Housemates

Housemates
25. Kesalahan



...Happy Reading...


...________________...


Regan yang melihat situasi tidak enak lebih memilih segera masuk ke dalam setelah berpamitan dengan Arwen. Lagipula dirinya juga masih kesal melihat wajah temannya itu.


Jefri sendiri juga memberikan tatapan gusar ketika Regan lewat di sampingnya. Mereka hanya saling melirik tajam satu sama lain, membuat Arwen yang masih mematung di depan gerbang menjadi kaku. Berharap tidak akan ada lagi pertikaian di antara keduanya.


Setelah Regan benar-benar masuk, mata Jefri kini tertuju sepenuhnya pada gadis berambut hitam panjang yang kini juga beranjak ke dalam. Namun Jefri segera mencegatnya, menghalangi langkah gadis itu yang mau tak mau membuat Arwen menghentikan langkahnya.


Mata Jefri masih menyorot tajam, rasa kesalnya karena melihat Arwen berjalan dengan Regan masih sedikit berbekas. Jefri sudah mengamati keduanya saat mereka masih berada di tukang seblak tadi. Niat hati ingin menghampiri Arwen, namun Regan datang lebih dulu.


"Kenapa kak? Aku mau makan," ucap Arwen saat merasa Jefri masih terus menelisiknya tanpa henti. Gadis itu memilih untuk mengalihkan pandangannya.


"Nggak apa-apa. Kenapa jam segini baru makan?" tanya Jefri dengan nada suara lembut. Pandangannya mulai melunak seperi biasa.


"Iya soalnya tadi belajar dulu. Sebentar lagi mau ujian."


"Rajin banget pacar," godanya seraya menepuk pelan kepala Arwen.


"Pacar? Emang kapan kita pacaran?"


"Ya makanya jawab dong, biar kita cepet pacaran."


"Kalau aku nolak gimana?"


Senyum Jefri seketika langsung menghilang. "Emang beneran kamu mau nolak aku Wen?"


"Nggak tau."


"Kenapa sih Wen? Apa yang bikin kamu nggak yakin sama kakak?"


Jefri menarik dagu Arwen agar gadis itu itu mau menatapnya. Karena sejak tadi Arwen terus menghindar. Mata legam yang cantik dan bercahaya, tapi sorot keraguan terpancar begitu jelas. Membuat Jefri semakin bertanya, kemana sorot mata bahagia yang selalu Arwen tunjukkan saat sedang bersama dirinya.


"Aku nggak yakin aja kak, perasaan kamu itu memang tulus atau cuma nganggep aku sebagai pelarian aja."


"Kenapa kamu ngomong gitu?"


"Karena kakak nggak pernah move on sepenuhnya dari kak Citra. Kalau nggak, aku nggak akan melihat kamu seperhatian itu sama dia kak, apalagi dia baru aja putus dari Kak Regan."


Mendengar penuturan itu membuat Jefri sedikit tersentak. Ia melihat jelas raut wajah Arwen yang kecewa, dan bodohnya Jefri tidak menyangkal itu. Jefri tahu kemana perasaannya saat ini, namun melihat Citra bersedih hati Jefri tidak tega. Jefri tahu jika orang-orang telah mencap buruk dirinya yang dianggap menjadi orang ketiga akan hubungan Regan dan Citra, padahal kenyataannya tidak begitu.


Jefri tidak bisa pergi karena ia juga menyayangi Citra sebagai orang yang penting baginya. Dan selama ini hanya itulah yang ia lakukan, tidak lebih. Tapi dirinya tidak tahu, jika apa yang ia lakukan telah menyakiti hati gadis yang disukainya. Apalagi Arwen tahu, bahwa Jefri pernah mengatakan bahwa dulu dirinya menyukai Citra.


"Maaf Wen," ucap Jefri akhirnya. Pria itu menunduk dengan raut wajah murung. "Aku nggak peka dan udah bikin kamu kecewa. Tapi, hubungan aku sama Citra nggak seperti itu,Wen. Apa yang aku rasain dulu ke dia udah nggak ada, aku cuma menghibur karena dia selalu curhat tentang hubungannya dengan Regan."


"Ngapain minta maaf kak, nggak ada yang maksa perasaan kamu buat suka sama siapa. Tapi kalau perasaan kakak sama orang lain belum selesai, mending diselesain dulu. Jangan menaruh perasaan pada dua hati yang berbeda padahal kenyataannya kakak ngga bisa memilih." Arwen berucap tegas seraya menatap tanpa keraguan pada cowok berlesung pipit yang masih menunduk di depannya. Jika tadi Arwen yang berusaha menghindari tatapan Jefri, kini malah sebaliknya. Dan hal itu seakan memperjelas jawaban yang tidak bisa disampaikan cowok itu.


"Kenapa kamu bisa nyimpulin kakak seperti itu Wen?" tanya Jefri.


Sekali lagi Arwen memberikan tatapan gusar yang ditahan. "Kalau memang kakak nggak pernah menaruh harapan lagi, kakak nggak akan gandeng tangan Citra seerat itu tadi siang kak."


Arwen sudah malas berasa-basi lagi, bahkan dirinya hampir enggan menyebut Citra dengan sebutan kakak, padahal gadis itu tidak punya salah apa-apa padanya. Hanya saja keadaan yang membuat mereka kini malah saling terhubung pada hubungan yang rumit. Dan entah kenapa dada Arwen rasanya sesak, mencoba menahan tangis dan amarah yang sebenarnya ia tujukan pada dirinya sendiri.


Tadi siang saat di mall Arwen tahu bahwa Taki berusaha membuat dirinya tidak melihat pemandangan yang mungkin akan menyakiti hatinya. Namun sayang dirinya sudah melihat itu lebih dulu, hanya saja Arwen pura-pura tidak tahu agar kakaknya tidak khawatir.


Gadis itu segera melangkah masuk menuju teras kos saat melihat Jefri hanya membeku di tempat tanpa mencoba menyangkal ataupun menghentikan dirinya. Hatinya semakin sakit melihat kenyataan ini, namun lebih baik seperti ini daripada ia memendam semuanya terlalu lama.


Arwen segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia bahkan tak mengguris godaan Latif dan yang lainnya, hatinya kini telah sungguh patah untuk yang kedua kalinya. Seblak yang baru saja ia beli langsung ia letakkan di atas meja tanpa berniat menyentuhnya.


Nafsu makannya langsung menghilang karena ditelan oleh perasaan yang tak menentu. Ia lebih memilih membenamkan wajahnya di kasur sambil berusaha menahan isak tangis yang mulai keluar. Kenapa dirinya harus selemah dan secengeng ini.


Sedangkan di luar sana, Jefri masih mematung di tempat. Terkejut, tidak menyangka bahwa Arwen melihat dirinya hari itu pergi berdua dengan Citra. Seketika dirinya menjambak rambutnya sendiri, merasa bingung dan juga bersalah. Kenapa ia merasa bodoh dan tidak tegas pada keputusan yang ia ingin ambil.


Dan sekarang dirinya malah terjebak pada situasi yang membingungkan. Hatinya ingin berlabuh pada Arwen, tapi entah kenapa dirinya tidak bisa meninggalkan Citra.


"Kalo lo bingung, mending tinggalin adek gue sekarang. Jangan kasih harapan palsu!"


Suara tajam yang terdengar gusar membuat Jefri yang tengah berjongkok di halaman depan segera menoleh. Matanya bertubrukan dengan netra gelap milik Taki yang memberikan aura tidak bersahabat sama sekali.


Lagi-lagi, semuanya akan menjadi jauh lebih rumit.


*****


Esoknya, Arwen masuk sekolah seperti biasa. Ia kini tengah menikmati makan siang bersama tiga temannya, Choa, Nina dan juga Yuki. Andai saja Harry juga ada di sini, semuanya pasti akan terasa lengkap. Hanya saja hubungan mereka belum sepenuhnya membaik, terutama Harry dan juga Yuki. Keduanya sama-sama egois dan enggan mengalah.


Diam-diam Arwen melirik ke arah Yuki, seketika dirinya teringat akan obrolannya dengan Harry hari itu. Rasa kecewa dan penasaran berusaha ia sembunyikan agar Yuki tidak tahu bahwa Arwen telah mengetahui apa yang ingin coba ia sembunyikan dari teman-temannya. Arwen masih tidak percaya, bahwa Yuki melakukan itu hanya karena demi takut kehilangan petemanannya. Justru, apa yang ia lakukan sekarang mungkin akan membuat Choa dan Nina juga akan marah.


"Wen, Arwen!"


"Eh..." Arwen terkesiap saat tangan Choa melambai-lambai tepat di depan wajahnya.


"Lo kenapa sih malah bengong? Ditanyain tuh?"


"Siapa?"


"Makanya nengok!" sergah Choa kesal seraya mendorong paksa wajah Arwen agar melihat bahwa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.


Arwen mendapati seorang cowok tinggi berwajah kaku tapi tampan yang dikenal cukup badung di sekolah. Namun fans ceweknya banyak sekali, padahal dia ini sering sekali membuat ulah dan juga membolos. Namanya Seno, siswa kelas 3 IPS. Jelas Arwen merasa aneh, kenapa cowok ini tiba- tiba mendatanginya padahal mereka tak saling kenal sama sekali. Tak hanya Arwen, tapi tiga temannya juga heran dan menatap curiga, takut dia akan membuat ulah di sini.


"Yaiyalah masa gue nyari tukang combro!"


"Yee... Nggak usah ngegas kali. Kenal juga enggak udah ngeselin."


"Pertanyaan lo aja yang aneh."


"Aneh darimana? Kayaknya lo salah orang deh, dateng-dateng ngajakin ribut. Kalo nggak ada urusan mending pergi sana, kita juga nggak saling kenal."


"Siapa bilang gue nggak ada urusan?"


"Trus lo mau ngapain, kalau ada yang mau disampaikan itu ngomongnya baik-baik." Arwen gusar bukan main. Karena tidak ada angin dan hujan tiba-tiba saja cowok ini nongol dengan sikap kasar dan juga mendominasinya. Membuat Arwen malas meladeni, apalagi mereka tidak pernah saling berinteraksi.


"Prom nanti lo dateng bareng gue!"


Arwen yang saat itu sedang menenggak minuman langsung tersedak, membuat minumannya menyembur tepat di depan wajah Choa yang duduk di depannya. Tiga temannya itu juga langsung membeku, tidak percaya bahwa secara gamblang Seno baru saja meminta Arwen untuk menjadi pasangan promnya.


"Gue nggak salah denger?"


"Ya kalau lo nggak budek seharusnya gue nggak perlu mengulang dua kali." Setelahnya cowok itu segera mengutak - atik handponenya dan menunjukkannya di depan wajah Arwen. Saat itu juga ponselnya sendiri berdering, Arwen segera memeriksanya dan melihat nomor tidak dikenal di layar.


"Itu nomor gue, simpen! Gue tunggu jawaban lo sampai akhir ujian ini, awas aja kalo nolak!"


Setelahnya Seno berlalu tanpa menunggu jawaban dari Arwen yang sudah hampir menyahut dengan wajah luar biasa dongkol.


"Dasar orang gila! Ya kali gue pergi sama orang macem dia," gerutunya kesal.


"Kok bisa dia ngajak lo kencan Wen?" tanya Yuki heran.


"Ya mana gue tau."


"Bener. Nggak nyangka ternyata dia doyan cewek," sahut Mira.


"Emang ada yang bilang dia homo?" kali ini giliran Choa yang bertanya.


"Enggak ada sih, cuma kan aneh selama ini yang dia pikirin kan tawuran sama bolos terus. Nggak nyangka bisa naksir cewek juga. Mana ceweknya Arwen lagi."


"Eh Wen, emang lo udah mutusin mau pergi sama siapa?"


"Emang kalian udah ada pasangan?"


"Ditanya kok malah balik nanya?"


"Kan cuma nanya, sebelum bertanya ada baiknya bertanya pada diri sendiri dulu."


"Gue pergi sama Harry," sahut Choa.


"Emang dia mau?"


"Ya harus mau, gue paksa aja. Lagian mau berapa lama kita diem-dieman kayak gini."


"Lo kangen ya Cho?" goda Nina.


"Ya kangen, emang kalian enggak?"


Mendengar ucapan Choa, tiga cewek di depannya itu seketika Menunduk suram.


"Kangen lah Cho."


"Yaudah mending kita juga cari cara biar Harry mau balik lagi. Gue harap sih ada baiknya mengesampingkan ego masing-masing saat ini." Choa berucap seraya matanya melirik pada Yuki yang sadar bahwa ucapan itu ditujukan padanya. Gadis itu memilih diam dan tidak menyahut.


"Jadi Wen, lo pergi sama siapa? Si Seno juga lumayan, meskipun agak serem tapi dia ganteng Wen, nggak malu-maluin dia ajak ke acara."


"Tapi gue nggak kenal sama dia, lagian dia orangnya juga ngegas."


"Gue rasa dia ngegas karena nggak paham aja gimana caranya ngedekatin cewek. Cuma kayaknya dia nggak seburuk itu," tukas Nina. Ia dan Choa mengangguk setuju, lagian sejak masuk sekolah ini dan sejak mereka berteman, sekalipun Arwen belum pernah berpacaran. Meskipun puluh cowok telah mengirim surat pernyataan cinta secara langsung, namun hatinya tetap bergeming.


"Nggak tau sih, soalnya gue udah janjian sama Hafiz."


Mendengar itu dua temannya itu seketika tesedak karena saking kagetnya. Mereka menatap Arwen lamat-lamat, bahkan Arwen sempat menangkap mata lebar Yuki yang sejak tadi hanya terdiam.


"Hafiz? si kapten basket?"


"Gila Wen, masa sama adek kelas?"


"Lah emang kenapa?"


"Mentang-mentang satu kos lo jadi cinlok. Nikung sahabat sendiri lo!"


"Nikung darimananya, gue kan nggak kencan sama Hafiz."


"Ya sama ajalah, lo kan tau Yuki demen sama dia."


Arwen menatap wajah gusar Yuki yang berusaha dia tutupi saat ini. Temannya itu hanya tersenyum melihat pertengkaran mereka bertiga. Arwen memang sengaja mengatakan itu di depan Yuki, dirinya ingin tahu, apakah memang karena dirinya dekat dengan Hafiz yang membuat Yuki secara diam-diam membencinya. Dan kini, pertanyaan itu seakan terjawab saat melihat raut wajah temannya.


Namun, Arwen masih tidak yakin jika Yuki benar-benar marah hanya karena hal seperti ini. Karena yang Arwen tahu, Yuki hanya sebatas mengagumi Hafiz dan tidak benar-benar suka dengan cowok itu. Tapi entahlah. Arwen hanya perlu menunggu, mungkin setelah ini, tabir itu akan segera terbuka dan memperlihatkan wujud yang sebenarnya.


To be continued..