
...Happy Reading...
...________________...
Arwen menatap tajam pada Hafiz yang sejak tadi terus menghindari tatapannya. Begitu juga dengan tujuh pria lain, teman satu geng Hafiz yang berdiri di belakangnya. Sekolah sudah sepi karena jam pelajaran sudah selesai, hanya beberapa anak yang memiliki kegiatan ekstra yang masih tinggal. Dan Arwen langsung mencegat Hafiz dan gengnya yang sedang bersiap-siap untuk latihan basket. Hafiz sudah tahu gadis itu sedang marah saat melihat wajah Arwen yang terlihat dingin padanya.
"Kok lo gak jawab Fiz? Ini masalah gue tapi kenapa lo nggak ngasih tau apapun yang lo tau. Seakan gue jadi orang yang paling bego disini. Gue emang minta bantuan lo, tapi lo jangan bikin gue kayak orang idiot yang nggak ngerti apa-apa sama masalah gue sendiri," tukas Arwen panjang lebar. Arwen tidak bisa menahan emosinya setelah tahu semua cerita itu dari Harry. Hafiz tahu semua itu tapi dia tidak mengatakan apapun pada Arwen dan membuatnya merasa seolah tidak tahu apa-apa tentang masalahnya sendiri.
"Tau gini gue mending nggak usah cerita sama lo. Apalagi sampe minta bantuan," lanjutnya dengan nada tajam.
"Tahan dulu Wen, gue bukannya nggak mau ngasih tau. Tapi gue masih butuh waktu buat mastiin.."
"Mastiin apa? Apa yang mau lo pastiin Fiz? Kenapa lo bikin gue seakan jadi cewek lemah yang nggak bisa nylesein masalah gue sendiri. Gue makasih sama kalian karena udah mau buang-buang waktu buat mikirin masalah gue, tapi cukup sampai di sini aja. Lo nggak perlu lagi cari tau apapun tentang masalah gue." Arwen masih menatap tajam pada delapan cowok yang hanya terdiam tertunduk di depannya. Terutama Hafiz yang hanya termenung tanpa melakukan pembelaan apapun. Arwen yang merasa kecewa dengan sikap egois Hafiz memutuskan untuk tidak melanjutkan dan melibatkan Hafiz pada semua masalahnya. Gadis itu langsung berbalik dan pergi meninggalkan delapan cowok yang masih duduk dengan wajah bingung.
"Gimana Fiz, kayaknya Arwen marah banget tuh?" tanya Heru sambil menepuk bahu Hafiz. Cowok itu memandang Arwen yang sudah berjalan menjauhi mereka.
"Gue tau, tapi kita udah terlanjur basah," sahutnya.
"Jadi.. Lo masih mau tetep lanjut?" tanya Bian sambil memantul-mantulkan bola basket di tangannya dengan pelan.
"Jelaslah, gue nggak mungkin mundur."
*****
Taki melirik intens pada adiknya yang saat itu sedang sibuk menatap daftar belanjaan di tangannya. Taki sendiri berjalan mengekori Arwen sambil mendorong troli belanjaan. Mereka berdua sekarang sedang berada di Swalayan untuk membeli keperluan bulanan di kos. Biasanya Arwen selalu pergi dengan Jefri, namun entah kenapa hari ini gadis itu malah merengek pada kakaknya. Padahal hari itu Taki sedang capek setelah sibuk mengerjakan skripsinya yang harus direvisi kembali.
"Dek?" panggil Taki sambil menerima minyak goreng yang disodorokan oleh adiknya.
"Hmmm..."
"Abang boleh nanya?"
Arwen menoleh pada kakaknya dengan kening berkerut. "Dih nanya aja sih, tumben amat kaku," serunya sambil kembali menatap daftar belanjaan di tangannya.
"Lo pacaran sama Jefri?"
Untuk sejenak Arwen langsung berhenti saat mendengar pertanyaan kakaknya yang tiba-tiba. Namun hanya sesaat, gadis itu kembali berjalan. Arwen tidak terlalu kaget mendengar pertanyaan Taki. Dia sudah menduga semua orang akan berfikir seperti itu saat melihat kejadian kemarin malam. Hari ini kakaknya adalah orang kelima yang mempertanyakan hubungannya dengan Jefri.
"Nggak kok, kata siapa?" sahut Arwen santai.
"Nggak perlu nanya siapa-siapa, semua yang liat juga udah tau. Trus kalo nggak pacaran, kenapa tuh kemarin?"
"Kita temenan kok bang, nggak pacaran."
"Dek, abang nanya serius ini?"
"Tapi gue juga serius bang. Gue sama Kak Jefri nggak pacaran," sahut Arwen sambil menoleh tajam pada kakaknya. Melihat respon adiknya akhirnya Taki menyerah.
*****
Dua jam berlalu setelah kakak beradik itu menyelesaikan tugas belanja bulanan. Barang yang dibeli hari itu cukup banyak dan membuat keduanya kelelahan. Sampai akhirnya Arwen tidak kuat dan memutuskan untuk berhenti membeli minuman ringan di food court yang untung saja berada di lantai yang sama dengan hypermart.
"Nih!"
Taki menyodorkan satu gelas besar teh bubble rasa matcha favorit Arwen. Gadis itu tersenyum dan langsung menyedot isinya dengan ekspresi wajah lega. Dia melirik sesaat pada Taki yang saat itu juga sedang menyedot minumannya.
"Udah nggak suka Taro lagi?" tanya Arwen saat melihat bubble yang diminum kakaknya jenis varian yang berbeda. Karena Arwen tau, Taki adalah orang yang tidak suka mencoba banyak rasa. Karena Taki itu pemilih dan punya banyak hal yang tidak cocok dengan seleranya.
"Masih suka kok. Lagi pengen nyoba yang lain aja," sahutnya santai.
Arwen masih menatap intens pada kakaknya itu dengan mimik wajah yang menelisik.
"Kenapa?" tegur Taki saat melihat Arwen menatap curiga padanya.
PLAK!
"Aduuhhh.. Sakit Bang. Bisa nggak sih nggak KDPK!" sergah Arwen sambil mengusap jidatnya yang baru saja di tepok oleh kakaknya.
"Apaan tuh?"
"Kekerasan Dalam Persaudaraan Keluarga!"
"Lagian, jadi orang tuh jangan suka mikir macem-macem. Masa cuma karena ganti rasa minuman doang dibilang lagi naksir."
"Ya kan biasanya abang nggak doyan coba-coba rasa. Kalo beli bubble pasti Taro terus, ya gue curigalah kenapa tiba-tiba ganti rasa."
"Kebanyakan nonton sinetron!"
Arwen akhirnya hanya mendelik sewot dan segera menghabiskan minumannya dengan perasaan kesal.
"Oya, gimana sekarang sama Juna?" tanya Taki setelah beberapa saat.
"Emang kenapa? Kok tiba-tiba nanyain kak Juna?"
"Nggak papa, lo-kan udah lama nggak ketemu dia. Dulu aja nangis sampe berbulan-bulan karena ditinggal, sampe ngekos segala. Aneh aja sekarang malah cuek. Bukannya harusnya lo seneng ketemu dia lagi," jelas Taki.
Arwen hanya menunduk mendengar penuturan kakaknya. "Arwen seneng kok bang. Mungkin karena gue udah tahu alasan Kak Juna pergi waktu itu jadi lega aja. Dan sekarang gue paham kok, kalo kita nggak bisa maksain semua perasaan. Mungkin karena dulu gue yang belum ngerti. Tapi sekarang semuanya udah selesai, semua yang menganjal di sini udah hilang, "jelas Arwen sambil menepuk dadanya dengan wajah riang.
Taki memandang adiknya itu dengan tatapan sendu. Dia tahu apa yang dulu Arwen alami itu tidak mudah. Mungkin orang lain akan mengatakan itu terlalu berlebihan. Tapi posisi Juna bagi Arwen itu sama saja dengan posisi Taki bagi Arwen. Dan itu berlanjut sampai akhirnya Arwen mulai menyukai Juna, dan saat itulah Taki mulai membenci Juna. Karena Juna tidak pernah jujur dan malah memberi harapan kosong yang akan terus menyakiti adiknya.
"Oiya Bang, boleh tanya sesuatu nggak?" cletuk Arwen yang langsung membuyarkan lamunan Taki.
"Apaan?"
"Kak Juna sama Kak Mira punya hubungan apa sih?"
Tiba-tiba raut wajah Taki langsung berubah dingin. Cowok itu langsung mengalihkan pandangan ke arah lain sambil mendengus kasar.
"Ngapain nanyain itu ke abang, tanyalah sendiri sama orangnya," sahutnya ketus.
"Dih, kan abang deket sama Kak Mira dulu."
"Kata siapa? Lagian tiba-tiba nanyain mereka ngapain, kan mereka seangkatan, satu alumni dan sekarang satu kampus. Jelas deketlah."
Arwen langsung terkesiap mendengar nada ketus Taki. Dia menelisik wajah kakaknya itu yang jelas sekali terlihat tidak suka dengan pertanyaan Arwen. Tapi Arwen juga tidak mungkin menceritakan tentang apa yang ia lihat malam itu. Arwen bertekad akan mencari tahu sendiri kenapa Mira menangis saat itu.
"Yaudah sih nggak usah judes kali," tukas Arwen. "Yaudah yuk balik, udah sore. Arwen ada tugas yang belum di selesein."
Keduanya lalu berjalan menuju parkiran Mall di lantai bawah. Saat itu masih pukul lima sore, tapi Mall terlihat penuh seperti biasanya. Arwen masih menaruh beberapa barang belanjaan di bagasi sambil memeriksa bahwa tidak ada kantong yang tertinggal. Dia hampir menutup pintu bagasi saat Taki tiba-tiba langsung mendorongnya dengan keras.
"Ih, kenapa sih bang?" seru Arwen kesal.
"Nggak papa, coba hitung lagi tadi belanjanya. Siapa tahu ada yang ketinggalan," tukasnya.
"Udah dihitung, udah lengkap semua."
"Coba lagi, soalnya tadi gue kayaknya nggak liat sabun-sabun yang di kantong ijo," tegas Taki bersikukuh sambil sesekali ia terlihat menoleh ke belakang dengan wajah gelisah.
Arwen berdecak dan mau tak mau kembali memeriksa kantong belanjaan. "Udah ada semua Bang, nih!" ketus Arwen sambil memperlihatkan kantong kresek berwarna hijau pada kakaknya. Namun Taki masih bergeming dan malah teleihat seperti menghalangi langkah Arwen yang ingin segera masuk ke dalam mobil.
"Abang apaan sih? Gue udah capek malah iseng!" serunya kesal sambil mendorong tubuh Taki yang menghalangi jalannya. Gadis itu lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah dongkol.
Sedangkan Taki masih terdiam dengan ekspresi wajah yang kini terlihat mengeras dan dingin. Cowok itu menatap tajam pada dua orang yang tengah berjalan memasuki pintu Mall dengan bergandengan tangan. Jefri dan Citra tampak tersenyum bahagia. Taki menatap dua orang itu dengan dingin, dia tidak akan membiarkan Arwen jatuh seperti dulu lagi.
To be continued...