
...Happy Reading...
..._________________...
"Wen, Arwen, tunggu!"
Suara seorang cowok terdengar memanggil saat Arwen berjalan menuju gerbang sekolah. Arwen tahu itu suara siapa, tapi Arwen malas berhenti dan ingin cepat-cepat pulang.
"Arwen!"
Suara Jinu terdengar semakin nyaring, membuat beberapa siswa menoleh padanya dan berhenti beberapa saat. Jinu meraih tangan Arwen yang membuat langkahnya terhenti. Arwen tidak suka itu, karena saat ini para siswa jadi berpusat pada mereka.
"Wen, gue anterin pulang ya?" tanya Jinu setelah selesai mengatur nafasnya.
Arwen mengangkat alis. "Nggak Nu, gue mau balik sendiri."
"Tolong Wen. Gue minta maaf."
"Udahlah Nu, gue lagi nggak pengen bahas itu. Gue mau balik, mending lo juga balik sana. Lo ngga usah minta maaf, kalo diposisi lo gue juga bakal gitu."
"Iya Wen. Tapi gue anterin lo balik ya?"Jinu masih bersikeras.
Saat itu Arwen menangkap bayangan seorang cowok yang melambai-lambaikan tangannya di atas motor byson yang terparkir di depan gerbang sekolah. Arwen lalu menoleh ke belakang meyakinkan kalau cowok itu memang melambai ke arahnya.
Arwen tidak tahu siapa itu, tapi cowok itu sepertinya paham kalau Arwen bingung dan langsung melepas helmnya. Senyum lebar tampak jelas di wajahnya. Kak Juna?
Arwen menimbang-nimbang, posisinya saat ini dia masih kecewa dengan Juna. Tapi dia juga ingin menghindari Jinu yang sedari tadi ngotot ingin mengantarnya pulang.
"Maaf Nu, kapan-kapan aja. Temen gue jemput ternyata. Duluan ya!"
Arwen segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Jinu. Jinu hanya bengong sambil menatap Arwen yang berlari ke arah cowok yang sedang duduk di atas motor. Ada perasaan kecewa, tapi dia tahu ini adalah salahnya sendiri.
Di sebuah tempat yang tak terlihat, seseorang tampak berdiri sambil mengamati Jinu yang masih termangu di depan gerbang. Lalu berganti melihat ke arah Arwen yang kini sudah melaju di atas motor bersama seorang cowok. Seulas senyum terbentuk di bibirnya, semula hanya samar-samar, hingga sebuah tawa kecil terdengar begitu bahagia namun juga kejam.
*****
Kedua orang itu masih saling terdiam. Juna yang sibuk menyetir, dan Arwen yang terus sibuk melamun sejak tadi. Juna melirik Arwen dari kaca spionnya.
"Wen, Arwen!" serunya dengan lantang agar suaranya bisa terdengar, karena suara deru motornya lumayan keras.
"Kenapa kak?" tanya Arwen yang berusaha meninggikan intonasinya.
"Kamu nggak papa?"
"Nggak papa, emangnya kenapa?" sahut Arwen bohong. Arwen tidak mungkin lupa kalau Juna adalah cowok yang lumayan peka.
"Nggah usah bohong Wen, keliatan dari muka kamu." Juna agak memperlambat laju motornya karena kos-an Arwen lumayan dekat. Sedangkan Juna masih ingin ngobrol banyak dengan gadis itu.
"Bohong apanya? Orang emang nggak ada apa-apa."
"Berarti bisa dong Wen, ngobrol sebentar sama kakak. Kita ke starbuck yuk?" tukas Juna sambil menegakkan badannya ke arah belakang. Mencoba melihat raut wajah Arwen dari balik kaca helmnya. Tapi Arwen langsung menggeleng.
"Sorry kak, jangan sekarang."
"Kamu masih marah ya sama kakak?" tanya Juna dengan nada sedikit kecewa.
"Aku nggak tau kak. Mungkin kapan-kapan, kalo sekarang aku lagi capek banyak tugas sekolah."
Bertemu Juna adalah salah satu hal yang membuat Arwen senang, sekalipun saat itu ia masih sedih dan kecewa. Tapi bagi Arwen hari ini terlalu berat, bahkan untuk sekedar bersenang-senang dengan orang yang disukainya.
Lagi-lagi Juna hanya manggut-manggut tanpa membalas ucapan Arwen. Keduanya lalu terdiam sampai Juna menghentikan motornya di depan gerbang kos-an Arwen.
"Makasih ya kak," ucap Arwen seraya menyerahkan helmnya pada Juna. Cowok itu tersenyum.
"Tunggu Wen!"
Juna kemudian sibuk merogoh-rogoh ke dalam isi tasnya. "Nih!" Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak pipih yang terlihat seperti album pada Arwen.
"Iya sebagai permintaan maaf kakak ya."
"Ceritanya kakak nyogok nih?"
"Nggak lah Wen. Tapi kalo emang kamu nggak mau yaudah sini!" Juna hampir merebut album itu kembali namun langsung ditepis oleh Arwen.
"Dih jangan, jangan. Ntar borok sikutan loh abis ngasih diminta lagi."
"Yaudah, berarti kakak dimaafin kan?"
"Belum tau."
"Dih, kok gitu sih Wen. Trus kapan kita bisa ngobrol?"
Arwen terdiam sambil berpikir. "Sabtu nanti aja ke rumah Arwen kak, sekalian ketemu mama papa. Udah lama nggak ketemu kan?"
"Minggu gimana? Soalnya kakak sabtu nggak bisa."
"Ngedate ya?" goda Arwen.
"Iya, ngedate sama Regan. Jadi gimana, minggu ya?"
"Oke deh."
Arwen segera masuk ke dalam dengan wajah senang setelah Juna pergi. Tangannya tidak berhenti mengelus-elus album terbarunya NCT yang sudah diidam-idamkannya selama ini. Selama ini Arwen belum bisa membelinya, karena harganya yang lumayan mahal.
"Seneng banget yang abis ketemu gebetan."
Arwen terlonjak kaget dan mendapati Mira yang sejak tadi ternyata mengekorinya dari belakang. Arwen tidak sadar karena saking senengnya mendapat album NCT yang ada di tangannya.
"Kak Mira, darimana?"
"Dari depan lagi buang sampah. Kakak berdiri di gerbang aja sampe kamu nggak liat, parah banget!"
Arwen terkikik pelan. "Ah serius. Sorry deh kak!"
"Dari Juna tuh?" tanya Mira seraya menunjuk album yang ada di tangan Arwen. Arwen itu menggangguk.
"Sejak kapan kamu ketemu dia Wen?"
"Belum lama kak, ketemunya juga kebetulan." Mira lalu mengangguk-ngangguk.
"Kak Juna udah 8 bulan di Jakarta. Dia temenan sama Kak Regan, berarti sekampus juga sama kakak. Tapi kok kakak nggak bilang kalau kak Juna ada di Jakarta?" tanya Arwen sambil menatap cewek cantik berambut hitam itu.
Mira hanya mengangkat bahu. "Bagusnya kan kalau kamu tahu sendiri Wen. Lagian waktu itu kakak tanya soal Juna kamu jawabnya begitu."
"Iya sih. Aku sempet kecewa aja dia nggak ngabarin kalau udah di Jakarta selama ini. Aku juga belum sempet ngobrol banyak sama dia."
Mira menatap Arwen dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Dia lalu meletakkan tempat sampah yang sejak tadi dibawanya di depan teras. Sekali lagi Mira menatap lekat pada Arwen yang lebih tinggi di hadapannya.
"Wen, mending kamu lupain Juna!"
Ucapan Mira tentu membuat Arwen terkejut dan merasa aneh. Mira bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, bahkan sejak dulu Mira tidak pernah mengomentari kedekatannya dengan Juna.
"Kok kakak tiba-tiba ngomong gitu?"
"Kakak sebenernya nggak mau ikut campur Wen. Tapi sekali ini aja tolong pertimbangin omongan kakak."
Sekali lagi Arwen hanya termenung. Sedangkan Mira segera meninggalkan Arwen yang masih termangu sendirian di depan teras. Kenapa Mira tiba-tiba mengomentari pertemuannya dengan Juna yang baru beberapa hari terjadi?
...Arwen memang tak tahu apa yang sudah terjadi selama 2 tahun ini. Tapi apa salah, kalau dirinya masih ingin dekat dan berharap Juna kembali seperti yang dulu lagi? ...
...To be continued... ...