
...Happy Reading...
Satu jam kemudian, Arwen sudah berada di dalam kamar Jefri. Menatap dengan wajah khawatir dan sendu pada tubuh Jefri yang terbaring pucat di atas kasurnya.
Saat Jefri pingsan, Arwen segera memanggil anak kos lain untuk membantu mengangkat tubuh Jefri ke kamarnya.
Regan dan Mark yang saat itu ada di lantai atas segera datang membantu dan mengangkat tubuh Jefri yang sudah lemah dan juga panas. Mereka berdua juga yang membantu mengganti pakaian basah Jefri. Sedangkan Arwen segera mengganti pakaian basahnya sendiri dan kembali ke kamar Jefri.
Anak-anak kos lain yang mendengar berita itu hanya menengok sesaat lalu kembali ke bawah karena saat ini mereka memiliki pembahasan yang lebih serius. Jadi sekarang hanya tinggal Arwen saja yang menunggui Jefri dan juga mengkompres kepalanya yang masih panas.
"39?" seru Arwen pelan saat melihat terometer yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh Jefri masih tinggi.
Gadis itu kembali memeras handuk pada air hangat dan kembali meletakkan pelan-pelan di dahi Jefri. Karena demamnya cukup tinggi, Jefri sampai menggigil dalam tidurnya. Dengan segera Arwen menutupi tubuhnya dengan dua selimut tebal. Yang satu selimut Jefri dan yang satunya lagi selimut miliknya.
Arwen berniat turun ke bawah sebentar untuk membuat minuman hangat karena tubuhnya sendiri juga kedinginan. Ia sekalian ingin membuatkan Jefri bubur agar bisa dimakan saat sudah bangun nanti.
Tapi, saat dirinya baru membuka pintu kamar Jefri, Kegaduhan terjadi di luar sana. Ia melihat Lira yang muncul dari ujung lorong dengan wajah penuh air mata dan juga luka. Ia berjalan marah menuju kamar Mira yang ada di ujung lorong ini. Tania dan Sharon menyusul dan mencoba untuk mencegahnya, tapi ternyata tidak berhasil karena kemarahan sudah menyelimuti pikiran Lira.
"Lira, Lira! Tahan dulu Lira, ini bisa kita omongin baik-baik," pinta Tania seraya menarik tangan Lira. Tapi gadis itu dengan segera menepisnya.
"Bisa lo ngomong gitu Tan, coba lo sekarang jadi gue, bisa lo nahan?! Kita sama-sama cewek, harusnya lo ngerti. Gue nggak akan ngapa-ngapain tu cewek. Gue cuma mau tanya, dia itu siapanya Juna?! Dan kenapa posisi gue harus kayak gini!."
Arwen hanya bisa mematung di ambang pintu. Dirinya bisa melihat jelas bagaimana terlukanya Lira saat ini. Tapi, meski begitu ia masih bisa berusaha tegar dan menghapus air matanya yang terus jatuh tanpa halangan.
Mendengar kalimat yang tidak bisa disangkal itu hanya bisa membuat Tania terdiam. Ia kini tak lagi menahan Lira, dan membiarkan temannya itu menghampiri kamar Mira yang terbuka sejak tadi.
Teriakan dan makian terdengar lantang dan memenuhi lorong serta kamar Mira. Dengungan tangis keduanya pecah hingga membuat Jihan, Tania dan juga Sharon yang ada di sana ikut menangis sedih. Kenapa semuanya bisa seperti ini, pertemanan dan keharmonisan yang mereka bangun kini rusak satu persatu. Dan mungkin tidak akan utuh semudah itu.
Anak-anak cowok lain yang juga menyusul ke atas hanya mematung di sepanjang koridor dengan wajah frustrasi.
"Jefri gimana Wen?" tanya Jais. Ia berusaha mengalihkan pandangan dari adegan memilukan di ujung koridor dan memilih melongok ke dalam kamar Jefri.
"Masih lumayan tinggi demamnya kak."
Jais mendesah. "Huh... Yaudah Wen, kita semua nitip Jefri sama lo ya. Keadaan lagi kacau banget." Jais menjambak-jamak rambutnya sendiri karena ikut pusing memikirkan masalah ini.
"Iya kak. Trus Kak Juna gimana?"
"Masih belum dateng, tapi kita udah hubungin biar dia cepet ke sini."
"Trus gimana nantinya kak, apa Tante Rani harus tau?"
"Harus Wen. Inikan kosan-nya. Tante Rani udah ngasih kepercayaan ke kita semua, tapi sayang, kita malah bikin dia kecewa. Dan mau nggak mau, mungkin Mira harus keluar dari kos ini. Lagipula setelah ini urusan mereka dengan orang tua masing-masing Wen, udah bukan urusan kita lagi. "
Arwen hanya bisa termenung, tiba-tiba saja ia langsung teringat dengan orang tua Mira yang dikenalnya dengan baik. Pasti mereka akan hancur saat melihat anak semata wayangnya membuat kecewa dan mempermalukan keluarga. Apalagi ayah Mira adalah seorang pegawai Dinas Pendidikan. Salah satu orang terpandang yang ada di komplek perumahan Arwen.
Tapi, semoga dengan kejadian ini membuat mereka jadi belajar tentang kesalahan masing-masing. Dan mungkin ini juga bisa menjadi pelajaran untuk dirinya sendiri agar lebih waspada dan mawas diri.
Suara benda pecah dan juga jeritan lantang terdengar dari kamar Mira. Membuat Arwen dan anak-anak yang lainnya terkejut bukan main dan segera berlari menuju kamar Mira.
Tiga cewek yang sebelumnya ada di sana juga berteriak histeris dan mencoba menahan Mira yang hampir menggoreskan pecahan kaca pada pergelangan tangannya. Sedangkan Lira menangis pilu dan terduduk di sudut kamar menyaksikan adegan itu.
"Biarin gue mati, biarin gue mati!" teriak Mira.
"Sadar Mir, sadar. Istigfhar Mira!"
"Jangan kayak gini, Mir. Please!"
Raungan tangis itu tidak hanya terdengar dari Mira dan Lira, tapi juga tiga gadis yang ada di sana. Cowok-cowok lain juga segera membantu menjegal tubuh Mira yang terus memberontak, namun sayang, Mira sudah sempat menggoreskan pecahan kaca pada bagian pergelangan tangannya. Bahkan dia juga menginjak - injak pecahan kaca dengan kaki telanjang yang membuat lantai kamar itu penuh dengan ceceran darah.
"Mira, sadar! Dunia nggak akan berhenti hanya karena satu kesalahan, semuanya masih bisa diperbaiki Mir. Lo nggak sendiri, lo masih punya kita!" teriak Banu berusaha untuk menyadarkan Mira yang sudah linglung.
"Tapi yang ini nggak bisa diperbaiki Nu. Gue udah bikin kecewa banyak orang, terutama orang tua gue. Lebih baik gue mati dari pada bikin mereka malu."
"Ya. Tapi kalo lo mati, lo nggak akan bisa merubah apapun. Yang ada dosa yang lo tanggung akan semakin berat, karena di tubuh lo saat ini ada malaikat kecil yang nggak punya salah apa-apa. Lo harusnya mikir ke situ Mir!"
"Tapi gimana gue bisa hidup kayak gini Nu?"
"Itu konsekuensi yang harus lo terima Mir. Seenggaknya dari pada mati, lo harus coba buat perbaiki ini. Agar semua kesalahan lo bisa dimaafin."
Tangis Mira pecah mendengar ucapan Banu yang sepenuhnya memang benar. Cowok itu mengatakan semuanya dengan tulus, ia kemudian mendekap Mira yang menangis ke dalam pelukannya. Bagaimana bisa dirinya melihat perempuan yang pernah ia sukai dan sekarang menjadi teman, terluka dengan cara seperti ini. Mungkin Banu tidak punya kesempatan membuat Mira bahagia, tapi setidaknya inilah hal terbaik yang bisa Banu lakukan saat ini.
Arwen yang melihat adegan itu di luar lorong, hanya bisa terisak pelan. Betapa menyakitkannya apa yang dialami Mira dan Lira. Kejadian ini adalah sebuah tamparan yang mungkin akan membukakan mata semuanya agar bisa melihat dunia lebih jauh lagi.
Lira semula tampak begitu marah, namun kini ia hanya bisa menangis sedih di pelukan Tania. Sedangkan anak-anak yang lain hanya terdiam menyaksikan kejadian itu.
Arwen menyandarkan tubuhnya pada dinding, mencoba mencari sandaran agar tubuhnya tidak jatuh. Kejadian ini telak sudah memukul hatinya, kemarahan yang ingin ia lampiasakan kini menjadi sebuah kesedihan dan keprihatinan.
Tepat saat itu, sebuah sentuhan hangat mendarat dikepalanya. Arwen menoleh dan mendapati wajah pucat Jefri sudah berdiri di sampingnya. Tersenyum samar seolah berusaha memberikan ketenangan.
Cowok itu kemudian menarik pelan tubuh Arwen menuju dekapannya yang masih terasa hangat. Gadis itu menurut, dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Jefri yang saat itu mengenakan kaus panjang berwarna hitam. Arwen terisak pelan.
"Sekarang, aku nggak akan pernah terlambat lagi Wen."
Mendengar ungkapan lirih itu membuat Arwen semakin terisak. Jefri membelai lembut rambut Arwen yang masih basah dalam diam, mencoba memberinya waktu menumpahkan semua rasa sakitnya.
Di waktu yang sama. Tidak jauh dari posisi itu, Regan berdiri tertegun. Di saat semuanya merasa sakit dengan keadaan Mira dan Lira, tapi dirinya tidak bisa berhenti menatap dua sosok yang sedang berpelukan mesra di sana. Entah tatapan apa yang ia tunjukkan saat ini. Hanya saja..
'Kenapa aku sedikit tidak menyukainya.'
To be continued..