
...Happy Reading ...
..._________________...
Jefri tampak telaten membersihkan luka di siku kanan Arwen. Ia membersihkannya dengan kapas lalu mengoleskan obat merah yang baru saja ia beli di mini market. Saat ini mereka sedang duduk di depan Mini Market.
Arwen tidak peduli dengan orang-orang yang menatap aneh padanya. Dia tahu penampilannya saat ini kacau balau, belum lagi rok seragamnya yang robek dan kotor. Dan tentu saja Jefri yang peka langsung menutupi dengan jaketnya. Arwen terus menatap cowok di hadapannya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan, yang akhirnya membuat Jefri merasa sedikit terintimidasi.
"Kenapa Wen? Terlalu ganteng ya?" cletuk Jefri sambil melempar senyum manisnya seperti biasa. Bukan Jefri namanya kalau tidak narsis, dan mau tak mau Arwen tertawa pelan. Rasanya ingin menjawab "iya" saat mendengar Jefri melontarkan candaan itu padanya. Tapi gadis itu hanya terdiam dan terus menatap Jefri yang sedang memasang plester di siku kanannya.
"Thanks, kak."
Jefri mendongak dan menatap mata gadis itu yang terlihat sedih dan juga lelah. Cowok itu sekali lagi tersenyum, menampilkan dua bulan sabit manis di kedua pipinya.
"Nggak usah dipikirin. Tapi terima kasih kamu akan kakak terima kalau kamu mau cerita kenapa bisa sampai kayak gini. Tapi aku nggak akan maksa kamu buat cerita sekarang."
"Aku bisa cerita sekarang kok, kak. Tapi aku pengen tau kenapa kakak bisa nemuin aku di gudang."
Jefri menghela nafas. Dia tidak langsung menjawab dan masih sibuk memberesi kotak P3knya.
"Aku tadi jemput kamu ke sekolah, tapi kata satpamnya kamu baru aja balik. Aku telepon, tapi hp kamu nggak aktif."
Arwen jelas langsung melotot. "Hah.. Kakak ngapain jemput ke sekolah? Tumben banget."
"Ya, soalnya kamu nggak balik-balik. Aku mau ngajak kamu buat beli akuarium, yaudah makanya aku jemput sekalian ke sekolah. Dan karena satpam bilang kamu baru balik aku ikutin jalan biasa kamu lewat. Aku sempet lihat kamu sebelum belok ke belakang gedung, dan pas aku ke sana kamu tiba-tiba nggak ada. Dan akhirnya aku ketemu sama tiga cewek itu."
"Trus kakak nanya apa?"
"Awalnya sih dia nggak mau jawab, dan bilang nggak kenal sama kamu. Jadi aku ancam aja kalo bapakku polisi, trus pura-pura ku telepon."
"Trus?"
"Yaudah, dia kasih kuncinya gitu aja terus nunjuk gudang belakang tempat kamu disekap,"ujar Jefri mengakhiri ceritanya. Arwen mendengarkan dengan seksama tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum sejak tadi.
"Makasih kak. Aku mungkin udah mati kalo kakak nggak dateng tadi."
"Hush.. Ngapain sih ngomong kayak gitu, nggak baik!"
Arwen kembali tersenyum. "Sorry ya kak, tadi aku refleks meluk. Aku udah terlalu takut dan nggak bisa mikir jernih."
"Ngapain minta maaf? Aku ikhlas kalau kamu mau peluk lagi, " tukas Jefri yang membuat Arwen melotot antara gemas dan juga kesal. "Oiya, inikan di tempat umum. Nanti ajalah di kosan," goda Jefri sekali lagi sambil terkekeh.
"Kak tolong, jangan bikin anak orang baper!"
"Kenapa Wen? Kamu nggak mau kakak baperin?"
"...."
"Kenapa? Inget masa lalu?"
Arwen jelas langsung mengerutkan dahinya. "Kak ini pembicaraannya udah terlalu melenceng dari kaidah kayaknya. Kamu juga sering gini ya sama kak Citra?"
Ekspresi wajah Jefri langsung berubah seketika saat Arwen menyebut nama Citra. "Suka banget bahas yang nggak ada. Nggak usah sebut orang lain kalo kita lagi berdua, oke!"
Dan sekarang Arwen merasa otaknya yang lemot atau entah apa, dia hanya bengong mendengar pernyataan ambigu dari cowok di hadapannya. Oke, cowok ini memang selalu penuh kejutan dan sikapnya yang selalu membuat Arwen sering salah sangka. Tapi Arwen juga harus sadar kalau itu adalah salah satu sifat Jefri selama ini, jadi jangan sampai ia terbawa suasana.
Melihat Arwen yang bengong Jefri akhirnya menarik gadis itu dan mengajaknya makan bakso di depan mini Market. Awalnya Arwen menolak karena malu dengan penampilannya.
Tapi Jefri bersikeras dan menyuruh Arwen menggunakan jaketnya untuk menutupi roks sekolahnya yang robek dan kotor.
*****
Malamnya Arwen menceritakan kejadian siang itu pada Hafiz. Ada Latif, Mark dan juga Jefri. Mereka sedang duduk-duduk di atap sembari menikmati angin malam dan singkong goreng buatan Tania.
"Udah gila itu si Dian!" seru Hafiz dengan berang. "Sorry Wen gue nggak tau kalo bakal ada yang nekat, untung aja Bang Jefri jemput lo."
"Itu Dian yang mana maksud lo?" sahut Mark sambil menoleh ke arah Latif yang sejak tadi sibuk makan sendiri.
"Ya Dian kakak kelas gue. Lo mana kenal, Bang."
"Eh, tapi gue kenal anak sekolah lo namanya Dian juga. Seangkatan, dia di kelas 3 D, kalau nggak salah."
Arwen dan Hafiz hanya saling berpandangan yang membuat Latif dan Mark juga malah ikut saling berpandang-pandangan. Hafiz langsung mengeluarkan ponsel dan mencari sesuatu di galerinya. Dia langsung menunjukkan layarnya ke arah Mark dan juga Latif.
"Lahkan itu si Dian," cletuk Latif.
"Nah iya ini bener, gue udah yakin si Dian ini. Siapa lagi anak badung namanya Dian kalo bukan yang ini," tukas Mark menimpali dengan antusias. Jelas Hafiz dan Arwen semakin melempar pandangan satu sama lain.
"Iya bener. Gue baru sadar kalau gue nggak kenal sama dua temennya itu. Lo beneran kenal sama Dian, Mark?"
"Ya jelas kenal. Kita tuh dulu satu geng pas SMP. Gue, Latif, Dian sama Yohana satu tongkrongan, bahkan masih sampai sekarang. Cuma Yohana sama Dian milih masuk di sekolah lo."
Arwen dan Hafiz kembali saling berpandangan. Apa ini artinya mulai ada titik terang tentang siapa orang yang ada dibalik semua ini? Siapa orang yang sudah memfitnah Arwen mencuri uang kas Osis? Dan juga tentang Dian yang tiba-tiba mengerjai Arwen atas suruhan orang lain.
"Fiz, ini udah mulai jelas nggak sih? Gue juga baru tau kalo Yohana sama Dian itu temenan," ujar Arwen sambil menatap Hafiz yang masih sibuk berfikir.
"Tapi Sorry nih Wen, gue bukannya membela," celetuk Latif tiba-tiba. "Gue udah kenal Dian dan Yohana lama. Emang sih sifatnya Yohana kadang suka bar-bar, arogan,sama aja Dian juga begitu. Tapi dia nggak pernah nyerang orang secara fisik, kalaupun iya pasti ada alasannya."
"Tapi Tif, lo liat sendiri Dian yang ngurung gue di gudang. Padahal gue nggak punya masalah apa-apa sama dia. Kalau sama Yohana gue memang pernah berantem masalah uang kas karena dia juga anggota Osis. Dan sejak awal gue sama dia memang nggak bisa cocok."
"Berarti yang harus kita cari tahu siapa orang yang udah nyuruh Dian buat ngerjain lo Wen," tukas Hafiz sambil menatap ke arah Latif dan juga Mark. "Gimana Bang? Lo berdua mau bantu nggak? Soalnya gue punya kesimpulan sendiri Wen, dan kesimpulan gue nggak mengarah ke Dian apalagi Yohana."
"Maksudnya lo udah bisa nebak siapa orangnya?"
"Gue nggak bisa ngasih tau sekarang, soalnya gue juga masih riset. Kalau udah pasti nanti bakalan gue kasih tahu ke lo, malah gue pengen orangnya sendiri yang buka kartunya di depan lo. Pokoknya sementara lo berangkat sama pulang bareng gue dulu, deh. Kalau balik nggak bisa, ntar minta jemput Bang Jefri atau siapa yang ada di kos. Mending lo hindari balik sendiri dulu."
"Kenapa berangkatnya harus sama lo Fiz? Bisa gue yang anterin nanti," celetuk Jefri tiba-tiba yang membuat tiga cowok di situ saling bengong, menatap Jefri dan Arwen secara bergantian.
"Ya nggak apa-apa Bang, baliknya deh lo yang jemput tapi berangkatnya harus sama gue dulu. Ini cuma strategi doang, lagian nggak gue apa-apain kok Arwen nya." Hafiz melirik dengan tatapan menggoda ke arah Arwen. Cewek itu menatap sewot, sedangkan Jefri hanya menggangguk-angguk tidak peka.
"Oke, nanti kita bakal interogasi Dian. Awas aja kalo itu anak sampek nggak ngaku!"
"Tapi nomor yang tadi siang kirim pesan itu kayaknya harus kita selidiki juga deh. Lo beneran nggak ada gambaran siapa yang ngirim, Wen?" tanya Hafiz.
"Nggak mungkin temen gue sih, kalau iya mereka pasti langsung ngomong. Nggak pakek rahasia-rahasiaan."
"Kasih kakak sini nomernya, nanti aku tanya Banu. Dia jagonya soal ginian," ucap Jefri sambil memberi isyarat pada Arwen. Cewek itu langsung mengeluarkan ponselnya, tapi Jefri langsung menyambar dan mencari sendiri nomor yang dimaksud. Jelas Arwen dongkol.
"Kak Jef nggak sopan banget sih!" Tapi cowok itu cuek dan malah asyik berselancar dengan ponsel Arwen di tangannya.
Malam sudah cukup larut saat mereka turun. Arwen dan Jefri turun lebih dulu, sedangkan tiga cowok itu masih sibuk bermain gitar di atap.
"Kamu udah mau tidur?" tanya Jefri.
"Nggak sih kak. Aku ada tugas yang belum di kerjain. Kakak sendiri?"
"Kayaknya tidur aja sih, besok kuliah pagi," jawab Jefri sambil merentangkan otot-otot tangannya yang terasa menegang.
Saat itu pintu kamar Mira yang berada di ujung terbuka dan seorang laki-laki terlihat keluar dari sana. Jefri dan Arwen yang masih berdiri di depan kamar masing-masing hanya menatap tertegun, terutama Arwen yang langsung membeku setelah matanya beradu dengan sepasang mata yang sudah lama dikenalnya. Juna menghentikan langkahnya dengan wajah yang terlihat sedikit gugup, dia menatap Arwen dan Jefri bergantian.
Saat itu pintu kamar Mira kembali terbuka dan seseorang keluar dari sana. Lira tampak berlari kecil dan tersenyum riang ke arah Jefri dan juga Arwen. Arwen yang membeku sejak tadi merasa sedikit lega, dia hampir saja berfikir yang aneh-aneh jika tidak melihat Lira keluar dari kamar Mira.
"Hai Jef, Arwen. Ngapain kok pada bengong di depan kamar?" tanya Lira. Jefri hanya melirik ke arah Arwen yang masih terdiam.
"Nggak, kita tadi habis ngobrol aja. Lo tumben kesini Jun, jenguk Mira?" tanya Jefri yang langsung dibalas anggukan oleh Lira, sedangkan Juna sendiri matanya masih menatap intens pada Arwen yang berdiri tak jauh di hadapannya.
"Gimana keadaan Kak Mira, kak?" tanya Arwen akhirnya setelah sadar bahwa Juna terus menatap intens padanya.
"Udah baikkan kok, gue juga baru tahu aja kalo ternyata Juna sama Mira itu udah kenal lama. Sama kayak lo Wen."
"Emang kok kak, kita dulu kecilnya sering bareng. Yaudah ya kak gue masuk dulu. "
"Wen, kakak mau ngomong sebentar," cegah Juna.
Arwen berbalik sebentar. "Sorry kak, nanti chat aja. Aku lagi ada tugas nih," serunya lalu melambaikan tangannya ke arah Jefri dan juga Lira seraya bergegas masuk kamar.
Lira akhirnya turun lebih dulu meninggalkan Juna yang masih mematung memandang pintu kamar Arwen. Jefri tidak mau berkomentar lebih jauh, ia sendiri memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
"Jef?"
Juna menahan pintu kamar Jefri sebelum cowok itu menutupnya. Jefri hanya mengangkat satu alis, seolah bertanya. Tapi akhirnya Juna hanya menggeleng pelan dan menarik tangannya dari pintu. Jefri menghela nafasnya kasar.
"Jujur Jun kalo lo nggak mau merasa terbebani. Jangan terlalu egois. Lo tau, gue nggak akan lepasin dia jadi lo jangan macem-macem."
"Maksud lo apa, Jef?"
"Lo bisa simpulin sendiri."
Setelahnya Jefri langsung menutup pintu kamar, meninggalkan Juna yang masih termangu sendiri di koridor kamar.
To be continued..