Housemates

Housemates
22. Putus



...Happy Reading...


...__________________...


Sekitar pukul lima sore Arwen dan Juna baru tiba di kos-an. Keduanya kini tampak akrab dan tidak canggung seperti sebelumnya. Mereka tampak mengobrol santai sambil membicarakan masa kecil mereka yang dulu terasa konyol jika di ingat. Tak jarang Juna merasa gemas pada Arwen dan sering refleks mencubit pipi ataupun mengacak-acak rambutnya. Senang karena semuanya kembali baik-baik saja seperti dahulu.


"Wen, kok kayaknya lagi rame banget di dalem?" tanya Juna. Mereka berdua memandang ke arah teras yang pintunya tampak terbuka. Dari dalam terdengar suara gaduh dan juga teriakan yang lumayan jelas.


"Iya kak. Ada apaan ya?" sahut Arwen dengan ekspresi wajah penasaran. Keduanya saling berpandangan dan langsung bergegas berlari ke dalam rumah.


Sesampainya di depan pintu keduanya dibuat ternganga dengan pandangan yang mereka lihat. Ruang tamu bisa dibilang hancur dan berantakan sama sekali, sebagian penghuni kos ada di sana menyaksikan kekacauan itu.


Dan yang lebih mengejutkan mereka melihat Regan dan Jefri terkapar di lantai dengan wajah babak belur. Arwen melihat kakaknya dan Jais yang menahan Jefri di lantai. Begitu juga dengan Erlan dan Tora kini sedang menahan Regan yang terlihat menatap penuh dengan amarah pada Jefri.


"Ada apaan nih, kok kayak bocah maennya gelut-gelutan?" sergah Juna dengan wajah terkejut saat melihat keadaan kedua temannya itu. Semua yang ada disitu langsung menoleh. Lira yang melihat Juna langsung datangĀ  menghampirinya.


"Wen, lo baru balik?" seru Jihan yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu mengangguk.


"Kak ini kenapa?" tanyanya sambil pandangannya tertuju pada Jefri yang terlihat kacau sekali. Cowok itu masih terlihat berusaha menahan emosinya yang meluap. "Bukannya mereka temenan kak? Trus kenapa berantem kayak gini?"


Rosa yang berdiri di sampingnya langsung menyahut. "Pertemanan itu bisa hancur dengan banyak cara Wen. Salah satunya ya cewek."


"Maksudnya kak?"


"Mereka berantem karena Citra. Dan lo tau nggak, Regan sama Citra baru aja putus."


DEG!


Mendengar itu Arwen langsung membeku. Sekali lagi rasanya seperti ada sesuatu yang menekan ulu hatinya hingga terasa begitu sakit. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa di wajahnya.


Dia pikir semua perlakuan Jefri padanya adalah sesuatu yang spesial. Bahkan Arwen tidak menyangkal kalau dirinya mulai suka dengan cowok itu. Tapi sekarang, sepertinya dia harus menarik perasaannya kembali. Karena cewek yang disayang Jefri kini sudah kembali.


Arwen menatap tajam ke arah Jefri, dan sekarang cowok itu juga menatapnya dengan ekspresi wajah terkejut. Jefri langsung menegakkan badannya, tapi Arwen memilih mengalihkan pandangannya. Gadis itu perlahan berjalan ke arah tangga dan menaikinya, tidak menggubris pandangan Jefri yang tak berhenti mengekorinya.


"Arwen!" panggil Jefri. Tapi gadis itu terus berjalan.


"Wen tunggu! Aku mau ngomong!" teriak Jefri. Cowok itu bergegas bangkit dari duduknya dan langsung mengejar Arwen yang sudah berada di ujung tangga. Semua yang ada di situ saling berpandangan dengan wajah polos. Bahkan Taki hanya mematung bingung melihat Jefri yang tiba-tiba mengejar adiknya.


"Sinetron apa lagi ini yang mau tayang?" seru Banu sambil memasukkan cilok ke dalam mulutnya.


*****


Arwen langsung mempercepat langkahnya saat melihat Jefri ternyata mengejarnya. Arwen sedang tidak ingin berbicara dengan Jefri saat ini. Gadis itu menggerutu saat pintunya tak kunjung terbuka karena tangannya yang bergetar.


Arwen cepat-cepat masuk ke dalam dan langsung menutup pintunya. Tapi Jefri terlalu cepat, cowok itu menahan pintunya dan langsung mendorongnya hingga terbuka. Arwen bisa melihat raut wajah Jefri yang gusar berdiri di hadapannya dengan nafas tersengal-sengal.


"Kak kamu mau ngapain? Keluar!"


"Nggak, sampai kita ngobrol dulu," sahutnya dengan nada ketus lalu menutup pintunya dengan kasar dan menguncinya dari dalam. Arwen yang melihat itu langsung melotot.


"Kak kamu udah gila? Aku nggak mau ya mereka mikir yang nggak-nggak sama kita. Buka pintunya kak! Aku nggak suka kayak gini." Arwen berusaha mendorong Jefri tapi cowok itu malah menarik tangannya.


"Wen, aku cuma mau ngomong sama kamu, sampai kapan kamu mau ngehindarin kakak terus?"


"Emangnya apa yang mau diomongin? Nggak ada!"


"Please Wen, jangan kayak gini, aku nggak bisa kamu diemin terus-terusan," ujar Jefri sambil menatap dengan wajah sedih. Jujur Arwen kasihan, apalagi melihat kondisi wajahnya saat itu yang penuh dengan luka. Gadis itu menghela nafasnya sesaat lalu duduk di atas ranjang. Dia menyuruh Jefri untuk duduk di kursi belajarnya.


"Bersihin dulu darahnya!" tukas Arwen sambil menyodorkan sapu tangan pada Jefri. Cowok itu menurut dan langsung mengelap darah di pelipis kiri dan juga bibirnya yang sudah mulai mengering. Arwen lalu mengambilkan plester dari laci mejanya dan menyuruh Jefri untuk mamakainya. Arwen menatap perbuatan cowok itu dengan seksama.


"Aku nggak ada apa-apa Wen, sama Citra," ucap Jefri setelah beberapa saat. Mendengar itu Arwen hanya tersenyum getir.


"Trus maksudnya apa kakak bilang ini sama aku?"


"Kak, kamu nggak dengerin?"


"Harusnya kemarin aku nggak ajakin dia naik."


Arwen yang merasa ucapannya tidak digubris langsung menyahut dengan nada kesal.


"Kak kamu dengerin aku ngomong nggak sih?! Ngapain kakak jelasin ini itu soal hubungan kakak sama Citra. Itu nggak ada hubungannya sama aku. Kenapa juga aku harus dengerin?"


"Karna kamu marah."


"Kenapa aku harus marah?"


"Karna kamu suka sama kakak."


Seketika kata-kata itu membuat Arwen membeku. Dia bisa melihat pandangan Jefri yang menusuk padanya, yang akhirnya membuat Arwen merasa terintimidasi. Arwen tertawa samar.


"Kakak ambil kesimpulan itu dari mana? Jangan.."


"Kalau gitu lihat kakak sekarang kalau kakak salah!" potong Jefri dengan suara tegas sambil terus menatap Arwen yang tampak tertunduk. Gadis itu terdiam tidak mengatakan apapun.


"Bilang kalo aku salah Wen? Aku tau kamu marah, kalau nggak, kamu nggak mungkin ngehindarin aku beberapa hari ini."


"Aku nggak tau kak, aku nggak yakin. Toh kalaupun kamu beneran sama Kak Citra aku juga nggak punya hak apapun. Dan emang nggak seharusnya aku marah."


"Wen, aku nggak ada apa-apa sama Citra. Kita cuma temen."


"Tapi kamu kan sayang sama dia, bukannya kamu pernah bilang?"


"Iya, tapi itu dulu. Sebelum kamu dateng dan terus geser nama dia di sini," seru Jefri sambil menepuk dadanya sendiri. Arwen membelalak sesaat dan perlahan menatap mata cowok di hadapannya yang terlihat lembut dan juga sayu.


"Percaya sama kakak, Wen."


"Gimana aku harus percaya kak? Bahkan hari ini aja kamu belain dia sampe babak belur."


"Maksud kamu apa?" sahut Jefri dengan mimik wajah tidak paham.


"Kamu berantem sama kak Regan ngapain kalo bukan belain dia? Dan aku denger mereka berdua putus, bukannya itu kesempatan bagus buat kakak."


"Wen, aku berantem sama Regan bukan karena belain Citra. Tapi karna Regan tiba-tiba dateng dan nuduh kalo kakak yang bikin mereka putus. Dan akhirnya yaudah, aku nggak bisa nahan emosi lagi," jelas Jefri sambil menunjuk luka pada wajahnya sendiri.


Arwen hanya terdiam mendengar penjelasan Jefri. Gadis itu masih mengatupakan bibirnya karena kesal dan marah. Namun perlahan pandangan dan sikapnya mulai mencair. Jefri yang tadi duduk di kursi kini tiba-tiba langsung duduk berjongkok di hadapan Arwen. Gadis itu langsung terkesiap apalagi saat melihat wajah Jefri yang hanya berjarak beberapa senti darinya.


"Kamu maafin aku kan, Wen?"


Arwen masih mematung di tempatnya. Menatap lekat manik mata hitam legam di hadapannya. Jujur saja melihatnya saja bisa membuat hati Arwen merasa lega. Tapi Arwen juga takut dia akan jatuh terlalu dalam.


"Kak, aku nggak perlu maafin karena aku nggak ada hak buat marah. Jadi stop bilang maaf terus."


"Kalo gitu aku bikin kamu punya hak sekarang,"


"Maksudnya?"


"Jadi pacar kakak, Wen. Jujur aku nggak bisa berhenti mikirin kamu sampai sekarang."


DEG!


Kenapa tiba-tiba rasanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di perut. Rasa geli yang begitu membuncah membuat hati dan perasaan Arwen menghangat. Tapi gadis itu tidak tahu, kenapa dia merasa ragu dengan perasaannya sendiri. Apakah Jefri benar-benar menyukainya? Atau dia hanya akan menjadikan dirinya sebuah alasan untuk membawa kembali cinta pertamanya?


Arwen tidak tahu.


To be continued...