reading...


..._________________...


Malam itu di kos-an kembali mengadakan perjamuan makan malam atas bergabungnya Taki menjadi penghuni baru di sana. Arwen sendiri menanggapi itu dengan perasaan antara senang dan juga kesal.


Kesal karena kakaknya yang terlihat over protektif, padahal dulu Taki itu pribadi yang sangat cuek. Dan senangnya karena semuanya memuji kalau Arwen dan Taki adalah dua saudara dengan titisan serbuk berlian. Bahkan Tania dan Rosa sejak tadi tidak berhenti menggosipkan ketampanan kakaknya.


Diam-diam Arwen bangga dengan kakaknya. Taki itu tidak hanya tampan, tapi dia juga pandai dalam akademik dan juga pintar memasak. Bahkan Arwen merasa insecure dengan bakat kakaknya itu. Tapi tetap saja, tidak ada manusia yang terlahir sempurna.Taki itu tipe cowok yang cerewet, super bersih, super rapi dan tidak suka dengan sesuatu yang menurut dia aneh.


Dan itu yang menjadi salah satu alasan kenapa banyak cewek yang tidak betah dengan kepribadiannya itu, makanya sampai sekarang dia masih jomblo. Lihat saja nanti berapa lama Taki akan bertahan di sini, karena penghuni di kos-an ini bisa dikatakan 'makhluk siluman' semuanya.


Tapi agak heran juga karena ternyata Taki lumayan cepat beradaptasi dan terlihat mengobrol nyaman dengan anak kos lain. Sejak tadi ada dua sosok yang membuat Arwen merasa kurang nyaman. Yaitu Juna dan Citra.


Sudah beberapa hari ini Arwen jarang berhubungan dengan Juna. Walaupun kadang Juna masih suka berbasa-basi, tapi Arwen tidak terlalu menanggapi. Arwen bisa merasakan tatapan cowok itu yang sejak tadi mengarah padanya.


Padahal saat itu Lira yang duduk di sampingnya tampak antusias dan senang. Belum lagi Citra yang lebih terlihat mengobrol seru bersama Jefri daripada dengan pacarnya sendiri. Arwen mengalihkan pandangannya dan menatap Mira yang saat itu duduk di sebelahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia terlihat lebih pucat dan juga lelah.


"Kak kamu beneran udah sembuh?" tanyanya.


Mira mengangguk. "Udah kok Wen, cuma nggak tau kayaknya badan kakak lagi nggak fit aja."


"Kenapa nggak ke dokter aja kak? Siapa tahu bisa cepet baikkan, atau mau aku temenin?" usul Arwen. Tapi cewek itu hanya menggeleng pelan.


"Nggak Wen, aku baik-baik aja kok. Yaudah makan."


Acara makan-makan itu berlangsung seru dan meriah seperti biasanya. Dan tentu saja ulah Banu dan Trio gesrek Mark, Latif sama Hafiz yang selalu membuat suasana semakin seru. Tapi saat itu Arwen tidak terlalu antusias, pikirannya saat itu melayang pada Yuki. Dia masih memikirkan tentang kejadian siang tadi, tentang hidup Yuki yang sepertinya akan menjadi sebuah misteri baru di antara mereka.


"Dek..."


Arwen tersentak dan menatap Taki yang sudah duduk di sampingnya. Tidak bisa dipungkiri kalau Arwen memang kangen banget dengan kakaknya itu. Walaupun kadang mereka sering bertengkar sehebat apapun.


"Kok diem aja, lagi mikirin sesuatu?" tanyanya. Arwen tidak lupa, kalau kakaknya itu juga salah satu cowok yang paling peka dan selalu tahu jika ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Nggak Bang, lagi nggak mood aja. Capek mungkin."


"Yaudah tidur kalau capek."


"Iya. Abang serius mau ngekos di sini? Emang nggak kejauhan sama kampus?" tanya Arwen.


"Nggak jauh-jauh amat kok, lagian Abang pengen jagain kamu."


"Gue kan udah gede, Bang. Udah bisa jaga diri sendiri."


"Justru karna udah gede, ini masa-masanya lo lagi suka sama cowok. Jadi Abang musti jagain sampai lo dapet yang beneran."


Arwen jelas tertawa mendengar penuturan kakaknya itu. "Bang serius, lo kayak papa tau nggak, kuno banget. Lagian kata siapa gue lagi demen sama cowok?"


"Ya kalau lo lagi nggak demen, pasti ada yang naksir sama lo."


"Dih... sok tau banget. Jomblo nasehatin jomblo."


"Ya makanya, biar lo nggak ikutan jomblo kayak gue," seru Taki sambil menoyor kepala adiknya.


"Sakit ahh.. "


"Mikirin apaan? Kenapa juga gue harus mikirin kak Juna?"


"Oh.. berarti sekarang udah ganti, bagus deh!"


Arwen memutar bola matanya kesal. "Bang bisa nggak sih pembicaraannya jangan yang aneh-aneh. Udahlah gue mau ke atas kalau gitu, mau tidur."


"Trus Abang ditinggal?"


"Bodo. Daaah.."


Arwen lalu berlari ke dalam. Yang lain masih asyik mengobrol dan bercengkrama satu sama lain, bahkan Arwen melihat Jais dan Sharon yang tampak duduk berdua di dekat kolam ikan. Cewek itu hanya tersenyum samar dan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minum. Saat itu Arwen melihat Mira yang berdiri di pintu dapur.


"Kak..."


Tapi Arwen tidak menyelesaikan kalimatnya, karena saat itu Mira tiba-tiba langsung berbalik dengan wajah penuh air mata. Seolah dia baru melihat sesuatu yang membuat hatinya begitu terluka. Jelas saja Arwen terkejut. Bahkan Arwen bisa melihat raut kecewa dan juga marah di wajah Mira saat gadis itu melewatinya tanpa menoleh.


"Kak, Kakak kenapa?"


Tapi Mira tidak menggubrisnya dan terus berlari menaiki tangga.


"Kak Mira!"


Arwen masih terpaku di tempatnya dengan wajah bingung dan juga khawatir dengan Mira. Tapi dia juga penasaran dengan apa yang sudah membuatnya tampak begitu terluka.


Gadis itu memberanikan dirinya mendekati pintu dapur, saat itu tidak ada siapapun di sana. Arwen mendekat perlahan dan mengintip ke dalam. Lalu apa yang dilihatnya langsung membuat tubuhnya terasa membeku.


Selama beberapa detik dia hanya mematung, menyaksikan sepasang manusia yang tengah berciuman mesra di sana. Juna dan Lira tidak tahu, jika saat itu ada orang lain yang melihat perbuatan mereka.


Gadis itu langsung menarik dirinya, menyandarkan tubuhnya di dinding dan mencoba mengontrol rasa gemetar pada tubuhnya. Pikirannya saat itu berkecamuk dan mencoba menepis semua hal yang baru saja terjadi.


Bukankah ini menyakitkan, saat kau melihat orang yang kau sukai berciuman mesra dengan orang lain di hadapanmu? Tapi entah kenapa, pikiran Arwen langsung beralih pada Mira. Apakah pemandangan itu yang membuat Mira menangis? Apakah Mira terluka karena melihat hubungan Juna dan juga Lira? Jadi, Itu artinya Mira..


Arwen langsung berlari menaiki tangga. Gadis itu tidak bisa menahannya lagi dengan pikiran liarnya, apa yang dia lihat, apa yang dia simpulkan semuanya berkecamuk menjadi satu di kepalanya. Dia harus bertanya pada Mira.


Arwen menyusuri koridor kamar dengan langkah cepat menuju kamar Mira yang terletak di ujung lorong. Suasana di atas saat itu sepi karena para penghuni lainnya masih berkumpul di bawah sana. Namun Lagi-lagi langkah Arwen terhenti saat melihat kamar Jefri yang terbuka.


Arwen memperlambat jalannya dan menatap ruang kamar Jefri dari lorong kamar. Dia bisa melihat cowok itu tampak tertawa senang, terlihat begitu lepas seolah tanpa beban. Di sampingnya berdiri Citra yang juga ikut tertawa dan terkadang tampak menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Jefri. Saat itu keduanya tampak berdiri memandang wall gird yang beberapa hari lalu pernah Arwen lihat.


Arwen menahan nafasnya, entah kenapa kerongkongannya tiba-tiba terasa kering. Seolah ada sesuatu yang menahannya di sana. Gadis itu mundur perlahan dan berusaha mengalihkan pandangannya. kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya begitu keras. Kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, seolah dinding kekuatan yang ada di sana roboh sendiri tanpa sebab. Arwen masih mundur perlahan hingga tak ada jalan lagi dan berakhir menabrak pada pintu kamar Banu yang berada di seberang kamar Jefri.


BRAK!


Dua orang yang berada di kamar itu langsung menoleh dan tentu saja terkejut saat melihat Arwen berdiri kaku di luar sana. Menatap nanar pada mereka berdua, dengan pandangan yang siapapun akan tahu artinya.


"Arwen!"


Jefri berseru sambil berlari ke arah pintu. Namun Arwen malah berlari dan langsung masuk ke kamarnya sendiri. Dia sudah lupa dengan tujuan awalnya untuk bertemu Mira. Karena tiba-tiba saja pemandangan itu membuat hatinya begitu sakit.


"Arwen buka pintunya! Arwen!"


Arwen bisa mendengar Jefri yang masih terus menggedor-gedor pintunya. Dia berusaha menahan diri bagaimana caranya agar air mata itu tidak mengalir. Namun kenapa rasanya begitu sakit? Semakin Arwen menahannya justru itu membuat dadanya semakin sesak dan sakit. Dia pikir melihat Juna dan Lira adalah hal yang paling menyakitkan, namun melihat Jefri dan Citra ternyata jauh lebih menyakitkan untuknya.


To be continued...