Housemates

Housemates
12. Belum Terjawab



...Happy Reading...


...__________________...


Mendengar itu Juna langsung terdiam. Atmosfer lain tiba-tiba tercipta begitu saja di antara mereka. Ada banyak hal yang ingin Arwen tanyakan pada cowok di sampingnya itu. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, dan itu bukanlah waktu yang singkat. Tentu saja Arwen butuh penjelasan kenapa Juna dan keluarganya tiba-tiba pergi begitu saja.


"Orang tua kakak udah nggak sama-sama lagi Wen. Mereka udah cerai," tukas Juna pelan. Arwen jelas terperangah.


"Maksudnya Om Fedi sama Tante Santi udah nggak..." Arwen tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat Juna langsung mengangguk.


Arwen tidak percaya karena sebelumnya hubungan orang tua Juna terbilang selalu baik-baik saja dan tidak pernah ada masalah. Atau karena Arwen masih kecil, jadi dia tidak paham masalah yang dihadapi oleh orang dewasa.


"Kakak emang salah karena waktu itu nggak sempat pamit sama kamu, karena kakak perginya emang mendadak. Papa Mama udah lama nggak akur Wen, dan rumah yang di sini dijual setelah mereka resmi cerai. Mama pindah ke rumah nenek di Kuningan dan Papa akhirnya balik ke Kalimantan dan menetap di sana. Dan waktu itu kakak memilih untuk ikut Papa sementara waktu."


"Tapi kenapa kakak nggak pernah cerita?"


"Ini masalah keluarga kakak, Wen. Jadi cukup biar kakak aja yang tahu."


"Arwen ikut prihatin ya kak," ucap Arwen sambil mengusap pundak cowok di itu. "Tapi kenapa selama dua tahun kakak sama sekali nggak ada kabar apapun. Nggak mungkin kan, kakak nggak tau nomor kontak Arwen atau nomor kontak rumah ini. Kakak juga bisa cerita ke Arwen kalo saat itu memang lagi ada masalah, tapi kakak lupa seakan kita nggak pernah punya cerita bareng sama sekali. Kakak egois banget."


"Kakak memang egois Wen. Kakak di sana bukannya nggak mikirin kamu sama sekali. Kakak nyesel karena pergi gitu aja. Kakak juga kangen sama kamu, sama semua temen-temen di sini. Tapi kakak punya alasan kenapa aku nggak bisa ngehubungin kamu waktu itu."


"Maksud kakak apa?" tanya Arwen dengan mata sendu. Juna menatap gadis di sampingnya itu dengan seksama, dia bisa melihat rasa kecewa di dalamnya. Juna sadar, tidak akan semudah itu dia mendapat kata maaf.


"Karena kakak masih belum bisa menerima perceraian orang tua kakak Wen. Makanya saat itu kakak memutuskan untuk sendiri. Meskipun kamu nggak ada sangkut pautnya sama masalah keluarga kakak, tapi kenangan kakak sama orang tua kakak banyak disini. Makanya kakak coba buat lupain semuanya, termasuk nggak berhubungan sama kalian. Tapi bukan berarti kakak lupain kamu Wen. Kakak minta maaf karena udah bikin kamu kecewa."


Juna tampak tertunduk sedih, begitu juga dengan Arwen. Selama ini dia sangat kecewa dengan sikap Juna, apalagi setelah Juna balik ke Jakarta, cowok itu tidak langsung mencarinya.


Tapi setelah mendengar cerita Juna, Arwen paham. Tidak akan semudah itu untuk bangkit saat hati kita sedang patah, apalagi yang membuat patah itu keluarga kita sendiri. Dan Arwen sadar, dia tidak berhak marah ataupun menghakimi Juna demi perasaannya sendiri. Itu sama saja dirinya juga egois.


"Kak!" panggil Arwen yang langsung disambut sepasang mata bening dan sendu dari Juna. Cowok itu hanya melebarkan matanya saat Arwen tiba-tiba melingkarkan kedua tangan di lehernya dan memeluknya dengan lembut.


"Sekarang Arwen paham, perasaan Arwen nggak sebanding dengan apa yang kakak alami. Dan semua pertanyaan Arwen selama ini sudah terjawab di sini. Jadi, sekarang kita lupain apa yang sudah terjadi kemarin. Arwen seneng kakak baik-baik aja, dan Arwen seneng bisa ketemu kakak lagi."


Pernyataan Arwen tentu membuat Juna merasa lega dan langsung menarik tubuhnya, menatap lekat pada gadis di hadapannya.


"Jadi kamu maafin kakak Wen?"


Tentu saja Arwen langsung mengangguk. Tidak ada yang lebih baik dari kata maaf dan memaafkan di dunia. Melihat itu Juna jelas tersenyum haru dan langsung merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut senang oleh Arwen.


Mereka saling berpelukan, saling melepas rindu satu sama lain yang entah sudah berapa lama mereka tahan. Juna mengusap dan mencium lembut rambut Arwen.


"Kakak sayang kamu Wen."


Arwen terkejut, ada perasaan senang yang tak terhingga di sana. Tapi entah kenapa, rasanya tetap ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa membuat hati Arwen lega.


Dan pada akhirnya Arwen hanya terdiam sambil tersenyum samar. Dia tidak tahu ungkapan rasa sayang Juna untuk dirinya itu seperti apa, biar nanti waktu yang akan menjawab semuanya.


Tok, tok, tok!


Juna dan Arwen yang masih saling berpelukan langsung tersentak dan menjauh satu sama lain saat melihat Taki berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah judes.


"Kok udahan pelukannya?" tegurnya dengan nada gusar.


"Bang, tolong deh kalo dateng jangan kayak jailangkung, ngagetin tau," tukas Arwen kesal. Sedangkan Taki malah mencibir.


"Ya kalo gue nggak dateng mau sampe subuh lo pelukan?"


"Dih, iri aja sih, guekan udah lama nggak ketemu kak Juna."


"Dih, apaan sih anak kecil. Trus maksud lo mentang-mentang lama nggak ketemu jadi bisa peluk-pelukan ama cium-ciuman gitu? Lo ama gue aja nggak gitu-gitu amat."


"Siapa juga yang mau meluk Abang, cewek lain aja nggak ada yang mau meluk Abang apalagi gue. Dasar jomblo!"


Taki yang mendengar kesongongan adiknya langsung ingin melempar sendal padanya.


"Bocah songong banget, kayak lo punya gebetan aja. Jomblo ngatain jomblo!" seru Taki gemas sambil mencoba meraih tangan adiknya, tapi Arwen langsung berlari keluar kamar.


"Biarin gue masih muda ini, tapikan Abang udah tua tapi masih aja jomblo hahahaha..." Arwen bergegas berlari menuruni tangga. Taki yang sudah kelewat emosi akhirnya melempar sendal juga pada Arwen. Tapi adiknya itu malah tertawa puas saat melihat wajah berang kakaknya di atas.


"Adik laknat!"


Tapi pada akhirnya Taki langsung menghela nafas panjang dan meratapi kejombolannya selama ini. Juna yang melihat pertengkaran adik kakak itu hanya ikut tertawa, dia sudah tahu kalau Arwen dan Taki tidak pernah akur dan sering bertengkar.


Tapi Juna juga tahu, Taki sangat menyayangi adik semata wayangnya itu. Dia jarang memperlihatkan rasa sayangnya di depan Arwen, tapi Taki selalu menjaga Arwen di balik layar. Dia tidak akan pernah membiarkan  siapapun menyentuh apalagi menyakiti adiknya.


"Gue kira lo nggak bakal balik lagi," ucapan Taki membuyarkan lamunan Juna. Taki masih berdiri di ambang pintu, menatap dingin ke arah Juna yang masih duduk di lantai kamar. Cowok itu lalu berdiri.


"Nggak ada larangan buat gue balik kesini kan bang?"


"Emang nggak ada. Trus alesan lo ke sini lagi karena apa? Bukannya waktu itu lo udah janji?"


"Tapi gue nggak bisa bang. Gue juga kangen Arwen."


"Lo yakin yang lo kangenin itu Arwen? Bukannya itu cewek?" sahut Taki ketus.


"Tolong Bang, gue tau gue salah. Tapi gue belum bisa jelasin ke Arwen sekarang."


"Trus ngapain lo dateng buat nemuin Arwen, kalo pada akhirnya lo nggak bisa jelasin alesan yang sebenarnya sama Arwen."


"Gue tau Bang. Gue ketemu Arwen juga nggak sengaja, karena dia ternyata satu kos sama temen-temen gue. Gue selama di Jakarta juga nggak pernah kontek-kontekan, kita ketemu gitu aja dan nggak mungkin gue ngehindarin dia."


Taki masih terdiam dengan wajah kaku dan dingin sambil menatap tajam ke arah Juna yang berdiri satu meter di hadapannya. Cowok itu juga menatap dengan pandangan yang tidak bisa diartikan, antara bingung dan juga frustrasi di saat yang sama.


"Denger ya Jun, gue nggak mau liat lo nyakitin Arwen yang kedua kalinya. Kalo lo sayang sama dia harusnya lo nggak bohongin dia selama ini. Kalo lo mau stay, lo harus jujur tentang alesan sebenarnya kenapa lo pindah ke Kalimantan. Dan jangan pernah kasih harapan apapun ke adek gue, karena gue nggak akan pernah terima itu."


Taki menegaskan semua kata-katanya sebelum akhirnya dia meninggalkan Juna sendirian. Sedangkan Juna hanya bisa terdiam dengan wajah kaku. Pikirannya benar-benar berkecamuk. Kenapa sampai sekarang dirinya tidak pernah siap memberi tahu Arwen apa alasan sebenarnya ia pergi hari itu?


To be continued...