Housemates

Housemates
39. Malapetaka



"Arwen, Arwen tunggu!"


Jefri berteriak sambil mengejar rombongan anak kos yang hendak masuk ke dalam mobil. Jefri segera menarik lengan Arwen ketika gadis itu memilih buru-buru masuk ke dalam.


"Wen, gue mau ngomong sebentar. Please!"


Arwen melirik malas pada Jefri. Cowok itu terlihat kusut dan lelah. Apalagi ia kini menatap Arwen dengan wajah memelas. Tentu saja dia melakukan semua itu untuk Citra, rela tak tidur padahal Citra sendiri punya keluarga yang lengkap. Tapi untuk apa Arwen peduli dengan itu, mereka memang tidak ada hubungan apapun.


"Mau ngomong apa?"



Visual Arwen dan Jefri


Arwen melirik pada anak kos yang lain. Ia sendiri sebenarnya enggan untuk berbicara dengan Jefri saat ini. Melihat cowok itu membuatnya terus terngiang-ngiang kejadian di dalam ruang rawat tadi. Tapi, Arwen juga tidak enak pada anak kos lain. Ia tidak ingin dianggap seperti anak kecil karena terbawa perasaan di hadapan banyak orang.


"Ngomong ntar aja, Jef! Kita mau balik sekarang. Udah malem!" sela Tora sebelum Arwen sempat menjawab.


"Bang, tapi gue ada urusan sama Arwen! Ntar gue yang anterin Arwen."


"Yakin lo, Jef? Mending kelarin tugas lo yang disini dulu deh, jangan maunya jagain yang disini tapi masih mau ngejar yang diluar juga. Nggak konsisten lo!"


Dinda tak terlalu akrab dengan Arwen, tapi siapapun akan setuju dengan pernyataan gadis itu. Mereka juga tidak habis fikir Jefri benar-benar plin plan dan sejahat itu. Anak kos lain tau bagaimana sikap Jefri selama ini ke Arwen. Namun mereka baru tahu kalau Jefri ternyata punya hubungan khusus yang tak bisa dijelaskan dengan Citra.


"Ayo, Arwen!" seru Dinda sambil menarik tangan gadis itu agar masuk ke dalam mobil.


Jefri yang tak terima masih mencoba membujuk, tapi tangan Tora segera menghalangi. Cowok itu menatap tajam pada Jefri, memberikan isyarat tanpa kata bahwa dia harus mundur dan tidak harus memaksa. Jefri yang memahami langsung terdiam, melangkahkan kaki ke belakang dan membiarkan teman-teman kosnya memasuki mobil.


Dalam perjalanan pulang Arwen diam saja. Yang lain mencoba mengalihkan pikiran gadis itu dengan membahas cerita lucu, tapi Arwen tidak menanggapi sama sekali. Ia kini fokus pada ponselnya, memandang puluhan chat dari Jefri yang terus bertambah setiap menit.


Arwen tanpa berpikir panjang langsung memblokir nomor Jefri tanpa membaca puluhan chat yang sudah masuk itu. Meskipun rasanya sesak dan kecewa, tapi ini adalah hal terbaik yang harus ia lakukan. Ya, untuk dirinya sendiri. Arwen hanya takut ia tidak kuat menampung semuanya seorang diri. Terlalu banyak orang yang datang hanya untuk menyakitinya akhir-akhir ini.


Ingatan Arwen kembali pada peristiwa satu jam lalu. Ketika ia tak sengaja mendengar percakapan yang seharusnya ia tak pernah tau.


"Jef, pilihan lo cuma satu. Lo tinggalin Citra atau Arwen. Nggak sulit kok, kalau lo nggak serakah." Terdengar suara tajam Regan yang berbicara pada Jefri. "Gue udah ikhlasin Citra, silahkan aja kalau lo mau ambil dia. Tapi tolong lepasin Arwen!"


Arwen yang baru saja dari toilet kamar mandi tak sengaja mendengar percakapan dua cowok itu. Gadis itu segera menahan nafas. Ia bisa saja langsung pergi menuju kamar rawat Citra tanpa ketahuan. Tapi entah kenapa saat itu hati dan tubuhnya ingin tetap berdiri di balik dinding itu. Mencoba mendengarkan percakapan yang seharusnya tidak ia dengar.


"Gue nggak bisa! Untuk saat ini," jawab Jefri dengan nada suara lesu.


"Kasih gue alasan!"


"Kenapa? Karena lo mau dua-duanya, gitukan maksud lo?"


Jefri menghela nafasnya. "Bukan gitu. Gue lagi nggak bisa ninggalin Citra sekarang bukan karena apa-apa. Dia lagi kena musibah, Gan. Gue juga pernah ginikan waktu lo berdua masih pacaran?!"


"Tapi perasaan lo sama dia gimana? Masih sama juga kayak waktu itu?"


Mendengar itu Jefri yang hampir membuka mulut segera kembali terdiam. Ia menatap Regan dengan tatapan memelas, meminta Regan memahami posisinya saat ini. Reganpun terdengar membuang nafasnya panjang, seperti ikut merasa bingung dengan masalah pelik ini. Padahal setidaknya ia harus marah dan sakit hati mengingat Citra itu mantannya sendiri.


"Gue tau lo nunggu Citra lama banget, Jef. Dan gue tau lo merasa ini adalah kesempatan baik yang mungkin nggak akan datang dua kali. Tapi Jef, kata-kata lo udah berjanji lebih dulu sama seseorang meskipun lo belum punya hubungan apapun sama dia. Lo nggak bisa gini, jangan egois! Sikap lo ini udah nyakitin Arwen. Jangan jadi cowok sampah, Jef. Lo bahkan lebih buruk dari Juna!"


Nasihat panjang dari Regan itu tampak membuat Jefri semakin frustasi dan tersudut. Cowok yang biasa Arwen lihat selalu ceria dan mudah menggoda itu kini terlihat kusut. Jefri menjambak rambutnya sendiri, belum mampu membalas kata-kata Regan.


Rasa sesak di dada Arwen semakin membuncah. Rasanya ingin pecah hingga menjatuhkan bulir-bulir air mata. Namun Arwen sekuat tenaga harus menahan itu. Tidak elegan sekali jika ia harus menangis di tempat umum. Meskipun rasanya sakit sekali, setidaknya ia kini tahu bahwa Jefri memang tidak akan bisa memilih. Lantas untuk apa dirinya menunggu? Pergi lebih dulu adalah keputusan terbaik.


KRIIIIT!


Tiba-tiba semua dikejutkan oleh Tora yang menginjak rem secara mendadak. Hingga mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu langsung berhenti. Semua penumpang hampir terpental ke depan, untung saja tertahan tali pengaman yang mereka kenakan.


Terdengar klakson mobil dan motor dari arah belakang karena tindakan itu termasuk cukup berbahaya.


"Dasar gila!" teriak Tora.


"Apaan sih, Tor! Kenapa berhenti mendadak di jalanan rame kayak gini? Untung nggak ada mobil di belakang, kalau ada bisa mati kita semua!" seru Tania tak kalah keras. Wajahnya benar-benar panik dan takut, begitu juga dengan yang lain. Termasuk Arwen yang baru saja melamun.


"Sorry! Tapi ada orang gila yang barusan nekat halangin jalan! Coba lihat tuh! Emang minta dihajar ini bocah!" kata Tora yang terdengar marah. Cowok itu seketika langsung turun dari mobil menghampiri seorang pengendara motor berjaket kulit, dimana semua anak kos yang ada di mobil bisa menebak siapa sosok tersebut.


Mata Arwen membulat karena terkejut. Ia segera menyusul turun, mencoba mencegah Tora yang saat itu tampaknya tak bisa menahan amarahnya lagi. Tapi tindakan Arwen yang terlalu gegabah dan ceroboh itu menimbulkan malapetaka.


Sebuah motor yang melaju kencang dari arah belakang langsung menyambar tubuh gadis itu yang baru membuka pintu. Tubuh Arwen terpental ke samping, jatuh di antara dua motor yang sedang terparkir di pinggir trotoar. Pengendara motor tadi berhenti sebentar, namun tiba-tiba ia malah menarik gas dan segera pergi dari tempat itu untuk melarikan diri.


Tora yang baru hendak menghajar Jefri seketika mengurungkan niat. Dua cowok itu terkejut bukan kepalang sampai tak bisa berkata apa-apa. Sedangkan anak kos yang berada di dalam mobil berteriak histeris saat menyaksikan tubuh Arwen yang tidak bergerak segera di kerumuni oleh warga yang hendak menolong.


Arwen tidak bisa merasakan apapun, bahkan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Ia hanya melihat banyak wajah yang memandanginya, namun perlahan mulai mengabur menjadi kegelapan yang semakin pekat.


Dalam ingatan terakhirnya, Arwen hanya berucap dalam hati 'Apa mungkin lebih baik begini saja. Tidur selamanya agar ia tidak perlu menahan lagi bagaimana pedihnya rasa kecewa itu.'


To be continued..