
"Arwen, kamu suka Jefri, ya?"
Pertanyaan itu membuat Arwen tertegun. Jujur saja Arwen tidak suka dengan pertanyaan ini. Bukan masalah karena Citra yang menanyakannya, namun bagaimana gadis itu bertanya padanya.
Ada tekanan pada nada suaranya, berharap Arwen akan segera memberinya jawaban. Arwen mengamati gadis itu, menilai sosok Citra dari luar yang selalu terlihat ramah dan mempesona. Bahkan gadis itu masih terus tersenyum hingga sekarang.
"Kenapa nanya gitu, kak? Emang aku kelihatan suka sama Kak Jefri, ya?" Arwen bertanya balik.
"Nggak. Bukannya gitu, Wen. Karena aku lihat kamu sering bareng sama Jefri. Dan kayaknya Jefri suka sama kamu. Aku cuma pengen tau aja, apa hubungan kalian berdua? Itu aja kok!" Citra kembali tersenyum. Menampilkan bulan sabit cantik pada kedua matanya. Ia tampak cerah dan ramah. Tapi sayang, Arwen tidak menilai demikian. Gadis ini tampaknya cukup manipulatif dan pandai menyembunyikan wajahnya.
"Maaf kak, kayaknya aku berhak nggak kasih tau siapapun tentang hubunganku sama Kak Jefri, termasuk kakak. Lagipula agak aneh, kakak baru putus belum lama sama kak Regan, tapi udah seperhatian ini sama orang lain. Kok kakak tega!"
Senyum manis Citra mendadak hilang seketika. Ia menatap Arwen yang juga menelisiknya tanpa henti. Ada senyum canggung yang muncul secara samar. Arwen melakukan ini bukan masalah ia cemburu bahwa Citra mungkin mengharapkan Jefri. Tapi, etika gadis itu yang tidak memikirkan perasaan Regan. Padahal mereka putus baru sekitar satu bulan. Tapi seperti tanpa dosa, Citra keluar masuk kos ini hanya demi menempel pada Jefri yang juga teman baik mantan pacarnya.
"Arwen, kamu salah paham! Aku..."
"Maaf ya kak, aku ke atas dulu."
Arwen merasa tidak perlu mendengarkan penjelasan Citra. Ia mengatakan itu karena merasa kasihan pada posisi Regan. Arwen segera menaiki tangga tanpa mengindahkan tatapan tajam Citra. Gadis cantik itu terlihat salah tingkah dan juga kesal. Ia mengamati keadaan sekitar, takut jika ada orang lain yang mungkin mendengar percakapan keduanya. Citra lantas bergegas pergi.
Di balik tembok dapur, Regan tidak sengaja mendengar percakapan dua gadis itu. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit muram. Memang benar, ia kini dalam kondisi menyedihkan. Benar kata Arwen, bahwa dirinya kini perlu dikasihani. Regan lalu tertawa lirih, berterima kasih pada Arwen yang telah menyampaikan pesan unek-unek itu pada mantan pacarnya.
*****
Malam itu Arwen merenung sendiri di dalam kamar. Ujian akhir sekolah telah selesai, hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Sebentar lagi ia akan lulus sekolah dan memasuki fase baru menjadi mahasiswa.
Sudah beberapa hari ini ia mulai mencari-cari perguruan tinggi. Arwen bercita-cita ingin menjadi sarjana hukum. Jurusan yang sama seperti yang diambil oleh kakaknya. Akibat dirinya yang sering mendapat ketidakadilan, membuat Arwen bercita-cita ingin menjadi penegak hukum.
Gadis itu menghembuskan nafas sesaat. Matanya sedang menelisik brosur beberapa perguruan tinggi, salah satunya adalah Universitas Antara dan Universitas Nusa Tungga. Dimana beberapa mahasiswa dari dua kampus itu tinggal di dalam rumah ini.
Tok, tok, tok!
Arwen menoleh, memperhatikan ke arah pintu. Ia lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Siapa yang mengetuk pintunya malam-malam begini?
Gadis itu lalu bangkit, agak sedikit ragu ketika ingin membuka pintu. Ia takut jika yang berdiri di hadapannya nanti bukanlah manusia, tapi makhluk-makhluk dari dimensi lain.
Tapi gadis itu akhirnya memberanikan diri, dan seketika terkejut ketika melihat Latif, Hafiz dan Mark sudah berdiri di depan pintu kamarnya sambil menebar senyuman yang agak menyeramkan. Mungkin bagi para gadis yang memuja mereka, itu adalah senyuman maut yang mempesona. Tapi bagi Arwen tentu tidak demikian.
Mereka bertiga membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk hati. Tapi yang mengenaskan hati itu tampak terbelah dan patah.
"Apa-apaan ini? Ulang tahun gue masih enam bulan lagi!" kata Arwen.
"Emang siapa bilang ini buat lo!" ketus Hafiz. Arwen melotot sambil tersenyum sinis. Sampai hari ini Arwen masih belum bisa menghilangkan rasa kesalnya pada cowok itu.
"Trus ngapain bawa kue ulang tahun di depan kamar gue?"
"Ini buat Bang Regan," sahut Mark sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir karena Arwen berbicara cukup lantang. "Tujuh menit lagi dia bakal ganti kulit. Yuk, ikut ramein, Wen."
"Buset, sadis banget ganti kulit," sahut Latif.
"Tapi kalian lebih sadis, loh. Kasih kue bentukannya kayak gitu."
"Itu idenya Latif, Wen."
"Tenang, Fiz. Kan ada Arwen!"
"Lha kok gue? Apa hubungannya?"
"Shhh... Jangan berisik!! Bentar lagi udah mau jam dua belas. Ayo sini!"
Mark segera memberi aba-aba agar mendekat ke pintu kamar Regan yang letaknya tepat di depan kamar Arwen. Saat itu kos di lantai dua tampak lebih lengang. Bukan karena hari sudah malam, tapi karena sebagian penghuninya yang sedang tidak ada di kos. Ditambah dua kamar bekas milik Mira dan Lira telah kosong. Bahkan Tante Rani telah membuat pengumuman bahwa dua kamar itu akan disewakan lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tiga cowok gesrek itu memukul pintu kamar Regan seperti orang-orang yang sedang berkonvoi membangunkan sahur.
Arwen memilih menutup telinga. Ia melongok ke segala arah karena siapa tahu akan ada penghuni kos lain yang mungkin muncul akibat keberisikan tiga orang ini.
Setelah lima menit menunggu, akhirnya pintu kamar Regan terbuka, menampakkan wajah kusut dan rambut acak-acakan cowok itu karena baru bangun tidur. Belum sempat ia membuka mulut, wajahnya langsung disodori kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala. Tiga cowok itu menyanyikan lagu ulang tahun gila yang baru pertama didengar oleh Arwen. Mau tidak mau gadis itu tertawa mendengar liriknya yang agak kurang ajar.
"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, Bang Regan. Udah jomblo lagi."
"Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun. Sekarang nggak ada yang suprisein. Jadi pake sabun lagi. Hahahaha..."
"Sialan lo pada!" Regan berteriak lantang karena lirik lagu yang agak mesum itu. Tapi ia hanya tertawa sambil meniup lilin yang langsung disambut tepuk tangan tiga cowok itu dan juga Arwen.
Regan tampak terharu mendapat kejutan ini. Empat cowok itu langsung bercanda dan masuk ke kamar Regan. Arwen pun diundang, tapi ia memilih berdiri di ambang pintu sambil melihat kamar Regan yang berantakan.
Gadis itu menemukan wajah citra masih terpampang di atas meja belajar Regan. Tampaknya Regan masih belum benar-benar bisa move on. Arwen bisa merasakan itu setiap kali menatap mata Regan. Namun anehnya, dengan mudah Citra membuang Regan seperti barang bekas. Dan sekarang malah bebas keluar masuk ke tempat ini hanya demi menemui Jefri. Sungguh, gadis itu ternyata jauh lebih kejam dari penampilannya.
"Arwen, sini! Ngapain sih disitu, ntar ada yang lewat loh!" sapa Regan sambil menarik gadis itu masuk dan langsung memberinya kue.
"Thanks, kak. Maaf nih gue nggak bawa kado, habisnya diajak dadakan."
"Gue nggak perlu kado, Wen."
"Perlunya kamu! Eeeaaa..."
Tiga cowok gesrek itu lagi-lagi menggoda sambil terus tertawa. Karena keberisikan yang mereka timbulkan, Jefri, Jais, Sharon dan Dinda terbangun dan langsung bergabung di dalam kamar Regan. Mereka memberikan ucapan selamat dan langsung menghabiskan sisa kue ulang tahun Regan yang berbentuk hati terbelah itu.
Obrolan mereka berlangsung hingga pukul dua pagi. Sampai akhirnya tidak ada yang sanggup menahan kantuk dan segera kembali ke kamar masing-masing. Jefri mengantar Arwen ke kamarnya, memberikan ucapan selamat malam dan segera kembali ke dalam kamarnya sendiri.
Arwen langsung naik ke atas ranjang. Ia tidak punya tenaga lagi untuk melihat brosur-borus universitas. Untung saja besok adalah hari tenang, jadi dia bisa santai sedikit dan mungkin datang terlambat ke sekolah.
Saat itu ponselnya berdering. Ada pesan masuk beberapa kali. Arwen melihat nama Jefri dan Regan mengiriminya pesan dalam waktu yang bersamaan. Gadis itu tertawa karena merasa aneh.
Ia lalu melihat pesan Jefri terlebih dahulu yang berisi ucapan selamat malam dan juga ajakan pergi ke bioskop besok sore. Ia mengirim foto telah membeli dua tiket Enola Holmes 2. Arwen tersenyum girang karena ia sangat menyukai film tersebut, walaupun sebenarnya dia hanya ingin melihat aksi Louis Partridge yang mempesona.
Arwen hampir membalas pesan tersebut, namun ia ingin melihat pesan Regan lebih dahulu. Ternyata besok Regan juga ingin mengajaknya pergi ke sebuah tempat. Ia menagih itu sebagai kado ulang tahunnya. Regan bahkan juga mengajaknya pada waktu yang sama.
"Kebetulan macam apa ini?" gumam Arwen.
"Jadi gue harus pergi sama siapa?"
To be continued...