
...Happy Reading...
..._________________...
"Arwen, ada apa?" tukasnya sambil melirik pada kotak yang dibawa Arwen. "Itu apaan?"
Arwen menyodorkan kotak yang dibawanya. "Nih kak, katanya nitip ikan ******. Tadi kak Tora nitip suruh kasih ke kakak."
Jefri memiringkan kepalanya seolah mengingat-ingat, akhirnya dia menggangguk. "Yaudah masuk dulu Wen!" ujarnya sembari membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
"Tapi kak.."
"Masuk dulu ya. Bantuin pindahan ke akuarium, kakak lagi banyak tugas soalnya."
Mau tidak mau Arwen ikut masuk ke kamar Jefri. "Ini nggak papa kak aku masuk?"
"Emang kenapa? Masuk aja, pintunya dibuka ini, apa mau pintunya ditutup aja biar nggak ada yang liat?" goda Jefri yang langsung disambut lirikan sewot dari Arwen.
"Jangan mulai deh!"
Ini pertama kalinya Arwen masuk ke kamar penghuni lain, apalagi cowok. Arwen lumayan kagum karena kamar Jefri terlihat rapi dan juga bersih. Bisa dilihat kalau cowok itu tidak suka dengan warna-warna mencolok.
Karena hampir semua prabotan yang ada di kamarnya bernuansa hitam dan putih. Arwen meletakkan kotak yang berisi ikan di lantai. Sejak tadi matanya terpaku pada deretan buku yang terjajar rapi di rak yang berada di sudut ruangan.
"Suka baca buku juga kak?" tanyanya pada Jefri yang saat itu sedang sibuk mengeluarkan toples-toples kaca dari kardus.
"Suka sih, tapi kebanyakan buku sastra Wen."
Arwen selalu antusias jika melihat orang yang punya hobi sama dengannya. Buku-buku milik Jefri kebanyakan adalah edukasi sastra, puisi dan juga ada beberapa novel fiksi juga. Arwen melirik meja kerjanya yang terlihat berantakan dengan beberapa kertas.
"Kakak lagi sibuk ngerjain apa? Soalnya dari kemarin serius banget."
"Aku lagi mumet Wen. Makalah yang udah kakak kerjain lima hari ilang karena Laptop rusak. Trus sekarang bikin ulang lagi. Parah nggak tuh?" sungt Jefri dengan ekspresi wajah kusut.
Arwen manggut-manggut. "Pantes aja dari kemarin judes banget."
Cowok itu hanya tersenyum samar sambil meletakkan lima akuarium mini di lantai dan mengisinya dengan air tawar yang baru. Arwen ikut-ikutan duduk di lantai dan ikut memasukkan hiasan batu-batu kecil ke dalam akuarium.
"Kenapa milih ikan ****** kak?" tanya Arwen.
"Ya kalo ikan paus nggak cukup tempatnya," jawab Jefri asal yang membuat Arwen langsung melempar kerikil padanya.
"Serius, jangan bercanda!"
Jefri mesem-mesem. "Karena ikan ****** itu indah trus lucu-lucu. Mereka tuh dikenal ikan yang kuat, tangguh dan lincah. Meski sendirian mereka nggak pernah kelihatan kesepian."
Arwen mendengarkan sambil menatap intens pada cowok di depannya itu. Arwen merasa Jefri sedang menceritakan dirinya sendiri. Meski dia berteman akrab dengan Regan dan Erlan, tapi Arwen selalu melihat Jefri sering menyendiri.
Bahkan kadang suka tidak terlalu tertarik untuk ikut berkumpul dengan anak cowok yang lain. Padahal saat pertama bertemu Arwen pikir Jefri itu tipe orang yang mudah membaur karena sifatnya yang iseng dan jahil. Tapi semakin ke sini Jefri malah terlihat seperti orang yang suka menyendiri.
Jefri membuka plastik yang berisi ikan ******. Memang benar, ikan ****** itu sangat indah, mulai dari bentuk hingga warnanya yang bervariasi. Arwen mengambil jaring kecil dari tangan Jefri yang membuat cowok itu menoleh.
"Sini aku aja kak. Kakak ngerjain tugas aja biar aku yang pindahin mereka."
"Iya. Yaudah sana!" sergah Arwen yang langsung merebut plastik berisi ikan dari tangan Jefri. Cowok itu tersenyum manis, membuat Arwen mau tidak mau ikut tersenyum juga.
Dua orang itu bekerja dalam diam. Jefri sibuk dengan laptop dan tumpukan kertas di depannya. Sedangkan Arwen terlihat asyik sendiri, sesekali dia mengajak ikan-ikan itu mengobrol yang membuat Jefri geli sendiri.
Setelah selesai Arwen lalu meletakkan lima akuarium itu di atas meja dekat jendela, rupanya meja itu memang sudah disiapkan untuk tempat akuarium. Arwen tersenyum melihat ikan-ikan itu berlarian dengan lincah.
Pandangan Arwen beralih ke arah wall gird yang terpasang di dinding dan melihat kumpulan foto-foto kecil yang dijepit dengan rapi. Arwen tersenyum saat melihat sebuah foto masa kecil Jefri yang manis banget.
Ada foto dengan orang tuanya, foto kelulusan, foto saat ia bermain basket dan foto bersama teman-temannya. Ternyata Jefri, Regan, Erlan dan juga Banu sudah berteman lama. Dan satu hal yang membuat Arwen terkejut, dia melihat Juna juga berada di dalam foto itu.
"Kak Jef kenal Kak Juna?" tanyanya sambil menoleh pada Jefri yang sedang serius. Cowok itu hanya mengangguk.
"Udah dari SMP Wen. Tapi kita beda sekolah," sahutnya. Arwen baru tahu kalau ternyata mereka berdua juga berteman sejak dulu. Arwen melirik sebentar pada Jefri yang masih fokus dengan laptop di hadapannya.
Gadis itu kembali memandangi kumpulan foto di hadapannya yang membuatnya tiba-tiba teringat dengan kenangannya waktu kecil bersama Juna. Bahkan Arwen juga membuat wall gird khusus fotonya dengan Juna yang sampai sekarang masih terpasang di dinding kamar rumahnya.
Arwen tersenyum dan tanpa sadar tangannya meraih foto Jefri yang sedang bermain basket. Ada satu lembar foto lain yang terjatuh saat Arwen melepas jepitannya.
Arwen meraih selembar foto yang terjatuh itu dan seketika matanya terlihat membulat. Foto itu sepertinya diambil saat kelulusan SMA. Jefri tampak tersenyum bahagia dan di sampingnya berdiri seorang gadis cantik yang tersenyum manis sambil menggengam tangan Jefri.
Cewek itu adalah orang yang datang berasama Regan kemarin. Arwen bisa merasakan kebahagiaan yang ada di dalam foto itu, bahkan senyum Jefri yang terlihat tulus dan tanpa beban.
"Dia orang yang pernah kakak sayang Wen."
Arwen menoleh dan mendapati Jefri yang kini berdiri di belakangnya. Jefri memandangi selembar foto yang ada di tangan Arwen. Gadis itu bisa merasakan tatapan mata cowok di hadapannya itu yang seolah terlihat senang namun juga sedih di saat yang sama. Arwen lalu menyodorkan foto itu pada Jefri.
"Kalo sayang kenapa dilepasin kak?"
Jefri tersenyum samar dan meletakkan foto itu kembali ke wall gird. "Karna bahagianya dia nggak sama kakak Wen, tapi sama temen kakak."
Arwen tidak menyangka, cowok seperti Jefri bisa mempunyai perasaan yang dalam dan itu membuat Arwen kembali mengingatkan pada dirinya sendiri. Apa bedanya dengan Arwen yang sampai sekarang masih memendam perasaan pada satu orang sejak lama.
Perasaan yang entah terbalaskan atau tidak, tapi saking sayangnya sampai membuat Arwen bodoh dan rela menunggu. Mungkin itu juga yang ada di pikiran Jefri.
"Namanya siapa kak?"
"Citra Adelia."
"Cantik, ya?"
Seulas senyum terbentuk di bibir Jefri. "Tapi masih cantikan kamu Wen."
"Nggak usah gombal!"
"Siapa yang gombal? Nggak percaya?" Jefri langsung menarik Arwen ke arah cermin. Arwen hanya terdiam sambil menatap pantulan dirinya dan juga Jefri yang berada di cermin. Cowok itu tersenyum sambil membenahi rambut hitamnya yang tebal.
"Gimana, cantikan?" ucap Jefri sambil menatap gadis di sampingnya itu melalui pantulan di cermin.
Arwen sendiri hanya tersenyum melihat dirinya yang saat itu hanya memakai kaos dan celana pendek, bahkan masih bau keringat dan belum mandi. Tapi cowok di sampingnya itu selalu bisa membuat hati Arwen terombang-ambing.
To be continued...