
...Happy Reading ...
..._________________...
Arwen hanya bisa tersenyum kecut sambil mendongkol. Sesekali dia melirik cowok di sebelahnya yang sedang sibuk memegang kemudi. Matanya memandang lurus ke depan, menatap jalanan yang terlihat padat oleh pengendara.
"Liat aja si Wen kalo mau. Nggak usah lirik-lirik!" goda Jefri terkekeh sambil menoleh pada Arwen yang melirik sewot padanya.
"Apa sih pede banget. Siapa juga yang mau ngeliatin," sahutnya sebal lalu kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela. Arwen tidak mau untuk kesekian kalinya merasa dibodohi oleh cowok bernama Jefri itu.
Kenapa mereka berdua bisa di dalam mobil? Hari itu Arwen diminta menggantikan Rosa untuk menemani Jefri belanja bulanan. Soalnya baru saja Rosa dijemput seorang cowok jangkung bernama Cakra yang ternyata adalah tunangannya.
Mereka mau makan malam di rumah Cakra dan Rosa tidak mungkin menolak permintaan calon mertuanya. Saat itu Arwen adalah satu-satunya cewek yang menganggur di kos-an.
Yang lain masih sibuk kuliah dan juga sibuk jalan-jalan dengan pacar masing-masing. Dan tidak mungkin juga Jefri mengajak anak-anak cowok macam Banu, Latif dan Mark belanja bulanan. Arwen hanya mendengus pasrah saat mau tak mau harus semobil dengan cowok ganteng tapi sayangnya menyebalkan.
"Kamu ngambek soal kemarin?"
"Nggak!"
"Trus kenapa judes banget?"
"Yaudah nggak usah diingat-ingat sih," sergah Arwen akhirnya sambil mencubit pelan lengan Jefri.
Cowok itu hanya tertawa pelan menampilkan dua bulan sabit di antara kedua pipinya. Arwen masih cemberut, padahal niatnya ingin mengurung diri di kamar sambil menetralkan semua hati dan pikirannya. Tapi sepertinya Tuhan belum memberi ijin, jadi Arwen harus bersabar.
Jefri memarkirkan mobilnya di besment. Parkiran tampak ramai karena saat itu adalah awal bulan dan orang-orang tentu langsung berbelanja ketika kantong masih tebal. Untung saja kemarin Arwen mendapat transferan dari mamanya. Ditambah tabungannya selama sebulan bisa dia gunakan untuk membeli barang keperluannya.
Arwen turun dari mobil sambil membenahi roknya. Dia menyesal karena pakai rok pendek malam-malam padahal sudah tau mau masuk mall. Ditambah dia hanya memakai kaus berlengan pendek tanpa membawa jaket.
Arwen merapatkan kedua tangannya di dada saat merasakan angin dingin yang berhembus kencang. Di luar tidak hujan, tapi sudah beberapa hari ini hawanya terasa dingin karena tiupan angin yang lumayan kencang.
"Nih pakai!"
Jefri menyodorkan jaket yang tadi dia kenakan pada Arwen. Dan sekarang cowok itu hanya memakai celana jeans dan kaus pendek hitam polos. Arwen cukup terpana dengan penampilan ala kadarnya yang tetap tidak mengurangi ketampanan cowok itu.
"Wen! Kok bengong sih?" Arwen yang sadar langsung memaki-maki dirinya sendiri di dalam hati.
"Kak nggak usah. Kakak jadi nggak pakai jaket."
"Udah pakai aja. Lagian malem-malem kenapa pakai rok sih?" ujarnya sambil melirik kaki jenjang Arwen yang terbalut rok jeans pendek selutut. Arwen yang merasa diperhatikan langsung menutup kakinya dengan jaket sambil melirik sewot pada Jefri.
"Kakak liatin apaan?"
"Nggak. Yaudah pakek jaketnya di dalem dingin," perintahnya tegas yang membuat Arwen langsung menurut.
Arwen bisa mencium aroma wangi khas cowok saat jaket itu sudah melewati tubuhnya. Tampak kebesaran tapi rasanya hangat. Dan Arwen sejak tadi tidak berhenti mencium ujung lengan jaket yang tampak menutup hingga ujung jemarinya.
Wanginya enak banget.
Diam-diam Arwen melirik pada Jefri yang berjalan di sampingnya. Tapi langsung membuang tatapan ke arah lain saat Jefri menoleh padanya.
"Wen kita ke mana dulu?"
"Hm... Emang apa aja kak yang mau dibeli?"
Jefri merogoh sakunya, mengeluarkan secarik kertas yang berisi daftar belanjaan. "Kebanyakannya sih keperluan rumah aja. Itu bisa kita cari di Hypermart. Kamu sendiri mau belanja nggak mumpung di sini?"
"Mau sih kak. Gimana kalo ke Hypermart dulu aja, setelah selesai nanti kakak nunggu di bawah. Soalnya aku mau ke atas dulu nyari kosmetik."
"Kok ninggalin sih kak? Cuma nungguin dari pada kakak capek ikut aku muter. Cewek itu kalau belanja lama."
Jefri menggeleng tegas. "Pertama kita beli keperluan kamu dulu, habis itu baru ke Hypermart."
"Tapi kak.."
Arwen langsung terdiam saat melihat Jefri melipat dua tangannya di dada dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibantah. Lagi-lagi Arwen hanya bisa menurut, dan kini keduanya sudah berada di depan toko kosmetik di lantai tiga.
Arwen sebenarnya kurang nyaman saat belanja harus diikuti, apalagi sama cowok. Biasanya cowok akan risih mengikuti cewek belanja keperluannya, tapi sepertinya Jefri tipe cowok yang cuek dan malah ikutan melihat-lihat cat rambut yang juga dijual di toko itu. Arwen sendiri sedang memilih-milih bedak dan kebetulan maskaranya juga habis.
"Kamu udah cantik nggak perlu pake gituan," seru Jefri dari belakang saat tangan Arwen hendak mengambil satu palet eyeshadow. Arwen menoleh sambil memanyunkan bibirnya kesal, tapi akhirnya dia kembali meletakkan barang itu.
"Alis kamu udah bagus kok, nggak perlu ditambahin lagi," celetuk Jefri lagi saat tangan Arwen menyentuh pensil alis di depannya. Gadis itu memutar bola matanya karena kesal.
"Kak, cerewet banget sih. Kan yang mau beli aku, mending kakak tunggu di luar aja sana!"
"Nggak ah sendirian kayak orang ilang."
"Yaudah kalo gitu kakak diem aja!"
Tapi akhirnya Arwen tidak jadi mencoba pensil alisnya.
Jefri masih mengekori saat Arwen sibuk memilih-milih lipstik di depannya dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Anehnya Jefri sama sekali tidak mengeluh sejak tadi.
Cowok itu sekarang memperhatikan Arwen yang sedang jongkok di bawah karena deretan lipstik ada di rak tengah. Karena Arwen tinggi, menunduk adalah hal yang cukup merepotkan baginya.
Tangannya sibuk mengoles berbagai warna lipstik ke punggung tangannya. Sambil beberapa kali menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangannya. Gerakannya itu membuat cowok yang berdiri di sampingnya itu berdecak.
"Kamu kebiasaan ya Wen," ucapnya lalu ikut berjongkook di samping Arwen. Hal itu membuat gadis itu mendongak sesaat dan menatap cowok berkulit putih itu tepat di matanya.
Arwen tersentak ketika Jefri menyentuh anak rambutnya dan menyelipkan dibalik telinga.
Lagi?
Arwen menahan nafasnya karena posisi mereka yang terlalu dekat. Arwen bisa merasakan ketika Jefri menyelipkan sebuah jepit rambut kecil yang entah ditemukan di mana ke dalam rambutnya.
"Cantik!" ucap Jefri pelan dengan seulas senyum terbentuk di bibirnya.
Tentu saja perbuatannya itu membuat Arwen membeku seketika. Apalagi saat dua orang itu masih saling memandang satu sama lain, seolah saling mengagumi apa yang ada di hadapannya.
Jantung sialan!
Arwen memaki dirinya sendiri saat menyadari debaran jantungnya yang mulai tak menentu. Dia takut Jefri akan mendengar detak jantungnya karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Arwen menepis tangan Jefri dan segera bangkit. Otak Arwen tidak bisa berpikir apapun, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan sesuatu. Arwen bisa membaca raut wajah Jefri yang terlihat bertanya, dan itu membuat Arwen langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jef lo di sini juga?"
Suara seorang cowok memecahkan suasana canggung di antara mereka berdua. Jefri dan Arwen menoleh pada seorang cowok jangkung yang tentu saja mereka kenal.
"Regan, lo lagi ngapain di sini?" tukas Jefri setelah tahu bahwa Regan yang menyapanya. Namun raut wajahnya tiba-tiba langsung berubah seketika saat Jefri melihat orang yang berdiri di sebelah Regan. Arwen bisa melihat itu dengan jelas.
"Hai Jef," sapa cewek itu dengan suara lembut. Seorang cewek cantik berambut hitam tersenyum, manis sekali. Dia menggandeng tangan Regan yang membuat Arwen bisa menyimpulkan siap cewek cantik itu. Arwen kembali memandang Jefri yang seolah memaksa sekali untuk tersenyum.
...Cowok ini ternyata juga tidak pintar menyembunyikan perasaannya....
To be continued...