
...Happy Reading...
...__________________...
Setelah kejadian hari itu, satu kos menjadi gempar. Mereka semua menggunjingkan tiga orang yang sedang menjadi topik panas saat ini yaitu Mira, Juna dan Lira. Kebanyakan dari mereka menghujat Juna yang telah mempermainkan perasaan dua cewek itu. Namun tak jarang juga mereka menghujat Mira karena sudah melakukan perbuatan terlarang itu dengan Juna.
"Sumpah! Nggak nyangka banget Mira kayak gitu, dan yang lebih jahat ya, Juna ini. Mending panggil itu anak ke sini sekarang!" teriak Tania dengan wajah berang.
Lima penghuni kos paling tua yang saat itu tidak pulang ke rumah masing masing, berkumpul di bawah setelah mengetahui peristiwa mengejutkan ini. Sedangkan Mira berada di kamarnya, menangis tanpa henti karena merasa bersalah dan juga malu. Hanya Jihan yang ada di sana, berusaha membujuk dan mencoba menenangkan Mira.
Jais menghela nafasnya yang terasa berat. Ia menyilangkan dua tangannya didada dengan gerakan gusar.
"Bener kata Tania, kita harus panggil Juna ke sini. Nggak ada toleransi lagi, perbuatan yang salah harus dipertanggung jawabkan, dan parahnya ini nggak cuma melibatkan mereka berdua aja."
"Perlu nggak sih, kasih tau tante Rani?" tanya Sharon.
"Jelas perlu, tante Rani yang punya kos ini. Kalau ada penghuni yang melakukan kesalahan sudah jelas nggak akan ada toleransi lagi. Bukannya kita udah pada tahu peraturan di sini bukan?" jelas Banu yang menjawab langsung pertanyaan Sharon tadi. Yang lain mengangguk setuju dengan penjelasan itu. Banu tampak sangat kecewa dengan berita besar ini. Sejak dulu Banu suka dengan Mira, namun ia menghormati keputusan Mira saat gadis itu menolaknya agar pertemanan mereka tidak rusak dan canggung. Tapi, cowok yang membuat Mira jatuh cinta justru malah merusak dan menyakitinya. Banu mengepalkan tangannya karena geram.
Sebelum mereka tinggal di kos ini, mereka sudah diberi peraturan. Mereka yang menghuni kos boleh laki-laki dan perempuan. Mereka juga diberi kebebasan asal masih bisa menjaga reputasi kos dan juga norma perilaku yang ada.
Dan selama ini para penghuni kos mematuhi peraturan itu, bahkan meskipun ada yang saling menyukai dan berpacaran, mereka tahu batasan dan larangan yang sudah mereka pahami sendiri. Karena semua yang ada di kos ini sudah dewasa dan bisa saling mengingatkan. Namun ternyata kali ini mereka kecolongan dan membiarkan teman mereka jatuh ke dalam jurang yang salah.
"Kalau kayak gini, bisa-bisa kita nggak akan ngekos bareng lagi nggak sih?" seru Sharon cemas. Karena dirinya sudah merasa nyaman dan juga menganggap semua yang ada di kos ini adalah teman dan saudaranya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, mending sekarang kita panggil Juna dulu ke sini. Lalu setelah semuanya jelas kita kasih tahu tante Rani, oke!" usul Jais.
"Okelah, kalau gitu Lan, mending lo aja yang telpon Juna sekarang!" seru Banu pada Erlan yang duduk di depannya.
"Oke!" Pria tampan berwajah flower boy itu segera bangkit menuju teras seraya menekan beberapa tombol dalam ponselnya. Hujan diluar sangat lebat sekali, deru airnya menghantam atap rumah dengan suara yang begitu nyaring.
Erlan menghela nafas pelan, dalam hatinya merasa kesal karena kesalahan yang dilakukan Juna. Dan dirinya sebagai teman merasa gagal karena tidak bisa mengingatkan.
"Juna, lu gali kuburan sendiri!" gerutunya dengan nada gusar sambil menempelkan ponsel pada telinga kanan. Baru saja dia hendak menyahut jawaban Juna di seberang sana, suara seorang gadis menyapa dan membuatnya terkejut.
"Tumben nggak balik, Lan?" sapa Lira yang sedang melepas sepatu di depan teras. Erlan terlonjak bukan main, ia menatap wajah Lira yang terlihat pucat dan kuyu karena kehujanan, rupanya ia baru saja pulang dari rumah temannya. Erlan hanya menggeleng pelan dan membiarkan Lira masuk ke dalam.
'Gila, cobaan apa lagi ini!'
"Woi, ngapain lo nelpon!" seru Juna di ujung telepon saat Erlan tak segera menyahut. Cowok itu hanya mendengus geram mendengar nada suara temannya.
"Buruan kesini, Jun! Atau gue jemput paksa lo sekarang!"
*****
Di atap bangunan.
"Kak Regan, lo masuk duluan ya, gue mau ngomong sama Kak Jefri dulu. Kasian dia kehujanan," seru Arwen akhirnya. Hujan semakin deras dan Jefri sepertinya enggan berteduh. Perasaannya mulai cemas karena melihat dua orang itu saling menatap sengit.
Regan terdiam sesaat karena hatinya sedikit kecewa. Berharap Arwen lebih memilih turun dengannya, namun kenyataannya tidak. Regan menatap Arwen sebentar.
"Yaudah gue ke bawah dulu. Mending lo neduh, nanti sakit." Regan kemudian segera berlari menuju tangga setelah memberikan payungnya pada Arwen. Di ujung tangga dia masih sempat melihat gadis itu tersenyum, namun kini atensinya teralihkan sepenuhnya pada sosok Jefri yang masih berdiri mematung di tengah hujan.
Arwen yang merasa cemas segera menghampiri Jefri yang sudah basah kuyup dan memayunginya. Ia kemudian menarik cowok itu menuju tangga, berniat mengajaknya masuk ke dalam. Namun Jefri malah menarik tangannya kembali.
"Kak ini hujannya deres banget, takut ada petir. Kita juga bisa demam nanti," tukas Arwen kesal karena dirinya juga sudah kedinginan.
Tapi Jefri masih bergeming, memberikan tatapan penuh harap di balik wajah pucatnya yang sudah basah kuyup. Tanpa ungkapan lagi, Jefri tiba-tiba menarik Arwen menuju dekapannya.
Gadis itu hanya membelalak terkejut, namun ia tidak menolak dan membiarkan tubuh dingin Jefri mendekapnya, membuat bajunya kini juga basah kuyup.
"Kak.."
"Maafin aku Wen, karena selalu terlambat di saat kamu lagi sedih."
Arwen bisa merasakan tangan kekar Jefri yang semakin mengeratkan pelukannya. Baju dan tubuhnya basah kuyup, namun Arwen masih bisa merasakan hawa panas yang mulai terasa menjalar tubuhnya.
Jika mengingat hari-hari berat yang ia lewati akhir-akhir ini membuat Arwen ingin mengatakan semuanya. Ia ingin marah dan mengungkapkan kekesalannya yang memuncak, karena Jefri adalah salah atau penyebabnya. Tapi, lagi-lagi dirinya terpikat pada pesona dan perlakuan Jefri yang memang ia rindukan. Dan pelukan hangat ini adalah hal pertama yang Arwen rasakan dan seketika membuat hatinya mereda.
Perlahan Arwen menarik tubuhnya, melepaskan dari dekapan erat Jefri. Arwen bisa melihat bagaimana cowok itu berusaha menahan tubuhnya yang menggigil, matanya sayu dan permukaan kulitnya terasa panas.
"Aku nggak apa-apa kak, karena aku nggak selemah itu kok."
"Apa karena ada Regan yang udah bikin hati kamu lega?"
"Ungkapan itu nggak sepenuhnya salah, karena sebelum kak Regan dateng mungkin aku masih bakalan terus nangis sampai sekarang. Tapi, aku juga nggak akan selemah itu kok, terpuruk untuk yang kedua kalinya."
Mendengar jawaban tegas dengan senyuman samar itu semakin membuat hati Jefri tidak karuan. Gelisah dan tidak tenang. Apakah benar ia telah membuat pilihan yang salah? Karena membuat orang lain mengambil tempat yang seharusnya bisa jadi miliknya sekarang. Kenapa dirinya bisa begitu bodoh.
"Kak turun dulu Yuk, hujannya deres banget. Badan kakak anget, takut nanti demam. Kita bisa ngobrolin ini di bawah."
"Apa kamu masih mau Wen, ngobrol sama aku?"
Arwen menoleh. "Emang siapa yang bilang aku nggak mau?"
Tanpa menunggu jawaban Jefri, Arwen segera menarik cowok itu menuju tangga masuk ke dalam rumah. Karena hujan masih turun dengan lebatnya, Jefri menurut. Tapi, saat sampai di anak tangga pertama, Jefri tiba-tiba saja ambruk dan tubuhnya membentur anak tangga.
"Kak Jefri!"
To be continued...